Love And Contract

Love And Contract
Kedatangan Felix



Madrid - Spain.


Brayen duduk di kursi kebesarannya, senyum di bibirnya terukir setelah menerima telepon dari istrinya. Sudah menjadi kebiasaan dari Brayen mendengar istrinya itu membujuk dirinya untuk segera pulang. Sejak hamil, Devita memang bersikap lebih manja dari sebelumnya. Namun meski demikian Brayen senang dengan sifat istrinya itu.


Terdengar suara ketukan pintu yang membuat Brayen menghentikkan lamunannya. Kemudian Brayen mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan langsung menginterupsi untuk masuk.


"Tuan," sapa Albert saat masuk kedalam ruang kerja Brayen.


"Ada apa Albert?" tanya Brayen dingin.


"Tuan, saya ingin memberitahu jika Tuan memiliki undangan dari Tuan Davin. Minggu depan, adalah pesta pertunangan Tuan Davin." jawab Albert.


Brayen mengangguk singkat. "Kosongkan jadwalku di hari pertunangan Davin. Aku akan datang ke pesta pertunangannya."


"Baik Tuan,"


"Albert, apa kau sudah meminta anak buahku untuk mengawasi istriku? Kemana saja istriku pergi dan apa saja yang di lakukan oleh istriku selama aku tidak ada." ujar Brayen sambil menatap lekat Albert yang berdiri di hadapannya.


"Sudah Tuan, beberapa hari yang lalu Nyonya Devita bertemu dengan Alena Nakamura, adik dari Angkasa Nakamura. Dan hari ini Nyonya pergi ke mall bersama dengan Nona Olivia. Saat Nyonya Devita berada di dalam mall, Nyonya Devita tidak sengaja bertemu dengan Citra Nakamura," jelas Albert.


"Citra Nakamura? Siapa dia?" Brayen mengerutkan keningnya.


"Citra Nakamura, ibu dari Angkasa Tuan," jawab Albert.


"Apa yang di bicarakan istriku dengan Citra?"


"Maaf Tuan, untuk itu anak buah kita tidak bisa mendengarnya. Mereka harus berjaga jarak, karena mereka takut akan ketahuan dengan Nyonya."


Brayen membuang napas kasar. "Kalau begitu, minta yang lain untuk terus mengikuti kemanapun istriku pergi dan laporkan segera padaku."


Albert mengangguk patuh. "Baik Tuan,"


"Tuan, maaf sebenarnya kita sudah bisa pulang besok. Pekerjaan sudah hampir selesai. Apa Tuan ingin menunda kepulangan kita?" tanya Albert memastikan.


"Ya, besok pagi kita akan kembali ke kota B. Tapi aku tidak ingin Devita tahu, biarkan ini menjadi kejutan untuk istriku," balas Brayen.


"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi." Albert menundukkan kepalanya lalu undur diri dari hadapan Brayen.


Melihat Albert sudah pergi, Brayen menyandarkan punggungnya ke kursi dan memejamkan matanya. Dia merasakan ada langkah kaki yang masuk kedalam ruang kerjanya. Brayen membuka matanya, dia langsung melayangkan tatapan dingin ketika Felix datang dan langsung duduk di hadapannya.


"Ada apa kau datang kesini?" tukas Brayen dingin.


Felix masih diam dan tidak menjawab, dia mengambil botol wine dan menuangkan ke gelas sloki yang kosong. Kemudian Felix mulai menyesap wine itu. "Terima kasih karena sudah menyelamatkan perusahaanku. Tapi jangan selalu kau ungkit masalah sahammu itu. Telingaku bisa sakit karena selalu mendengar ancamanmu itu!"


Brayen tersenyum miring. "Aku berhak untuk mengungkitnya. Uangku itu di perusahaanmu sangat banyak. Aku bahkan bisa membangun perusahaan baru dengan uang yang aku berikan pada perusahaanmu."


Felix berdecak pelan. "Kau ini sialan sekali! Kenapa aku memiliki sepupu sepertimu! Jangan lupa, aku ini keponakan dari Ayahmu, jika kau terus mengancam ku maka aku pastikan akan mengatakan kepada Paman David. Aku yakin, Paman David akan membelaku!"


Brayen mengedikkan bahunya acuh, seolah tidak memperdulikan ucapan dari sepupunya itu. "Cepat katakan padaku, apa yang kau inginkan? Kenapa kau datang kesini?"


Felix mendengus tak suka. "Kau ini kenapa tidak pernah ramah kepadaku?"


"Jangan basa - basi! Apa yang ingin kau katakan padaku?"seru Brayen.


"Aku sedang kesal dengan Olivia." jawab Felix.


Brayen menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa?"


"Olivia selalu mengalihkan pembicaraan ketika aku membahas masalah pernikahan," balas Felix sambil meneguk wine yang ada di tangannya.


"Mungkin saja dia tidak ingin menikah denganmu." tukas Brayen.


Brayen menggeleng pelan dan tersenyum tipis, "Tapi kenyataannya wanita mu itu tidak mau menikah denganmu."


"Bukannya tidak mau! Tapi dia hanya masih belum menginginkan pernikahan dalam waktu dekat ini. Padahal aku sudah mempersiapkan semuanya, termasuk meminta kedua orang tuaku untuk bertemu dengan Olivia." ujar Felix dengan helaan nafas kasar.


"Well, harusnya kau itu bisa meyakinkan wanitamu jika kau memang serius padanya." balas Brayen.


"Aku sudah menyakinkan sampai ribuan kali! Dan dari ribuan kali itu dia selalu menolaknya!" Tukas Felix.


"Kalau begitu kau cari saja wanita lain." jawab Brayen dengan santai.


Felix mengumpat kasar, dia langsung melayangkan tatapan dinginnya. "Kau gila ya! Bagaimana kalau aku yang memberikan saran untukmu agar kau juga cari wanita lain? Kau ini memberikan saran, tapi tidak berkaca pada dirimu sendiri! Kau saja tidak bisa lepas dari Devita!"


Brayen tersenyum tipis. "Istriku juga tidak bisa lepas dariku. Kami memang sudah ditakdirkan untuk bersama."


"Kau itu benar - benar sialan Brayen! Maksudmu aku itu tidak di takdirkan bersama dengan Olivia! Begitu kan maksudmu? Lihat saja! Kalau aku sudah berhasil menikah dengan Olivia, aku akan menunjukkan kepadamu bahwa kami adalah pasangan yang sempurna!" Seru Felix.


Brayen mengedikkan bahunya acuh,dia menuangkan wine ke gelas slokinya lalu mulai menyesapnya. "Lupakan membahas wanitamu. Aku ingin membahas sesuatu. Apa kau sudah mendapatkan undangan dari Davin? Minggu depan Davin akan bertunangan."


Felix mendesah kasar, "Sudah, aku sudah mendapatkannya. Apa kau akan datang?" tanya Felix.


"Aku tidak mungkin tidak datang, aku akan membawa Devita ke pesta pertunangan Davin," jawab Brayen.


Felix mengangguk singkat. "Aku juga akan membawa Olivia."


"Brayen, kapan kau akan kembali ke Indonesia?" tanya Felix sambil menatap Brayen.


"Besok pagi aku sudah pulang. Tapi aku tidak bilang pada Devita, kalau aku akan pulang besok. Biarkan aku memberikannya kejutan," balas Brayen. "Kau pulang kapan? Pekerjaan di sini sudah hampir selesai. Kondisi perusahaanmu juga sudah stabil."


"Aku ingin bersantai sebentar di Madrid. Karena banyak teman - temanku yang tinggal di sini. Sudah lama aku tidak bersenang - senang. Apa kau tidak mau ikut denganku?" kata Felix yang sengaja ingin mengajak sepupunya itu.


"Felix, saat ini Devita sangat membutuhkanku. Aku tidak bisa terlalu lama meninggalkan Devita," jawab Brayen


Bukannya tidak mau bersenang - senang, tapi bagi Brayen saat ini Devita jauh lebih banyak membutuhkan dirinya. Brayen tidak ingin terlalu lama meninggalkan istrinya. Hatinya selalu berada tidak tenang jika berada jauh dari istrinya itu.


"Kau ini setia sekali pada Kakak Iparku itu. Dulu saat kau menjalin hubungan dengan Veronica dan Elena, kau tidak pernah mengutamakan mereka." Felix terkekeh pelan. Felix sengaja meledek Brayen. Pasalnya tidak biasanya Brayen mengutamakan wanita. Biasanya Brayen akan memilih untuk bersenang-senang ketika berada di Madrid."


"Jangan samakan Devita dengan kedua wanita itu! Istriku memang lebih penting dari apapun!" Tukas Brayen menekankan.


Felix mengedikkan bahunya. "Allright, kalau begitu aku saja yang bersenang - senang di sini."


Felix beranjak dari tempat duduknya, dia menatap lekat Brayen yang masih duduk di hadapannya. "Aku harus pergi, salamkan aku pada Devita jika kau sudah pulang nanti."


Kemudian Felix membalikkan tubuhnya, dia langsung berjalan meninggalkan ruang kerja


Brayen.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.