
Devita meregangkan tubuhnya, lelah sekali banyak pekerjaan yang di berikan. Entah kenapa, semenjak Devita magang, dia mulai menyukai berbisnis. Menurutnya memimpin perusahaan menjadi wanita yang cerdas.
"Devita, ini untukmu. Aku membelikanmu hot chocolate untukmu dan red velvet cake," Olivia menyerahkan hot chocolate dan red velvet cake pada Devita. Devita tersenyum lebar. " Kau memang sahabatku yang terbaik, Vi! Kau sangat tahu aku sedang sangat lelah,"
" Ya aku tahu, bagaimana pekerjaanmu sudah selesai semua?" tanya Olivia sambil menyesap cappucino di tangannya.
"Sudah, aku sudah menyelesaikan semua pekerjaanku," jawab Devita.
Olivia mengangguk, "Devita, apa kau dan Brayen berencana ingin memiliki anak dalam waktu dekat?"
"Aku belum ingin hamil Olivia. Jujur saja, usiaku baru 20 tahun. Tahun depan kita lulus kuliah. Aku ingin menundanya sampai aku lulus kuliah," jawab Devita dengan helaan napas berat.
"Kau yakin?" Olivia mengerutkan keningnya. "Tetapi usia Brayen sudah tepat untuk memiliki anak,"
"Ya, tapi aku masih belum mau Olivia. Aku harap Brayen mengerti tentang ini," balas Devita.
"Kalau begitu kau harus membahas ini dengan Brayen. Jangan sampai kau bertengkar lagi, karena kau ingin menunda memiliki anak," kata Olivia memberi saran.
"Nanti aku akan membahasnya dengan Brayen. Tapi sepertinya tidak sekarang," balas Devita dengan malas.
Sura dering ponsel terdengar, Devita langsung mengambil ponselnya yang terletak di atas meja. Lalu menatap ke layar. Seketika Devita membisu, melihat Ibu mertuanya yang menghubungi dirinya.
"Olivia bagaimana ini, Mommy mertuaku menghubungiku?" tanya Devita gelisah,dan meletakkan ponselnya, dan tidak berani menjawab.
"Jika Ibu mertuamu menghubungimu, kau tinggal jawab saja. Kenapa kau takut sekali Devita?" Olivia yang mengerutkan keningnya, menatap bingung Devita.
Devita mendengus, " Masalahnya aku takut. Mommy mertuaku, pasti akan menanyakan kapan aku hamil. Memangnya hamil itu seperti membuat kue?"
Olivia terkekeh dan berkata, "Kau jawab saja dan bilang sedang dalam proses pembuatan,"
Suara deringan ponsel milik Devita kembali berbunyi lagi, dan ini sudah ke lima kalinya tapi Devita masih belum juga menjawabnya.
"Devita, lebih baik kau jawab, tidak enak mengabaikan telepon dari mertuamu. Aku keluar dulu," kata Olivia memberi saran. Dia langsung beranjak dari tempat duduknya, dan berjalan meninggalkan Devita.
Devita menghela napas dalam. Mau tidak mau Devita menjawab telepon dari Ibu mertuanya itu. Dia langsung menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan, sebelum kemudian meletakkan ke telinganya.
"Ya Mommy?" jawab Devita saat panggilan terhubung.
"Sayang, kenapa kau lama sekali tidak menjawab," tanya Mommy Rena di sebrang telepon.
"Ah itu, aku habis ke toilet, Mom. Ponsel ada di atas meja kerja," jawab Devita terpaksa berbohong, tidak mungkin dia jujur pada mertuanya.
"Baiklah, Oh ya. Mom, ingin berterima kasih untuk hadiah yang kau belikan di Berlin. Mommy dan Daddy sangat menyukainya "
"Aku senang, jika Mom dan Dad, menyukainya"
"Iya sayang. Devita, Mom ingin tanya apa kau dan Brayen sedang menunda untuk memiliki anak?"
Devita menelan salivanya susah payah. "Hem, tidak Mom. Kami tidak menundanya,"
"Great, Mommy senang mendengarnya. Ya sudah, Mommy tutup dulu."
"Ya Mom,"
Panggilan tertutup, Devita langsung meletakkan ponselnya di atas meja.
"Kenapa sekarang pertanyaan hamil sangat menakutkan? Astaga, aku masih 20 tahun, bagaimana bisa menjadi Ibu semuda ini. Aku belum siap," gumam Devita, ia meremas rambut panjangnya dan meletakkan kepalanya di atas meja.
...***...
William baru saja membaca berkas yang baru saja di berikan oleh asistennya. Di hadapan William, ada Richard yang sejak tadi terus menatapnya.
"William? Sampai kapan kau akan selalu sibuk? Apa kau ini tidak punya kekasih?" kata Richard dengan nada yang sedikit menyindir.
"Diam kau! Perusahaan kita sedang berkembang pesat. Aku ingin membuat perusahaan kita lebih besar daripada Mahendra Enterprise," jawab William dingin sambil menatap berkas yang ada di tangannya.
William mengalihkan pandangannya dia menatap tajam Richard. "Aku akan mampu melawan Brayen! Kau lihat saja nanti!"
Richard menggelengkan kepalanya dia membalas tatapan William "Apa alasanmu membenci Brayen?"
"Banyak hal yang tidak aku suka dengannya! Kau tidak perlu tahu, kau hanya perlu mendukungku, aku pastikan akan mampu melawan Brayen!" Tukas William menekankan.
Richard mengedikan bahunya. "Alright, terserah kau saja. Aku pasti akan selalu mendukungmu. Tapi, aku lihat kau sering memperhatikan Devita, tatapanmu berbeda saat menatap wanita lain? Apa kau menyukainya?"
"Tidak ada pria yang tidak menyukai gadis yang seperti Devita. Dia sangat cantik, baik dan polos," jawab William.
"Right, aku setuju denganmu. Aku juga menyukainya, tapi aku tidak pernah berniat merebutnya dari Brayen. Mungkin saja, jika suatu saat Brayen melepaskan Devita, maka aku akan mengambilnya." balas Richard.
"Jika suatu saat Brayen melepas Devita, itu artinya kau harus bertarung denganku. Siapa di antara kita yang akan di pilih oleh Devita!" Seru William.
Richard terkekeh, "Deal, tidak masalah. Kapan lagi aku bisa bertarung denganmu,"
...***...
Devita yang baru saja tiba di rumah, dia langsung menuju ke arah kamar mandi dan ingin berendam. Seperti biasa, hal yang paling dia sukai adalah berendam ketika tubuhnya begitu lelah.
Setelah selesai mandi dan mengganti pakaiannya, Devita membaringkan tubuhnya di ranjang. Kemudian Devita mengambil ponselnya yang berada di atas nakas, tatapan Devita menatap foto Brayen yang berada di ponselnya. Seketika ada ide muncul di pikiran Devita, mengganti nama kontak Brayen menjadi 'Devil Husband' Devita terkekeh, ketika mengganti kontak nama Brayen menjadi 'Devil Husband'
"Devil Husband memang lebih cocok untuk Brayen" gumam Devita, menahan tawanya. Lalu, Devita memutuskan untuk mengirim pesan pada Brayen. Setidaknya dia tahu apa yang sedang di kerjakan oleh Brayen.
Devita : Brayen, kau dimana? Apa malam ini kau akan pulang terlambat?
Brayen : Aku di kantor. Malam ini aku pulang terlambat. Kau tidurlah dulu, jangan menungguku.
Devita : Apa kau memiliki banyak pekerjaan hingga kau pulang larut malam?
Brayen : Ya, aku banyak pekerjaan. Kau beristirahatlah, jangan menungguku.
Devita : Baiklah, tapi kau jangan lupa makan. Besok kau harus menemaniku. Aku ingin menonton film sambil makan ice cream denganmu.
Brayen : Sure My little wife.
Devita tersenyum lalu meletakkan ponselnya di atas nakas. Devita membaringkan tubuhnya di ranjang, dia sangat lelah. Devita memeluk guling nya, lebih baik dia tidur. Besok pagi pasti Brayen sudah ada di sampingnya.
...******...
Bugatti Veyron milik Brayen, sudah berada di parkiran Apartemen milik Elena. Brayen memejamkan mata sebentar, dia bersandar di kursi mobil setelah membalas pesan dari Devita. Dia tahu ini salah karena sudah berbohong pada Devita. Tapi dia tidak mungkin juga berkata jujur pada Devita. Itu sama saja membuat kesalahpahaman dengan Istrinya.
Elena mengatakan ini permintaan terakhir, tidak masalah untuknya menemani Elena. Karena mereka akan segera berakhir. Brayen juga ingin Elena mendapatkan pria yang baik untuk hidupnya
Brayen turun dari mobil, dia berjalan masuk kedalam Apartemen. Ketika Brayen tiba di Apartemen Elena. Dia langsung menekan password Apartemen dan melangkah masuk kedalam Apartemen Elena.
"Brayen kau sudah datang?" sapa Elena saat melihat Brayen berjalan masuk ke dalam Apartemen Elena.
"Ya," jawab Brayen singkat. Dia memilih duduk di sofa.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.