
Brayen dan Devita duduk di sofa sambil menonton film. Mereka masih berada di rumah baru yang Brayen beli. Khusus untuk hari ini, Brayen meminta Albert untuk mengurus pekerjaannya.
"Brayen, aku rasa aku harus segera bertemu dengan Olivia. Dia pasti mencemaskanku." kata Devita sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
Brayen mengeratkan pelukannya. Dia mengecup puncak kepala Devita. "Tidak perlu, Albert sudah mengurusnya. Termasuk mengambil barang - barangmu."
Devita mendesah pelan. "Hari ini kau menculikku, untuk pertama dan yang terakhir! Jangan lagi menculikku!"
"Maaf sayang," Brayen tersenyum, dia membawa tangannya mengusap lembut perut istrinya. "Jika aku tidak melakukan ini, belum tentu kau mau ikut denganku."
"Kau ini! Bahkan kau itu belum mengajakku!" Cebik Devita kesal.
"Ini termasuk cara yang cepat, sayang." balas Brayen. "Lagi pula, aku itu menculik istriku sendiri, jadi tidak masalah."
"Kalau Albert bukan asisten lamamu. Sudah pasti aku akan langsung memecatnya!" Tukas Devita.
Sejak awal ketika Devita tahu penculikannya adalah ide dari Albert. Dia sudah ingin memecat asisten suaminya itu. Tetapi mengingat Albert yang sudah cukup lama bekerja menjadi asisten suaminya, Devita masih berbaik hati mengurungkan niatnya. Hanya saja, Devita masih kesal dengan ide yang di berikan oleh Albert.
Brayen menangkup kedua pipi Devita, memberikan kecupan bertubi-tubi di bibir Istrinya. "Berkat saran dari Albert, kau kembali ke pelukanku. Jadi besok, aku akan memberikan bonus pada Albert. Karena bagiku, yang terpenting kau kembali kedalam pelukanku."
Devita membuang napas kasar. "Kau itu menyebalkan sekali!"
"Aku tidak akan melakukan hal itu lagi." Brayen kembali mengecup bibir istrinya. Sedangkan Devita, dia hanya diam dan membiarkan Brayen mencium terus bibirnya.
"Sekarang, katakan padaku apa alasannya kau membeli rumah ini?" tanya Devita yang sudah sejak tadi penasaran.
"Aku menyukai rumah ini, jadi aku membelinya." jawab Brayen. "Dan rumah ini adalah atas namamu. Jadi kau pemilik rumah ini!"
Devita terkejut. "Rumah ini atas namaku?"
"Ya, Brayen mengecup puncak kepala Devita. "Aku juga sudah meminta Albert untuk membangun rumah baru. Nanti rumah itu, atas nama anak kita."
"Astaga Brayen!" Seru Devita, dengan tatapan yang tak percaya pada Brayen. "Usia kandunganku itu masih tiga bulan. Anak kita saja masih belum tahu, laki - laki atau perempuan. Kau sudah menyiapkan rumah untuknya? Kau yang benar saja, Brayen! Aku tidak mau yang berlebihan! Dan batalkan juga pembuatan rumah barunya!"
"Tidak berlebihan, sayang. Dia anakku, jadi sudah pasti semua akan menjadi miliknya." Brayen semakin mengeratkan pelukannya.
Devita menghela nafas dalam. Devita sudah yakin, ini pasti terjadi. Brayen selalu saja bersikap berlebihan. Padahal anak mereka saja masih belum lahir, tapi dia sudah menyiapkan segalanya untuk anak mereka
"Devita!" Suara seseorang berteriak memanggil nama Devita, membuat Devita dan juga Brayen menatap ke arah pintu.
Pandangan Devita dan Brayen, kini menatap Olivia dan juga Felix melangkah masuk. Devita tersenyum ketika melihat Olivia berlari ke arahnya.
"Devita! Aku hampir gila saat kau hilang!" Olivia menyentuh bahu Devita dan menggoyangkan bahu sahabatnya itu. "Tidak terjadi sesuatu padamu kan? Kau baik-baik saja kan, Devita?"
"Kau jangan khawatir Olivia." Devita menyentuh tangan Olivia, dan menepuk pelan punggung tangan Olivia. "Aku baik - baik saja. Maaf, karena sudah membuatmu menjadi cemas."
"Sayang, sudah ku katakan kalau Devita itu tidak apa-apa," sambung Felix.
Olivia mendesah lega. "Aku senang kau tidak apa-apa. Aku hampir saja gila karena mencarimu. Bahkan Felix juga sudah mengetahui ini, di lebih memilih untuk merahasiakannya padaku." Olivia melirik ke arah Felix. Meski Devita tidak apa-apa, dia masih kesal karena Felix tidak memberitahunya.
"Sayang, kenapa itu di bahas lagi." seru Felix kesal.
Devita terkekeh mendengar perdebatan Olivia dan juga Felix. "Sudah Olivia, aku itu baik - baik saja. Jadi jangan memarahi Felix."
"Felix, kau ikut ke ruang kerjaku. Ada masalah perusahaan yang ingin aku katakan." tukas Brayen, dan Felix pun mengangguk.
"Devita, di mana Albert?" tanya Olivia setelah Brayen dan Felix pergi.
"Albert kembali ke perusahaan," jawab Devita. "Kenapa kau bertanya tentang Albert? Tidak biasanya kau bertanya tentang Albert."
Olivia mendengus kesal. "Aku ingin memarahinya! Beraninya dia membuat rumahku mati lampu!"
Devita mengulum senyumannya. "Harusnya tadi kau itu menyalahkan Brayen. Karena Albert melakukan perintah itu atas perintah Brayen."
"Tapi menculikmu itu adalah ide dari Albert!" Seru Olivia. "Lagi pula, aku itu tidak mungkin berani memarahi suamimu! Hanya bicara dengannya saja suamimu itu selalu bersikap dingin!"
Devita terkekeh. "Sudahlah, lupakan saja. Aku yakin Albert tidak akan pernah memberikan ide yang seperti itu lagi. Jika dia masih berani, aku akan langsung memecatnya!"
Tidak lama kemudian, pelayan langsung mengantarkan yoghurt dan cheesecake untuk Devita dan juga Olivia.
"Nyonya, tadi saya meminta Tuan untuk mengantarkan ini." kata pelayan itu sambil memberikan yoghurt dan cheesecake.
"Terima kasih," balas Devita.
Pelayan itu mengangguk, kemudian undur diri dari hadapan Devita dan juga Olivia.
"Suamimu itu benar-benar sungguh suami idaman. Dia itu begitu perhatian padamu!" Olivia mengambil cheese cake yang ada di atas meja, lalu menikmati cheese cake itu.
"Aku memang beruntung memilikinya," balas Devita sembari meminum yoghurt yang di antarkan oleh pelayan tadi.
"Hm, Devita aku dengar dari Felix kalau Brayen yang sudah membeli rumah ini? Apa itu benar?" tanya Olivia memastikan.
"Ya, benar. Brayen juga membeli rumah ini menggunakan namaku," jawab Devita.
"Astaga! Kau sungguh beruntung!" Seru Olivia menatap tak percaya pada Devita. "Sudah sejak awal ketika kau di jodohkan dengan Brayen, aku itu sudah yakin kau akan begitu beruntung."
Devita menghela nafas dalam. "Tapi Brayen itu sungguh berlebihan. Aku tidak menginginkan apapun darinya. Aku hanya ingin dia itu memiliki banyak waktu untuk anakku dan juga anak kami nanti."
Olivia tersenyum. "Aku yakin, meski Brayen sibuk, dia akan meluangkan waktunya untukmu dan juga anak kalian."
"Semoga saja itu benar," balas Devita. "Kau tadi lihat kan? Ketika melihat Felix datang yang di bahas hanya pekerjaan."
"Kalau boleh jujur, aku juga sebenarnya kesal." Olivia mengambil gelas yang berisi air putih dan meneguknya hingga tandas. "Tapi menurutku akan lebih baik jika Felix sibuk dengan pekerjaannya daripada dia sibuk dengan para wanitanya."
Devita mengangguk, "Semua wanita juga lebih memilih pasangan mereka sibuk dengan pekerjaannya, daripada sibuk dengan wanita lain."
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.