Love And Contract

Love And Contract
Kembali Ke Rumah



Keesokan hari, Devita terbangun dari tidurnya. Tatapannya kini teralih melihat suaminya masih tertidur pulas. Wajah Brayen memang pahatan yang sangat sempurna. Rahang tegas, hidung mancung, wajah yang sangat tampan. Seketika dia mengingat kejadian tadi malam, bercinta lagi dan lagi hingga pagi hari benar - benar membuat Devita tidak berhenti memikirkannya. Sentuhan suaminya itu begitu lembut.


Kini Devita terus menatap Brayen yang masih tertidur. Dia membawa tangannya menyentuh mata, hidung, dan rahang suaminya itu. Namun, saat Devita ingin melepaskan tangannya, tiba - tiba tangan Brayen menahannya, hingga membuat Devita tersentak. "B...Brayen? Kau sudah bangun?"


Brayen tersenyum. "Aku sudah sejak tadi bangun, sudah sejak saat Istriku mengagumi suaminya"


Devita mencebikkan bibirnya. "Siapa yang mengagumimu. Kau itu percaya diri sekali! Tadi wajahmu itu ada debu, jadi aku membersihkannya."


Brayen mengangguk seolah percaya. "Debu? Jika ada debu, aku harus menghubungi pihak hotel. Aku sudah membayar mahal kamar ini, sayang. Aku rugi kalau kamar ini ada debu."


"Hanya sedikit debunya, itu sudah aku bersihkan. Sudahlah jangan di perbesar," balas Devita yang berusaha menahan malunya. Dia langsung memalingkan wajahnya.


Brayen mengulum senyumannya, lalu dia menarik tangan Devita dan membawanya masuk kedalam pelukannya. "Kau tidak perlu mengaggumi suamimu. Karena aku juga mengaggumimu. Kau sangat cantik," godanya sambil mengecup hidung Devita gemas.


Pipi Devita langsung merona, mendengar pujian dari suaminya itu. "Brayen, sudahlah jangan merayuku!"


Brayen terkekeh pelan, "Kau sungguh menggemaskan, sayang," Dia menghujam seluruh wajah Devita dengan kecupan.


Devita mendengus. "Lupakanlah, hari ini memangnya kau tidak kerja? Lihatlah sekarang sudah jam sembilan pagi, Brayen. Kau pasti terlambat jika tidak bersiap - siap sekarang."


"Aku akan meminta Albert untuk menangani semua meetingku nanti. Dia akan mengurusnya," Brayen mengelus lembut pipi Devita sembari mengecup singkat bibir Istrinya itu. "Hari ini, aku ingin terus bersama denganmu. Aku akan mengerjakan pekerjaanku di rumah.


"Kau tidak akan ke kantor hari ini?" tanya Devita memastikan.


"Tidak sayang, aku tidak akan ke kantor." Brayen menarik dagu Devita, mencium dan ******* lembut bibir Istrinya itu.


"Hm, Brayen. Aku ingin bertanya." Devita mendongakkan kepalanya, dari dalam pelukan Brayen.


"Kau ingin bertanya apa?" Brayen mengerutkan keningnya.


"Kenapa kau mencari sekretaris baru? Bukankah sektretaris lamamu sudah bekerja begitu lama denganmu? Kenapa kau harus menggantikannya?" Devita menatap Brayen penuh dengan selidik. Terlebih dia mengingat sekretaris suaminya itu sangat cantik.


"Sektretarisku yang lama menikah dan pindah, mengikuti suaminya ke Paris, lalu Albert mencari sektretaris baru," jawab Brayen.


"Apa mencari sekretarismu itu harus cantik, Brayen?" tanya Devita dengan nada penuh sindiran. Terlihat jelas raut wajah Devita yang tidak suka, melihat sekretaris suaminya yang cantik.


Brayen mengulum senyumannya. " Nyonya Devita Mahendra, apa kau ini sedang mencemburui suamimu?" suara Brayen bertanya dengan nada menggoda.


"Tidak, siapa yang cemburu. Aku hanya bertanya!" Bantah Devita cepat. Dia langsung memalingkan wajahnya tidak mau menatap Brayen.


Brayen kembali tersenyum. Kemudian, dia kembali menangkup kedua pipi Devita, lalu memberikan kecupan yang bertubi - tubi di bibir Istrinya itu. "Aku tidak tahu, sayang. Urusan sekretaris yang mencari Albert. Jika kau tidak suka kau bisa memecatnya. Aku tidak perduli dengan sekretarisku. Jangan salahkan aku, kau bisa menghubungi Albert dan memarahi Albert."


"Kau gila, Brayen, aku tidak mungkin memecat seseorang tanpa melakukan kesalahan. Memangnya dia melakukan kesalahan apa? Kau ini jahat sekali!" Seru Devita kesal. Meski tidak suka melihat Brayen mempunyai sektretaris baru. Tapi dia tidak mungkin membiarkan suaminya itu memecat sekretaris barunya.


"Aku lebih baik di bilang jahat daripada membuat istriku yang cantik ini cemburu." Brayen mengeratkan pelukannya, sembari memberikan kecupan di puncak kepala Istrinya itu.


"Jangan seperti itu, siapa tahu dia membutuhkan uang. Jangan memecatnya, aku kasihan jika dia di pecat tanpa dia melakukan kesalahan," ujar Devita mengingatkan.


Brayen menarik dagu Devita mencium dan **********. "Aku tahu, kau memang wanita yang sangat baik."


"Sudahlah, Jangan berlebihan. Aku ingin mandi" Devita hendak beranjak dari ranjang, namun Brayen langsung menahannya.


"Kita mandi bersama," jawab Brayen.


"Bersama? Tidak Brayen!" Tolak Devita cepat.


Tanpa memperdulikan ucapan Devita, Brayen beranjak dari ranjang, dia langsung membopong Devita, gaya bridal masuk kedalam kamar mandi. Devita mendesah pasrah. Jika mandi bersama dengan Brayen tidak akan pernah sebentar karena, Brayen pasti akan meminta seperti tadi malam.


Mobil Brayen mulai memasuki parkiran mansion mereka. Kemudian Brayen dan juga Devita turun dari mobil. Ya, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah, hari ini untungnya Devita tidak memiliki jadwal kuliah. Jika Devita memiliki jadwal kuliah sudah pasti Devita memaksa untuk masuk kampus. Sedangkan Brayen, dia memilih untuk bekerja di rumah. Brayen akan memeriksa semua pekerjaannya dari rumah. Dia mempercayakan semua pekerjaan di perusahaan.


Brayen juga sudah meminta Ruby untuk mengurus barang - barang Devita. Dia tidak mungkin harus membiarkan istrinya itu kelelahan mengambil barang-barangnya. Semua barang - barang Devita yang ada di hotel sudah di urus oleh Ruby.


Kini, Brayen menggenggam tangan Devita masuk kedalam rumah. Para pelayan yang melihat Brayen dan Devita masuk kedalam rumah, mereka langsung menundukkan kepalanya dan menyapa sopan dengan Tuan dan Nyonya mereka. Devita membalas mereka dengan senyuman ramah. Rasanya, Devita sudah lama sekali tidak pulang kerumah.


Saat Devita melangkah masuk kedalam kamar. Dia mengedarkan pandangannya, kesetiap sudut kamarnya. Padahal dia baru saja meninggalkan rumah beberapa hari saja. Tapi kenyataannya, Devita begitu merindukan rumahnya. Rumah ini adalah rumah masa depannya dengan Brayen. Rumah yang selalu di penuhi canda dan tawa dirinya bersama dengan suaminya. Itulah yang membuat Devita merindukan rumah ini. Karena memang rumah ini, Brayen beli, tepat saat mereka menikah.


Awalnya Brayen membeli mansion ini, karena dia tidak ingin mencampurkannya dengan mansion pribadi miliknya. Namun, kenyataannya berbeda, saat dirinya sudah jatuh cinta pada Istrinya sendiri. Di rumah inilah, Brayen dan juga Devita membangun rumah tangganya. Mulai dari pertengkaran, canda bahkan tawa telah menghiasi rumah ini.


"Devita!" Suara teriakan Laretta memanggil nama Devita, saat melihat Devita masuk ke dalam rumah.


Devita tersenyum, "Laretta, apa kabar?" sapanya dengan mengulas senyum yang hangat di wajahnya.


Tanpa menunggu lama, Laretta langsung memeluk erat tubuh Kakak Iparnya itu. Sungguh dia sangat merindukan Devita. "Aku sangat merindukanmu, Devita,"


"Aku juga sangat merindukanmu, Laretta" Devita membalas pelukan Laretta, dia mengusap lembut punggung wanita itu.


Laretta mengurai pelukannya. "Maafkan Kakakku ini, dia memang sangat kekanak-kanakan," cibirnya seraya melirik ke arah Brayen.


"Laretta," suara berat Brayen menegur Laretta. Tatapan matanya menatap Laretta penuh dengan peringatan.


Laretta tersenyum lebar, memperlihatkan gigi putihnya. "Aku hanya bicara fakta,"


"Devita sedang butuh istirahat, lebih baik kau segera kembali ke kamarmu sekarang," tukas Brayen dingin.


Laretta mendengus tak suka. " Ya sebentar, aku ingin mengatakan sesuatu pada Devita,"


"Ada apa, Laretta?" Devita menautkan alisnya.


"Besok kau harus menemaniku melukis. Aku ingin melukis dirimu," ujar Laretta dengan senyuman di wajahnya.


"Kau ingin melukisku?" Devita sedikit terkejut mendengar, adik iparnya itu akan melukis dirinya.


Laretta pun mengangguk cepat. " Ya, aku ingin melukismu. Kau mau kan, Devita?"


Devita tersenyum, "Besok sepulang kuliah, aku akan menemanimu. Aku tentu sangat ingin di lukis oleh pelukis hebat sepertimu."


"Baiklah, aku kembali ke kamar sekarang. Besok aku menunggumu," ucap Laretta. Devita mengangguk, kemudian Laretta berjalan meninggalkan Devita dan juga Brayen menuju kamarnya.


"Lebih baik kau tidur, kau butuh istirahat," Brayen mengelus lembut pipi Devita.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.