Love And Contract

Love And Contract
Hari Pernikahan Olivia dan Felix



Laretta membiarkan Sean dan juga Vania saling berinteraksi secara alami. Mengingat mereka adalah saudara. Laretta yakin, Sean pasti menyayangi Vania. Karena sifat Sean tidak berbeda jauh dengan Brayen yang begitu dingin.


"Kakak," rengek Vania dengan bibir berkerut kala Sean masih mendiaminya.


Sean melirik Vania sekilas. "Ada apa Vania? Kenapa kau berisik sekali? Kau main saja dengan barbiemu. Aku sedang bermain dengan robotku. Jangan menggangguku."


"Kak Sean merindukanku kan? Kenapa kau mendiamkanku? Seharusnya kau mengajakku berbicara," cebik Vania dengan bibir yang semakin berkerut.


"Aku sedang bermain dengan robotku, Vania? Kau jangan menggangguku," jawab Sean ketus.


"Kakak katanya merindukanku! Kenapa ketika aku datang, Kakak tidak mau mengajakku bicara?" ucap Vania dengan nada kesal.


"Aku hanya bilang sedikit merindukanmu, Vania. Tidak banyak." Sean kembali bermain dengan robotnya.


Mendengar ucapan Sean, Vania langsung menangis. Devita hendak menghampiri Sean dan Vania. Namun, lagi - lagi Laretta menahannya. Laretta memberikan isyarat untuk melihat Sean dan Vania berinteraksi.


Kini tangis Vania semakin kencang. Sean langsung meletakkan robotnya dan mendekat ke arah Vania. "Jangan menangis Vania. Nanti Paman Angkasa dan Bibi Laretta akan sedih melihatmu menangis."


"Tapi Kak Sean tidak mau bermain denganku," rengek Vania dengan mata dan hidung yang memerah.


Sean langsung memeluk erat tubuh Vania, dia mengusap punggung Vania dan berkata. "Sudah jangan menangis. Kau bermain barbie aku akan bermain robot."


Vania tersenyum. "Apa Kak Sean menyayangiku?"


Sean mengangguk, dia menghapus air mata Vania dengan jemari tangan mungilnya. "Aku menyayangimu, kau adikku Vania."


Kini Devita, Laretta dan Olivia menatap haru Sean dan juga Vania. Ya, nyatanya Sean memang menyayangi Vania. Hanya saja, Sean bersikap dingin dan seolah tidak perduli.


"Kau lihat, Devita? Kak Brayen sangat mirip dengan Sean. Dulu Kakakku seperti itu padaku." ujar Laretta sambil melihat ke arah Devita.


Devita tersenyum, " Jika seperti ini, aku rasa Sean akan sama seperti Brayen ketika dewasa."


"Tapi aku harap, Sean tidak akan pernah bertemu dengan wanita yang seperti Elena." sambung Olivia yang kembali mengingat mantan kekasih Brayen.


Laretta terkekeh, "Kau benar Olivia. Aku harap Sean bisa langsung bertemu dengan wanita yang seperti Devita."


Devita menggeleng - gelengkan kepalanya dan tersenyum. "Kalian ini, masih mengingat tentang masa lalu."


...***...


Dua Minggu kemudian....


Kini Olivia mulai melangkah memasuki ruangan ballroom hotel. Tangannya terus memeluk Rendy, Ayahnya. Terlihat Olivia yang begitu gugup memasuki ruangan ballroom hotel. Para tamu undangan berdiri menyambut Olivia yang begitu cantik. Tidak pernah terpikir olehnya akan menikah dengan Felix. Terlebih dia mengucapkan janji pernikahan mereka di negara K dan di hotel milik keluarganya yang sejak dulu dia impikan ketika dia menikah. Terlihat kilat kamera terus tertuju pada Olivia dan juga Felix yang akan segera mengucapkan janji pernikahan.


Olivia tersenyum, kala mendengar Felix mengucapkan ijab kabul. Matanya mulai berkaca-kaca. Tatapannya begitu menatap haru, dia sungguh tidak menyangka ini benar - benar terjadi, kini dirinya dan Felix telah sah menjadi pasangan suami-istri. Kemudian Felix memakaikan cincin di jari manis Olivia. Begitupun dengan Olivia yang memakaikan cincin pada jari manis Felix.


Devita yang duduk di depan meneteskan air matanya melihat Felix dan Olivia kini menikah. Sepanjang upacara pernikahan, Devita terus memeluk lengan Brayen. Dia kembali mengingat pernikahannya dengan Brayen. Sungguh, dia tidak pernah menyangka, dia dan Brayen akan saling jatuh cinta. Sean yang ada di gendongan Brayen, ikut bertepuk tangan saat para tamu undangan bertepuk tangan.


"Mommy, Daddy apa dulu Mommy and Daddy seperti Paman Felix dan Bibi Olivia?" tanya Sean dengan suara polosnya sambil menatap Brayen dan juga Devita.


Devita mengulas senyuman hangat di wajahnya. "Benar apa yang di katakan oleh Daddy, kau juga nanti akan menikah dengan wanita yang terbaik."


"Aku ingin menikah dengan wanita yang seperti Mommy." ucap Sean seraya memeluk leher Brayen.


Brayen dan Devita tersenyum, mereka bersama - sama mencium pipi Sean dengan penuh kasih sayang. Tangan kiri Brayen menarik tubuh Devita masuk kedalam pelukannya.


Laretta yang duduk di belakang Devita dan juga Brayen. Dia pun meneteskan air matanya melihat Felix dan Olivia yang kini sudah menikah. Laretta sungguh sangat bahagia, akhirnya perjuangan Felix berkahir dengan bahagia. Dulu, Laretta berpikir dirinya tidak akan mampu melihat pernikahan Felix . Rasa cinta Laretta yang begitu besar pada Felix membuatnya takut, jika suatu hari nanti akan melihat Felix menikah. Namun, apa yang Laretta dulu takutkan tidak terjadi. Nyatanya sekarang, saat melihat Felix, Laretta begitu bahagia. Felix mendapatkan wanita yang baik. Sejak awal Laretta tahu, Olivia adalah wanita yang tepat untuk Felix.


"Sayang?" Angkasa menyentuh pinggang Laretta. "Apa kau ingat dulu saat kita menikah, kau adalah pengantin yang tercantik yang pernah ku lihat."


Laretta tersenyum, kemudian dia mengelus rahang Angkasa. "Dan apa aku ingat saat kita menikah, kau adalah pengantin pria yang sangat tampan. Aku sungguh beruntung memilikimu."


Angkasa tersenyum. Dia mengelus lembut Laretta. "Aku mencintaimu, Laretta."


"Aku juga mencintaimu," jawab Laretta dengan senyuman hangat di wajahnya.


"Mommy.... Daddy... Kalian sedang berbicara tentang apa?" tanya Vania yang berada di gendongan Angkasa.


"Mommy dan Daddy sedang mengungkapkan perasaan kami. Kami saling mencintai satu sama lain." jawab Laretta dengan tatapan yang lembut. "Suatu saat, Vania juga akan mendapatkan pria yang mencintai Vania. Seperti Daddy yang mencintai Mommy."


"Aku juga memiliki Kak Sean yang juga mencintaiku, Mommy. Aku tidak membutuhkan pria lain." ucap Vania dengan suara polosnya.


"Itu berbeda, sayang. Kasih sayang Sean pada Vania itu seperti Paman Brayen pada Mommy. Kau dan Sean bersaudara, kalian tidak bisa menjadi sepasang suami-istri." balas Laretta sambil mencubit pelan hidung Vania. "Suatu saat nanti, kau akan menemukan pria yang terbaik di hidupmu."


Vania mengangguk paham. "Kalau begitu, aku ingin menikah dengan pria yang seperti Daddy saja."


Angkasa tersenyum, dia mengecup pipi Vania. "Daddy, akan pastikan kau mendapatkan pria yang terbaik, sayang."


Laretta memeluk Angkasa, dia memeluk lembut anak dan juga suaminya. Dia begitu senang, karena pada akhirnya semuanya mendapatkan kebahagiaan.


...*********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.