
"Kenapa Richard tadi bisa ada bersamamu?" tanya Brayen dengan nada ketidaksukaannya.
"Aku juga tidak tahu, aku sedang berada di ruang tunggu, karena aku bosan, aku mendengarkan lagu. Mungkin karena musik yang aku putar terlalu keras, akhirnya dia menyapaku," jelas Devita.
"Apa yang dia bicarakan padamu?" tanya Brayen.
"Tidak, kami tidak bicara apa - apa. Ya, dia cuma masih meledekku karena menangis waktu itu," jawab Devita. " Tapi dia juga bilang kalau dia mengingatku karena aku memiliki wajah yang sangat cantik."
"Kau percaya dengan apa yang dia katakan padamu?" tanya Brayen sambil menautkan alisnya.
"Maksudmu?" Devita melayangkan tatapan dingin ke arah Brayen.
Brayen menyesap whisky yang ada di tangannya dan berkata, " Kau percaya, dia mengatakan jika kau ini sangat cantik, kau percaya itu?"
Devita mendengus kesal, aku memang sangat cantik. Jika tidak, kenapa Mom Rena memilih ku untuk menjadi istrimu."
"Mungkin Mommyku sedang bernasib tidak beruntung," tukas Brayen dingin.
"Tapi aku yang tidak beruntung menikah denganmu. Jika saja aku tidak menikah denganmu, pasti aku akan menikah dengan Angkasa. Atau, aku akan jatuh cinta pada Richard. Dia masih muda,dan sangat tampan."
Seketika rahang Brayen mengeras dan kini Brayen menatap Istri kecilnya yang sedang duduk di hadapannya itu.
"Apa bagusnya Angkasa dan juga Richard? Sama sekali tidak ada yang bagus!" Tukas Brayen dingin.
"Lalu, menurutmu siapa yang bagus? Hanya dirimu?" sindir Devita.
Brayen mengedikan bahunya dan berkata, "Well, kau bisa bertanya pada para wanita yang menyukaiku,"
Devita memutar bola matanya malas. "Menyebalkan sekali!"
"Brayen," suara seorang perempuan memanggil nama Brayen. Hingga membuat Brayen dan Devita mengalihkan pandangan mereka ke arah asal suara itu. Perempuan itu melangkah mendekat ke arah Brayen dan Devita.
"Jovanka? Kau di Berlin?" Tanya Brayen sambil mengerutkan keningnya.
"Hi Brayen, aku sedang berlibur," jawab perempuan yang bernama Jovanka itu. "Maaf, aku menganggumu aku berpikir kau sedangkan bersama dengan Elena,"
"Tidak. Aku tidak bersama dengannya," tukas Brayen dengan cepat. Dia kemudian melirik ke arah Devita, ketika Jovanka menyebut nama Elena.
"Anyway, bisakah kau memperkenalkan aku dengan gadis cantik ini?" pinta Jovanka yang sudah sejak tadi menatap Devita.
"Devita, perkenalkan ini Jovanka teman kuliahku sekaligus rekan bisnisku. Jovanka, perkenalkan dia Devita, Istriku." kata Brayen, dia tidak ada pilihan lain selain mengakui Devita, Istrinya. Karena pernikahan mereka tidak di sembunyikan. Cepat atau lambat Elena akan mengetahui ini, itulah yang di pikirkan oleh Brayen. Dia akan memikirkan caranya untuk menjelaskannya pada Elena.
"Kau sudah menikah?" tanya Jovanka terkejut setelah mendengar Brayen yang sudah menikah.
"Ya, aku sudah menikah," jawab Brayen singkat.
"Maaf aku tidak tahu, karena aku sudah lama tidak kembali ke kota B. Jadi, aku tidak tahu kalau kamu sudah menikah," balas Jovanka yang merasa tidak enak.
"Ya, tidak masalah," tukas Brayen.
"Hi Devita, kau sangat cantik," sapa Jovanka dengan senyuman yang ramah melihat ke arah Devita.
"Hi, Jovanka. Kau juga sangat cantik " balas Brayen.
"Wanita tadi, mengatakan Elena siapa itu Elena!" Batin di Devita.
"Baiklah Brayen aku duluan ya, dan Devita sampai bertemu lagi senang berkenalan denganmu Devita," pamit Jovanka.
Devita pun tersenyum ramah, "Aku pun demikian, senang bertemu denganmu, Jovanka."
Kemudian Jovanka pun pergi. Lalu, Brayen dan juga Devita melanjutkan makan malam mereka. Setelah selesai makan malam, Brayen langsung membayar bill, dan kini mereka berjalan ke luar restoran. Sopir mereka sudah menjemput mereka kembali ke hotel.
...***...
Devita dan juga Brayen sudah kembali ke hotel. Mereka juga sudah selesai mandi dan sudah mengganti pakaian. Kini, Devita akan mengemasi barang - barang yang akan di bawa.
Terlebih, dia banyak membeli barang, koper pun bertambah. Yang awalnya, membawa dua koper, punya dirinya dan punya Brayen. Kini koper yang berisikan oleh - oleh sangat banyak.
Sepulang dari Berlin, Devita akan bertemu dengan mertuanya dan orang tuanya, untuk memberikan oleh - oleh yang sudah ia beli selama di Berlin.
"Akhirnya selesai," ucap Devita yang baru saja selesai merapihkan barang - barangnya dan juga barang - barang milik Brayen.
"Kau sudah selesai?" tanya Brayen.
Devita mengangguk dan menjawab, " Sudah,"
"Baiklah,"
Saat Devita hendak berjalan menuju ke arah ranjang, terdengar dering ponsel miliknya yang ada di dalam tas. Menatap ke layar ponsel ternyata Nadia, Ibunya yang menghubunginya. Dengan cepat Devita menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan, sebelum kemudian meletakkan ke telinganya.
"Ya, Mah," jawab Devita saat panggilan telepon terhubung.
"Sayang, kau masih di Berlin?" tanya Nadia dari sebrang telepon.
"Iya Mah, tapi besok pagi aku sudah akan kembali ke kota B," jawab Devita.
"Cepat sekali, lebih baik kau lama disana, Sayang. Mamah dan Mommy Rena sudah tidak sabar ingin mendengar kabar kamu mengandung, sayang." ucap Mamah Nadia.
Devita tersedak, dia tersedak setelah mendengar ucapan dari Nadia.
"Sayang, are you oke?" tanya Nadia yang khawatir.
"Yes Mah, i am fine." jawab Devita cepat.
"Ya sudah, Mamah tutup dulu. Mamah harap bisa segera mendengar kabar bahagia darimu sayang,"
Panggilan tertutup, Devita bahkan tidak menjawab kalimat terakhir Ibunya. Bagaimana tidak, kepalanya langsung berat mengingat permintaan ibunya dan ibu mertuanya.
"Astaga, kenapa mereka sangat menginginkan aku hamil. Aku tidak mau," batin Devita.
Wajah Devita berubah menjadi pucat, lalu dia berjalan ke arah ranjang dan membaringkan tubuhnya di samping Brayen. Sedangkan Brayen, mengerutkan keningnya ketika melihat wajah Devita yang tengah memikirkan sesuatu.
"Ada apa? Bukankah tadi Ibumu menghubungimu?" tanya Brayen.
"Ya, Ibuku menghubungi ku." jawab Devita singkat.
" Lalu ada apa? Kau terlihat memikirkan sesuatu?" Brayen mengerutkan keningnya, menatap lekat wajah Devita.
Devita membuang napas kasar dan berkata, "Aku ingin berbicara denganmu, Brayen? Entah kenapa Mommy Rena dan Mamah Nadia , memintaku agar segera hamil. Bagaimana ini, Brayen?"
"Mommyku sudah mengatakan itu kepadamu?" tanya Brayen.
"Kau mengetahuinya?"
"Ya, aku sudah tahu,"
"Lalu bagaimana? Aku takut, Brayen. Aku tidak mungkin hamil, kita juga tidak pernah melakukan apapun." wajah Devita berubah menjadi panik dan cemas.
"Memangnya kau mau jika kita melakukannya?" suara Brayen yang sengaja menggoda istri kecilnya.
"Ku bunuh kau, Brayen! Jika berani berbuat macam - macam denganku!" Seru Devita kesal, dia tidak rela menyerahkan dirinya pada Pernikahan mereka yang hanya tiga tahun. Tidak akan dirinya merelakan untuk Brayen.
Brayen tersenyum tipis dan berkata, " Well, aku juga tidak tertarik dengan tubuh kurus sepertimu. Lagi pula kau jangan khawatir. Kita bisa mengatakan, jika kita memang belum mendapat anak,"
"Kau selalu mengatakan aku kurus! " Cebik Devita.
"Aku berbicara yang sebenarnya, memang kau ini kurus," balas Brayen datar.
Devita mendengus kesal, " Terserah kaulah, intinya kau harus membantuku untuk menjelaskan pada orang tuamu! Aku tidak ingin hamil."
"Ya, lebih baik kau tidur sekarang. Besok, kita harus berangkat pagi,"
Devita mengangguk dan menarik selimutnya. Lalu perlahan, Devita mulai memejamkan matanya dan mulai tertidur lelap.
"Dia ini cepat sekali tertidur," gumam Brayen saat melihat Devita kini sudah terlelap
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.