Love And Contract

Love And Contract
Amarah Brayen Dan William



"Brayen, kau menyakitiku." Elena berusaha untuk melepaskan cengkraman tangannya. Namun, Brayen semakin mencengkramnya kuat hingga membuat Elena menjerit.


"Lepaskan ****** satu ini padaku. Aku yang akan menghabisinya dengan tanganku," tukas William pandangannya kini menatap perut Elena yang sudah rata lagi dan tidak lagi membuncit. William menggeram saat melihat perut Elena. Rahangnya mengeras, ia tidak bisa lagi menahan emosinya.


Brayen tersenyum sinis. "Alright, aku akan memberikannya padamu." dengan mudahnya, Brayen melempar Elena hingga tersungkur di lantai. Elena menjerit dan meringis kesakitan saat Brayen melemparnya.


Brayen langsung melangkah mendekat ke arah Devita, dan langsung memeluk istrinya itu. " Kau tidak terluka kan, sayang?" tanya Brayen khawatir.


Devita menggeleng pelan. "Tidak Brayen, aku tidak terluka."


"Maaf aku terlambat," Brayen mengecup pucuk kepala Devita.


William melangkah mendekat ke arah Elena, dengan di penuhi oleh amarah. Ia mencengkram dengan kuat lengan Elena. "Harus aku apakan wanita kejam sepertimu?!" Desis William


"William, lepaskan aku!" Sentak Elena, ia terus berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan William yang begitu kuat.


"Tuan," sapa Albert, ia menyeret paksa Ruby yang kini berada dalam cengkeraman tangannya.


"Ah, sakit! Lepaskan aku!" Ringis Ruby kesakitan saat Albert mencengkram tangan Ruby.


Ruby terkesiap, melihat Elena yang sudah berada di tangan William. Tubuhnya bergetar, ia tidak berani melihat ke arah Brayen yang terus menatap tajam dirinya.


Brayen melangkah mendekat ke arah Ruby, dengan di penuhi oleh amarah. Ia sudah tidak bisa lagi menahan dirinya. Beraninya ada orang yang menipu dirinya.


"Kau tahu apa kesalahanmu, Ruby?" tukas Brayen dingin. Dengan sorot mata tajam yang menusuk.


"A..Ampuni saya Tuan Brayen. Sungguh saya menyesal, lepaskan saya Tuan. Saya berjanji tidak akan berniat jahat pada istri anda lagi," kata Ruby dengan nada penuh permohonan pada Brayen.


Brayen tersenyum sinis. "Menurutmu, aku akan memaafkan orang - orang yang sudah berniat untuk membunuh istriku? Tidak Ruby! Aku bukanlah orang yang mudah memaafkan terlebih itu menyangkut istriku!"


Ruby menelan salivanya susah payah, tubuhnya bergetar ketakutan. "T...Tuan mohon ampuni saya, Tuan. Saya berjanji tidak akan pernah berniat untuk melukai istri anda Tuan."


Plakkk.


Suara tamparan begitu keras terdengar, membuat Ruby tersungkur di lantai.


"Brayen!!" Jerit Devita saat melihat Brayen menampar Ruby begitu keras.


Brayen melangkah mendekat ke arah Ruby yang bersimpuh di lantai. "How dare you Ruby! Kau sudah begitu berani menyamar menjadi asisten istriku. Kau begitu berani merencanakan untuk melukai istriku. Kau pikir dengan semua yang kau buat, akan membuatku untuk memaafkanmu? Aku bahkan akan membuat hidupmu seperti di neraka!"


"Albert, bawa wanita ini. Kau siksa dia, kumpulkan semua kejahatannya. Aku tidak ingin melihatnya di dalam penjara. Itu hukuman yang sangat bagus untuk pengkhianat seperti dirinya. Minta seluruh anak buahku untuk menyiksa wanita ini! Nanti aku menyusul kesana." Tukas Brayen tajam.


"Baik Tuan." Albert menarik tangan Ruby dan menyeretnya keluar.


"Brayen, jangan lakukan itu." ucap Devita yang takut saat melihat Brayen yang kini dengan penuh amarah.


"Dia pantas mendapatkannya, Devita. Aku akan membunuh orang yang berniat melukaimu!" Balas Brayen dingin.


"Cepat kau pergi dan bawa wanita itu pergi dari hadapanku, William! Sebelum aku berubah pikiran dan membunuh wanita itu dengan tanganku sendiri." seru Brayen.


"Ya, aku akan membawanya. Aku yang akan menghabisi wanita ****** ini dengan tanganku sendiri." William menyeret paksa Elena untuk keluar dari ruangan. Elena berteriak dan memberontak, namun sia - sia karena William semakin bertindak kasar padanya.


Devita melangkah mendekat ke arah Brayen dan memeluk lengan suaminya itu. "Jangan marah lagi Brayen. Aku sungguh tidak apa - apa,"


Brayen menarik tangan Devita dan membawanya kedalam pelukannya. "Maaf, aku tidak akan pernah membiarkanmu terluka, meski hanya sedikit aku tidak akan pernah membiarkannya."


Devita tersenyum dan membalas pelukan Brayen. "I know Brayen. That's why i love you!"


...***...


Brukkk.


William melempar Elena hingga bersimpuh di lantai. Elena meringis dan menjerit kesakitan. Tapi William tidak akan pernah memperdulikan setiap rintihan dan kesakitan Elena. Itu semua tidak sebanding karena Elena sudah dengan kejam membunuh anaknya.


"Sialan kau William! Lepaskan aku!" Sentak Elena, ia merasakan lengannya yang merasakan sakit.


"Harus aku apakan wanita yang sudah kejam membunuh anaknya sendiri!" Tukas William dengan penuh emosi.


"Aku sudah mengatakan padamu bukan? Jika kau menginginkan anak, kau bisa mencari wanita yang mau mengandung anakmu!" Seru Elena.


William menarik kasar rambut Elena. "Kau adalah wanita rendah yang pernah aku temui! Kau mencuri uangku di rekeningku. Tapi kau juga sudah membunuh anakku. Aku tidak perduli dengan uang yang kau ambil! Tapi kau berani membunuh anakku! Maka kau akan tahu akibatnya, Elena!"


"Ah, William lepaskan aku." ringis Elena kesakitan saat rambutnya di tarik keras oleh William.


"Lepas? Ini penyiksaan yang tidak seberapa! Aku bahkan akan memberikan penyiksaan lebih parah dari ini!" Desis William.


"Kenrick!!" Suara William begitu keras saat memanggil asistennya.


Kenrick langsung berlari ke dalam ruangan, mendengar teriakan William ia langsung berlari. "Iya Tuan." jawab Kenrick.


"Dimana seluruh anak buahku?! Apa mereka semua ada di bawah?" tanya William dingin.


"Semua ada di bawah, Tuan. Apa Tuan membutuhkan sesuatu?" tawar Kenrick.


William menyeringai. " Kau siksa wanita ini, dan katakan pada seluruh anak buahku mereka bebas melakukan apapun padanya."


Wajah Elena memucat dan menegang mendengar ucapan Brayen. Ia berusaha untuk mengatur napasnya, dan berusaha untuk tidak takut.


"T..Tuan? Melakukan apapun? Maksudnya bagaimana, Tuan?" tanya Kenrick hati - hati.


William tersenyum sinis, "Katakan pada seluruh anak buahku dan termasuk dirimu. Kalian boleh menyiksa ****** ini. Dan bukan hanya itu, jika kalian ingin menyentuhnya aku juga tidak akan perduli. Kalian semua bebas melakukan apapun yang membuatnya menderita."


Kenrick menelan salivanya susah payah mendengar ucapan William. "T...tapi Tuan. Apa Tuan serius meminta itu?"


"Aku tidak pernah bicara main - main, Ken!" Tukas William.


"B..baik, Tuan!" Jawab Kenrick.


"William sialan kau! Jika kau melakukan itu akan ku bunuh kau William!" Teriak Elena dengan kencang.


William memberi kode pada Kenrick untuk menyeret Elena keluar. Dengan cepat Kenrick menarik kasar tangan Elena dan menyeretnya keluar. Elena terus berteriak dan memberontak, namun sia - sia karena Kenrick mencengkram kuat tangannya.


"Penyiksaan yang aku berikan tidak ada apa - apanya di bandingkan kau sudah membunuh anakku!" Tukas William dengan tatapan tajam ia mengepalkan tangannya dengan kuat.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.