
"Devita, Mama dan Papa sudah memutuskan untuk bercerai." suara Nadia bergetar saat mengucapkan ini. Tubuh Devita mulai melemas, ia bahkan tidak mampu mencerna dengan baik, apa yang di katakan oleh Ibunya ini. Seperti tersambar petir, ini tidak mungkin. Ayah dan Ibunya adalah pasangan yang begitu sempurna.
"M..Maksud Mama apa?"air mata Devita mulai berlinang. Ia tidak mampu lagi menahannya.
"Devita, Mama akan segera bercerai dengan Papa. Setelah bercerai Mama akan pindah dari kota B. Kau sudah menikah, Sayang. Mama yakin, Brayen bisa menjaga dirimu dengan sangat baik." ucap Nadia.
"Tidak Ma! Aku tidak mau Mama dan Papa bercerai! Kenapa Ma? Apa alasan Mama dan Papa bercerai!" Seru Devita.
"Sayang, ada beberapa hal yang Mama tidak bisa menceritakannya padamu. Tapi percayalah, selamanya Mama akan menyayangimu. Di manapun Mama berada, Devita tetap putri kesayangan Mama. Mama percaya, Brayen akan menjagamu dengan baik." ujar Nadia dengan suara yang begitu tenang. Devita tahu, Ibunya berusaha untuk menahan tangisannya.
"Tidak boleh, Mama tidak boleh pindah! Mama juga tidak boleh bercerai!" Teriak Devita dengan kencang.
"Maafkan Mama, Sayang." ucap Nadia dengan begitu lirih.
"Ma-"
Panggilan terputus. Nadia lebih dulu memutuskan panggilan teleponnya. Devita meremas dengan kuat ponselnya. Tangisnya pecah, ia tidak mau orang tuanya bercerai.
Brayen berlari saat mendengar suara tangis Devita. Tidak hanya Brayen, Felix dan juga Laretta berlari menghampiri Devita.
Saat Brayen melihat dengan jelas Istrinya menangis, dia langsung berlari ke arah Devita dan memeluk erat tubuh Devita.
"Sst, Sayang. Ada apa?" tanya Brayen, ia terus memeluk erat tubuh istrinya.
"Mama-" Devita terus terisak, bahkan dia tidak mampu lagi berkata - kata.
"Mama kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Brayen dengan cemas.
"M-Mama dan Papa ingin bercerai." Devita kembali menangis saat mengucapkan ini. Brayen langsung mengeratkan pelukannya dan mengelus kepala istrinya. " Kita akan menemui mereka besok. Tenanglah." balas Brayen yang berusaha menenangkan istrinya.
...***...
Brayen membawa Devita masuk ke dalam kamar. Kini Devita duduk di ranjang dengan punggung yang bersandar di kepala ranjang. Brayen juga meminta pelayan membawakan coklat hangat untuk Istrinya.
Felix sudah berpamitan pulang. Dia tidak ingin menganggu Devita dan Brayen. Sedangkan Laretta, sebenarnya Laretta tadi menawarkan diri untuk menghibur Devita. Tapi Brayen meminta Laretta untuk masuk kedalam kamar.
Brayen duduk di samping Istrinya. Ia menatap lembut Devita yang masih terdiam. " Devita, aku yakin Ibumu hanya karena sedang marah."
"Mama mengatakan padaku di akan bercerai dan akan meninggalkan kota B. Aku tidak ingin orang tuaku bercerai Brayen. Aku juga tidak mau Mamaku pindah dari kota B. Aku tidak bisa jauh darinya." ucap Devita air matanya terus berlinang membasahi pipinya.
Brayen menarik tangan Devita dan membawanya kedalam pelukannya. " Ssst, aku tidak suka melihatmu menangis seperti ini."
"Brayen, kenapa orang tuaku ingin bercerai? Mereka saling mencintai Brayen. Aku tidak ingin mereka berpisah." suara Devita terdengar begitu lirih.
"Devita, terkadang kita harus menghadapi semua kenyataan. Percayalah, aku akan selalu berada di sisimu." ujar Brayen, ia mengelus dengan lembut rambut Istrinya.
"Lebih baik kita beristirahat. Besok aku akan menemanimu bertemu dengan orang tuamu." kata Brayen dan Devita pun mengangguk.
...***...
"Nadia, hentikan. Kau tidak bisa pergi!" Seru Edwin, ia terus menarik tangan Istrinya.
"Ini salah paham. Demi Tuhan, Nadia. Aku tidak pernah berselingkuh!" Tukas Edwin.
"Nadia, aku dan dia hanya masa lalu. Percayalah, aku tidak mungkin berselingkuh." kata Edwin yang berusaha untuk menjelaskan.
"Hentikan omong kosongmu Edwin Smith! Apa karena aku tidak bisa lagi mengandung? Dan aku hanya bisa memberimu satu orang anak, jadi kau berselingkuh dariku?" seru Nadia dengan penuh emosi.
"Apa yang kau katakan Nadia! Devita adalah putriku, dia adalah hidupku! Meski kita hanya memiliki satu anak tapi aku sangat bahagia memiliknya!" Tukas Edwin penuh dengan penekanan. Ia berusaha untuk mengendalikan amarahnya.
"Kau sudah memiliki dua orang anak dengan wanita lain. Tidak perlu menganggap Devita. Dia adalah putriku! Putriku!" Seru Nadia menegaskan. "Besok, aku akan mengirimkan surat perceraian. Kau tanda tangani itu, dengan begitu kau bisa kembali pada wanitamu dan kedua anakmu itu."
"Tidak ada perceraian! Apa kau ini sudah gila Nadia! Devita pasti akan sangat kecewa jika kita bercerai!" Sentak Edwin
Nadia tersenyum miris. "Kecewa? Kau benar - benar memikirkan perasaan Devita atau kau sedang memikirkan perkataan publik tentangmu? Aku tahu Edwin, kau hanya tidak ingin publik membicarakan tentang pernikahan kita yang gagal bukan? Jangan hanya karena Devita menikah dengan Brayen dan menjadi kerabat dari Alexander David Mahendra, aku akan tetap bertahan. Jawabannya adalah tidak! Meski kita memiliki hubungan dengan Alexander David Mahendra, aku tetap tidak perduli! Besok, surat cerai harus segera kau tanda tangani!"
"Kita bicarakan ini besok. Jika kau masih berani ingin pergi dari sini. Aku akan mengurungmu!" Tukas Edwin dengan tajam. Ia langsung menarik paksa tangan istrinya. Nadia, berusaha melepaskan cengkraman tangan Edwin namun sia - sia. Edwin semakin mencengkram dengan kuat tangan Nadia.
...***...
Devita berdiri menatap cermin, matanya sembab karena tadi malam dia tidak henti menangis. Meski Brayen selalu menenangkan dirinya, tapi Devita tidak bisa menutupi, ketakutan akan orang tuanya bercerai. Hingga detik ini, Devita sulit mempercayai semuanya. Terlebih Devita sangat tahu, orang tuanya saling mencintai. Bagi Devita, kedua orang tuanya adalah pasangan yang sangat begitu sempurna. Edwin Ayahnya begitu mencintai Ibunya. Rasanya tidak mungkin mereka bercerai.
Brayen berjalan keluar dari walk in closet, ia menatap istrinya yang sedang melamun. Brayen langsung melangkah mendekat ke arah Devita dan memeluk istrinya dari belakang.
"Ada apa, Hem?" tanya Brayen.
"Aku takut Brayen." jawab Devita.
Brayen membalikkan tubuh Istrinya dan kini menghadap dirinya. Ia mengelus dengan lembut pipi Devita. " Tidak ada yang perlu di takutkan, Devita. Aku disini, di sampingmu. Aku yakin orang tuamu hanya salah paham."
"Tapi kemarin Mama menangis Brayen, aku mendengar tangisannya begitu menyakitkan. Ini pertama kali aku mendengar Mama menangis seperti itu. Aku sudah memaksanya untuk menceritakan padaku, dia tetap tidak mau menceritakan masalahnya." ujar Devita, wajahnya begitu muram. Mengingat Ibunya yang menangis begitu pilu.
"Kita akan mencari tahu semuanya. Lebih baik kita berangkat sekarang." kata Brayen dan Devita pun mengangguk.
Hari ini, Brayen memang sengaja tidak datang ke kantor. Ia memilih untuk menemani istrinya untuk datang ke rumah orang tuanya. Brayen tidak mungkin membiarkan Devita pergi seorang diri. Brayen menyerahkan semua pekerjaannya pada Albert. Baginya, Istrinya itu jauh lebih penting.
Brayen menggenggam tangan Devita berjalan keluar dari kamar. Tidak hanya Brayen, hari ini Devita juga memilih untuk tidak datang ke kampus. Devita ingin langsung segera menemui kedua orang tuanya. Rasanya, Devita ingin tahu apa masalah kedua orang tuanya hingga Ibunya memutuskan untuk bercerai.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.