
"Jadi Devita mengadukan semuanya kepada Kakak?" raut wajah Alena berubah, terlihat menunjukkan kemarahan dan kekecewaan.
"Ini bukan karena Devita yang mengadu! Tapi ini karena sifatmu yang sudah keterlaluan! Devita itu Kakak Ipar Laretta! Dan kau tahu dengan jelas kalau Laretta itu bukan wanita sembarangan. Kau bahkan tidak tahu apa - apa tentang Laretta! Kau hanya menilai Laretta buruk, karena dia hamil lebih dulu begitu?" seru Angkasa meninggikan suaranya. "Dan di sini, aku tekankan kepadamu. Semua ini bukan salah Laretta! Tapi karena keadaan yang saat itu aku dan Laretta mabuk dan melakukan sebuah kesalahan. Meski kami melakukan kesalahan, kami mempertanggung jawabkan itu semua! Jadi singkirkan pikiran burukmu tentang Laretta!"
"Kenapa kau dan Devita selalu membela wanita itu? Aku memang tidak menyukainya! Aku tidak akan pernah menyukai Laretta Gissel Mahendra! Aku tidak perduli meski dia adalah putri dari Alexander David Mahendra! Bagiku, Laretta tetap wanita rendahan yang sudah menjebak mu! Dan dia itu sangat menjijikkan!" Alena menggeram penuh amarah. Terlihat jelas jika Alena tidak suka jika ada yang membela Laretta.
"Alena Nakamura!" Bentak Angkasa.
"Dimana sopanmu kepada orang yang lebih tua? Kenapa kau jadi seperti ini Alena!"
"Alena! Jaga bicaramu! Dia itu adalah adik dari Brayen Adams Mahendra. Mereka itu bukan keluarga sembarang! Kalau sampai Brayen mendengar kau menghina adiknya seperti ini, Ayah takut kau akan mendapatkan kemarahannya darinya! Ayah tidak sanggup membayangkannya kalau hal itu sampai terjadi." Peringat Varell dingin pada putrinya.
"Alena, minta maaf sekarang pada Kakakmu!
Bukankah Mama sudah mengingatkan padamu sejak awal, jangan mencari masalah Alena! Keluarga Mahendra bukanlah keluarga yang bisa kau rendahkan seperti itu!" Sambung Citra tegas.
"Kenapa kalian juga ikut - ikutan membela Laretta? Kenapa? Aku membencinya! Di mataku, dia tetap wanita murahan dan rendahan! Aku tahu, dia pasti hanya menjebak Kak Angkasa! Bisa juga Laretta mengandung anak dari pria lain!" Seru Alena meninggikan suaranya.
Plaaakkk.
Angkasa melayangkan tamparan keras, hingga membuat Alena tersungkur ke lantai. Alena menyentuh pipinya, air matanya berlinang membasahi pipinya. Ini pertama kalinya ia di tampar oleh Kakaknya sendiri. Hatinya begitu sakit dan sesak menerima tamparan ini.
"Angkasa!" Sentak Varell, namun Citra langsung menyentuh lengan Varell. Meminta suaminya itu untuk tetap tenang.
"Kau menamparku, Kak? Kau berani menamparku hanya karena wanita rendah itu? Aku ini adikmu Kak...." kata Alena lirih. Air matanya terus berlinang membasahi pipinya.
"Aku akan melakukan lebih dari sekedar tamparan jika kau berani menghina Laretta lagi. Wanita yang kau hina itu adalah calon istriku! Ibu dari anakku, dan aku tidak akan tinggal diam jika kau berani menghinanya! Aku memberikan peringatan pertama dan terakhir padamu, Alena. Jika kau berani menghina calon istriku, jangan salahkan aku akan mengirim mu untuk meninggalkan kota ini!" Peringat Angkasa tajam.
Kemudian Angkasa membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan ruang keluarga. Namun, langkah Angkasa terhenti ketika mendengar teriakan Alena yang begitu keras.
"Dengarkan aku, Kak! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyukai wanita itu! Meski kau membunuhku sekalipun, aku tidak akan pernah menyukainya! Karena aku tahu, dia itu hanya menjebak mu! Dan sekarang, kau membuatku semakin membenci wanita rendahan itu!" Teriak Alena begitu keras.
Angkasa melirik tajam ke arah Alena dengan sudut matanya. "Maka kau harus bersiap dengan keputusan yang aku ambil. Aku tidak akan mentoleransi seorang pemberontak berada di keluarga Nakamura."
Angkasa melanjutkan lagi langkahnya, dia mengeluarkan kunci mobilnya dari dalam saku celananya. Lalu masuk kedalam mobil dan mulai melajukkan mobilnya dengan kecepatan penuh. Saat ini, Angkasa butuh ketenangan, dan yang Angkasa butuhkan adalah di dekat Laretta, wanita yang kini sudah menarik perhatiannya.
"Devita, apa kau tahu kemana Angkasa? Tadi dia bilang padaku, dia akan pergi ke perusahaan." kata Laretta sambil menikmati suasana taman. Bunga yang tumbuh di taman itu sangat indah. Laretta tidak henti menatapnya sejak tadi.
"Aku rasa, dia menyelesaikan beberapa masalah di perusahaan." jawab Devita yang terpaksa berbohong. Dan tidak mungkin kan Devita menceritakan semuanya pada Laretta. Devita tidak ingin melukai perasaan adik iparnya itu.
Laretta mendesah pelan. "Kau tahu Devita, terkadang aku masih tidak percaya dengan takdirku. Takdir yang membawaku harus berhubungan dengan masa lalu Kakak Iparku sendiri. Dulu aku berpikir, aku tidak mungkin untuk melupakan Felix. Bertahun - tahun aku di Melbourne dan Seoul, berjuang keras untuk melupakan Felix tapi kenyataannya tidak bisa. Hingga akhirnya aku di pertemukan dengan Angkasa, dan perlahan aku mulai menaruh perasaanku."
Devita tersenyum. "Aku juga tidak pernah menyangka dengan takdirku, Laretta. Dulu, aku selalu berpikir, akan menikah dengan Angkasa. Dan di hari dimana, Ayahku mengatakan aku harus menikah dengan Brayen, saat itu aku tidak tahu harus apa.Namun, aku menjalani semuanya. Aku rasa kau juga tahu, ketika aku menikah dengan Brayen, dia masih menjadi kekasih Elena. Tidak ada yang aku harapkan dengan pernikahan kami."
"Aku bahkan sama sekali tidak menyangka akan jatuh cinta pada Kakakmu. Jika aku sering membaca novel romantis kesukaanku, pemeran utama sering kehilangan cinta pertamanya, tapi aku tidak menyukai novel itu. Dulu, bagiku cinta pertama akan memberi kesan di hati kita dan rasanya sulit untuk melupakan seseorang yang berhasil menyentuh hati kita untuk pertama kalinya."
"Namun, semua yang aku pikirkan itu berubah ketika aku mencintai Brayen. Perasaanku pada Brayen jauh lebih besar. Aku mencintainya, bahkan aku tidak pernah berhenti mencintainya. Aku ingin selalu berada di dekatnya. Selalu berada di sisinya. Perasaan yang aku alami pada Brayen, tidak pernah aku alami pada Angkasa. Dan sekarang aku sadar, cinta pertama adalah suatu peran yang mengajarkan kita artinya untuk mencinta seseorang. Dan pada akhirnya, cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang kita percayai menjadi yang terakhir di hidup kita."
"Dan aku percaya, pertemuan mu dengan Angkasa karena kalian memang sudah di takdirkan untuk bersama. Seperti aku dan Brayen yang sudah menemukan kebahagiaan kami. Aku juga percaya kau akan memiliki kebahagiaan dengan Angkasa."
Devita menyentuh tangan Laretta, dan menatap lembut Laretta. Perkataan Devita, sungguh membuat Laretta tersentuh. Devita mengungkapkan semua yang dia rasakan ini.
"Semua yang kau katakan benar, Devita. Dan inilah takdir yang aku terima. Tapi aku sangat bahagia. Angkasa adalah pria yang sangat baik. Selama ini, Angkasa selalu menunjukkan kasih sayangnya dan sifatnya yang lembut. Dulu, aku mengharapkan Felix yang melakukan ini. Sekarang, aku mendapatkan semua perhatian dari pria yang akan menjadi suamiku. Bagiku, berada di samping Angkasa adalah hal yang terbaik. Aku sangat bersyukur Kakakku Brayen akhirnya menyetujui kami. Tidak hanya itu tetapi kedua orang tuaku juga menyetujui hubungan kami." Laretta menatap langit yang sudah mulai menggelap, sesekali Laretta memejamkan mata singkat dan merasakan hembusan angin yang begitu menyejukkan kulitnya."
"Sejak awal aku juga sudah yakin, jika Brayen akan menyetujui hubunganmu dengan Angkasa. Meski Brayen memiliki banyak persyaratan, tapi suamiku itu memang memilki caranya tersendiri." balas Devita. "Dad David dan Mom Rena pernah kecewa padamu, tapi mereka tetap orang tuamu. Sudah pasti mereka akan memaafkanmu, Laretta." sambung Devita.
...***********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.