Love And Contract

Love And Contract
Ingin Tahu



"W... William, kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Devita yang sedikit terkejut melihat William kini sudah berdiri di hadapannya.


"Boleh kita bicara sebentar, jika tidak keberatan kita bisa makan siang bersama. Kau ingin makan bukan?" kata William, ia menatap lekat Devita.


"William, kau ingin bicara apa?" tanya Devita.


"Devita, anggap aku ini temanmu. Kita hanya makan siang dan kau bisa memilih restoran terdekat dari sini bukan? Lebih baik kita berbicara sambil duduk dari pada kita harus berbicara di luar seperti ini." ujar William.


"Baiklah, kita restoran di depan sana. Itu dekat dari sini." ucap Devita, lalu dia dan William berjalan meninggalkan kampus dan berjalan menuju restoran dekat dengan kampus. Biasanya restoran ini, sering Devita datangi bersama dengan Olivia.


...***...


Kini Devita dan juga William sudah tiba di restoran. Devita memilih untuk duduk di sudut kanan dekat dengan jendela. Sebenarnya Devita ingin makan siang, tapi Devita takut Brayen akan melihatnya. Akhirnya Devita memilih untuk memesan avocado juice.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Devita.


"Bagaimana kabarmu, Devita?" tanya William.


"Aku baik. Maaf William, aku tidak bisa lama. Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan denganku, William?" tanya Devita, ia sudah sejak tadi penasaran dengan apa yang ingin di katakan oleh William.


"Baiklah, aku mengerti. Aku hanya ingin mengatakan tentang Elena. Pasti kau sudah tahu bukan, tentang Elena yang menghilang? Saat ini aku sedang mencarinya, tapi aku belum menemukannya." ujar William.


Devita mengangguk. " Ya, aku tahu."


"Elena meninggalkan surat untukku, dia bilang dia akan menggugurkan anakku. Dia juga bilang akan menyelesaikan beberapa urusannya. Aku merasa Elena akan berusaha untuk melukaimu, Devita. Dia terlalu terobsesi untuk memiliki Brayen. Aku harap kau berhati - hati. Lebih baik, kemana pun kamu pergi minta Brayen menyediakan pengawal untukmu." ujar William.


"Aku memang bukan teman Brayen. Kami memang sejak dulu bermusuhan, Devita. Tapi jika boleh jujur, aku menyukaimu. Kau wanita yang baik. Aku tidak ingin Elena melukaimu. Meski aku dan Brayen tidak berhubungan dengan baik, bukan berarti aku harus membencimu, bukan? Aku harus mengakui Brayen sangat beruntung memiliki istri seperti dirimu, Devita." lanjut William.


"Boleh aku bertanya sesuatu padamu, William?" kata Devita.


"Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya William.


"Sebelumnya aku berterima kasih, karena kau sudah mengingatkanku. Tapi aku yakin, aku bisa menjaga diriku sendiri, William. Aku memang tidak suka, jika ada pengawal dari Brayen yang mengikutiku. Alasannya tentu karena aku tidak ingin menjadi pusat perhatian orang - orang di sekitarku. Dan untuk Elena, kau tidak perlu khawatir, aku bisa melindungi diriku dengan baik William." ujar Devita.


"Sekarang aku ingin bertanya padamu, kenapa kau dan Brayen tidak memiliki hubungan yang baik? Apa Brayen pernah menyakitimu, hingga membuatmu tidak menjalin hubungan yang baik dengan Brayen?" tanya Devita. Sudah sejak lama, Devita ingin menanyakan ini pada William. Ia rasa, ini adalah waktu yang tepat untuk bertanya langsung tentang masalah William dan juga Brayen.


"Aku harap kau tidak membenciku, jika aku menceritakan masalahku dengan Brayen." balas William.


"Dulu, aku dan Brayen. Kita cukup dekat. Aku memang membuat kesalahan di masa lalu. Aku menjebak kekasih Brayen tidur denganku. Begitu juga dengan Elena. Tapi saat dengan Elena, aku cukup memberikan uang yang banyak pada Elena dan Elena tidak mungkin menolakku." jelas William.



"Aku ingin sekali membuatmu menjadi milikku, tapi aku sadar kau terlalu baik untuk aku lukai. Aku tidak bisa melukaimu. Tapi meski aku tidak bisa melukaimu, hubunganku dengan Brayen tidak akan pernah bisa seperti dulu. Kau pasti sudah tahu, betapa arogantnya suamimu itu,"


Devita terdiam mendengar semua ucapan William. Sudah sejak lama ia ingin bertanya langsung pada William. " Kau tidak perlu merasa, Brayen memiliki segalanya. Aku rasa kau juga memiliki segalanya. Kau tampan dan juga hebat. Setiap orang juga pernah memiliki kesalahan. Aku harap kau tidak akan mengulangi lagi kesalahanmu di masa lalu." balas Devita.


"Aku harus bersenang hati, karena hari ini kau memujiku," ucap William dengan senyum di wajahnya.


"William, apa kau mencintai Elena?" tanya Devita.


"Aku memang tidak mencintainya, tapi aku memikirkan anak ku yang di kandung olehnya. Jika bukan karena, Elena hamil anakku, maka aku tidak akan mungkin mencarinya. Aku tidak pernah perduli dengan wanita itu. Sejak awal aku sudah tahu, saat dia menjalin hubungan dengan Brayen, dia bukanlah wanita yang baik. Semua pria bisa bersama dengannya asalkan, pria itu memiliki banyak uang," ujar William.


"Dan kau pernah menjadi salah satu pria itu. Kau pernah bersama dengan Elena." tukas Devita.


"Kau benar, seperti yang aku bilang tujuanku adalah karena Elena kekasih Brayen. Aku bukan pria baik Devita. Aku dan Brayen, kita tidak lagi berteman baik. Banyak hal yang aku tidak bisa ceritakan semua permasalahanku dengan Brayen," jelas William.


"William, aku tidak akan bertanya lagi tentang masalahmu dengan Brayen. Tapi aku harap, kau bisa berubah menjadi yang lebih baik. Jika kau tidak mencintai Elena, kau bisa mencari wanita yang baik di hidupmu. Aku berharap kau bisa segera menemukan Elena. Dan kau jangan khawatir tentangku, aku yakin aku bisa melindungi diriku sendiri, William."


"Baiklah, aku hanya ingin mengingatkanmu untuk lebih berhati-hati. Kau tidak tahu siapa Elena. Aku tidak ingin Elena akan mencelakaimu, Devita." ujar William.


"Aku bisa menjaga diriku, William. Kau tenang saja," balas Devita.


"Maaf William, aku harus pergi. Aku tidak bisa lama - lama di sini. Aku harus menemani Laretta karena dia sedang tinggal di rumahku," pamit Devita.


"Ya, hati - hati Devita." balas William.


Kemudian Devita beranjak dan berjalan meninggalkan William. Ya, Devita tidak bisa berlama - lama di restoran itu bersama dengan William. Ia sangat takut jika Brayen melihatnya. Jika Brayen tahu, pasti Brayen akan salah paham lagi dan langsung marah padanya.


... *****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.