Love And Contract

Love And Contract
Perdebatan Brayen Dan Devita



Devita mengangguk. "Besok kau masih harus bangun pagi.Lebih baik kau segera pulang dan beristirahat."


"Baiklah, kalau begitu aku duluan.Jika membutuhkan sesuatu kau harus menghubungiku," balas Olivia.


"Iya Olivia. Kau pulanglah dan jangan berisik" tukas Devita.


"Kau malah mengatakan aku berisik!"Cebik Olivia kesal. " Ya sudah, aku pulang sekarang!"


Devita tersenyum kemudian berkata, "Ya hati - hati,"


Olivia berjalan meninggalkan Devita. Menuju ke arah parkiran mobil. Dengan terpaksa dia harus meninggalkan Devita. Sebenarnya Olivia tidak tega, tapi Devita memaksanya untuk pulang. Beruntung para karyawan yang banyak lembur. Itu yang membuat Olivia lebih tenang, ketika meninggalkan Devita sendiri.


"Devita..." suara bariton memanggil, hingga membuat Devita mengalihkan pandangannya.


Kening Devita berkerut dalam, ketika melihat William kini berjalan mendekat ke arahnya. "William? Kau belum pulang?" tanya Devita.


"Kau sendiri, kenapa masih belum pulang?" tanya William balik.


"Aku sedang menunggu Brayen," jawab Devita.


"Brayen menjemputmu? Tidak biasanya Brayen menjemputmu, biasanya kau selalu membawa mobil," ujar William. Seketika pikiran William teringat perdebatannya dengan Brayen tadi pagi. William menyeringai, dia yakin Brayen sengaja menjemput Devita.


"Ya, hari ini Brayen melarangku untuk membawa mobil. Jadi dia yang mengantar dan menjemputku," balas Devita.


"Jika Brayen terlalu lama, aku bisa mengantarmu," tawar William.


"Tidak perlu William, aku lebih baik menunggu Brayen. Karena Brayen sudah mengatakan, jika dia yang akan menjemputku. Jadi lebih baik aku menunggunya," jawab Devita. Dia tidak mungkin menerima ajakan William. Sedangkan Devita tahu benar jika Brayen tidak menyukai William. Bisa - bisa sampai rumah nanti Brayen akan marah besar kalau Devita di antar oleh William.


Tiga puluh menit sudah Devita menunggu Brayen. Namun, suaminya itu juga belum muncul. Sedangkan William masih berdiri di samping Devita. Padahal Devita sudah mengatakan William untuk pulang lebih dulu. Tapi pria itu memilih untuk menunggunya.


"Brayen kurang ajar! Kenapa dia lama sekali. Percuma saja, jika dia memilih mobil sport termahal. Tapi menjemputku saja masih lama!" Gerutu Devita di dalam hati.


"Devita, apa kau yakin Brayen akan menjemputmu? Mungkin dia sekarang sedang ada meeting," kata William.


"Tapi Brayen sudah mengatakan dia akan menjemputku." jawab Devita. " Aku yakin, sebentar lagi dia juga datang. Lebih baik kau pulang saja William, aku tidak enak jika kau harus menemaniku di sini?"


"Tidak apa - apa, lagi pula aku juga tidak ingin langsung pulang. Jadi tidak masalah jika aku menunggumu hingga Brayen datang," balas William.


"Baiklah," Devita tidak bisa melarang, karena bagaimana pun lobby ini adalah bagian milik dari William. Tidak mungkin Devita mengusir pemilik perusahaan.


Tidak lama kemudian mobil Bugatti berwarna hitam masuk ke dalam lobby Dixon's Group. Devita menatap mobil itu, dia langsung tersenyum akhirnya Brayen datang. Tentu saja Devita mengenal pemilik mobil itu, karena mobil milik Brayen adalah limited edition. Tidak semua orang memiliki mobil sport keluaran terbaru itu.


Dari dalam mobil Brayen menyeringai ketika melihat Devita yang di temani oleh William. Brayen turun dari mobil itu, dia mengancingkan jasnya itu lalu berjalan menuju ke arah Devita.


"Maaf, aku terlambat," ujar Brayen sambil menarik dagu Devita mencium dan ******* kecil bibir ranum Devita.


Devita membulatkan matanya terkejut karena Brayen menciumnya di depan William. Sungguh memalukkan tetapi Devita juga tidak bisa menolak.


"Kau di sini rupanya William? Terima kasih karena sudah menemani Istriku," ucap Brayen sambil menatap William. Tangannya memeluk pinggang Devita.


William tidak bergeming, dia tidak menjawab sapaan Brayen. Dia hanya menatap Brayen yang menunjukkan kemesraannya dengan Devita.


"Brayen, sepertinya benar - benar sakit hati!" Ucap Devita di dalam hati.


"Kalau begitu, aku dan Istriku harus pergi," kata Brayen. Kenudian dia menggenggam tangan Devita untuk masuk ke dalam mobil.


William mengangguk dan tersenyum ke arah Devita.


Devita dan Brayen masuk ke dalam mobil, kemudian Brayen melajukkan mobilnya meninggalkan lobby Dixon's Group.


...****...


Sepanjang perjalanan Devita kembali memikirkan perilaku Brayen kepadanya hari ini. Bagaimana mungkin Brayen bisa mencium dirinya di depan umum? Benar - benar sungguh memalukkan.


"Brayen, kenapa kau menciumku di depan umum? Apalagi di depan William. Aku sangat malu jika kau seperti itu!" Seru Devita yang kesal. Dia sangat yakin, tidak hanya Brayen yang melihatnya, tetapi orang yang berada di sekitar lobby pasti melihatnya juga.


"Kau jangan selalu berlebihan Devita! Itu hanya sebuah ciuman, bukan masalah besar," jawab Brayen santai tanpa mengalihkan pandangannya ke depan.


Devita mendengus kesal mendengar ucapan Brayen. Benar - benar menyebalkan! Brayen bahkan seolah tidak memperdulikkan itu.


Hingga kemudian, tanpa di duga Devita mengulurkan tangannya ke kening Brayen. Sontak membuat Brayen mengerutkan dahinya saat telapak tangan Devita menempel di keningnya.


Dengan cepat Brayen menepis tangan Devita yang menempel di keningnya.


"Kenapa kau menempelkan tanganmu di keningku?" tanya Brayen dengan nada suara yang terdengar kesal.


"Aku hanya ingin memeriksa saja. Apa kau ini sakit atau pun sehat? Tapi suhu badanmu normal, kau tidak demam" jelas Devita.


"Apa maksudmu? Memangnya siapa yang sakit?" tanya Brayen yang menautkan alisnya, menatap bingung pada Devita.


Devita berdecak. "Aku memeriksamu! Tentu saja kau yang sakit! Memangnya siapa lagi yang lagi sakit?"


"Aku tidak sakit! Kenapa kau bilang aku sakit?" tanya Brayen yang semakin bingung. Jika dia sakit, tidak mungkin bisa menjemput gadis kecil ini.


Devita mengedikkan bahunya acuh. " Kau mengantarku dan menjemputku. Lalu, tadi kau membukakan pintu mobil untukku. Selama ini, kapan kau bersikap manis seperti itu? Jadi wajar saja aku menganggapmu sakit?"


Brayen menghentikkan mobilnya ke tepi jalan. Dia melayangkan tatapan tajamnya kepada Devita. "Dasar bodoh! Jadi karena itu, kau menganggapku sakit? Aku tidak habis pikir, bagaimana dosenmu mengajarkan dirimu. Mungkin seharusnya, kau tidak akan bisa lulus SMA!"


Devita langsung memukul lengan Brayen, setelah mendengar perkataan pria itu. Dia tidak terima dengan apa yang di katakan oleh Brayen. Padahal Devita, adalah satu mahasiswi yang berprestasi.


"Brayen kurang ajar! Kau menghinaku bodoh?!" Seru Devita kesal.


"Aku tidak menghina, aku hanya berbicara tentang keadaan yang sebenarnya!" Jawab Brayen.


"Kau....!" Geram Devita. Dia melayangkan tatapan tajamnya pada Brayen. Namun, Brayen tidak perduli. Brayen kembali melajukan mobilnya tanpa memperdulikan Devita.


...****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.