Love And Contract

Love And Contract
Mengemasi Barang-barang



Hai Para Reader ku, untuk sekarang author kasih alur ceritanya yang manis - manis dulu ya~ sebelum episode yang menguras emosi dan air mata akan datang nanti.


Jadi, nantikan terus kisah mereka selanjutnya ya...!


Di tunggu komentarnya juga biar bisa crazy up lagi.


Happy Reading....๐Ÿค—


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


Devita memasukkan barang - barang yang akan di bawa oleh dirinya dan juga Brayen untuk berlibur. Besok mereka akan berangkat. Dan Devita hanya mengemasi barang - barang pentingnya. Untuk beberapa pakaian sudah di kemasi oleh pelayan. Devita tahu, Brayen akan marah jika Devita mengemasi barang-barang sendiri. Itu kenapa Devita meminta pelayan untuk mengemasi pakaiannya. Setelah memastikan jika semuanya telah di bawa, Devita menutup koper dan meminta pelayan untuk meletakkannya di dekat jendela.


Devita tersenyum bahagia, akhirnya dia bisa berlibur. Terlebih banyaknya masalah yang datang di kehidupannya membuat Devita sudah lama tidak berlibur. Terakhir Devita pergi berlibur yaitu ke Turkey bersama dengan Brayen.


Devita melangkah menuju sofa, dia duduk di sofa. Tidak lama kemudian pelayan mengantarkan chocholate cake dan juga ice cream untuknya. Seperti biasa Devita memang menyukai makanan yang manis. Terkadang Devita memang ingin makanan yang pedas tapi Brayen selalu melarang. Terpaksa Devita menurut karena jika tidak pasti dirinya akan berdebat dengan suaminya itu.


Terdengar suara ketukan pintu Devita mengalihkan pandangannya menatap ke arah pintu. Devita langsung menginterupsi untuk masuk. Devita menatap lekat ke arah Laretta yang melangkah mendekat ke arahnya. Kening Devita berkerut dalam melihat wajah Laretta yang terlihat begitu kesal.


"Ada apa Laretta?" tanya Devita bingung, melihat wajah adik iparnya itu yang terlihat begitu kesal.


Laretta masih diam, dia duduk di samping Devita. "Aku sedang bertengkar dengan Angkasa."


"Bertengkar?" tanya Devita sambil menautkan alisnya, "Kenapa kalian bertengkar?"


"Aku hanya meminta Angkasa untuk tidak sibuk dengan pekerjaannya." jawab Laretta. "Karena besok kita akan berangkat ke Las Vegas. Tapi Angkasa masih terus sibuk dengan pekerjaannya itu."


Devita mengulum senyumannya. "Memangnya apa bedanya dengan Kakakmu itu? Apa kau tidak tahu dimana Brayen sekarang?"


"Memangnya dimana Kak Brayen?" tanya Laretta yang baru menyadari Brayen tidak ada di kamarnya.


"Kakakmu itu tadi mendapatkan telepon dari rekan bisnisnya yang dari Russia dan mengajaknya untuk bermain golf bersama." Devita menghela nafas dalam. "Dan dengan mudahnya Brayen mengatakan tidak akan pulang terlambat tapi kenyataannya sudah sampai tiga jam, Brayen belum juga pulang."


Laretta terkekeh pelan. "Aku lupa, jika mereka adalah pria yang selalu yang sibuk. Baik Kakakku dan juga Angkasa mereka adalah pria yang mengutamakan pekerjaannya.


"Kau benar, aku saja sampai kesal. Aku tadi menghubungi Brayen tapi dia tidak menjawab," balas Devita.


"Makanlah ini. Kalau aku sedang kesal ice dan cake membuatku jauh lebih tenang." Devita memberikan chocolate cake dan ice creamnya pada Laretta dan dengan senang hati Laretta langsung menerimanya.


"Apa kau sudah membicarakan pernikahanmu dengan Angkasa?" tanya Devita sambil mengambil remote televisi dan menghidupkan televisi di kamarnya.


"Belum," Laretta menggeleng pelan. "Aku belum membicarakan tentang pernikahan dengan Angkasa. Aku rasa nanti setelah liburan aku akan membicarakannya. Terkahir Angkasa mengatakan akan membicarakan pernikahan ketika orang tuanya sudah datang dari Jepang."


Devita mengangguk paham. "Aku selalu mendukungmu."


"Terima kasih Devita," ucap Laretta sambil tersenyum. "Devita, apa kau itu sudah selesai untuk mengemasi barang - barangnu?"


"Sudah, aku sudah mengemasi barang - barangku dan juga Brayen. Bagaimana denganmu? Apa kau itu sudah mengemasi barang - barangmu?" Devita bertanya balik pada Laretta sembari menikmati ice cream yang ada di tangannya.


"Aku juga sudah," jawab Laretta. "Devita, apa kau nanti akan memakai bikini jika kita berenang?"


"Aku tidak yakin, jika Brayen akan memperbolehkan ku untuk memakai bikini saat berenang." Devita mendesah pelan.


"Apa kau nanti akan memakai bikini?"


"Perutku ini sudah membuncit, Devita." Laretta terkekeh pelan. "Aku sungguh malu, terlebih beratku sudah naik lima kilogram."


Laretta menyandarkan punggungnya di sofa. "Kita lihat nanti, tapi aku sudah membawa beberapa jenis pakaian renang termasuk bikini."


"Ya sudah, aku rasa aku harus segera kembali ke kamar. Aku ingin memastikan lagi jika barang - barang yang ku bawa sudah lengkap semua." kata Laretta. Devita mengangguk pelan. Kemudian Laretta beranjak dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan Devita. Sedangkan Devita melihat Laretta sudah pergi, dia memilih untuk menonton film kesukaannya.


...***...


"Olivia, apa kau akan membawa barang sebanyak ini?" tanya Felix yang tak percaya melihat banyaknya koper di hadapannya.


Olivia mendengus kesal. "Tapi ini sedikit Felix! Aku juga yakin Devita dan juga Laretta akan membawa koper yang lebih banyak lagi."


"Olivia, jika kau kekurangan pakaianmu kau bisa membelinya di sana." ucap Felix sambil memijat pelan pelipisnya. Kepalanya tiba - tiba saja menjadi sakit setelah melihat koper Olivia yang begitu banyaknya.


"Aku pasti akan membeli begitu banyak barang disana, Felix. Jadi kau itu tenang saja, dan jangan terkejut jika nanti kartu kreditmu itu akan memilki jumlah tagihan yang sangat banyak." balas Olivia sambil melipat pakaiannya.


"Olivia, tapi kita hanya beberapa hari saja di Las Vegas. Tapi kenapa kau membawa barang seperti selamanya akan menetap di Las Vegas?" keluh Felix. Dia sudah tidak tahu lagi pada kekasihnya itu. Kenapa membawa barang yang begitu banyak, padahal dia bisa membelinya di Las Vegas nanti. Pikir Felix.


"Dengar Felix, kalau kita pindah ke Las Vegas mungkin saja aku akan membawa lima kali lipat dari koper ini." Olivia menutup kopernya dan kemudian meletakkannya di dekat sofa.


Felix membuang napas kasar, "Sebenarnya apa saja isi kopermu, Olivia? Kenapa begitu banyak? Memangnya kau ini akan berganti puluhan pakaian setiap harinya?"


"CK! Kau ini memang tidak tahu tentang kebiasaanku dan juga Devita. Kita itu selalu membawa banyak pakaian ketika kita berlibur. Meski nantinya kita akan berbelanja banyak, tapi kita akan selalu membawa banyak pakaian. Bahkan dulu saat kami SMA, kami hanya pergi berlibur ke kota K hanya tiga hari saja. Dan apa kau tahu? Aku dan juga Devita membawa dua koper besar." jawab Olivia dengan santai.


"Apa semua isi kopermu itu hanya pakaian? Kita bisa membelinya di sana saja, Olivia!" Seru Felix kepalanya langsung sakit lagi setelah mengetahui kebiasaan dari kekasihnya itu.


"Aku pasti akan menghabiskan kartu kreditmu yang ada di tanganku, Felix." balas Olivia kesal. "Tapi untuk pakaian yang aku bawa dari rumah tidak bisa aku kurangi. Lagi pula, kita berangkat dengan pesawat pribadi milik Brayen bukan? Jadi akan lebih nyaman."


Felix menghela nafas dalam. "Terserah kau saja. Kepalaku menjadi semakin sakit setelah melihat kopermu yang begitu banyak itu."


"Felix, kenapa kau tidak memakai pesawat pribadi milikmu saja? Kenapa kau harus memakai milik Brayen?" Olivia lebih memilih untuk mengalihkan pembicaraannya.


"Sepupuku itu tidak mungkin mau memakai pesawat pribadi milikku," jawab Felix. "Karena pesawat pribadi milik Brayen jauh lebih besar. Kau tahu sendiri sepupuku itu terlalu sombong. Mana mungkin dia mau memakai pesawat pribadiku kalau tidak dalam keadaaan yang mendesak."


Olivia terkekeh pelan. "Kau ini dengan Brayen, kalian itu sepupu bukan? Tapi kenapa tidak pernah akur? Persis seperti kartun Tom And Jerry."


"Tapi aku tidak mau menjadi Jerry. Jadi biarkan sepupuku yang arrogant itu menjadi Jerry," balas Felix.


Olivia menggeleng pelan dan tersenyum, "Lebih baik kita makan karena aku sudah sangat lapar,"


Felix mengangguk pelan, Olivia memeluk lengan Felix. Kini mereka berjalan menuju ke ruang makan.


...*********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih ๐ŸŒทatau โ˜• juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh๐Ÿ˜


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.