Love And Contract

Love And Contract
Pergi Berdua



"Sean, kamu mau bersama dengan Paman Felix dan Bibi Olivia?" ucap Devita sembari mengecup pipi gemuk Sean.


"Aku mau Mommy, aku senang bersama dengan Paman Felix dan Bibi Olivia." jawab Sean dengan memperlihatkan gigi putihnya. "Tapi Mommy dan Daddy mau pergi kemana? Apa nanti Mommy dan Daddy akan membelikanku banyak mainan?"


"Nanti Daddy akan membelikan banyak mainan untukmu," suara Brayen dari arah belakang. Kini dia melangkah menuju ke taman. Sean yang melihat Brayen datang, dia langsung turun dari pangkuan Devita dan berlari menghampiri Brayen. Dengan sigap, Brayen langsung mengulurkan tangannya dan mengangkat tinggi tubuh putranya itu.


"Daddy, nanti sungguh Daddy akan membelikanku banyak mainan?" Sean memeluk leher Brayen, dia mengecup rahang Brayen.


Brayen mengangguk, "Apapun yang kau inginkan, Daddy akan membelikannya."


"Yeay! Thank you, Daddy! I love you so much!" Sean mengeratkan pelukan tangan mungilnya di leher Brayen. Sedangkan Devita yang tidak jauh dari Brayen sudah sejak tadi menatap kesal Brayen. Ya, tentu saja Devita tahu, Brayen akan selalu mewujudkan keinginan putranya itu.


"Tapi kau tidak boleh menyusahkan Paman Felix dan Bibi Olivia, Sean... Apa kau mengerti?" ucap Devita memperingati putranya itu.


"Iya Mommy, aku god boy aku tidak akan menyusahkan Paman Felix dan juga Bibi Olivia," jawab Sean dengan suara polosnya. "Tapi Paman Felix, jika aku menginginkan sesuatu, Paman akan membelikannya, kan?" Tatapan Sean menatap Felix, dengan mata yang berbinar. Semua orang yang ada di sana tertawa melihat tingkah Sean yang menggemaskan.


Felix mendekat, dia langsung mengambil Sean dari dalam gendongan Brayen. Felix mengangkat tubuh Sean lalu mengecup pipi gemuk Sean. "Ya, apapun yang kamu minta Paman akan belikan. Asal kau jangan meminta pesawat. Uang Paman belum sebanyak Daddymu."


"Tidak Paman, Daddy yang nantinya akan membelikanku pesawat." jawab Sean sembari memeluk leher Felix.


Devita mengulum senyumannya melihat tingkah Sean. Begitupun dengan Brayen yang tersenyum tipis melihat putra kesayangannya itu. Sedangkan Olivia, dia satu - satunya yang terlihat begitu muram.


...***...


Kini Devita dan Brayen sudah tiba di tempat opera. Dia ingin mengajak istrinya untuk menonton opera. Sudah lama rasanya Brayen tidak memilki waktu berdua bersama dengan istrinya itu. Sejak dulu, Sean putranya itu selalu ikut setiap kali Brayen ingin mengajak Devita hanya berdua saja.


"Brayen, kau sudah membeli tiket?" tanya Devita memastikan.


"Sudah sayang?" Brayen mengecup kening Devita. Kemudian dia merengkuh masuk kedalam ruang opera.


Beruntung, Brayen memesan tempat duduk di tengah. Itu membuat Devita lebih nyaman ketika menonton opera. Tidak lama kemudian, teater opera di mulai.


"Brayen, nanti kita kesini lagi ya? Mengajak Sean. Pasti Sean sangat menyukainya," bisik Devita.


Brayen mengusap rambut istrinya. "Ya, nanti kita akan kesini lagi."


"Ah ya, aku juga ingin melihat pertunjukan balet Brayen. Tapi tidak mungkin aku membawa Sean." gumam Devita.


Brayen mengulum senyumannya. "Berarti kita harus segera memiliki anak perempuan, sayang. Kau bisa mengajak anak perempuan kita menonton pertunjukan balet."


"Aku tidak ingin membahasnya, Brayen." ucap Devita kesal.


Brayen menangkup kedua pipi Devita, mencium gemas bibir istrinya itu.


"Brayen, aku lapar." Devita mengerutkan bibirnya.


"Ya, setelah ini selesai. Kita makan di restoran terdekat." jawab Brayen sembari mengecup kening Devita.


Pertunjukan opera pun berakhir, Brayen langsung menggenggam tangan Devita meninggalkan teater. Dia membawa Devita ke salah satu restoran yang tak jauh dari tempat opera.


...***...


Brayen membawa Devita ke La Bella restoran, yang jaraknya tidak jauh dari teater opera. Devita dan Brayen memesan seafood untuk makan siang mereka. Saat makan siang sudah terhidang di atas meja, Devita langsung menikmati makanannya.


"Devita, nanti kita tidak bisa langsung pulang?" tukas Brayen sembari menyesap kopi yang ada di tangannya.


Devita meletakkan sendok di atas piring lalu menatap Brayen. "Kenapa kita tidak bisa langsung pulang? Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi lagi?"


"Aku sudah berjanji pada Sean untuk membelikannya mainan." Brayen meletakkan cangkir yang berisikan kopi ke tempat semula.


"Sayang, kau tahu aku akan selalu menuruti keinginan putraku," balas Brayen menekankan.


Devita mendesah pelan. "Ya baiklah. Setelah kita makan,kita akan berbelanja membeli mainan untuk Sean." jawab Devita yang memilih untuk mengalah. Percuma saja, karena Brayen pasti akan selalu memanjakan Sean.


Devita mengambil orange jus di hadapannya, lalu meminumnya hingga setengah gelas. Hari ini, dia pergi bersama Brayen hanya berdua tanpa adanya pengawal. Itu semua tentunya karena keinginan Devita. Jika dia hanya pergi berdua dengan Brayen, Devita tidak ingin ada pengawal yang mengikutinya.


...***...


Setelah satu harian menonton opera dan berbelanja. Brayen dan Devita kini sudah tiba di mansion milik Olivia. Brayen dan Devita turun dari mobil dan melangkah masuk kedalam rumah. Di tangan Brayen sudah penuh dengan robot series gundam. Tidak tanggung-tanggung, Brayen membeli seluruh robot series gundam untuk Sean.


"Daddy... Mommy..." pekik Sean ketika melihat Brayen dan juga Devita masuk kedalam rumah. Sean berlari dan langsung memeluk erat Devita dan juga Brayen.


"Sayang, apa hari ini kau menyusahkan Paman Felix dan Bibi Olivia?" Devita mengusap lembut rambut Sean.


"Tidak Mommy. Hari ini aku banyak bermain dengan Bibi Olivia.Paman Felix tadi ke kantor." jawab Sean dengan wajah polosnya.


"Paman Felix ke kantor?" Brayen menaikkan sebelah alisnya, dia menatap putranya itu.


"Iya, Felix satu jam yang lalu pergi ke kantor. Karena ada rekan bisnisnya yang dari negara S datang kesini." Olivia melangkah mendekat menghampiri Devita dan Brayen.


"Ah, maaf merepotkanmu Olivia." ucap Devita yang merasa tidak enak. Padahal, tujuan dia tidak mengajak Sean karena dia ingin membiarkan Sean berada di tengah-tengah Felix dan Olivia.


"Tidak sama sekali merepotkan, Devita. Aku sangat senang bermain dengan Sean." balas Olivia sembari menatap Sean yang kini berada di pelukan Devita.


Sean mendongak menatap Brayen dan juga Devita. "Daddy... Mommy... Besok, Paman Felix bilang akan mengajakku pergi ke suatu tempat."


"Kau ingin pergi berdua dengan Paman Felix?" Devita mengelus lembut rambut putranya.


"Tidak berdua, Mommy. Paman Felix bilang pergi dengan Bibi Olivia juga." jawab Sean.


"Ya, kau boleh pergi dengan Paman Felix dan Bibi Olivia." Brayen mengelus lembut rambut putranya.


"Thank you, Daddy... Mommy..." Sean kembali memeluk erat Brayen dan juga Devita.


"Daddy, apa ini mainan untukku?" tanya Sean yang melihat banyak sekali shopping bag yang di bawa oleh Brayen.


"Ya, ini semua untukmu." Brayen mencubit pelan hidung putranya.


"Yeay!" Sean melompat kegirangan. "Thank you Daddy. I love you so much, Dad!"


...*******"...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.