
Nadia duduk di tepi kolam renang, angin yang berhembus menyentuh kulitnya begitu menyejukkan. Setelah pertemuannya dengan Gelisa, membuat Nadia sangat yakin dengan keputusannya. Bagi Nadia, wanita di masa lalu Edwin benar - benar bukan wanita yang tidak berpendidikan. Meski saat Nadia bertemu dengan Gelisa, kesan pertama Nadia lihat dari wanita itu keanggunannya. Tapi harus Nadia akui, di usia yang sudah tidak muda lagi Gelisa masih terlihat cantik dan tubuhnya yang indah. Sayangnya, semua itu tidak sesuai dengan sifat yang di tunjukannya.
Nadia menatap pemandangan yang begitu indah, lalu memejamkan matanya sebentar. Menikmati hembusan angin yang menyentuh kulitnya. Mungkin ini tidak akan lama lagi, karena Nadia sudah memutuskan untuk bercerai dengan Edwin. Dia akan segera meminta pengacara pribadinya untuk segera mengurus perceraiannya dengan Edwin.
Devita yang baru saja tiba di rumah orang tuanya, di menatap Nadia yang tengah duduk di tepi kolam renang. Devita langsung melangkah mendekat ke arah Ibunya yang terlihat begitu jelas jika Ibunya tengah melamun.
"Mama," Devita memanggil dengan suara yang pelan, lalu duduk di samping Ibunya.
Nadia menoleh, lalu tersenyum saat melihat putrinya kini berada di sampingnya. "Sayang, sejak kapan kau datang, hmm? Mama tidak tahu kalau kau datang"
Devita tersenyum, dia menyandarkan kepalanya di bahu Nadia. " Aku sangat merindukanmu, Ma. Kenapa Mama jarang menghubungiku? Bahkan telepon dariku Mama juga tidak menjawabnya."
"Maafkan Mama, Sayang. Mama hanya membutuhkan waktu untuk menenangkan diri Mama." kata Nadia, dia mengelus pelan puncak kepala putrinya itu. "Kau tahu Devita? Mama sangat bahagia kau menikah dengan Brayen. Dia pria yang sangat tampan, hebat dan memiliki segalanya. Kelak, ketika kau memiliki anak, mereka akan sangat bangga memiliki Ayah seperti Brayen. Suamimu memiliki segalanya, dan Mama sangat senang hidupmu di penuhi kebahagiaan. Itu artinya tugas Mama sudah selesai. Seterusnya Brayen yang akan mengambil alih tugas Mama untuk menjagamu."
Devita menjauhkan wajahnya, lalu dia menatap lekat Nadia. "Kenapa Mama mengatakan seperti itu? Memangnya Mama sudah tidak ingin menjagaku lagi?"
Nadia menggeleng pelan dan tersenyum. "Seumur hidup Mama. Mama akan selalu menjagamu dan menyayangimu. Tetapi sekarang tanggung jawab atas dirimu, sudah berada di tangan Brayen. Dan Mama sangat percaya Brayen adalah pria yang baik untuk hidupmu."
"Ma, Mama benar. Brayen adalah suami yang sangat baik. Dia menjaga dan mencintaiku, melindungiku dan memberikan segalanya yang aku inginkan. Bahkan dia sering memanjakanku dengan apa yang dia miliki." ujar Devita yang membenarkan perkataan Ibunya. "Namun, aku juga membutuhkan Mama untuk selalu berada di sampingku. Aku akan tetap menjadi Devita putri kecil Mama dan tidak akan pernah berubah meski nantinya aku sudah memiliki seorang anak."
Nadia tersenyum haru, air matanya hampir berlinang mendengar perkataan putrinya itu. Jemari Nadia mengelus dengan lembut pipi Devita. "Kau benar sayang, selamanya aku akan menjadi putri kecil Mama. Meski nantinya kau sudah memiliki anak, kau tetap putri kecilnya Mama."
Devita menghapus air mata Nadia dengan jemarinya. "Ma, bisakah Mama berjanji padaku?" pinta Devita.
Nadia terdiam, dia menatap lembut putrinya. "Apa sayang? Apa yang kau inginkan?"
"Bisakah Mama tidak bercerai dengan Papa?" Devita menatap lekat wajah Nadia, matanya menunjukkan permohonan agar Ibunya tidak bercerai dengan Ayahnya. Rasanya dia tidak bisa menerima ini. Bukan karena memetingkan nama baik, tapi Devita tidak ingin pernikahan kedua orangtuanya itu hancur. Bagi Devita, kedua orang tuanya itu adalah pasangan yang sangat sempurna. Devita tidak ingin jika mereka harus berpisah.
Mendengar permintaan putrinya itu, membuat Nadia tidak mampu berkata-kata. Selama ini, apapun permintaan Devita selalu dia turuti. Bahkan Nadia akan menjadi orang tua yang pertama untuk kebahagiaan putrinya itu, dia akan menurutinya. Tapi permintaannya kali ini terasa begitu berat, karena Nadia memang sudah memutuskan untuk bercerai dari Edwin.
"Maaf Devita, untuk yang satu itu Mama sungguh tidak bisa menurutinya." kata Nadia lirih, air matanya kembali berlinang. Hatinya kembali sakit dan begitu sesak. Devita melihatnya Ibunya menangis, dia langsung memeluk erat ibunya. "Mama, jangan menangis, please. Aku minta ini, karena aku yakin kita bisa memperbaiki semuanya, Ma."
Nadia membalas pelukan putrinya, mengelus dengan lembut rambut Devita. "Mama sudah memutuskan untuk berpisah dengan Papamu. Maafkan Mama sayang, dimanapun Mama berada. Mama akan selalu menyayangimu. Terkadang kita memang harus menerima takdir ini sayang. Percayalah, kau tidak akan pernah seperti Mama. Mama percaya Brayen adalah pria yang tepat untukmu.
Devita sudah tidak bisa lagi menahan dirinya, dia menangis dalam pelukan ibunya. Rasanya begitu sakit dan sesak mendengarkan perkataan ibunya itu. Devita tahu, tidak akan ada orang yang bisa menerima ini semuanya. Bahkan dirinya tidak mampu menerima semua ini. Hatinya begitu pilu, rasanya Devita tidak pernah dan tidak akan pernah bisa.
"Ssssst, jangan menangis sayang. Mama tidak apa - apa. Inilah kehidupan, tidak selamanya kita hidup sempurna sayang. Tapi percayalah kau tidak akan seperti Mama. Devita akan selalu di penuhi kebahagiaan." Nadia, terus memeluk erat putrinya. "Lebih baik kita masuk kedalam sayang, Mama akan membuatkan puding kesukaanmu." lanjutnya dan Devita pun mengangguk.
Kemudian Devita dan Nadia beranjak. Mata Devita masih memerah karena menangis. Mereka berjalan masuk kedalam. Devita terus memeluk lengan Ibunya. Devita berusaha untuk menghentikan tangisnya.
...****...
Kini Lucia dan juga Gelisa berjalan masuk ke dalam lift, mereka tidak memperdulikan saat para karyawan yang sudah sejak tadi menatap mereka. Lucia memang terlihat begitu angkuh di setiap langkahnya. Meski Lucia selalu bersikap anggun, tapi ketika berjalan Lucia lebih memperlihatkan sifat keangkuhannya.
Ting.
Pintu lift terbuka, Lucia dan juga Gelisa langsung berjalan keluar dari lift. Mereka langsung berjalan menuju ke arah ruang kerja Edwin. Namun saat mereka berjalan mendekat ke arah ruang kerja Edwin, sekretaris Edwin berdiri dan menghampiri mereka.
"Selamat pagi Nyonya Gelisa." sapa Diana, sekertaris Edwin.
"Pagi, apa Edwin ada di dalam?" tanya Gelisa.
"Maaf Nyonya, Tuan Edwin sedang memiliki meeting dengan perusahaan asal Korea. Kemungkinan hari ini, Tuan Edwin tidak akan datang ke kantor." jawab Diana.
"Dimana meetingnya?" sambung Lucia dengan raut wajah yang kesal. Dia sudah datang, tetapi Edwin tidak ada di perusahaan.
"Maaf Nona, tapi saya tidak bisa memberitahukannya." jawab Diana, sektretaris Edwin.
Lucia menajamkan matanya. "Apa kau ini tidak tahu siapa aku? Beraninya kau tidak memberitahuku!"
"Lucia, tenangkan dirimu." Gelisa menegur putrinya itu. Lalu dia kembali melihat sekertaris Edwin. "Tolong katakan padaku dimana meeting Edwin? Aku ingin bertemu dengannya. Aku rasa kau tahu bukan? Aku sering datang ke perusahaan ini dan mengenal baik Edwin. Jadi segera katakan padaku dimana meetingnya?" tukas Gelisa dengan tegas dan perkataannya tersirat mengancam wanita yang menjadi sekretaris Edwin ini.
Diana terdiam sebentar, dia tidak berani mengatakannya. " Tapi-"
"Cepat katakan, atau kau akan berurusan denganku!" Desak Lucia yang langsung memotong ucapan Diana.
"F-Four Seasons Hotel." Diana menundukkan kepalanya tidak berani menatap Lucia.
Tanpa mengatakan apapun, Lucia langsung mengajak Gelisa meninggalkan sekertaris itu. Diana menarik nafas panjang saat melihat Gelisa dan juga Lucia sudah menghilang dari pandangannya.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.