
"T- Tidak Tuan, saya hanya memastikan." Albert menjawabnya dengan gugup. Dia tidak lagi bertanya, dia lebih memilih fokus untuk melajukan mobil.
"Aku ingin bertemu dengan Angkasa. Aku hanya ingin tahu apa yang sedang dia lakukan agar bisa mendapatkan adikku. Jika dia tidak memiliki kemampuan lebih baik dia menyerah di awal.Karena aku tidak menginginkan pria lemah bersanding dengan adikku." seru Brayen.
"Tuan, maaf... tapi menurut saya, selama ini Tuan Angkasa Nakamura sudah membuktikan keseriusannya pada Nona Laretta," jawab Albert meyakinkan. "Bahkan ketika adiknya di penjara, Tuan Angkasa Nakamura tidak membela sedikitpun. Dia lebih memilih untuk mengikuti semua proses kepolisian. Tidak hanya itu, Tuan Angkasa Nakamura juga membuktikan dirinya. Bahwa belakangi ini perusahaannya sudah berkembang pesat. Dia juga terus berjuang, ketika anda memintanya untuk meninggalkan Nona Laretta, tapi dia tetap bertahan. Dengan semua itu, bukankah dia sudah menunjukkan semuanya Tuan?"
Albert mengatakannya dengan hati - hati. Sesekali Albert melihat wajah Brayen dari kaca spion. Dia hanya takut, apa yang dia katakan membuat Brayen marah padanya.
"Bagiku, ini belum cukup karena dia sudah pernah gagal menjaga adikku. Hingga membuat adikku di permalukan. Tidak akan mudah untuk melepaskan Laretta padanya. Aku tidak peduli dengan kenyataan dia adalah Ayah dari bayi yang di kandung oleh adikku. Sejak saat adiknya yang j****ng itu mempermalukan adikku, dia telah gagal menjaga Laretta. Pria seperti itu sama sekali tidak pantas untuk bersanding dengan adikku."
"Kemarin, aku masih berbaik hati untuk tidak membunuhnya. Dia begitu berani menerobos masuk kedalam rumahku. Tapi karena keberaniannya kemarin membuatku ingin sekali bertemu dengannya. Aku ingin tahu, keberanian apalagi yang dia miliki untuk melawanku. Jika dia menyerah itu menandakan dia itu tidak pantas untuk adikku."
Brayen mengatakannya dengan suara dingin dan tidak bersahabat. Tatapannya melihat ke luar jendela. Sorot matanya tidak bersahabat ketika membahas tentang Angkasa.
"Maaf Tuan? Tapi bagaimana jika Tuan Angkasa tidak akan menyerah?" tanya Albert.
Brayen tersenyum sinis. "Jika dia tidak ingin menyerah, maka dia harus menunjukkan kemampuannya. Setidaknya, aku ingin melihat kesungguhan pria itu. Karena aku tidak ingin kejadian buruk ini terjadi pada adikku untuk yang kedua kalinya.
...***...
Angkasa menyandarkan punggungnya di kursi sembari menyesap wine yang ada di tangannya. Beberapa hari ini, meski dirinya terus memikirkan tentang Laretta tapi tidak membuat Angkasa untuk mengabaikan pekerjaannya. Kenyataan dia mampu membuat perusahaanya yang berada di bawah kepemimpinannya kini berkembang dengan pesat.
Terdengar suara interkom masuk, Membuat Angkasa menghentikkan lamunannya. Angkasa meletakkan gelas sloki di atas meja, lalu menekan tombol penerima.
"Ya, ada apa?" jawab Angkasa saat panggilannya terhubung.
"Tuan Angkasa, maaf mengganggu anda. Tapi ada tamu yang ingin bertemu dengan anda," ujar Lydia sang sekretaris dari sebrang telepon.
Angkasa mengerutkan keningnya. "Siapa yang mencariku? Bukannya hari ini sudah tidak ada lagi yang memiliki janji denganku?"
"Tuan Brayen Adams Mahendra, beliau yang datang menemui anda, Tuan."
"Brayen Adams Mahendra?"
"Benar Tuan."
"Persilahkan dia untuk masuk." Angkasa menekan tombol untuk mengakhiri panggilan.
Pandangan Angkasa kini teralih ke arah pintu. Menunggu tamu yang sama sekali tidak ia sangka akan datang. Tidak lama kemudian Brayen melangkah masuk kedalam ruangan Angkasa. Beberapa saat, mereka saling melayangkan tatapan yang dingin dan tidak bersahabat satu sama lain.
Brayen masuk, dia langsung duduk menyilangkan kakinya di hadapan Angkasa. Tatapannya tidak lepas menatap pria yang ada di hadapannya itu.
"Apa yang membuat seorang Brayen Adams Mahendra, datang ke kantorku? Setelah membuat wajahku terluka parah seperti ini, sekarang kau datang. Aku rasa, ini merupakan suatu kehormatanku kalau kau mau datang mengunjungi perusahaan yang kecil ini." ujar Angkasa sambil menunjukkan luka memar yang ada di wajahnya. "Minum? Memulai percakapan akan lebih baik jika dengan minum," Angkasa mengangkat gelas slokinya, menawarkan Brayen. Kemudian menyesap wine yang ada di tangannya.
Brayen tersenyum miring, dia mengambil botol wine dan menuangkan wine ke gelas sloki yang kosong yang ada di hadapannya. Kemudian dia mengambil gelas sloki itu dan menggerakkannya berirama. "Aku rasa, kau sudah tahu tujuan kedatanganku kesini. Aku itu bukan orang yang suka berbasa-basi untuk memulai sebuah percakapan."
Brayen tidak langsung menjawab, dia tersenyum sinis, lalu menyesap wine yang ada di tangannya. "Aku bisa dengan mudahnya menghancurkan kenyataan yang sialan kau maksud itu. Tidak peduli kalau kau adalah Ayah dari bayi yang di kandung Laretta atau bukan. Jika aku tidak menginginkanmu menjadi suami dari adikku, maka kau tidak akan pernah bisa menikahi adikku. Kau juga tidak mungkin mampu melawanku, aku rasa kau tahu itu dengan baik."
Brayen menyeringai puas, setelah mengatakan itu. Terlihat jelas raut kemarahan di wajah Angkasa ketika mendengar perkataan Brayen. Angkasa mencengkram kuat gelas sloki yang ada di tangannya, hingga terlihat jelas kukunya memutih. Rahang Angkasa mengetat, pria itu menggeram menahan emosinya.
"Apalagi bukti yang harus aku tunjukkan padamu Brayen!" Angkasa menggeram dia berusaha untuk mengendalikan amarahnya. Dia tidak ingin menambah masalah baru, jika sampai berkelahi dengan Brayen.
"Well, hal pertama yang aku ingin kau lakukan. Besok, temui aku di alamat yang akan di kirimkan oleh asistenku." Brayen meletakkan gelas slokinya di atas meja, lalu dia bangkit berdiri. Tatapannya masih terus menatap Angkasa yang masih tidak bergeming dari tempatnya. "Aku harus mengakui, kau itu selalu berusaha untuk membuktikan dirimu. Tapi sekarang, aku ingin sedikit bermain-main denganmu. Datanglah ke tempat yang akan di kirimkan oleh asistenku."
Brayen mengancingkan jasnya, lalu membalikkan tubuhnya berjalan meninggalkan ruang kerja Angkasa.
"Aku pasti akan datang! Tantangan apapun yang akan kau berikan padaku, aku akan mampu menghadapinya!"
Angkasa mengatakannya dengan tegas. Membuat langkah Brayen terhenti. Brayen melirik Angkasa dari sudut matanya, tanpa membalikkan tubuhnya.
"Alright, aku menunggumu." Brayen menarik sudut bibirnya menjadi seringai kecil. Lalu dia kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan ruang kerja Angkasa.
...***...
Brayen melangkah mendekat ke arah mobilnya dan Albert sudah berdiri membukakan pintu mobil, ketika melihat Brayen mendekat. Kemudian Brayen masuk ke dalam mobil. Albert juga langsung masuk kedalam mobil, dan segera melajukan mobilnya meninggalkan lobby Nakamura Company.
"Tuan, sejak tadi ponsel anda tidak henti berdering. Nyonya Devita menghubungi anda, Tuan." ujar Albert sebelumnya, Brayen memang meminta Alberlt untuk memegang ponselnya.
"Berikan ponselku." tukas Brayen.
"Ini Tuan," Albert menyerahkan ponsel milik Brayen yang sejak tadi ia pegang.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.