
"Lain kali ketika aku sudah datang untuk menjemputmu, kau sudah harus siap. Aku tidak suka menunggu!" Tukas Brayen dengan dingin tanpa melihat ke arah Devita. Dia menatap ke depan fokus untuk menyetir.
Devita mencebik kesal. "Hanya beberapa menit saja kau sudah berisik sekali!"
Selama perjalanan suasana hening tercipta. Devita lebih memilih untuk menatap keluar jendela. Sedangkan Brayen fokus melajukan mobilnya menelusuri kota.
Dan kini mereka telah sampai di Mariot Hotel tempat Grand Launching dari Xavier Company. Salah satu perusahaan yang sering bekerja sama dengan Brayen.
Brayen dan Devita turun dari mobil, saat mereka turun dari mobil, kilatan kamera terus memotret Brayen dan juga Devita. Devita berusaha untuk tersenyum hangat pada para media yang memotret dirinya dan juga Brayen. Sejak dulu, Devita memang tidak suka jika dirinya harus menjadi pusat perhatian seperti ini. Tapi sekarang mau tidak mau Devita harus membiasakan diri.
Brayen memeluk pinggang Devita, melangkah masuk ke dalam hotel. Devita tersenyum kaku ketika Brayen memeluk dirinya. Devita tidak terbiasa sedekat ini dengan seorang pria. Bahkan, ketika dirinya berkencan dengan Angkasa, dia pun tidak pernah sedekat ini dengan Angkasa.
"Brayen, kenapa kamu memelukku?" tanya Devita sambil berbisik di telinga Brayen.
"Shut Up!" Peringat Brayen dingin.
Devita mencebik dan berkata, " Menyebalkan sekali!"
"Tuan Brayen?" seru Elvin rekan bisnis Brayen saat melihat Brayen melangkah masuk ke dalam ballrom hotel.
"Tuan Elvin," balas Brayen menyapa.
"Terima kasih sudah datang. Suatu kehormatan untukku bisa melihat Tuan Brayen datang ke acara Grand Launching perusahaan kami." ujar Elvin sedikit menundukkan kepalanya di hadapan Brayen.
"Mungundang anda adalah suatu kehormatan bagiku, Tuan." balas Elvin. Namun, padangannya kini menatap sosok wanita cantik yang berdiri di samping Brayen. " Tuan Brayen, apakah ini adalah calon Istri anda? Maaf, aku hanya tidak sengaja mendengar kabar bahwa anda akan segera menikah"
Brayen mengangguk singkat. " Ya, perkenalkan. ini Devita Smith, calon Istriku."
"Anda sungguh beruntung, Tuan. Calon Istri anda sangat cantik." ujar Elvin. "Kapan rencananya anda akan menikah?" sambungnya.
"Dalam waktu dekat, kami akan segera menikah." balas Brayen. "Asistenku akan mengirimkan undangannya ke perusahaanmu,"
Elvin tersenyum, dan berkata " Terima kasih saya akan menunggu undangan dari anda."
"Maaf, aku harus kesana. Aku ingin bertemu dengan yang lainnya," ujar Brayen.
"Baik Tuan. Silahkan nikmati pesta ini." jawab Elvin.
Kemudian Brayen membawa Devita untuk menemui rekan bisnisnya yang lain. Devita mendesah pelan, dia bosan berada di pesta seperti ini.
"Brayen, aku ingin minum. Aku ingin kesana," Devita berbisik sembari menunjuk tempat minuman.
"Jangan minum alkohol, jika kau tidak tahu jenis minuman yang akan kamu minum, tanya pada pelayan." tukas Brayen memperingati.
Devita berjalan mendekati tempat minuman. Dia mengambil Mango Juice dan langsung meneguknya. Seketika pandangan Devita menatap sebuah cheese cake. Devita mendekat ke tempat cake.Lalu, dia mengambil cheese cake itu.
"Enak sekali." gumam Devita, ketika cheese cake itu masuk ke dalam mulutnya. Devita memejamkan matanya menikmati cheese cake, yang begitu lezat di lidahnya.
"Kau menyukai cheese cake?" suara bariton bertanya, hingga Devita membuka matanya menatap sosok pria tampan yang berada di hadapannya itu.
Devita terdiam. Dia masih sedikit terkejut, karena ada pria asing yang tiba - tiba saja menyapa dirinya.
"Perkenalkan, aku William. Dan sama sepertimu aku juga menyukai cheese cake. Sejak tadi aku sudah memperhatikanmu yang sangat lahap menikmat cheese cake itu," ujar pria yang bernama William itu.
"Sialan. Dari tadi, ternyata di sudah memperhatikan aku makan. Bikin malu saja." gerutu Devita di dalam hati.
Devita pun tersenyum palsu dan berusaha untuk menahan malunya dan berkata, " Ah iya, sebenarnya aku suka semua jenis cake. Chocolat, tiramisu, red velvet, cheese cake, aku menyukai semuanya."
"Kau tidak takut gemuk? Maaf, maksudku perempuan secantik sepertimu sepertinya biasa menjaga pola makannya," balas William
Devita terkekeh. "Aku tidak takut gemuk. Dan aku suka makan, tapi badanku tidak pernah gemuk,"
William menggeleng pelan dan tersenyum " Kau sangat beruntung, boleh aku tahu siapa namamu?" tanya William.
"Oh maaf. Aku belum menyebutkan namaku. Namaku, Devita." jawab Devita dengan senyuman ramahnya.
"Senang berkenalan dengamu, Devita. kau kesini dengan siapa?" tanya William yang sudah sejak tadi dia sudah penasaran pada wanita yang berada di hadapannya itu.
"Aku dengan..."
...****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan juga hadiahnya.