Love And Contract

Love And Contract
Perkelahian Brayen Dan William



"Tapi bagaimana mungkin William bisa bersama dengan Elena?" Olivia menatap tak percaya, dia bahkan tidak menyangka jika Elena telah berselingkuh.


"Sudahlah lupakan. Aku sendiri juga tidak tahu kenapa Elena berselingkuh. Harusnya dengan apa yang dimiliki oleh Brayen, tidak akan mungkin membuat Elena berselingkuh," balas Devita.


Olivia menghela nafas dalam. "Aku sudah menduga dari awal si Elena itu *****!"


"Biarkan waktu yang menjawab semuanya Olivia. Aku ingin mempercayai Brayen," ujar Devita.


Olivia menganguk setuju dan berkata, "Aku akan selalu mendukungmu,"


"Lebih baik kita kembali ke perusahaan. Banyak yang harus aku kerjakan," kata Devita mengingatkan.


"Kau benar, sudah tiga hari kau tidak masuk kerja. Aku sudah sangat lelah dengan tugas yang seharusnya menjadi tanggung jawabmu," Olivia mendengus dan menatap kesal Devita.


Devita terkekeh. "Maaf, aku akan mentraktirmu makan siang, staff di butik langgananku juga sudah mengirimkan tiga pasang sepatu untukmu."


"Great, itu baru sahabatku!" Seru Olivia dengan senyuman di wajahnya. Dia langsung memeluk lengan Devita, kemudian mereka langsung berjalan meninggalkan kafe itu.


...***...


William duduk di kursi kebesarannya, dia memeriksa beberapa laporan yang telah karyawannya berikan padanya. Di ruang kerjanya, Richard juga berada di sana sambil berkutat dengan MacBook. Keseharian Richard memang sering berada di ruangan kerja Richard.


"William, ini sudah siang. Apakah kau tidak ingin makan siang?" tawar Richard.


William melirik arlojinya, kemudian menatap Richard. "Baiklah, kita akan makan siang sekarang, dia beranjak dari tempat duduknya dan Richard mengikutinya dari belakang.


Di lobby William dan Richard menghentikan langkahnya ketika melihat dua gadis tengah tertawa lepas. Devita dan Olivia sudah sejak tadi menjadi pusat perhatian.


"Devita?" William memanggil Devita cukup keras hingga membuat langkah kaki Devita terhenti.


Devita tersenyum, ketika melihat William dan Richard kini berada di hadapannya. "Hi William.... Hi Richard....." sapa Devita pada keduanya.


"Kau ingin makan siang, Devita?" tanya Richard dengan tatapan yang lembut ke arah Devita.


"Ya, aku ingin makan siang bersama dengan Olivia," jawab Devita.


"Lebih baik kita makan siang bersama. Apa kau tidak keberatan makan siang bersama denganku dan juga Richard?" tawar William.


"William. Lebih baik aku makan siang berdua saja dengan Olivia," Devita menolaknya dengan lembut. Dia tidak mungkin makan siang dengan William. Dia tidak ingin membuat Brayen marah dengannya.


"Devita!" Teriakan suara seorang pria begitu kencang, hingga membuat Devita terkejut, dan langsung mengalihkan pandangannya ke sumber suara itu.


"Brayen?" Devita mengerutkan keningnya, ketika melihat Brayen melangkah mendekat ke arahnya.


Brayen mendekat ke arah Devita, dan langsung memeluk erat istrinya itu. Namun, tatapannya langsung menghunus tajam ke arah William.


"Lama tidak bertemu Brayen Adams Mahendra," sapa William dengan tatapan tajam ke arah Brayen.


Brayen tersenyum sinis, "Ya, lama tidak bertemu William Dixon. Aku mendengar beberapa bulan yang lalu kau pergi ke Milan,"


"Ya aku memang memiliki perjalanan bisnis ke Milan," jawab William begitu santai.


William dengan berani mendekat ke arah Brayen dan menepuk pelan bahu Brayen dan berbisik, "Aku rasa, ketika aku dengan artis itu aku hanya bermain. Sekarang, aku hanya serius dengan putri Edwin Smith. Gadis cantik dan polos yang mampu membuat hatiku berdesir ketika hanya menatapnya,"


Brayen menggeram dengan penuh emosi mendengar ucapan William. Brayen langsung menarik kerah baju William. Dengan cepat Brayen melayangkan satu pukulan di hidung William.


BUGH!


"Astaga Brayen!!" Devita berteriak kencang ketika melihat Brayen yang langsung memukul William.


Keributan yang terjadi di lobby membuat para security berhamburan hendak memisahkan Brayen dan juga William.


"Jangan ada yang memisahkan kami! Jika ada yang berani menghentikkan kami. Maka bersiaplah kalian untuk kehilangan pekerjaan kalian!" Bentak William. Dia menatap para security yang ada di perusahaannya, yang hendak memisahkan dirinya dan juga Brayen.


Para security itu pun langsung mundur, tidak berani memisahkan Brayen dan juga William.


"Sialan kau William! Menjauhlah dari Istriku!" Brayen mencengkram kuat kerah baju William, dia terus melayangkan pukulan demi pukulan ke pelipis dan hidung William.


BUGH


BUGH


William berhasil membalas pukulan dari Brayen, kemudian dia tersenyum sinis dan berkata, "Aku bisa merebut Veronica dan kekasihmu Elena. Tidak menutup kemungkinan aku juga bisa mendapatkan wanita yang sudah selama ini menjadi Istrimu!"


"Bersiaplah untuk mati di tanganku William! Jika kau berani mendekati Istriku!" Geram Brayen dengan penuh peringatan.


Tanpa di sangka William kembali menyerang Brayen, dengan pukulan kencang. Pukulan pertama Brayen berhasil menepisnya. Brayen tidak tinggal diam, dia membalas pukulan William. Mereka kini menjadi pusat perhatian saat di lobby.


"William sudah hentikan!". Teriak Richard yang begitu keras


Olivia menelan salivanya susah payah. Sedangkan Devita merasa panik dan cemas, ketika melihat William dan Brayen saling memukul dan tidak ada yang berani memisahkan mereka berdua. Hingga akhirnya Devita menarik nafas dalam. Tidak mungkin jika ini hanya di biarkan, karena wajah William sudah penuh dengan luka. Bahkan William pun masih belum menyerah sedikit pun Sedangkan Brayen hanya memiliki sedikit luka di wajahnya.


Devita pun dengan berani maju dan berusaha menghentikan perkelahian William dan juga Brayen. Kini Devita sudah berada di tengah Brayen dan juga William. Hingga tanpa sadar, tidak tahu di antara Brayen dan juga William yang menendang Devita hingga membuat Devita terlempar. Suara jeritan Devita sangat kencang hingga membuat semua orang di lobby terkejut.


"Devita!" Teriak Brayen ketika melihat Devita tersungkur di lantai. Dia pun langsung menghentikan perkelahiannya dan berlari saat melihat Devita tergeletak pingsan.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.