
Devita mendengus "Apa sebelumnya ini aku itu tidak cantik? Kau sedang memujiku atau menghinaku? kau tahu sekarang aku sudah gemuk."
"Ternyata benar," Brayen menarik tangan Devita, membawanya kedalam pelukannya.
"Benar," Devita mendongakkan wajahnya, menatap bingung suaminya itu. "Maksudmu benar apa?"
"Aku membaca buku. Wanita hamil sangat sensitif. Dan ternyata itu benar." balas Brayen sambil mengecup puncak kepala Devita.
Devita mencebik. "Jadi aku ini, sebelumnya cantik atau tidak?!"
Brayen mengulum senyumannya "Kau selalu sangat cantik, sayang."
"Kau tidak berbohong kan?" Devita memincingkan matanya, menatap Brayen penuh dengan selidik.
"Tidak sayang," jawab Brayen. "Lebih baik kita berangkat sekarang."
"Tunggu, sekarang aku harus mengambil tasku." jawab Devita.
"Tidak usah, nanti biar Nagita yang mengambil tasmu." Brayen menggenggam tangan Devita, lalu berjalan meninggalkan kamar.
Devita mendesah pasrah. Mau tidak mau dia harus mengikuti keinginan suaminya itu. Sebenarnya Devita tidak terlalu suka jika tasnya di bawa oleh asistennya, tapi Brayen tidak mungkin tidak memperlakukan dirinya secara berlebihan. Bahkan hanya untuk membawakan satu shopping bag saja, Brayen tidak memperbolehkannya.
Saat Devita dan Brayen sudah berada di lantai bawah, Devita menatap Laretta dan juga Albert yang sudah menunggu mereka.
"Brayen, kau juga mengajak Laretta?" tanya Devita memastikan.
"Ya," jawab Brayen singkat.
"Aku senang kalau Laretta ikut," Devita tersenyum. "Apa Felix dan juga Olivia ikut?"
"Tuan Felix, ikut Nyonya." sambung Albert. "Saya yakin, pasti Tuan Felix membawa Nona Olivia."
Devita mengangguk, "Baguslah kalau mereka juga ikut."
"Kak, kenapa kau mengajakku bermain badminton? Tidak biasanya kau mengajakku?" tanya Laretta bingung.
"Aku memintamu untuk melihat," tukas Brayen
"Kau tidak perlu bermain badminton. Kau cukup temani Devita. Karena aku ingin bermain - main sebentar dengan seseorang."
"Kau mau bermain dengan siapa, Kak?" Laretta menautkan alisnya. "Apa kau mau bermain dengan Felix?"
"Nanti kau akan tahu," balas Brayen. "Kita berangkat sekarang."
Brayen memeluk bahu Devita, berjalan masuk kedalam mobil. Laretta segera menyusul dia juga langsung masuk kedalam mobil. Sedangkan Nagita, asisten Devita masuk kedalam mobil bersama dengan pengawal yang biasanya selalu bersama dengan Brayen.
Ketika Brayen, Devita, dan Laretta sudah masuk kedalam mobil, Albert juga langsung masuk ke dalam mobil, dia mulai melajukan mobilnya meninggalkan mansion.
...***...
"Brayen sebenarnya apa yang membuatmu meninggalkan perusahaan hanya karena ingin bermain badminton?" tanya Devita yang menatap suaminya yang tengah fokus pada iPad yang ada di tangannya.
"Aku hanya bosan dan aku ingin bermain." jawab Brayen datar tanpa melihat ke arah istrinya. Dia tengah membaca email masuk dari sekertarisnya.
"Kau ini membuatku penasaran saja." cebik Devita kesal. "Dia mengambil yoghurt yang sudah di siapkan oleh pelayan, lalu meneguknya hingga tandas.
"Laretta, apa kau juga ingin yoghurt?" tawar Devita.
"Tidak Devita," Laretta menggelengkan kepalanya. "Aku sedang tidak ingin."
Tidak lama kemudian, mobil yang membawa Brayen, Devita dan Laretta memasuki sebuah mansion mewah. Devita mengerutkan keningnya ketika mobil memasuki sebuah mansion yang bahkan jauh lebih besar dari mansion miliknya.
"Brayen, ini mansion milik siapa?" tanya Devita yang sejak tadi menatap mansion itu yang begitu mewah. Design yang begitu elegan membuat Devita tidak henti untuk menatapnya.
"Mansion kita." jawab Brayen. Kemudian dia lebih dulu turun dari mobil.
"Brayen, apa maksudnya dengan mansion kita?" tanya Devita dengan nada yang kesal. "Kau membeli mansion baru? Astaga Brayen, memangnya kau itu memilki berapa istri? Kenapa kau begitu banyak memiliki mansion?"
Perkataan Devita, sukses membuat langkah Brayen terhenti. Brayen mengalihkan pandangannya, menatap wajah kesal istrinya itu.
Brayen mendekat, dia menarik dagu dan ******* sedikit kasar bibir istrinya. "Memilikimu, sama seperti memilki sepuluh istri. Aku tidak mungkin menambah lagi, Sayang."
"Maksudmu apa?" Devita mengerutkan bibirnya.
"Maksudku, memilikimu sudah lebih dari cukup." balas Brayen sembari memberikan kecupan di bibir Istrinya itu yang begitu menggemaskan.
"Ehm!" Laretta berdehem. Ini bukan pertama kalinya Kakaknya itu mengubar kemesraan. Bahkan mereka tidak pernah melihat dimana mereka berada, mereka terus mengubar kemesraan di depan umum. Membuat semua orang yang melihatnya menatap iri pada mereka.
Devita meringis malu karena dia sering lupa jika sedang bersama dengan Laretta.
"Brayen?" suara Felix dari arah belakang, dia dan Olivia baru saja tiba. Mereka mendekat ke arah Brayen.
"Aku pikir kau tidak akan datang." tukas Brayen dingin.
Felix berdecak. "Sialan kau! Apa kau ini tidak berniat untuk mengundangku?"
Brayen mengangkat bahunya acuh. "Aku memang tidak berniat mengundangmu. Tapi, aku rasa kau itu sudah tahu keinginanku. Bukannya beberapa hari ini, kau meminta anak buahku untuk memata - mataiku?"
Brayen tersenyum miring, dengan tatapan yang melipat kedepan dada. Tatapan Brayen menatap wajah Felix yang berusaha bersikap tenang. Namun, Brayen sudah tahu sejak awal. Beberapa hari ini, Felix meminta anak buahnya untuk mengawasinya.
"Kau pikir aku tidak memiliki pekerjaan? Kenapa aku harus memata - mataimu!" Bantah Felix.
"Dan kau pikir, aku ini mudah untuk kau tipu?" balas Brayen dengan seringai di wajahnya. "Apa kau ingin, anak buahmu aku lenyapkan karena sudah berani memata - mataiku?"
"Sialan kau Brayen!" Seru Felix.
"Hentikan Brayen! Kenapa kau ini berdebat dengan Felix." kata Devita menengahi.
"Felix, sudahlah..." Olivia menarik tangan Felix, untuk menenangkan kekasihnya yang sedang kesal.
"Apa aku datang terlambat?" suara bariton dari arah belakang, membuat semua yang ada di sana mengalihkan pandangan mereka menatap sosok pria yang baru saja masuk ke dalam.
"Angkasa?" Laretta dan Olivia sama - sama terkejut melihat kedatangan Angkasa.
"Jadi, seorang Brayen Adams Mahendra ingin bermain-main hari ini?" Angkasa menyunggingkan senyuman miring. "Aku menyukai caramu memilih permainan ini."
"Kau tidak takut?" tanya Brayen sambil melayangkan tatapan dingin pada Angkasa yang sedang berdiri di hadapannya.
"Tidak." Angkasa menggeleng tegas. "Aku akan menerima segala tantanganmu!"
"Alright, buktikan saja jika memang kau mampu." Brayen menyeringai dia menggerakkan tangannya meminta Albert untuk membawakan raket untuknya.
Angkasa tersenyum tipis, dia juga menggerakkan tangannya memberikan isyarat pada asistennya untuk membawakan raket.
...********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.