Love And Contract

Love And Contract
Menunggu Seorang Tamu



Olivia membuang napas kasar, lalu dia mengambilkan makanan untuk Felix. Olivia mengambilkan makanan yang terlihat pedas. Sekali - kali mengerjai Felix bukan masalah bukan? Itulah yang di pikirkan oleh Olivia. Dia mengambil sambal goreng kentang, rendang yang pedas dan ayam yang di lumuri oleh banyak sambal di atasnya. Kali ini Olivia yakin pasti Felix akan langsung sakit perut.


"Kau harus makan ini, aku sudah mengambilkan khusus untukmu." Olivia memberikan piring yang sudah terisi dengan makanan yang tadi dia ambil. Felix tersenyum senang karena Olivia mengambilkan makanannya, meski pun harus ada sedikit pemaksaan, tapi Felix tidak perduli. Terpenting Olivia yang mengambilkan makanan untuknya.


"Devita? Kenapa kau tidak makan?" tegur Brayen, saat melihat Devita belum menyentuh makanannya.


"Aku menunggu seseorang tamu yang datang, aku mengundangnya untuk datang. Tidak lama lagi dia akan datang." jawab Devita.


Brayen menautkan alisnya, "Siapa yang kau undang? Bukankah Felix dan Olivia sudah ada disini?"


"Ada lagi, sayang. Aku mengundang satu orang lagi untuk makan siang bersama dengan kita." balas Devita dengan senyuman manis di wajahnya. Brayen menatap Devita penuh selidik, karena tadi Devita tidak mengatakan apapun.


"Siapa yang kau undang?" Brayen kembali menatap Devita, biasanya Devita selalu mengatakan apapun padanya, tapi kali ini istrinya itu tidak mengatakan apapun padanya.


"Aku mengundang-"


"Maaf, aku datang terlambat." suara bariton masuk kedalam ruang makan, membuat semua orang yang berada di sana menatap sosok pria yang melangkah masuk kedalam ruangan makan itu. Bahkan Devita tidak lagi melanjutkan ucapannya karena terpotong saat pria yang dia undang kini sudah melangkah masuk ke dalam ruang makan.


"Hi Angkasa, akhirnya kau datang. Duduklah di samping Laretta," pinta Devita sambil tersenyum ke arah Angkasa.


"Kenapa kau disini?" tukas Brayen dingin.


"Istrimu yang mengundangku untuk datang." jawab Angkasa datar.


"Brayen, jangan seperti itu. Aku memang yang mengundang Angkasa untuk datang." tegur Devita pelan.


Brayen membuang napas kasar, dia tidak menjawab. Dia juga tidak ingin berdebat dengan istrinya saat banyak orang berada di sini. Terlebih saat di ruang makan.


"Angkasa, kau bisa duduk di samping Laretta." kata Devita, sejak tadi dia meminta Angkasa untuk duduk di samping Laretta tapi pria itu masih berdiri.


Angkasa mengangguk singkat lalu dia berjalan mendekat ke arah Laretta dan duduk di samping Laretta.


"Bagaimana kabarmu?" sapa Angkasa saat dia sudah duduk di samping Laretta.


Laretta tersenyum. "Aku baik. Terima kasih, sudah datang."


"Tidak perlu berterima kasih," balas Angkasa. "Aku senang bisa di undang di sini. Aku juga sudah lama tidak makan - makanan Indonesia."


"Kau sudah pernah mencoba makanan Indonesia?" Laretta sedikit terkejut mendengar ucapan dari Angkasa yang mengatakan sudah lama dia tidak makan makanan Indonesia.


"Ya, aku punya rumah di Kanada. Dulu aku memang sering bolak-balik Kanada - Indonesia." jawab Angkasa.


Laretta mengagguk paham, " Aku lupa, kau ini teman masa kecil Devita, tentu kau sudah tahu masakan Indonesia."


"Aku akan mengambilkan makanan untukmu," Laretta langsung beranjak dan mengambil makanan untuk Angkasa.


"Terima kasih," ucap Angkasa saat menerima makanan yang sudah di ambilkan oleh Laretta.


Devita tersenyum melihat kedekatan antara Angkasa dan juga Laretta, dia melirik suaminya yang memasang wajah dingin dan terlihat tidak suka. Bukan tidak memperdulikan, tapi Devita pikir tidak salah bukan mengundang Angkasa? Lagi pula Devita yakin Angkasa dan Laretta akan segera menikah.


Devita mengambil makanannya dan mulai menikmati rendang, opor ayam dan sambal goreng kentang. Devita tidak memperdulikan lemak di tubuhnya, lagi pula dia hanya naik tiga kilogram. Dia juga tidak memperdulikan berat badannya yang bertambah.


"Ini sangat enak," gumam Devita, saat mencoba rendang dan sambal goreng kentang.


"Felix, kau tidak apa-apa?" tanya Devita cemas, saat melihat wajah Felix yang memerah.


"Ini sangat enak, tapi kenapa rasanya sangat pedas sekali." Felix tidak bisa lagi menutupi wajahnya yang benar - benar memerah, bahkan dia seperti makan cabai karena terlalu pedas.


Olivia mengulum senyumannya. " Kau ini berlebihan sekali. Itu tidak pedas sama sekali. Lihatlah aku sejak tadi sudah makan saja tidak merasakan pedas sama sekali."


Devita menajamkan matanya pada Olivia, dia tahu ini pasti ulah dari Olivia yang memberikan makanan pedas untuk Felix. "Olivia, kau ambilkan makanan yang ada di sana. Ganti makanannya yang tidak pedas."


Olivia mengumpat dalam hati, terpaksa dia beranjak dan mengambilkan makan yang tidak pedas untuk Felix." Ini tidak pedas, kau bisa makan ini." kata Olivia saat mengganti makan Felix.


Felix terdiam sebentar, dia menarik kursi Olivia mendekat ke arahnya. Dia mendekatkan bibirnya pada telinga Olivia. " Kau mengerjaiku sweet heart? Harus aku apakan dirimu yang berani mengerjaiku, hm? Aku rasa, aku harus menghukummu,"


Olivia tersenyum kaku, lalu dia berusaha menjauhkan dirinya dari Felix. Dia tidak menjawab apapun dan memilih menikmati makanannya.


...***...


Brayen dan Angkasa saling beradu pandang. Mereka saling melempar tatapan satu sama lain, setelah selesai makan Brayen memang membawa Angkasa ke ruang kerjanya. Angkasa melangkah mendekat ke arah Brayen, dia duduk tepat di hadapan Brayen. Angkasa menyilangkan kakinya, jemarinya mengetuk pelan meja di hadapannya itu.


"Kau mengajakku kesini hanya untuk berbicara tentang Devita yang mengundangku datang?"Angkasa lebih dulu mengeluarkan kata-kata. Karena sejak tadi Brayen dan juga dirinya hanya saling melempar tatapan tajam.


Brayen tersenyum tipis, "Aku tidak ingin membahas itu, kalau aku menginginkan sudah sejak tadi aku dengan mudahnya mengusirmu. Sayangnya, aku masih berbaik hati dan membiarkanmu makan bersama dengan keluargaku,"


Angkasa menggeleng pelan dan menyunggingkan senyuman meledek. "Aku yakin kau tidak akan berani, karena aku di undang oleh istrimu sendiri. Kau tidak ingin bertengkar dengan istrimu bukan? Dan aku harap kau tidak cemburu lagi padaku. Karena aku dan Devita hanya sebatas teman masa kecil."


"Aku rasa kau sangat percaya diri. Aku tidak mungkin cemburu pada pria macam sepertimu." tukas Brayen dingin.


Angkasa menganggukkan kepalanya seolah mempercayai semua perkataan Brayen, dia tersenyum miring. "Lalu, sekarang katakan padaku, apa yang ingin kau bicarakan? Pria hebat sepertimu tidak suka berbasa - basi bukan? Jadi katakanlah apa yang ingin kau katakan padaku." Brayen menyandarkan punggungnya ke kursi, tatapannya masih menatap lekat Angkasa yang duduk di hadapannya. "Well, aku ini memang tidak suka berbasa - basi. Aku di sini untuk membahas perusahaanmu. Rupanya kau sudah bekerja sangat keras, gagal membuatmu jauh lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan."


Angkasa tersenyum tipis, "Aku tidak akan pernah mengulangi kesalahanku. Bukankah aku sudah membuktikan diriku jika aku pantas untuk adikmu? Jadi apa sekarang kau sudah menyetujui hubunganku dengan adikmu?"


"Rasa percaya dirimu, harus aku akui sangat besar. Tapi apa kau sudah membuat adikku jatuh cinta padamu? Paling tidak kau harus menunjukkan itu padaku." balas Brayen dengan seringai di wajahnya.


"Allright, aku akan menunjukkan padamu, Brayen. Jika sampai itu terjadi, kau tidak memiliki alasan untuk menolakku, Brayen Adams Mahendra. Ingat itu! Kau tidak memiliki hak untuk menolakku. Aku yakin hal itu akan terjadi dalam waktu dekat. Dan aku akan segera menikahi adikmu," kata Angkasa penuh dengan keyakinan.


Brayen tersenyum sinis, "Apa yang membuatmu begitu percaya diri?"


... *****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.