
"Kau bisa melihatnya Brayen, ketika aku berjuang membesarkan perusahaan yang hampir bangkrut. Aku tidak akan pernah mengambil keputusan yang salah untuk kedua kalinya," balas Angkasa dengan suara yang tenang." Ketika aku pernah gagal mendapatkan wanita yang pernah aku cintai, kali ini tidak. Berkaca dari masa lalu akan membuatku memiliki keyakinan untuk tidak gagal lagi. Mungkin bagimu, aku tidak mungkin menaklukkan perasaan Laretta, maka aku tegaskan sekali lagi, aku akan terus berusaha membuat Laretta jatuh cinta padaku. Seperti yang kau tahu, aku memiliki anak dengan Laretta itu yang membuat kami cepat bersatu,"
"Kau sungguh sangat percaya diri," Brayen beranjak dari tempat duduknya, dia melangkah menuju ke arah lemari minuman dan mengambil botol wine beserta dengan dua gelas sloki. Dia menuangkan wine itu pada dua gelas sloki. Lalu memberikan salah satu gelas sloki yang sudah berisikan wine pada Angkasa.
"Aku menyukai caramu yang percaya diri dengan apa yang kau lakukan," tukas Brayen sambil menyesap wine yang ada di tangannya. "Tapi yang harus kau tahu, jika kau terlalu percaya diri itu akan membunuhmu secara perlahan."
Angkasa menggerakkan gelas sloki di tangannya berirama, tatapannya tetap menatap lekat Brayen. "Aku rasa, kau juga memiliki kepercayaan diri yang kuat Brayen. Kau begitu percaya diri memimpin perusahaanmu hingga bisa berada di puncak tertinggi. Lalu kau begitu percaya diri mendapatkan Devita yang awalnya tidak mencintaimu. And you see? You did it Brayen Adams Mahendra. Kau berhasil mendapatkan apa yang kau inginkan karena kepercayaan dirimu yang kuat. Dan aku menginginkan itu. Ketika kau memiliki kepercayaan diri yang kuat, kenapa aku tidak bisa memilikinya?"
"Allright, rupanya kau cukup cerdas membalas setiap perkataanku. Jika kau memang merasa kau yakin mampu, tunjukkan semua itu padaku. Aku menunggu dimana kau bisa membuat adikku jatuh hati padamu. Satu lagi, aku juga masih mengawasi pergerakan perusahaanmu. Ketika aku menginvestasikan uangku, aku paling benci dengan kerugian " tukas Brayen menekankan.
Angkasa tersenyum, " Kau tidak perlu khawatir, aku pasti akan menunjukkan semua yang kau inginkan Kakak Ipar."
"Baiklah, aku rasa aku harus segera pergi. Aku sudah mengingat semua perkataanmu. Kau tenang saja, aku akan menuruti semua keinginanmu," Angkasa beranjak dari tempat duduknya, dia masih terus menatap lekat Brayen. "Aku rasa, memiliki Kakak Ipar yang arrogant sepertimu sangat menganggumkan." tukas Angkasa, dia membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan ruang kerja Brayen.
Brayen tersenyum sinis mendengarkan perkataan dari Angkasa. Bahkan jika bisa memilih dia tidak ingin memiliki adik ipar yang berhubungan dengan masa lalu dari istrinya sendiri. Terlebih Brayen tahu, pria itu masih menaruh perasaan pada istrinya.
Saat Angkasa melangkah keluar, dia berpapasan dengan Devita yang hendak berjalan masuk ke ruang kerja Brayen.
"Angkasa, kau sudah selesai berbicara dengan Brayen?" tanya Devita saat melihat Angkasa berjalan keluar dari ruang kerja Brayen.
Angkasa mengangguk, "Ya, aku sudah selesai berbicara dengannya."
"Apa kau ingin langsung pulang?" tanya Devita lagi.
"Mungkin aku akan menemui Laretta terlebih dahulu."
"Hemm... baiklah, Laretta dan Olivia sedang berada di taman. Jika kau ingin menemui Laretta, kau bisa ke taman."
"Terima kasih, Devita."
"Ya sudah, aku harus menemui Brayen. Sampai jumpa." Devita berjalan meninggalkan Angkasa, dan masuk kedalam ruang kerja Brayen.
"Brayen," panggil Devita pelan saat masuk kedalam ruang kerja Brayen.
Brayen mengalihkan pandangannya dan tersenyum, saat melihat istrinya melangkah masuk. Brayen menepuk pelan pahanya memberi isyarat agar istrinya duduk di pangkuannya. Devita tersenyum, tentu tanpa di minta suaminya itu pasti Devita akan duduk di pangkuan suaminya. Devita berjalan mendekat ke arah Brayen dan duduk di atas pangkuan suaminya. Brayen menggeser sedikit posisi istrinya agar jauh merasa lebih nyaman.
"Tadi kau bicara apa dengan Angkasa?" tanya Devita sambil mengelus rahang Brayen.
"Hanya pembicaraan tentang perusahaan," jawab Brayen.
"Kau tidak mengancamnya, kan?" Devita memincingkan matanya menatap Brayen penuh selidik.
Brayen mengeratkan pelukannya, "Tidak sayang, aku tidak mengancamnya. Hanya berbicara sedikit tentang perusahaan."
"Biarkan Angkasa dan Laretta menikah, Brayen. Aku ingin melihat Laretta berbahagia dengan Angkasa. Kandungan Laretta sudah semakin membesar, kenapa kau selalu menghalanginya?" seru Devita kesal.
Brayen menarik dagu Devita, mencium dan ******* dengan lembut bibir ranum istrinya, "Bibirmu ini berisik sekali, hm? Rasanya aku ingin terus membungkam bibirmu dengan bibirku.
Devita mengerutkan bibirnya, "Aku serius Brayen, aku ingin melihat Angkasa dan juga Laretta bahagia."
Brayen mengeratkan pelukannya, dia membenamkan wajahnya di ceruk leher Devita. "Biarkan dia berjuang sedikit lagi, aku juga menginginkan adikku hidup bahagia. Aku hanya memastikan, dia pria yang layak untuk Laretta."
...***...
Laretta duduk di taman bersama dengan Olivia. Mereka berdua melihat bunga yang tumbuh dengan sangat indah. Cuaca yang begitu cerah membuat mereka memilih untuk duduk di taman. Angin berhembus begitu menyejukkan.
"Taman ini begitu indah dan sejuk Laretta. Harusnya, aku membuat taman seperti ini di mansionku." kata Olivia yang terus memandangi bunga - bunga yang tumbuh dengan sangat indah.
Devita memang menyukai keindahan taman, dia selalu meminta pelayan untuk menjaga dan merawat bunga - bunga ini dengan baik. Saat aku pindah kesini, aku juga sangat kagum dengan taman ini. Ternyata Devita begitu sangat menyukai keindahan taman." ujar Laretta, dia juga menatap bunga - bunga yang tumbuh dengan indah.
"Aku sudah menduganya, sejak dulu Devita itu sangat menyukai bunga," balas Olivia.
"Hmmm, Laretta. Apa saat ini Devita bersama dengan Brayen? Atau dia sedang bersama dengan chef Della?" tanya Olivia, karena dari tadi dia tidak melihat Devita yang menyusul ke taman.
"Aku juga tidak tahu, mungkin dia masih bersama dengan chef Della. Aku melihat Devita, sepertinya dia sangat menyukai makanan Indonesia.", jawab Laretta.
"Dulu saat pertama kali aku bertemu dengannya, aku tidak menyangka dia memiliki darah Indonesia dari Ibunya. Devita lebih memiliki wajah seperti paman Edwin. Rambutnya pirang dan kulitnya putih dan wajahnya yang tidak memiliki wajah asia." ucao Olivia sambil tersenyum. " Aku mengenal Devita sejak aku kecil. Rumahku d dengan Devita berdekatan. Saat itu aku selalu memanggilnya si pirang. Bahkan dulu Devita juga tidak terlalu lancar berbicara bahasa Indonesia. Aku pun mengalami kesulitan saat berbicara dengannya karena aku juga dulu tidak lancar untuk berbicara bahasa Inggris. Sampai akhirnya bibi Nadia selalu mengajarkan bahasa Indonesia. Lalu ibuku juga mengajarkanku bahasa Inggris."
Laretta mengulum senyumannya. "Kau begitu beruntung memiliki sahabat seperti Devita. Dia sangat baik, bahkan ketika semua orang menyalahkanku dia tetap berada di sisiku. Dia membelaku dan melindungiku. Setiap kali Kakakku Brayen ingin memarahiku, dia adalah orang pertama yang membelaku. Aku merasa begitu beruntung memiliki Kakak Ipar seperti Devita."
"Ya, kau benar Laretta. Dia memang sangat baik. Tapi terkadang aku kesal dengannya kalau dia begitu baik pada orang. Aku tidak suka ada yang memanfaatkan kebaikan Devita." ujar Olivia kesal. " Saat aku dan Devita masih SMA, dulu banyak orang yang ingin memanfaatkan kebaikannya. Itu yang membuatku geram, bahkan aku pernah mencekik perempuan yang berniat memanfaatkan Devita."
Laretta tertawa pelan. " Kau mencekik seorang perempuan? Sungguh hebat kau Olivia. Pantas saja sepupuku begitu menyukai dirimu, Olivia. Kau cantik, lucu dan menggemaskan. Aku tahu sekarang, alasan Felix begitu menyukaimu Olivia. Karena kau begitu menggemaskan."
Olivia mendengus tak suka. " Jangan dengarkan apa yang di katakan oleh Felix. Aku hampir di buat gila olehnya. Aku yakin, banyak wanita yang di luar sana yang mengincar Felix. Tapi kenapa dia terus mengangguku. Benar - benar membuatku sakit kepala berurusan dengan Felix. Aku rasa dia sudah kehilangan akal sehatnya, banyak wanita dewasa yang cantik dan seksi kenapa masih mengharapkan gadis yang masih kuliah sepertiku? Bahkan aku lebih suka bermain game di bandingkan harus menjalin hubungan dengan seorang pria."
Laretta menggelengkan kepalanya, dia berusaha untuk menahan tawa atas kepolosan dari Olivia. " Kau tahu Olivia? Menurutku, para pria lebih menyukai gadis yang masih kuliah daripada wanita cantik dan seksi. Kau lihat? Kakakku begitu tergila-gila pada Devita yang masih kuliah. Devita dan kakakku menikah saat Devita berusia 20 tahun."
"Tapi tetap saja, aku tidak ingin masuk kedalam permainan Felix. Aku tidak ingin nantinya bermain dengan perasaan tapi akan melukai hatiku. Aku lebih baik menyendiri sampai aku yakin pada seorang pria." ujar Olivia memberikan alasan.
Laretta tersenyum tipis, " Kau salah Olivia. Seumur hidupku, Felix tidak pernah melukai hati wanita. Aku tahu beberapa mantan kekasih Felix. Alasan mereka berpisah bukan karena Felix berselingkuh. Sepupuku itu memang sangat ramah pada wanita tapi dia tidak akan melukai perasaan wanita yang telah menjadi kekasihnya. Felix berpisah dengan mantan kekasihnya itu karena sudah tidak ada lagi kecocokan di antara mereka.
Olivia terdiam saat mendengarkan penjelasan dari Laretta tentang Felix. Di sisi lain Olivia merasa ada satu hal yang aneh dalam dirinya saat mendengarkan penjelasan dari Laretta.
Laretta menyentuh tangan Olivia, dia menatap lekat wajah Olivia. " Kau begitu beruntung Olivia. Karena aku tahu ada satu wanita yang begitu mencintai Felix tapi wanita itu tidak bisa mendapatkannya. Sedangkan kau selalu di kejar oleh Felix. Dia begitu berjuang demi mendapatkanmu, Olivia."
"Seorang wanita? Siapa wanita itu? Apa kau mengenalnya?" Olivia mengernyitkan keningnya.
"Kau tidak perlu tahu siapa wanita itu, Olivia. Tapi yang aku ingin beritahu padamu, cobalah untuk membuka hatimu pada Felix, Olivia." balas Laretta.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.