
"Jika Ayahku, menjodohkan aku pada gadis seperti Devita, aku tidak pernah mungkin menolaknya. Tidak ada yang kurang dari sosok Devita," lanjut Felix dengan kekehan pelan.
"Felix, aku tidak pernah mempercayai berita mengenai Elena. Aku tahu dia seorang artis. Sudah pasti kehidupannya selalu di liput oleh media. Hubunganku dengannya juga sudah cukup lama. Harusnya tahun depan, aku sudah melamarnya. Tapi karena perjodohan ini, aku terpaksa menundanya," ujar Brayen dia mengalihkan pembicaraan untuk tidak membahas Devita dan juga Brayen.
"Menunda?" Felix mengerutkan keningnya. "Maksudmu kau tidak membatalkannya tapi menundanya? Kau sungguh gila Brayen Adams Mahendra,"
"Apa kau tidak menyukai Devita? Dia gadis yang seharusnya bisa di katakan sempurna. Cantik, cerdas, anak pengusaha kaya? Dia juga baik dan masih polos," lanjut Felix yang berusaha membuat Brayen merubah cara pikirnya.
"Aku dan Devita sudah sepakat untuk tidak melibatkan perasaan kami dalam pernikahan ini," balas Brayen dengan nada seolah dia tidak memperdulikan segala yang di miliki oleh Devita.
Felix mengangguk paham kemudian bertanya, "Oke, tapi kau jawab. Bagaimana perasaanmu? Kau tidak menyukainya?"
"Berhentilah untuk ikut campur Felix!" Tukas Brayen penuh dengan peringatan.
Felix tertawa rendah, lalu dia menjawab dengan penuh keyakinan. "See? Kau tidak berani mengakuinya. Aku sudah yakin kau menyukainya, tapi kau masih terlalu memikirkan Elena. Dengarkan aku baik - baik. Ini hidupmu, jangan mengambil keputusan yang membuatmu akan menyesal di masa depan. Kau adalah seorang Brayen Adams Mahendra, kau sangat cerdas dalam berbisnis. Harusnya untuk masalah ini kau pun sangat cerdas,"
"Aku tidak ingin mencampuri masalah pernikahanmu. Tapi percayalah, jika kau melepas Devita akan banyak pria yang mengharapkannya. Aku sudah mendengar itu, dari para senior di kampus Devita yang mencoba untuk mendekati Devita. Apa kau tahu? Tidak ada satupun dari mereka yang berhasil berkencan dengan Devita. Devita selalu menuruti perintah Ayahnya. Bahkan aku mendengar saat dia pergi klub malam, dia harus di temani oleh anak buah Ayahnya." lanjut Felix. Kemudian dia beranjak berdiri dan tatapannya menatap Brayen yang masih tidak bergeming dari tempatnya. "Well, aku harus pergi sekarang. Banyak hal yang harus aku kerjakan. Salamkan aku untuk Kakak Iparku yang sangat cantik itu,"
Felix membalikkan tubuhnya, dia langsung meninggalkan ruang kerja Brayen.
Brayen membuang napas kasar, dia kembali menyandarkan punggungnya ke kursi dan memejamkan mata singkat. Pikirannya kembali memikirkan semua perkataan Felix. Ya, tidak bisa di pungkiri Devita adalah gadis baik dan penurut.
...***...
Devita baru saja tiba di mansion. Dia masuk kedalam kamar, kini sudah pukul tujuh malam. Brayen memang tadi berpesan, jika Brayen akan pulang terlambat. Ingin rasanya Devita menghubungi Brayen. Bertanya dimana Brayen sekarang, namun dengan cepat Devita mengurungkan niatnya.
Devita sudah berjanji untuk menjaga jarak dari Brayen. Dia tidak boleh terlalu dekat dengan Brayen. Dia harus selalu mengingat perkataan Brayen, mereka harus memiliki batasan. Pernikahan ini hanya terikat dalam sebuah kontrak perjanjian. Devita tidak ingin terjatuh karena bermain pada perasannya.
Terkadang Devita melihat di internet berita tentang Angkasa. Tapi entah kenapa dia sudah tidak ada perasaan di mana dia mengharapkan Angkasa kembali ke kota B. Devita memang ingin tahu bagaimana kabar Angkasa, tapi ia hanya sebatas ingin tahu. Berkali - kali Devita meyakinkan diri, semakin Devita menyadari perasaannya pada Angkasa yang mulai menghilang.
Pandangan Devita kini teralih menatap foto pernikahannya dengan Brayen. Foto mereka sangat menutupi pernikahan yang hanya sebatas kontrak ini. Terlihat jelas di foto mereka terlihat sangat bahagia. Tapi tidak dengan kenyataan. Brayen memiliki wanita yang dia cintai. Devita juga berharap dirinya masih memikirkan Angkasa. Meskipun perasaan Devita mulai menghilang pada Angkasa, tapi dia yakin, jika suatu saat benar Angkasa akan kembali padanya. Devita pasti akan mencintai Angkasa. Perlahan air mata Devita mulai membasahi pipinya, dia terus menatap foto pernikahannya dengan Brayen. Dengan cepat, Devita langsung menghapus air matanya. Hatinya terlalu sakit jika mengingat tentang Brayen. Ya, mereka harus memiliki batasan. Merry harus tahu dimana posisi mereka. Status mereka saat ini tidaklah berarti apapun.
"Astaga ada apa denganku? Tidak boleh kenapa aku harus bersedih seperti ini!" Gumam Devita.
...***...
Brayen berjalan masuk ke dalam sebuah klub mewah di kota B. Suara musik menghentak dari dalam. Para pelayan berpakaian sangat seksi di klub malam ini. Sejak masuk tadi, banyak sekali wanita yang menggoda Brayen. Tapi tidak ada satupun yang Brayen inginkan. Brayen masuk ke klub malam di temani oleh Albert. Albert memang asistennya sekaligus teman dekatnya bagi Brayen. Kemanapun Brayen pergi, Albert selalu ikut dengan Brayen. Saat Brayen masuk kedalam klub dia melihat Felix di tengah di kelilingi oleh para wanita. Ini sudah menjadi hal biasa bagi Felix, dia memang hampir setiap malam menghabiskan malamnya di klub malam.
"Brayen," panggil Felix dengan kencang saat melihat Brayen memasuki klub malam.
Brayen hanya melirik Felix sebentar, lalu dia melanjutkan masuk ke dalam ruang VIP. Dia tidak ingin di ganggu oleh siapapun. Felix yang melihat Brayen masuk ke dalam ruang VIP, dia langsung meninggalkan tempatnya dan menghampiri Brayen.
Brayen memesan vodka, tujuannya ke klub malam ini agar dirinya jauh lebih tenang sedangkan Felix dan Albert duduk di samping Brayen.
"Ya Tuan, saya mengantarkan Nona Elena ke Apartemen," jawab Albert.
"Bagaimana? Apa Elena menyusahkan mu? Aku sangat tahu, dia selalu ingin mendapatkan yang sempurna," tukas Felix dengan penuh sindiran.
"Nona Elena kurang menyukai Apartemennya. Nona Elena ingin Apartemen yang lebih mewah dan besar. Nona Elena juga berpesan pada Tuan Brayen, agar Tuan membelikannya mobil Bugatti Veyron, keluaran terbaru," ujar Alberlt.
Felix tersenyum miring. "Menjadi seorang artis, sepertinya dia tidak bisa membeli mobil sport mahal,"
Sedangkan Brayen tidak memperdulikan obrolan Felix dan Albert. Dia lebih memilih untuk menikmati minumannya.
"Sepertinya Tuan Felix sangat mengenal Nona Elena bukan, dia selalu berkumpul dengan para sosialita. Sudah pasti Nona Elena selalu menginginkan yang terbaik,"
"Lihatlah Brayen, apakah Elena datang ke kota B hanya untuk menghabiskan uangmu?" ucap Felix dengan penuh sindiran. Felix menyeringai dengan bibirnya yang mengejek pada sepupunya yang mudah sekali di manfaatkan.
"Uang bukanlah masalah yang besar untukku Felix. Kau tahu bukan, aku tidak pernah menjadikan uang sebagai masalah," jawab Brayen yang seolah tidak perduli.
"Lalu kenapa kau datang kesini? Kau jangan menipuku, aku tahu kau sedang memikirkan Elena dan juga Devita," balas Felix.
Brayen masih diam meneguk minumannya. "Aku hanya ingin menenangkan pikiranku," jawab Brayen.
Felix menganggukkan kepalanya seolah mempercayai perkataan Brayen, "Well, menenangkan pikiran. Sekarang aku tanya, apa alasan yang bisa membuatmu meninggalkan Elena?"
"Aku akan meninggalkan Elena, jika dia berani berselingkuh dariku!" Jawab Brayen dingin.
"Ah, begitukah? Itu terlalu mudah," balas Felix, sembari terkekeh pelan. " Bagaimana dengan Devita apa kau akan meninggalkannya?" tanya Felix yang masih penasaran.
"Aku sudah memiliki kontrak perjanjian padanya. Kami hanya akan menikah selama tiga tahun. Kemarin aku dengannya memutuskan untuk menjaga jaga jarak satu sama lain," jelas Brayen. Pikirannya kini penuh dengan Devita. Dia langsung kembali meneguk minumannya.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.