Love And Contract

Love And Contract
Indentitas Ruby



Brayen menarik tangan Devita masuk kedalam ruang kerjanya. Devita mendesah pelan, ia tahu pasti karena rekan bisnis Brayen menjabat tangan dirinya tadi. Devita tidak mengerti padahal tadi Brayen bilang harus bersikap profesional. Tapi kenyataannya Brayen yang menarik tangan dirinya dan meninggalkan ruang meeting.


"Brayen, tanganku bisa putus kalau kau mencengkram kuat seperti ini." gerutu Devita.


"Lain kali, kau di larang berjabat tangan dengan pria lain. Meski itu adalah rekan bisnismu," tukas Brayen dingin.


Devita mencebik, "Kenapa kau ini tidak profesional sama sekali, Brayen. Dia itu rekan bisnismu. Aku tidak suka kau seperti itu."


"Jangan membantahku Devita Mahendra!" Tegas Brayen.


Devita membuang napas kasar. "Jangan berlebihan Brayen! Dia juga sudah tahu aku ini seorang wanita yang sudah menikah. Di tambah kau sudah mengatakan aku ini Istrimu. Jadi, kau jangan berlebihan!" Seru Devita kesal, selalu saja Brayen seperti ini. Benar - benar membuatnya sakit kepala, melihat tingkah Brayen.


"Apa Papa menganggu kalian?" suara Edwin menghentikkan perdebatan Devita dan juga Brayen. Edwin melangkah masuk kedalam ruang kerja Brayen.


"Papa!" Seru Devita saat melihat Edwin masuk kedalam ruang kerja Brayen. Dengan cepat Devita langsung memeluk ke arah Edwin dan memeluk Ayahnya itu. Sudah lama Devita memang merindukan Ayahnya.


Edwin membalas pelukan putrinya, meski sudah tidak muda lagi, tapi tubuh Edwin masih tetap tegap. Edwin memeluk erat Putri tunggalnya ini. Sejak dulu Edwin selalu menganggap putrinya itu masih kecil. Bahkan meski Devita sudah menikah, Edwin selalu beranggapan Devita tetap putri kecilnya.


"Papa, kenapa tadi Papa tidak membantuku saat di ruang meeting! Aku hampir malu karena takut tidak bisa menjawab!" Gerutu Devita.


Edwin tersenyum, ia mengelus rambut putrinya. " Kau tadi mampu menjawab dengan baik. Papa tidak perlu membantumu."


Devita mendengus tak suka. " Tadi itu hanya sebuah keberuntungan yang memihakku!"


"Selamanya keberuntungan berada di pihakmu" balas Edwin.


"Apa Papa menganggumu, Brayen?" tanya Edwin pada Brayen.


"Tidak, Pa." jawab Brayen.


"Brayen, lupakan kejadian tadi. Papa sudah menegur Mr. Nicholas." ujar Edwin.


"Brayen terlalu berlebihan, Pa!" Ucap Devita ketus.


"Devita!" Tegur Edwin.


Devita mengerutkan bibirnya, " Ya, ya maaf."


"Aku tidak akan memaafkan Nicholas untuk kedua kalinya. Kali ini aku bisa memaafkannya karena dia belum tahu jika Devita adalah istriku."


"Ya, Papa mengerti. Tenanglah Papa sudah bicara dengannya." balas Edwin.


"Bagaimana kabar kedua orang tuamu, Brayen?" tanya Edwin.


"Semuanya baik. Mereka sudah keluar dari rumah sakit," jawab Brayen.


"Papa belum datang menemui kedua orang tuamu. Mungkin besok Papa dan Mama akan datang ke rumah orang tuamu." kata Edwin.


"Brayen, hari ini rencananya Papa akan membawa Devita pulang kerumah. Apa kau mengizinkannya?" tanya Edwin.


"Ya Pa, nanti malam aku akan menjemput, Devita." jawab Brayen.


"Baiklah, kalau begitu Papa harus segera kembali," ucap Edwin.


"Devita, Ibumu sangat merindukanmu. Kau mau pulang ke rumah dengan Papa?" tawar Edwin.


"Papa! Kenapa bertanya kepadaku! Tentu aku mau pulang. Aku juga sangat rindu dengan Mama," seru Devita.


"Ya, Papa tunggu di luar. Kau berpamitanlah pada suamimu," kata Edwin, lalu ia berjalan keluar dari ruang kerja Brayen.


Devita melangkah mendekat ke arah Brayen. Dia melihat dengan jelas, wajah Brayen masih marah padanya. Tiba - tiba, Devita langsung memeluk erat Brayen. "Maaf Brayen, jangan marah. Aku yakin, hal ini tidak akan terulang lagi." ucap Devita.


Brayen menarik dagu Devita, mencium dan ******* bibir Istrinya itu. " Ya, aku tahu."


"Aku harus pulang ke rumah orang tuaku. Ibuku sudah merindukanku," kata Devita.


Brayen mengangguk. "Nanti malam aku akan menjemputmu."


"Ya sudah, aku berangkat." pamit Devita, ia mengecup bibir Brayen. Lalu, berjalan meninggalkan ruang kerja Brayen.


Saat Devita berjalan keluar, ia berpapasan dengan Albert yang ingin masuk kedalam ruang kerja Brayen. Albert menundukkan kepalanya, saat melihat Devita berjalan keluar dari ruang kerja Brayen.


"Nyonya," sapa Albert.


"Benar Nyonya," jawab Albert.


"Baiklah, aku harus pergi dengan Ayahku." balas Devita.


Albert mengangguk, " hati - hati Nyonya."


Kemudian Devita berjalan ke arah Edwin. Ia langsung memeluk lengan Ayahnya itu. Mereka langsung berjalan meninggalkan perusahaan. Devita memang sejak dulu sangat dekat dengan kedua orang tuanya meski dia sudah menikah, Namun Devita selalu beranggapan jika dirinya masih kecil.


...***...


" Tuan," sapa Albert, menundukkan kepalanya saat masuk kedalam ruang kerja Brayen.


"Ada apa?" tanya Brayen dingin.


"Saya ingin melaporkan Nakamura company, Tuan" ujar Albert.


"Katakan, keputusan apa yang di lakukan oleh Angkasa?" tanya Brayen.


"Angkasa Nakamura mengambil proyek itu. Dia mengeluarkan uang delapan ratus juta dollar untuk proyek ini Tuan," ujar Albert.


Brayen membuang napas kasar. " Maka sekarang kita lihat langkah apa yang bisa di ambilnya. Bagaimana bisa pria seperti itu ingin menjadi pendamping adikku. Bahkan dia tidak bisa memutuskan dengan baik."


"Lalu langkah apa yang harus kita ambil Tuan? Menghentikkan Angkasa Nakamura? Atau kita membiarkannya?" tanya Albert.


"Biarkan dia, tapi tetap awasi dia dengan baik." tukas Brayen.


Albert mengangguk patuh, " Baik, Tuan."


"Kau kembalilah keruanganmu, Albert. Dan kosongkan jadwalku dua jam kedepan. Aku sedang tidak ingin di ganggu." tukas Brayen.


"Baik Tuan. Saya akan mengosongkan jadwal anda," Albert menunduk, lalu ia undur diri dari ruang kerja Brayen.


...***...


"Elena! Kau gila, kenapa kau memaksa untuk kesini? Bagaimana, jika Brayen melihatmu!" Suara seorang wanita menegur Elena dengan tegas.


"Oh come on, Ruby! Kau adalah sepupuku yang cerdas. Kau mampu meretas CCTV. Percuma saja kau lulusan terbaik di bidang teknologi jika kamu tidak mampu meretas CCTV." tukas Elena dengan penuh sindiran.


"Jangan menyusahkan hidupku, Elena! Karenamu, aku harus menjadi asisten di sini! Cepat jalankan rencanamu, dan berikan uang yang kau janjikan padaku. Aku harus segera meninggalkan kota B. Kau tahu, jika Brayen Adams Mahendra sampai mengetahui ini, aku pasti akan mati di tangannya." seru Ruby.


Elena tertawa, " Well, kau ketakutan dengan Brayen? Tenanglah, kau mampu bekerja di sini, itu artinya kau sudah di percaya oleh Brayen. Lagi pula, aku yakin Brayen tidak akan curiga padamu."


"Sudah katakan padaku! Apa rencanamu?! Devita juga sudah menyukai kue buatanku. Jadi apa rencanamu yang selanjutnya?" seru Ruby.


Elena tersenyum sinis, "Baiklah, kau ini sungguh tidak sabar! Besok malam aku akan datang lagi. Kau harus buat kue dan campurkan obat tidur di dalamnya. Kue yang sudah di beri obat tidur itu, nanti kau berikan kepada seluruh penjaga yang ada di sini. Pastikan semua orang makan cake darimu, termasuk Laretta adik Brayen."


"Kau gila Elena! Laretta itu sedang hamil. Bagaimana bisa aku memberikan obat tidur untuknya!" Tukas Ruby.


"Dan kau pikir aku perduli? Aku sama sekali tidak perduli. Laretta hamil atau tidak, itu adalah tugasmu, untuk memberikan obat tidur pada semua orang yang berada di mansion ini " seru Elena


Ruby membuang napas kasar. " Lalu, apa yang akan kau lakukan pada istri , Brayen?"


"Sebelum membunuhnya, sepertinya aku ingin sedikit bermain dengannya, tidak buruk bukan? Aku tahu, jadwal Brayen selalu pulang malam. Aku pastikan sebelum Brayen pulang kerumah dia sudah melihat istri tercintanya tergeletak di lantai dan tidak bernyawa." tukas Elena dengan seringai di wajahnya.


"Terserah! Setelah semuanya selesai aku harus meninggalkan Indonesia." balas Ruby.


Elena tersenyum miring, "Kau tenang, aku pasti akan membayarmu dengan sangat mahal. Aku tidak mungkin membayarmu murah dengan otakmu yang cerdas itu."


...***...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.