Love And Contract

Love And Contract
Percaya Padamu



Dengan wajah lelah, Devita melangkah masuk kedalam rumah. Sebentar lagi dia akan lulus kuliah, tapi dia tidak bisa fokus pada setiap mata kuliahnya. Belakangan ini terlalu banyak yang di pikirkan. Sudah beberapa hari ini, Devita memang menghindar dari Edwin, terdengar jahat tetapi Devita belum siap untuk berbicara dengan Ayahnya. Ya, meski terkadang dia menjawab itu hanya sekedar menanyakan kabar.


"Nyonya," sapa seorang pelayan saat melihat Devita masuk.


Devita tersentak, saat ada yang menyapanya. "Ah, ya."


"Maaf Nyonya, jika saya sudah mengejutkan anda." kata pelayan itu menundukkan kepalanya.


Devita tersenyum. "Tidak, ini salahku karena aku melamun. Ada apa? Kau ingin menyampaikan sesuatu padaku?"


"Iya Nyonya, saya hanya ingin memberitahu, jika Tuan sudah pulang. Dia berada di ruang kerjanya saat ini." ujar pelayan itu.


Devita mengerutkan dahinya, "Suamiku sudah pulang? Sejak kapan? Kenapa dia pulang cepat?"


"Sekitar satu jam yang lalu Tuan sudah berada di rumah, Nyonya. Tadi Tuan berpesan kalau Nyonya sudah pulang segera untuk menyusul Tuan di ruang kerjanya." jawab pelayan itu.


Devita mendesah pelan, "Ya, aku akan kesana. Terima kasih," Devita berjalan menuju ke ruang kerja Brayen. Dia melirik arlojinya masih pukul dua siang tapi Brayen sudah pulang ke rumah. Biasanya Brayen selalu pulang di malam hari. Bahkan terkadang larut malam. Itu yang benar - benar membuat Devita kesal, suaminya selalu pulang saat dirinya tengah tertidur pulas.


"Brayen," panggil Devita saat melangkah masuk kedalam ruang kerja Brayen.


Brayen yang tengah menatap MacBooknya, kini dia mengalihkan pandangannya. Tersenyum melihat istrinya melangkah masuk ke ruang kerjanya. "Kemarilah," Brayen menepuk pelan pahanya. Devita sudah mengerti, dia langsung berjalan menghampiri Brayen dan duduk di pangkuan suaminya. "Kau sudah pulang?" tanya Devita, sebenarnya dia tidak percaya jika suaminya itu sudah pulang. Biasanya Brayen selalu pulang. terlambat.


Brayen memeluk pinggang Istrinya, lalu dia membenamkan wajahnya di leher istrinya. "Ya, belakangan ini aku terus sibuk. Hari ini, aku ingin terus bersama denganmu."


Devita tersenyum kecil, "Sekarang kau manis sekali, Brayen? Apa kau melakukan sesuatu padaku?"


Brayen menjauhkan wajahnya. Dia menatap dengan lekat istrinya. "Melakukan sesuatu? Maksudmu?"


"Hem... maksudnya berkenalan dengan wanita lain sebagai contoh?" kata Devita yang sengaja menggoda Brayen.


Brayen membuang napas kasar, dia langsung menyentil dahi istrinya itu. " Kenapa otakmu itu pendek sekali, huh? Berpikir aku berkenalan dengan wanita lain."


Devita terkekeh pelan. "Aku hanya bercanda, Brayen. Siapa tahu kau berniat berkenalan dengan wanita lain."


"Tidak, memiliki istri berisik sepertimu sudah lebih dari cukup." balas Brayen menegaskan.


Devita mencebik. "Yang benar saja, kau mengatakan aku ini berisik! Benar - benar menyebalkan!"


Brayen mengulum senyumannya, lalu dia mengeratkan pelukannya. "Tidak masalah meskipun istriku berisik, tapi hanya dia yang mampu membuatku kehilangan akal sehatku, karena terlalu mencintainya."


Mendengar ucapan dari Brayen, sungguh membuat pipi Devita merona. Dia tidak lagi mampu menyembunyikan rona wajah malunya. Setelah mendengar ucapan dari Brayen itu. Tapi tunggu, sejak kapan suaminya itu manis sekali? Bahkan penat di pikiran Devita bisa teralihkan jika bersama dengan suaminya ini.


"Cerdas sekali kau merayu!" Cebik Devita, dia mengerutkan bibirnya.


Brayen menarik dagu Devita. Mencium dan ******* kecil bibir istrinya. "Aku ingin bertanya sesuatu padamu?"


"Bertanya apa?" Devita menjauhkan wajahnya dari Brayen dan menatap lekat suaminya itu.


"Apa Edgar menghampiri kampusmu dan berbicara denganmu?"


Devita tersentak. "Bagaimana kau mengetahuinya?"


"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?"


"Maaf, bukan maksud aku tidak bercerita. Hanya saja bagiku dia tidak penting untuk di ceritakan."


"Ini bukan karena dia tidak penting. Tapi seharusnya kau menceritakannya padaku.


"Apa yang dia katakan padamu?"


"Tidak ada, dia lebih menyapa dan dia jauh bersikap lebih ramah dari Lucia. Dia mengatakan padaku, dia sudah sangat menyukai identitasnya sebagai Edgar Rylan Wilson. Dia juga tidak pernah menginginkan menjadi anak dari Ayahku."


"Apa kau mempercayainya?"


Devita mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, aku tidak tahu. Tapi memang sikapnya jauh lebih baik dari pada Lucia."


"Aku tidak ingin kau berbicara lagi dengannya. Kedepannya, kalau dia datang menemuimu, tolak dia dan menjauh. Tidak perlu berbicara dengannya." tukas Brayen tegas.


Devita mendesah pelan, "Ya Brayen. Aku juga tidak suka berbicara dengan anak dari wanita itu."


"Devita."


"Ya?"


"Kalau aku menyembunyikan sesuatu padamu, dan untuk kebaikan kita semua apa kau marah padaku?"


Devita berkerut samar di dahinya. "Bagaimana maksudmu, Brayen? Apa kau menyembunyikan sesuatu padaku?"


"Tidak, aku hanya bertanya kalau aku menyembunyikan sesuatu dan tidak langsung menceritakannya padamu. Apa kau akan marah padaku?" tanya Brayen. Dia masih terus menatap lekat istrinya yang masih duduk di pangkuannya itu.


Devita terdiam sebentar, mencerna maksud dari pertanyaan Brayen. Ini pertama kalinya Brayen bertanya seperti itu. Ada perasaan curiga di hati Devita, tapi dia berusaha untuk menyingkirkan pikiran buruknya. "Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" tebak Devita.


Brayen tersenyum, lalu dia merapihkan rambut panjang Devita dan menyelipkan rambut Devita ke belakang telingan istrinya itu. "Aku hanya ingin bertanya, bukan maksudku menyembunyikan sesuatu. Apa kau akan marah padaku, jika aku seperti itu?"


"Bagaimana jika posisi itu di balik. Aku yang menyembunyikan sesuatu demi kebaikanmu. Apa kau akan marah padaku?" Devita bertanya balik, dia tidak mau langsung menjawab pertanyaan suaminya itu.


Brayen mengeratkan pelukannya, mengecupi leher Devita. "Aku pasti akan langsung marah, karena kau menyembunyikan sesuatu. Aku tahu, aku memang egois untuk ini. Tapi percayalah, apapun yang aku lakukan semua demi kebaikanmu Devita. Aku tidak mungkin membiarkan sesuatu buruk terjadi padamu. Selama aku hidup, aku akan terus membahagiakanmu."


Devita tersenyum, dia membalas pelukan suaminya. "Aku percaya padamu, Brayen. Tapi aku tidak suka, jika kau menutupi sesuatu dariku. Aku ingin kau membagikan semua masalahmu padaku. Bukankah kita sudah berjanji untuk tidak menutupi sesuatu?"


"I know sayang, tapi bisakah kau mempercayakanku kali ini? Karena memang semua ini yang terbaik untukmu." bisik Brayen, dia terus mengecupi leher istrinya.


Devita mendesah pelan, dia memang tidak mengerti dengan apa yang di sembunyikan oleh Brayen. Di sisi lain, Devita ingin mempercayainya tapi sebagai seorang istri, Devita juga tidak bisa berbohong dirinya curiga dengan suaminya sendiri.


Devita menangkup pipi Brayen, dia menyentuh hidung Brayen dengan hidungnya dan menempelkan dahinya ke dahi Brayen. "I trust you." bisik Devita.


Brayen tersenyum, dia langsung mencium dan ******* dengan lembut bibir Devita. Ada rasa senang di hati Brayen. Karena istrinya percaya padanya. Meski jika posisi itu di balik, Brayen tidak pernah bisa tenang, jika Devita menyembunyikan sesuatu. Terdengar begitu egois tapi ini semua karena Brayen terlalu takut kehilangan Devita.


Sedangkan Devita lebih memilih untuk percaya pada suaminya. Memang dia tidak bisa berbohong, jika dirinya menaruh curiga. Tapi Devita yakin, jika Brayen tidak akan pernah melukai hatinya. Karena selama ini, Brayen selalu berusaha membahagiakannya. Itulah yang membuat Devita sangat yakin pada suaminya. Devita lebih baik menunggu hingga Brayen menceritakan semuanya pada dirinya.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.