Love And Contract

Love And Contract
Menginginkanmu



Brayen menarik tangan Devita agar duduk di pangkuannya. Dia memeluk tubuh Devita dan membenamkan wajahnya di leher Devita. Lalu berbisik. "Aku sangat menyukai lehermu yang indah ini,"


Devita mengeratkan pelukan tangan Brayen yang kini memeluk dirinya. " Kau tahu, aku tidak pernah menyangka kita seperti ini. Awalnya aku tidak berpikir hubungan kita akan berbuah manis, Olivia berkali-kali mengatakan padaku, suatu saat nanti kita akan saling jatuh cinta. Tapi aku selalu menyangkalnya. Aku yakin itu tidak akan pernah terjadi."


"Tapi ternyata aku salah. Aku selalu bilang pada Olivia, tidak mungkin aku menyukaimu.. Meskipun aku tahu kau tampan dan berkuasa. Namun, aku yakin itu tidak akan pernah terjadi. Kenyataannya aku telah jatuh hati pada seorang pria yang aku panggil Paman, saat pertemuan pertamaku dengannya," lanjut Devita yang mengulum senyumannya. Dia mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan Brayen.


"Kau ini memanggilku Paman. Memangnya aku ini setua apa? Kita hanya berbeda tujuh tahun, Devita!" Geram Brayen saat mengingat Istri kecilnya memanggil dirinya Paman.


Devita terkekeh, " Kita berbeda umur cukup jauh Brayen. Tujuh tahun, saat usiamu tujuh tahun aku masih bayi,"


"Tapi hanya berbeda tujuh tahun, Devita. Kita bukan berbeda dua puluh tahun!" Seru Brayen.


"Jika dua puluh tahun, aku akan memanggilmu Grandpa. Tapi jika itu kenyataan, sungguh Ayahku sangat kejam padaku. Kenapa aku di jodohkan pada pria tua?" gumam Devita.


Brayen tersenyum. " Ayahmu menjodohkanmu dengan pria yang terbaik. Lihatlah suamimu ini, bukankah aku ini pria yang hebat?"


Devita mencebik "Kau ini percaya diri sekali Brayen! Kau tahu, awalnya aku berniat ingin kabur dari rumah saat orang tuaku menjodohkan diriku,"


"Kau ingin melarikan diri?" tanya Brayen yang masih tidak percaya apa yang di katakan oleh Istrinya.


Devita mengangguk pelan. "Ya, aku ingin melarikan diri saat itu. Tapi aku kembali melihat Ibuku. Aku ini anak tunggal, menjadi anak tunggal ada enaknya dan ada tidaknya juga. Enaknya orang tuaku menyayangiku. Mereka selalu memperhatikanku. Mereka selalu memberikan kasih sayang yang luar biasa padaku. Tapi tidak enaknya, orang tuaku begitu overprotektif padaku. Bahkan, aku tidak diperbolehkan memiliki kekasih,"


"Aku membatalkan rencanaku untuk melarikan diri karena aku tidak tega pada Ibuku. Aku tidak ingin melukai hati Ayah dan Ibuku. Tapi saat aku melihatmu di pertemuan keluarga kita pertama kali, setidaknya orang tuaku tidak memberikan pria yang buruk," Devita kembali melanjutkan perkataannya.


Brayen kembali mengecup leher Istrinya. " Kalau begitu aku beruntung kau tidak melarikan diri. Aku bahkan ingin setelah kita pulang nanti kita bertemu dengan orang tua kita. Aku ingin berterima kasih pada mereka yang telah menjodohkanku denganmu,"


Devita membalikkan tubuhnya, dia masih duduk di atas Brayen dan kini posisinya menghadap Brayen. Dia mengelus rahang suaminya itu, " Aku juga ingin berterima kasih pada orang tuaku karena sudah memberikanmu di hidupku,"


Brayen tersenyum kemudian menarik dagu Devita mencium dan ******* bibir Devita. " Aku ingin memiliki anak banyak denganmu Devita. Aku ingin mansion kita penuh dengan tawa anak - anak kita,"


"Baiklah, aku akan memberikanmu tiga orang anak. Tiga orang anak sudah membuatku pusing. Jadi menurutku tiga orang anak cukup," balas Devita.


"No, aku mau tujuh aku tidak mau hanya tiga. Itu terlalu sedikit," seru Brayen.


Devita melebarkan matanya terkejut, saat mendengar ucapan Brayen yang meminta untuk memiliki tujuh anak. "Kau yang benar saja Brayen? Tujuh? Kalau begitu kau saja yang mengandung. Aku tidak mau anakku sampai tujuh. Astaga, aku bisa gila kalau memiliki tujuh anak,"


Brayen mengulum senyumannya, "Tidak sayang, aku rasa tujuh menurutku sudah sangat pas,"


Devita mendengus kesal kemudian Brayen kembali menarik dagu Devita. Mencium dan ******* lagi bibir Devita. Devita mengalungkan tangannya di leher Brayen. Dia mulai membalas ciuman Brayen, mengikuti setiap ******* yang di berikan oleh Brayen.


"Aku sangat menginginkanmu Devita," bisik Brayen serak, tangan Brayen meremas dada Devita.


Tidak lama kemudian Devita dan Brayen membilas tubuh mereka. Brayen langsung membopong tubuh polos Devita, hingga membuat Devita terkesiap. Lalu dia memagut bibir Devita. Dia terus ******* bibir Istrinya. Meletakkan tubuh Devita di ranjang. Kilat mata Brayen memuja tubuh indah Istrinya yang mulus dan putih. Brayen naik di atas Devita, "Kau tahu, aku selalu menginginkanmu. Bahkan aku selalu tidak bisa menahan diriku," bisik Brayen tepat di bibir Devita.


Devita tersenyum dia mengelus rahang Brayen. " Aku juga selalu menginginkanmu jangan pernah di tahan," ucap Devita yang terdengar begitu menggoda di telinga Brayen.


Tubuh Devita bergetar, jantungnya terus berdebar kencang. Permainan Brayen sungguh hebat. Bahkan Devita tidak berhenti mendesah. Tangan Devita menelusuri rambut Brayen. Tanpa sadar Devita semakin menekan kepala Brayen, seakan dia meminta lebih dan tidak menghentikan ******* bibir Brayen di dadanya.


Devita menarik kepala Brayen, lalu Devita ******* bibir Brayen. Bahkan ini pertama kalinya Devita ******* bibir Brayen dengan panas. Brayen pun ikut ******* bibir Devita. Perlahan Devita menurunkan ciumannya ke leher Brayen, menggigit kecil dan meninggalkan bekas kemerahan di leher Brayen. Tangan Devita sudah mulai berani menyentuh milik Brayen. Brayen memejamkan matanya, menggeram nikmat saat miliknya di sentuh Devita.


"Damn it! Aku sudah tidak bisa lagi menahannya," Brayen langsung menarik tangan Devita.


Brayen membuka kaki Devita dan mulai memasuki Devita seketika Devita menjerit saat Brayen menyatukan dirinya dengan milik Brayen.


"Your are mine Devita," bisik Brayen serak. Dia tidak menghentikan hentakannya. ******* Devita membuat Brayen semakin menaikkan temponya.


"All of me is yours," desah Devita


Devita menjerit keras, mengerang dan mendesah saat Brayen semakin menaikkan temponya. Tubuh Devita bergetar, napasnya memburu. Keduanya kini berkeringat akibat percintaan mereka. Hingga akhirnya mereka mendapatkan pelepasan mereka. Tubuh Brayen ambruk di atas tubuh Devita. Brayen membaringkan tubuhnya di samping tubuh Devita. Devita kini terkulai lemah. Brayen menarik Devita masuk ke dalam pelukannya. Mengecupi pucuk kepala Devita.


Brayen menarik dagu Devita dan mengecup bibir Devita. "Aku sangat mencintaimu, Devita."


Devita tersenyum, "Aku juga sangat mencintaimu."


Perlahan Devita mulai membenamkan wajahnya di dada bidang Brayen. Matanya mulai terpejam. Tubuhnya sangat lelah. Brayen mengelus kepala Devita, membiarkan Istri kecilnya ini beristirahat.


...***...


Malam hari Brayen sudah terbangun. Brayen melihat ke arah jam dinding kini sudah pukul sembilan malam. Kemudian dia mengirimkan pesan pada Ruby agar mengirimkan makanan. Brayen melihat ke arah Devita yang masih tertidur pulas. Devita masih tertidur pulas dengan napas yang lembut, meringkuk benar - benar seperti bayi.


Terdengar bel kamarnya berbunyi. Brayen dengan hanya memakai celana yang panjang dan bertelanjang dada, dia melangkah keluar untuk membuka pintu.


"Selamat malam, Tuan," sapa Ruby seraya menundukkan kepalanya.


"Ya, kau sudah membelikan makan malam?" tanya Brayen dingin.


"Sudah Tuan. Saya membelikan makanan khas Turki," Ruby memberikan makan malam itu untuk di berikan kepada Tuannya.


Brayen mengangguk dan menerima makanan yang sudah di siapkan oleh Ruby. " Kau boleh pergi sekarang."


"Baik Tuan. Selamat Malam." jawab Ruby.


Brayen menutup pintu, lalu berjalan menuju ranjang. Meletakkannya di atas meja.


"Brayen," panggil Devita dengan suara khasnya saat bangun tidur.


...****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.