Love And Contract

Love And Contract
Perintah Brayen



Kini keadaan ruang kerja William berantakan. Ia membanting semua barang - barang yang ada di ruang kerjanya. Hingga detik ini pun, anak buahnya masih belum bisa menemukan Elena. Bagaimana mungkin hanya menemukan satu wanita saja mereka tidak mampu. Itu yang membuat William semakin marah besar.


William sangat yakin ada seseorang yang membantu Elena. Tidak mungkin, jika wanita itu hanya melarikan diri seorang diri dan hingga detik ini anak buahnya masih belum bisa menemukan keberadaannya. William bersumpah, jika Elena membunuh anaknya dia akan membunuh Elena dengan tangannya sendiri.


"Maaf Tuan, permisi." sapa Kenrick melangkah masuk ke ruang kerja William.


"Ada apa, Ken? Apa kau sudah menemukan wanita ****** itu?" tanya William dingin.


"Tuan, saya ingin melaporkan sesuatu kepada anda." kata Kenrick, ia menundukkan kepalanya.


"Cepat, apa yang ingin kau katakan padaku, Ken?!" Tukas William.


"Tuan. Nona Elena ternyata memiliki sepupu yang baru saja pindah dari kota B. Saya sudah berhasil mendapatkan alamat mereka tinggal. Tapi, saat saya datang mereka sudah tidak ada di Apartemen. Dari informasi yang saya dapatkan, Sepupu Nona Elena sudah mendapatkan pekerjaan di sini, Tuan." ujar Kenrick.


William membuang napas kasar, " Temukan wanita ****** itu! Aku tidak perduli dia memiliki sepupu atau siapapun itu! Yang ingin aku dengar adalah kau sudah berhasil menangkap wanita ****** itu!"


"B.. Baik, Tuan. Saya akan segera menemukan Nona Elena." jawab Kenrick.


...***...


Waktu berjalan begitu cepat. Kini sudah pukul enam sore. Brayen, yang masih di sibukkan dengan beberapa laporan yang baru saja ia terima dari para direktur cabang. Namun, Brayen langsung mengingat ia sudah berjanji untuk menjemput Devita. Dengan cepat Brayen menutup MacBooknya, ia akan melanjutkan pekerjaannya besok pagi. Paling penting saat ini adalah menjemput istrinya yang berada di rumah keluarganya.


Brayen beranjak dari kursinya dan langsung mengambil kunci mobilnya yang terletak di atas meja. Tidak lama kemudian terdengar dering ponsel Brayen. Dengan cepat Brayen mengambil ponselnya. Ia menatap layar ponselnya ternyata Devita yang menghubunginya.


"Devita, aku jalan sekarang." Saat panggilannya terhubung.


"Brayen, tunggu. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu," ucap Devita dari sebrang telepon.


"Ada apa?" tanya Brayen.


"Apa boleh aku menginap di rumah orang tuaku? Aku sangat merindukan orang tuaku, Brayen." ujar Devita.


"Bagaimana jika aku tidak mengizinkanmu?" tukas Brayen.


"Brayen, aku hanya akan menginap satu atau dua malam saja. Aku merindukan kedua orang tuaku, Brayen. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya," bujuk Devita. Ia berharap Brayen mau memberikan izin padanya. Ia sungguh merindukan kedua orang tuanya.


"Satu malam, aku hanya akan memberikanmu izin satu malam. Aku tidak mau kau terlalu lama." balas Brayen.


"Terima kasih, Brayen! Aku tahu, kau pasti tidak bisa tidur tanpa ku." kata Devita, ia mengulum senyumannya dari balik telepon.


"Ya, kau benar. Aku sudah terbiasa kau berada di sampingku," balas Brayen.


"Hanya satu malam, Brayen. Besok, aku sudah pulang." jawab Devita.


"Besok, apa kau ingin aku menjemputmu?" tanya Brayen.


"Tidak usah, Brayen. Aku akan meminta sopir untuk mengantarku. Lagi pula besok pagi aku harus ke kampus," ujar Devita.


"Besok kau pulang jangan terlambat." ucap Brayen.


"Ya Brayen, aku akan pulang tepat waktu. Sekarang kau dimana? Apa kau akan pulang malam hari ini?" tanya Devita.


"Karena kau di rumah orang tuamu, aku akan pulang malam hari ini. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan," jelas Brayen.


"Ya sudah, kau jaga kesehatanmu. Kalau begitu aku tutup dulu." kata Devita.


Panggilan tertutup, Brayen meletakkan ponselnya di atas meja. Ia membiarkan Devita menginap di rumah orang tuanya. Brayen tahu, Devita sudah lama tidak bertemu dengan kedua orang tuanya.


Meskipun sangat berat bagi Brayen mengizinkan Devita tinggal di rumah orang tuanya. Ya, itu semua karena Brayen sudah terbiasa selalu ada Devita di sisinya. Ketika pulang, Devita selalu menyambutnya. Beruntung Devita hanya menginap satu hari di rumah orang tuanya.


Terdengar suara ketukan pintu. Brayen, kini tengah membaca email masuk dari Direktur cabang. Ia langsung memintanya untuk masuk.


"Maaf Tuan," sapa Albert menundukkan kepalanya, saat masuk kedalam ruang kerja Brayen. Ia tengah fokus pada laporan yang kini sedang ia baca.


"Maaf Tuan, ada hal penting yang harus saya katakan." ujar Albert.


"Hal penting apa? Bukannya tadi, kau habis melaporkan tentang Angkasa Nakamura?" balas Brayen.


"Bukan Tuan. Ini bukan tentang Nakamura company." jawab Albert.


Brayen mengalihkan pandangannya. Kini ia menatap lekat Albert yang sedang berdiri di hadapannya. " Cepat katakan apa yang ingin kau katakan? Karena masih banyak pekerjaan yang belum aku kerjakan,"


"Ini tentang Ruby, asisten pribadi yang baru saja bekerja dengan Tuan." ujar Albert.


Brayen menautkan alisnya. " Memangnya ada apa dengan Ruby?"


"Maafkan saya sebelumnya, Tuan. Tapi ini, salah satu kesalahan saya yang tidak teliti. Saya tidak sengaja merapihkan berkas para asistent dan pengawal rumah anda, Tuan. Ketika saya merapihkan berkas tentang Ruby, saya menemukan keanehan di sertifikat dan identitasnya." jelas Albert.


"Maksudmu apa Albert? Aku tidak mengerti. Selama ini, semua anak buah ku kau yang sudah menyaring mereka dengan baik bukan? Sekarang, keanehan apa yang kau maksud?" tanya Brayen heran.


"Saya minta maaf, Tuan. Tapi saya baru menyadari tanggal ulang tahun dan pengejaan nama antara sertifikat dan identitasnya berbeda. Di identitas tanggal ulang tahun Ruby 22 April sedangkan di sertifikat 22 Agustus. Lalu pengejaan nama di sertifikat adalah Rubie Eddyson Silva sedangkan di indentitasnya Ruby Eddyson Silva. Harusnya, dia melampirkan surat adanya kesalahan dalam pencetakan. Tapi saya sekarang sedang memeriksa keaslian sertifikat milik Ruby," ujar Albert.


"Jika di lihat, memang sertifikat itu terlihat sangat asli, tapi ketika saya menyentuh logo yang ada di sertifikat itu, seperti palsu, Tuan. Maafkan atas ketidak telitian saya, Tuan. Sebelumnya saya memang sudah memeriksa dengan baik. Tapi saya harus memeriksanya kembali, saya harus pastikan Ruby memalsukan identitasnya atau tidak." lanjut Albert menundukkan kepalanya, ia kini tidak berani menatap Brayen yang kini sedang menatap tajam dirinya.


"Sudah berapa lama kau bekerja denganku, Albert! Bagaimana bisa kau melakukan kesalahan ini! Aku bahkan sudah membayarmu mahal untuk bisa bekerja dengan baik! Kau tahu, aku mencari asisten untuk istriku! Bagaimana mana mungkin kau bisa melakukan kesalahan seperti ini!" Seru Brayen meninggikan suaranya.


"M..Maaf kan saya Tuan. Saya berjanji, ini adalah kesalahan yang pertama dan terakhir saya, Tuan." jawab Albert gugup.


"Kau cari data tentang Ruby dalam waktu kurang dari 24 jam. Jika kau tidak bisa menemukannya, kau bisa langsung angkat kaki dari sini! Aku tidak mau tahu, bagaimana


caranya kau harus bisa menemukan data tentang wanita itu! Aku sudah mempercayaimu untuk orang - orang yang bekerja di rumahku. Kau tahu, di rumahku ada istri dan juga adikku. Bagaimana bisa kau melakukan kesalahan seperti ini!" Seru Brayen dengan penuh emosi.


"Tuan, saya berjanji akan segera menemukan data tentang Ruby!" Jawab Albert tegas.


"Minta beberapa pengawal untuk mengawasi Ruby, sampai kau mendapatkan data tentangnya. Selama kau belum menemukan data tentangnya, aku tidak ingin pengawal lengah mengawasi Ruby. Jika Sampai kau melakukan kesalahan lagi, kau akan tahu akibatnya." tukas Brayen dengan nada penuh penekanan.


"Baik Tuan, saya akan meminta pengawal untuk mengawasi, Ruby." jawab Albert.


"Cepat kau pergi dan selesaikan apa yang aku minta!" Perintah Brayen.


Albert menundukkan kepalanya, lalu ia undur diri dari ruang kerja Brayen.


Bagaimana mana mungkin, Albert yang selalu teliti dalam bekerja dia bisa melakukan kesalahan seperti ini. Rasanya jika bukan karena Albert, sudah menjadi asisten Brayen yang sangat lama. Brayen pasti sudah langsung memecat Albert. Brayen memang tidak suka jika Albert melakukan kesalahan. Terlebih jika kesalahan itu menyangkut keselamatan istrinya.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.