Love And Contract

Love And Contract
Pertemuan Edgar Dan Brayen



Brayen menyadarkan punggungnya di sofa, memejamkan mata lelah. Kini dia berada di ruangan yang dia sewa khusus di samping ruang rawat Devita. Setelah tadi menemui Felix, Brayen memilih untuk menenangkan diri. Terlalu banyak masalah yang datang, dia sedikit ingin beristirahat. Sejak Devita masuk ke rumah sakit, Brayen memang kurang berisitirahat.


Saat Brayen tengah beristirahat sebentar, terdengar suara ketukan pintu. Brayen kembali membuka matanya, bahkan di baru saja beristirahat sebentar saja tetap tidak bisa. Brayen mengalihkan pandangannya, dia menoleh ke arah pintu dan langsung menginterupsi untuk masuk.


"Brayen, apa Papa menganggumu?" suara Edwin berseru saat masuk ke dalam.


Brayen sedikit terkejut melihat mertuanya datang. "Tidak Pa, silahkan masuk."


Edwin melangkah mendekat ke arah Brayen dan duduk di samping menantunya itu. "Maaf menganggumu ada hal penting yang ingin Papa katakan padamu."


"Tidak Pa, lain kali jika aku disini tidak usah mengetuk pintu." jawab Brayen. "Ada apa, Pa? Apa kau memiliki masalah lagi dengan Gelisa?"


"Papa akan menemui Gelisa, tapi tidak sekarang karena Papa sedang bersama dengan Mama. Saat Mama mendengar Devita sudah sadar, Mamamu sudah tidak sabar untuk menemui Devita." ujar Edwin.


Edwin terdiam sebentar, lalu menatap lekat Brayen, "Ini semua masalah terjadi karena masa lalu Papa yang akhirnya melibatkan kehidupanmu Brayen. Papa minta maaf karena telah menyusahkan hidupmu. Kau sudah menjaga Devita dengan baik. Kau juga membantu Papa menghadapi semua masalah. Sekali lagi maafkan Papa Brayen."


"Tidak perlu meminta maaf, Pa. Kau adalah orang tuaku. Sudah seharusnya aku yang menangani masalah ini. Apa yang menjadi tanggung jawab Devita, adalah tanggung jawabku."


Edwin menepuk pelan bahu Brayen. "Putriku tidak salah memilih suami. Kau memang yang terbaik Brayen."


Brayen tersenyum tipis, "Aku juga tidak salah memilih istri. Terima kasih telah mempercayakan putrimu padaku. Devita adalah hidupku. Aku akan melakukan segalanya demi Devita."


"Tuan Brayen," Albert melangkah masuk kedalam ruangan.


"Maaf Tuan, saya tidak tahu jika ada Tuan Edwin," Albert menunduk saat melihat di dalam ruangan, Brayen bersama dengan Edwin.


"Tidak masalah, Albert." balas Edwin.


"Ada apa Albert?" tanya Brayen dingin.


"Tuan Edgar Rylan Wilson, sudah sadar. Dia meminta untuk langsung bertemu dengan Tuan." ujar Albert.


Edwin tersentak, "Tunggu, bukannya kau mengatakan jika Edgar tidak bisa di selamatkan?"


Brayen melihat ke arah mertuanya yang terkejut. Terakhir kali, Edwin memang tahu Edgar sudah tidak bisa di selamatkan lagi. Brayen memang belum menceritakan pada mertuanya. Bukan tidak ingin menceritakan, tapi memang Brayen lebih memilih untuk diam sementara waktu.


"Maaf Pa, ini memang rencana Edgar yang sengaja membohongi publik atas kematiannya," balas Brayen. "Aku harus menemui Edgar, aku harus tahu apa rencananya hingga membohongi publik."


Edwin menarik napas panjang, dia terdiam sebentar. Sungguh dia merasa tidak enak pada menantunya. Semua berawal dari masa lalunya, tapi Brayen yang menangi semua masalahnya.


"Brayen, maaf kau jadi harus kesusahan seperti ini." ujar Edwin yang merasa tidak enak pada menantunya.


"Pa, jangan di bahas lagi. Ini memang menjadi tanggung jawabku. Sekarang aku harus bertemu dengan Edgar." balas Brayen. Edwin mengangguk singkat. Kemudian Brayen beranjak dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan ruangan. Ini adalah yang tunggu Brayen, bertemu dengan Edgar.


...***...


Brayen melangkah masuk kedalam ruang rawat Edgar. Di depan ruangan ini, banyak pengawal dari Edgar yang berjaga di depan. Tidak hanya pengawal Edgar, tapi Brayen juga meminta pengawalnya untuk menjaga Edgar.


"Kau sudah bangun dari tidurmu?" tukas Brayen dingin, meski Edgar sudah menolongnya tapi Brayen tetaplah Brayen. Sorot mata tajam ke arah Edgar tidak akan pernah berubah.


Edgar tersenyum tipis, "Bahkan kau tidak mengucapkan terima kasih, karena aku sudah membantumu."


"Kau berharap aku mengucapkan terima kasih setelah kau membohongiku?" Brayen tersenyum sinis, "Cepat katakan padaku, apa tujuanmu membohongi publik dengan berita kematianmu itu?"


"Sebelum aku memberitahumu, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Aku sudah mendengar dari anak buahku, Lucia sudah mendapatkan balasannya. Ibuku sekarang berada di rumah sakit karena berita kematianku dan membuat kesehatannya menurun." ujar Edgar. "Aku tidak pernah menyalahkan mu atas semua yang mereka dapatkan saat ini. Karena memang aku juga bersalah menutupi kejahatan mereka. Aku membiarkanmu dan tidak menghalangi langkahmu jika kau ingin memberikan mereka pelajaran dari apa yang telah mereka lakukan."


"Dan alasanku memberitakan kematianku, karena aku ingin meninggalkan nama Wilson di belakang namaku. Aku rasa sudah cukup aku memakai nama itu. Aku hanya ingin memulai kehidupan yang baru dengan identitas baruku nanti. Setelah pulih, aku akan pindah menetap di salah satu negara. Aku tahu Willson Company sudah di akuisisi oleh perusahaanmu. Tenang saja, aku tidak akan memperdulikan itu lagi. Aku akan membangun perusahaanku dari awal lagi."


"Jika kau berpikir aku menipumu kau salah Brayen. Karena aku tidak berniat untuk menipumu. Setelah aku pulih, aku akan langsung meninggalkan Indonesia. Kita tidak akan bertemu lagi. Dan aku pastikan kau tidak akan pernah melihatku lagi."


"Bagaimana dengan saudara kembarmu dan juga Ibumu? Apa kau akan melupakan mereka?" tanya Brayen dengan tatapan penuh selidik.


"Aku yakin Lucia tidak akan sebentar didalam penjara. Suatu saat aku akan menjemputnya lagi setelah dia keluar dari penjara.Sedangkan Ibuku, aku sudah mendengar kejiwaannya terganggu. Sebenarnya beberapa tahun terakhir aku sudah tahu, ibuku itu sering bertemu dengan psikolog." jawab Edgar.


"Perusahaan yang telah kau bangun, telah aku ambil alih, kenapa kau tidak menaruh dendam padaku." Brayen kembali bertanya. Karena memang dia harus berhati-hati dengan siapapun. Terlebih lagi Wilson Company sudah berada di tangannya. Harusnya Edgar menaruh dendam padanya.


"Aku masih memiliki uang pribadi dengan hasil yang telah aku capai selama aku bekerja. Terkadang kita hidup tak selamanya dalam keberuntungan bukan? Aku menganggap aku mengalami kerugian dalam berbisnis. Dan nanti aku akan memulai lagi di kehidupanku yang baru." balas Edgar.


"Allright, kau tidak perlu memikirkan kerugian. Karena aku sudah meminta Asistenku untuk mengirimkan lima milyar dollar ke rekening pribadimu. Kau pergunakan uang itu untuk memulai bisnismu yang baru." tutup Brayen kemudian dia beranjak dari tempat duduknya dan menatap lekat Edgar. "Di masa depan, ketika kau bertemu lagi denganku. Anggap kita adalah orang asing yang tidak saling mengenal. Aku memberikan uang padamu, karena aku tidak suka memiliki hutang budi pada seseorang. Kau tidak perlu berterima kasih karena aku tidak ingin mendengar perkataan itu."


Brayen membalikkan tubuhnya, berjalan meninggalkan Edgar. Namun saat Brayen melangkah, tangan Edgar menahan lengannya. Brayen kembali menoleh dan menatap lekat Edgar.


"Di masa depan, aku tentu tidak ingin melihat pria arrogant yang seperti dirimu. Aku berharap aku tidak lagi menemui orang sepertimu Brayen Adams Mahendra." tukas Edgar membalas tatapan dari Brayen.


Brayen tersenyum sinis, "Aku juga tidak berniat untuk bertemu dengan pria yang sepertimu dan semoga kau mampu untuk mendirikan perusahaanmu yang baru."


Brayen kembali melanjutkan langkahnya. Edgar terus menatap punggung Brayen hingga menghilang dari pandangannya.


...*************...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.