
Devita mengulum senyumannya, kemudian mengangguk setuju. "Kau benar, aku rasa mereka memang di takdirkan bersama."
"Oh ya, Devita, dimana Kak Brayen?" tanya Laretta.
Devita mendesah pelan, "Tadi aku sudah kirim pesan pada Brayen, dia harus menyusul kesini. Tapi Brayen belum membalas pesanku. Aku juga sudah menghubungi Albert dan seperti biasa Albert bilang Brayen sedang meeting dengan pengusaha asal Rusia."
"Kau harus sabar Devita, kau tahu Kakakku itu sekarang jauh lebih sibuk. Karena Ayahku sudah jarang memegang perusahaan." Laretta berusaha memberikan pengertian pada Devita. Karena memang saat ini Brayen memegang banyak tanggung jawab. Terlebih kesehatan Ayahnya belakangan ini kurang baik.
"Ya, aku juga berusaha untuk mengerti." tidak ada pilihan lagi bagi Devita untuk mengerti keadaan Brayen yang memiliki tanggung jawab yang besar.
"Laretta, dimana Angkasa?" Devita mengalihkan pembicaraan, karena dia sudah tahu Brayen pasti akan datang meski terlambat.
"Angkasa sedang di jalan. Tadi dia bilang sebentar lagi akan datang." Laretta mengambil teh di atas meja, lalu menyesapnya. "Jam berapa Olivia akan datang?" tanyanya.
"Mungkin sebentar lagi Olivia akan datang," jawab Devita.
"Eh, itu ada suara mobil. Lebih baik kita kedepan." seru Laretta, kemudian dia beranjak dari tempat duduknya. Devita juga beranjak dan berjalan mengikuti Laretta meninggalkan ruangan.
Setibanya di depan, Devita dan juga Laretta melihat dua mobil yang memasuki halaman parkir. Devita tersenyum, saat mobil Brayen beriringan masuk kedalam halaman parkir bersama dengan mobil milik Angkasa.
Kini Brayen turun dari mobil dan Angkasa juga turun dari mobilnya. Mereka saling melihat namun Brayen melemparkan tatapan dingin pada Angkasa. Brayen melanjutkan langkahnya berjalan menghampiri Devita. Sedangkan Angkasa berjalan menghampiri Laretta.
"Aku pikir kau akan datang terlambat." Devita mengerutkan bibirnya kesal.
Brayen tersenyum dan langsung memeluk Devita, "Tadi aku meeting dan baru selesai meeting. Aku sudah berjanji padamu untuk datang, pasti aku akan datang."
"Kau datang bersamaan dengan Kakakku," ucap Laretta saat Angkasa berada di hadapannya.
"Mungkin memang aku sudah di takdirkan menjadi adik iparnya. Itu kenapa kita datang bersamaan." jawab Angkasa santai dan memberikan kecupan di kening Laretta.
Brayen kembali melemparkan tatapan dingin dan tidak bersahabat saat mendengar ucapan dari Angkasa. Namun, Devita langsung mengelus dada suaminya. Brayen memang tidak bisa diajak bercanda. Itulah yang di pikirkan oleh Devita.
Tidak lama kemudian, mobil sport yang berwarna putih memasuki halaman parkir rumah Olivia. Semua yang ada di sana melihat ke arah mobil yang memasuki halaman parkir. Devita dan juga Laretta tersenyum, itu adalah mobil Felix.
Hingga kemudian, Felix turun bersama dengan Olivia. Seketika Olivia menatap bingung di depan rumahnya sudah ada banyak orang. Olivia menoleh ke arah Felix dan pria itu hanya tersenyum melihat kebingungan di wajah Olivia.
"Olivia!" Suara Devita berseru saat melihat Olivia dan langsung memeluk sahabatnya itu.
"Welcome home Olivia!" Sambung Laretta dengan senyuman di wajahnya.
"Kalian datang menyambutku?" Olivia membalas dengan senyuman. "Terima kasih,"
"Kita masuk kedalam, aku sudah menyiapkan banyak makanan untukmu." Devita memeluk lengan Olivia. Begitu pun dengan Laretta yang juga memeluk lengan Olivia. Kemudian mereka berjalan ke ruang makan. Sedangkan Brayen, Angkasa dan juga Felix berjalan mengikuti para wanita dari belakang.
Saat tiba di ruang makan, mata Olivia menatap seluruh hidangan yang tersedia di meja makan. Berbagai makanan Indonesia kesukaannya sudah tersedia di meja makan.
"Devita, Laretta... ini semua kalian yang menyiapkan?" Olivia menatap tak percaya pada Laretta dan Devita.
"Brayen, apa kau ingin makan Indonesian food?" tawar Devita.
"Tidak," Brayen menggeleng singkat. Dia enggan menatap makanan yang terlihat begitu pedas. Devita mengulum senyumannya. Devita sudah tahu, mana mungkin suaminya itu mau makan makanan pedas. Kemudian Devita mengambilkan serloin steak dan pasta carbonara untuk Brayen. Sedangkan Devita memilih ayam rica-rica, sambel goreng kentang dan rendang untuk dirinya.
"Devita, kenapa di piringmu semuanya hanya ada makanan pedas?" Brayen menajamkan pandangannya ketika melihat di piring Devita penuh dengan makanan pedas.
"Ini tidak pedas Brayen," jawab Devita, dia kembali menikmati makanan yang sangat dia rindukan itu.
"Ganti makananmu Devita!" Tukas Brayen.
"Tidak bisa Brayen, karena ini keinginan anak kita." Devita terpaksa memilih alasan karena bayi yang di kandungannya. Beruntung dia hamil, jadi Devita bisa beralasan jika bayinya meminta makanan ini.
Brayen membuang napas kasar, dia terdiam saat Devita membawa keinginan Anaknya. Laretta menggigit bibir bawahnya, sebisa mungkin Laretta menahan tawa karena ucapan Devita itu.
"Devita, aku sudah memutuskan lulus kuliah nanti aku akan bekerja di perusahaan Felix," kata Olivia sembari menikmati makanannya.
"Kau tidak jadi bekerja di perusahaan Brayen?" Devita mengerutkan keningnya.
"Tidak," Olivia menggelengkan kepalanya. "Felix mengatakan, jika Brayen sangat tidak ramah pada karyawannya. Felix juga bilang nanti aku akan sakit kepala jika bekerja di perusahaan suamimu itu. Jadi aku memilih bekerja di perusahaan Felix. Kau tahu bukan? Aku ini sangat ceroboh."
Olivia mengatakan dengan begitu lugas. Seketika tatapan tajam Brayen terlempar untuk Felix ketika mendengar ucapan dari Olivia. Felix langsung mengalihkan pandangannya dan memilih untuk melanjutkan makannya. Devita dan juga Laretta berusaha untuk sama - sama menahan tawanya. Sedangkan Olivia, segera mengatupkan mulutnya karena mengucapkan itu.
"Aku bicara yang sebenarnya, Brayen. Jangan marah. Kita sudah lama tidak bertengkar. Kau jangan lupa, aku adalah sepupumu satu - satunya yang dekat denganmu." Felix sedikit melirik ke arah Brayen, saat tatapan Brayen masih menajam ke arahnya dan Felix pun langsung mengalihkan pandangannya.
"Apa kau ini sudah bosan punya uang? Aku bisa saja mengambil uangku di perusahaanmu jika kau berani mengatakan itu lagi!" Tukas Brayen dingin.
"Brayen sudah, jangan seperti itu pada Felix." ucap Devita sambil Devita mengelus lengan suaminya berusaha menenangkan suaminya itu.
"Dia memang seperti itu Devita. Bisanya hanya mengancam mengambil uang." balas Felix kesal. Devita pun terkekeh pelan melihat Brayen dan juga Felix.
...**********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.