
Brayen duduk di kursi kepemimpinan dalam ruang meeting bersama dengan Mr.Lee, rekan bisnisnya dari Hongkong, kini Brayen sedang membahas kerja sama mereka. Brayen berencana akan membangun Apartemen yang ada di Hongkong. Mengingat Hongkong adalah negara maju, yang memiliki kepadatan penduduk yang cukup tinggi. Harga properti yang ada di Hongkong bahkan hampir sama dengan harga properti yang ada di Amerika.
Rencananya Brayen juga akan bekerja sama dengan Ayah Mertuanya sendiri. Namun, terakhir Edwin mengatakan pada Brayen jika proyek ini akan di serahkan pada Devita. Edwin ingin agar Devita langsung belajar dalam mengelola perusahaannya.
"Tuan Brayen, bagaimana jika kita mengembangkan proyek ini di Jepang?" tanya Mr. Lee sambil menatap Brayen yang duduk tidak jauh darinya.
"Aku rasa itu ide yang cukup bagus. Kau ajukan proposalnya dan berikan pada asistenku. Nanti aku akan mempelajarinya," jawab Brayen datar.
Mr. Lee pun mengangguk. " Baiklah, aku akan segera memberikan proposalnya."
"Alright, meeting akan kita lanjutkan besok." tutup Brayen. Kemudian dia beranjak dari tempat duduknya, dan berjalan menuju ke ruang kerjanya. Namun, saat Brayen hendak masuk ke dalam ruang kerjanya langkahnya terhenti melihat Albert yang berdiri di depan ruangannya.
"Tuan Brayen," sapa Albert seraya menundukkan kepalanya.
"Ada apa?" tanya Brayen dingin.
"Saya sudah mendapatkan informasi tentang Angkasa Nakamura," jawab Albert.
"Kita bicara di dalam" Brayen melangkah menuju ke ruang kerjanya. Lalu menatap Albert yang sedang berdiri di hadapannya. "Katakan informasi apa yang kau dapatkan tentang pria sialan itu?"
"Angkasa Nakamura, memimpin perusahaan cabang milik keluarganya di Jepang. Sudah lama Angkasa meninggalkan kota B. Sebelumnya Nakamura Group hampir mengalami kebangkrutan. Tapi saya mendapatkan data ada investor yang menyuntikkan dana pada Nakamura Group hingga membuatnya menjadi besar seperti sekarang," jelas Albert.
Brayen menganguk singkat, dia menyandarkan punggungnya di kursi. "Bagaimana dengan kekasihnya? Apa dia memiliki kekasih?"
"Maaf Tuan. Apa sebelumnya Nyonya sudah menceritakan pada Tuan tentang Angkasa Nakamura?" tanya Albert hati - hati.
"Maksudmu apa, Albert? Kenapa kau membawa nama istriku dalam hal ini?" tanya Brayen menautkan alisnya, dia menatap dingin Albert.
"Tuan, lebih baik anda langsung bertanya pada Nyonya tentang Angkasa Nakamura," Albert menundukkan kepalanya tidak berani menatap Brayen.
Brayen menatap tak mengerti, dia semakin bingung apa maksud ucapan asistennya itu. "Lebih baik kau jelaskan semuanya, Albert! Aku tidak suka kau berbicara setengah - setengah seperti ini!" Seru Brayen.
"Begini Tuan, Nyonya Devita adalah bagian dari masa lalu Angkasa Nakamura." ujar Albert dengan hati - hati. Dia masih menunduk, tidak berani menatap Brayen.
Mendengar ucapan Albert membuat raut wajah Brayen berubah. Rahangnya mengetat. Sorot matanya menajam dan tangannya terkepal dengan kuat. " Katakan apa yang kau ketahui!" Seru Brayen. Dia menggeram menahan emosinya.
"Angkasa Nakamura adalah teman masa kecil Nyonya. Usia Angkasa dan Nyonya Devita terpaut lima tahun. Dan informasi yang saya dapatkan, mereka saling menyukai. Tapi mereka tidak pernah menjadi sepasang kekasih. Alasannya karena Tuan besar Edwin, tidak pernah menyukai Angkasa Nakamura. Tuan besar Edwin juga membatasi pergaulan Nyonya Devita. Terakhir saya mendapatkan informasi, Tuan Angkasa pernah memesan kalung dengan berukiran nama Nyonya Devita," jelas Albert yang menceritakan semua informasi yang dia dapatkan.
"Selain itu, saya juga mendapatkan informasi, beberapa kali Angkasa berkencan pada beberapa wanita, tapi saat saya bertanya pada salah satu wanita yang berkencan dengan Angkasa, mereka selalu mengatakan tidak mungkin menjalin hubungan yang serius dengan Angkasa. Karena setiap saat Angkasa selalu mengatakan pada wanita itu jika Angkasa hanya mencintai seorang wanita bernama Devita," Albert melanjutkan kembali kata - katanya.
Brayen menggeram, rahangnya mengetat mendengar semua laporan dari Albert. Sorot matanya tajam penuh dengan kemarahan. Devita tidak menceritakan apapun padanya. Perlahan Brayen kembali mengingat nama Angkasa Nakamura. Brayen mengingat ada pria yang telah Devita tunggu sejak lama.
"Devita! Beraninya kau menutupi semua ini dariku!" Geram Brayen. Tangannya terkepal kuat. Tatapan Brayen kini menatap dingin Albert. "Apa kau yakin Istriku tidak pernah menjadi kekasih pria sialan itu?" seru Brayen dengan sorot mata tajam menatap Albert yang kini terlihat begitu gugup.
"Tidak Tuan. Karena Ayah mertua anda sangat membatasi pergaulan Nyonya. Tapi mungkin anda bisa meminta penjelasan langsung pada Nyonya. Saya yakin, Nyonya memiliki alasan sendiri kenapa menutupi dari anda, Tuan." ujar Albert yang berusaha menenangkan Brayen.
"Devita tidak mungkin berani bercerita padaku! Pria sialan itu, jangan pernah berharap menjadi suami adikku!" Seru Brayen penuh dengan kemarahan. Dia beranjak dari kursi kerjanya dan langsung menyambar kunci mobil, lalu berjalan cepat meninggalkan ruang kerjanya.
...***...
"Devita kau pulang dengan siapa? Brayen menjemputmu?" tanya Olivia saat dirinya dan Olivia baru saja keluar dari kelas.
"Tidak, kau kan tadi lihat aku bawa mobil sendiri," jawab Devita.
Olivia terkekeh, "Maaf aku lupa, apa kau ingin langsung pulang?"
"Sepertinya iya. Aku ingin langsung pulang. Laretta ada di rumahku. Aku ingin menemaninya," balas Devita. Sejak ada Laretta di rumah, dia tidak tega meninggalkan Laretta berlama-lama di rumah.
Devita memutar bola matanya malas. "Jangan berlebihan, sudahlah aku harus pulang,"
Olivia mendengus, "Aku ini berbicara yang sebenarnya!"
"Devita," suara bariton memanggil nama Devita cukup keras. Mendengar nama Devita di panggil, membuat Devita dan Olivia langsung mengalihkan pandangan mereka, sumber suara itu.
Tepat di saat Olivia mengalihkan pandangannya. Dia mematung ketika melihat sosok pria yang menghampiri dirinya dan juga Devita. Kemudian dengan cepat Olivia menyenggol lengan Devita dan berbisik, "Devita, itu bukannya Angkasa?"
Wajah Devita berubah menegang, ketika melihat Angkasa berada di kampusnya. Bagaimana bisa, kenapa Angkasa datang sekarang, pikiran Devita kini tidak bisa berpikir jernih. Bahkan dia tidak menjawab apapun ucapan dari Olivia.
"Apa kabar, Olivia? Lama tidak bertemu denganmu," sapa Angkasa sambil melihat ke arah Olivia.
Olivia tersenyum kaku, "A... Angkasa? Ah, aku baik. Bagaimana denganmu?" tanyanya yang berusaha bersikap ramah Terlebih Olivia yang sudah lama tidak bertemu dengan Angkasa.
"Aku juga baik senang bertemu denganmu, Olivia," balas Angkasa dengan senyuman di wajahnya.
"Angkasa, apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya Devita dengan nada cemas.
"Aku hanya mampir kesini. Aku tidak sengaja melihatmu, jadi aku langsung menyapamu," jawab Angkasa.
Devita mendesah pelan, "Lebih baik kau pulang sekarang,"
"Olivia, bisakah kau meninggalkanku dan Devita berdua?" tanya Angkasa sambil menatap Olivia yang sedang berdiri di sampingnya.
Olivia mengangguk, "Ya, baiklah. Devita aku duluan," kemudian Olivia langsung meninggalkan Devita dan juga Angkasa. Sedangkan Devita menatap kesal Olivia yang pergi meninggalkannya.
"Devita, bisa kita bicara sebentar?" kini Angkasa menatap Devita, dia menatap lekat manik mata wanita itu.
Devita menghela nafas dalam. "Apa yang ingin kau bicarakan Angkasa?"
"Apa kau sudah mengatakan pada Brayen tentang masa lalu kita?"
Devita menggeleng, " Mungkin malam ini aku akan bercerita, kenapa kau bertanya?"
"Ini sulit Devita, aku hanya takut suamimu tidak akan menyetujui pernikahan ku dengan Laretta. Aku ingin bertemu dengan Laretta tadi pagi. Tapi pegawai kalian mengusirku," ujar Angkasa.
"Pengawal Brayen mengusirmu?" tanya Devita.
"Devita!" Suara bariton berteriak begitu kencang dan menggelegar hingga membuat Devita terkejut dan langsung mengalihkan pandangannya ke sumber suara itu.
"B... Brayen?"
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.