Love And Contract

Love And Contract
Permintaan Felix



"Felix, kenapa kau itu lama sekali! Aku sudah mengatakan padamu bukan, bahwa Devita itu hilang dan kau malah terlihat santai! Bagaimana jika terjadi sesuatu pada sahabatku? Astaga, aku pasti akan di bunuh oleh Brayen!" Seru Olivia kesal karena melihat Felix yang baru saja tiba di rumahnya. Padahal sudah sejak tadi, dia itu menghubungi kekasihnya itu untuk datang. Dan sekarang, Olivia menatap wajah Felix yang terlihat begitu santai dan tidak cemas atau pun tidak panik.


Felix tidak menjawab, dia mendekat dan langsung mengecup kening Olivia. "Sudahlah, jangan marah - marah, sayang. Nanti, kau itu akan terlihat lebih tua."


Olivia mendelik, dia menatap tajam Felix. "Kenapa kau itu terlihat santai? Aku sudah mengatakan padamu bukan, kalau Devita itu hilang? Kenapa kau itu tidak merasa khawatir sama sekali?"


"Devita itu baik - baik saja, sayang." Felix memeluk pinggang Olivia dan memberikan kecupan bertubi-tubi di pipi Olivia. "Jangan mencemaskan Devita. Jika terjadi sesuatu pada Devita, Brayen tidak mungkin diam saja."


Olivia mendorong keras dada Felix. "Kau ini bagaimana! Brayen itu belum tahu jika Devita sudah hilang! Aku tadi sudah menghubungi Brayen, tapi dia sama sekali tidak menjawab telepon dariku! Astaga Felix, bagaimana kau bisa setenang ini? Devita itu adalah Kakak Iparmu dan dia adalah sahabatku!"


Felix menghela nafas dalam, dia terdiam sebentar ketika melihat Olivia marah padanya. Percuma saja menyela ucapan kekasihnya itu. Jika Olivia sudah marah seperti ini, Felix lebih memilih untuk diam dan membiarkan kekasihnya untuk meluapkan amarahnya.


"Felix! Bantu aku untuk mencari Devita! Kenapa kau itu terlihat santai dan tidak perduli!" Olivia mondar - mandir di hadapan Felix. Dia terlihat begitu gusar, karena Devita masih belum juga di temukan. Jika sampai terjadi sesuatu pada Devita, dia pasti akan merasa bersalah.


Felix menarik tangan Olivia dan membawanya ke dalam pelukannya. Olivia tersentak ketika, Felix memeluk erat tubuhnya. Kemudian Felix mendekatkan bibirnya ke telinga Olivia dan berbisik. "Jika sampai terjadi sesuatu yang membahayakan Devita. Aku itu tidak mungkin diam saja, sayang."


Olivia mendongakkan wajahnya dari dalam pelukan Felix, dia menatap curiga kekasihnya itu. "Apa kau mengetahui sesuatu yang tidak aku ketahui?"


"Ya," Felix mengecup bibir Olivia. "Ini semua ulah Brayen kau itu tidak perlu mencemaskan Devita. Dia itu baik - baik saja, selama Devita berada di rumahmu selalu ada pengawal yang menjaga Devita dari kejauhan. Brayen tidak mungkin membiarkan Devita dalam bahaya. Terlebih, saat ini Devita tengah mengandung."


"Tunggu, apa maksudmu? Semua ini ulah Brayen? Aku tadi menghubungi Brayen tapi tidak bisa," Olivia mengerutkan keningnya menatap bingung Felix.


"Kau tahu, Devita sengaja menjauh dari Brayen bukan?" tanya Felix dan Olivia mengangguk.


"Dan hari ini, rumahmu mati lampu karena Brayen sudah meminta pada anak buahnya untuk melakukan itu," jawab Felix. "Saat kau meminta pelayan untuk memeriksa listrik rumahmu, Albert datang dengan membawa Devita. Sebenarnya, lebih tepatnya Albert yang menculik Devita atas perintah dari Brayen."


"Astaga! Tadi aku hampir saja gila karena Devita menghilang!" Seru Olivia terkejut, setelah mendengar perkataan dari Felix. "Aku menemukan ponsel Devita tergeletak di lantai, itu benar-benar membuatku takut. Aku pikir Devita sungguh di culik! Kenapa bisa seorang Brayen Adams Mahendra memikirkan cara yang seperti itu?"


Olivia menggelengkan kepalanya, rasanya dia tidak percaya apa yang di katakan oleh kekasihnya itu.


Felix terkekeh. "Ini semua karena ide dari Albert. Tadi aku dengar, Devita langsung memarahi Albert karena sudah memberikan ide gila seperti ini pada Brayen."


Olivia mendengus tak suka. "Bukan hanya Devita, tapi aku juga ingin sekali memarahi Albert! Beraninya dia mematikan lampu di rumahku! Aku ini takut gelap Felix! Belum lagi saat aku kembali kedalam kamar, Devita sudah tidak ada. Dan ketika aku menghubungi ponsel milik Devita, ponselnya itu sudah tergeletak di lantai. Aku hampir gila memikirkan hal buruk yang akan terjadi pada Devita! Kejadian ini persis sama dengan yang ada di film yang pernah aku tonton beberapa hari yang lalu!"


"Jangan terlalu banyak menonton film, sayang." Felix menarik dagu Olivia ********** dengan lembut bibir kekasihnya itu.


"Kau ini! Aku ini sedang berbicara serius!" Cebik Olivia kesal.


"Sudah, kau jangan cemas karena Devita tidak apa-apa," jawab Felix menenangkan kekasihnya itu.


"Lalu kenapa kalau Devita tidak apa-apa, kenapa kau tidak mengatakan saat di telepon tadi? Kenapa kau membuat aku merasa khawatir? Apa kau sangat senang membuatku sangat khawatir dan menjadi cemas seperti tadi?" Olivia melayangkan tatapan dingin pada Felix. Meski Devita dalam keadaan yang baik - baik saja, tapi dia sangat kesal pada Felix yang tidak mengatakan sejak awal. Jika saja, Felix mengatakannya sejak awal, dia pasti tidak akan sampai takut dan cemas seperti tadi.


"Bagaimana bisa aku menceritakannya jika sejak di telepon tadi, kau tidak membiarkan aku untuk berbicara. Kau hanya memintaku untuk datang dan mengatakan jika Devita hilang," jelas Felix.


Olivia meringis malu, dan dia hampir lupa karena terlalu panik, dia sama sekali tidak membiarkan Felix untuk berbicara. Dan Olivia hanya meminta Felix untuk segera datang.


"Apa kau sudah mengetahui rencana ini sejak awal?" Olivia memincingkan matanya, menatap Felix penuh selidik.


"Tidak Sayang," Felix menangkup pipi Olivia, memberikan kecupan bertubi-tubi di bibir kekasihnya yang terus bertanya itu. "Aku juga baru tahu tadi pagi. Tapi Brayen melarangku untuk bercerita padamu."


"Itu sama saja kau itu sudah tahu sejak awal!" Olivia mengerutkan bibirnya kesal.


Felix mengulum senyumannya. "Sudah jangan marah, apa kamu tidak ingin tahu sekarang Devita ada di mana?"


"Tentu saja aku ingin tahu! Katakan padaku, Devita sekarang ada di mana?" Olivia langsung bertanya cepat. Pasalnya, dia itu sudah tidak sabar untuk bertemu dengan sahabatnya itu.


"Devita sekarang berada di rumah barunya. Rumah baru Devita berada tidak jauh dari rumahmu," jawab Felix sembari mengelus dengan lembut pipi Olivia.


"Kemarin Brayen yang membelinya." jawab Felix.


"Brayen yang membelinya?" ulang Olivia memastikan.


Felix mengangguk. "Ya, dia baru saja membeli rumah di dekat rumahmu."


Olivia mendesah pelan. "Sekarang, antarkan aku kesana. Karena aku ingin segera menemui Devita."


"Apa begini caramu, meminta kepada kekasihmu seperti ini?" Felix tersenyum miring. "Paling tidak, kau itu harus membujuk kekasihmu."


Olivia berdecak kesal. "Sudah Felix! Kau itu jangan menyebalkan! Kau itu sebenarnya mau mengantarku atau tidak!"


"Aku tentu akan selalu mengantar kemanapun kau ingin pergi, sayang." balas Felix sembari mengelus pipi Olivia. "Tapi aku ingin kau membujuk kekasihmu. Kau itu sangat jarang bersikap manis padaku."


Olivia mendengus kesal. "Kau ini benar-benar! Menyusahkan saja!"


"Jadi? Apa kau ingin mencoba bersikap manis padaku hari ini, hm?" Felix menarik dagu Olivia, memberikan kecupan di bibir kekasihnya itu.


"Tanpa harus membujukmu, kau itu kan sudah sejak tadi terus menciumku, Felix! "Kau ini, memangnya seorang pria yang masih remaja? Usiamu itu sudah tua, Felix!"


Felix mengedikkan bahunya. "Baiklah, jika kau tidak ingin membujukku, maka aku akan kembali ke perusahaan."


"Jangan!" Olivia langsung menahan lengan Felix. Tidak ada pilihan lain, dia itu harus membujuk kekasihnya itu.


Hingga kemudian, Olivia memeluk leher Felix, dia mendekatkan bibirnya pada bibir Felix. "Sayang, apa kau bisa mengantarku bertemu dengan Devita? Aku ingin menemuinya."


Felix mengulum senyumannya ketika mendengarkan Olivia yang tengah membujuknya. Selama ini, Olivia bahkan tidak pernah memanggilnya dengan sebutan sayang. Dan kali ini, Felix menyukainya. Felix sangat menyukai kekasihnya yang berusaha membujuknya.


Felix memeluk pinggang Olivia, dia langsung memagut bibir kekasihnya itu. Tidak hanya diam, Olivia langsung membalas pagutan yang di berikan Felix.


"Jadi? Kau mau mengantarkanku kan?" bisik Olivia saat pagutannya terlepas.


Ibu jari Felix, menelusuri bibir ranum Olivia. "Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan, sayang?"


Olivia tersenyum. "Kita berangkat sekarang?"


"Nanti," jawab Felix.


"Kenapa nanti?" cebik Olivia.


"Aku masih ingin ini." Felix kembali menyambar bibir Olivia. Dia memagut bibir ranum kekasihnya itu. Olivia pun tersenyum ketika Felix menciumnya. Olivia kembali membalas pagutan yang di berikan oleh kekasihnya itu.


...******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.