Love And Contract

Love And Contract
Nadia Vs Gelisa



Nadia melajukkan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju CF. ION ORCHARD. Terlalu banyak masalah membuat Nadia memilih mendatangi salah satu mall. Sudah lama setelah dirinya bertengkar dengan Edwin dia lebih memilih berada di rumah. Meski masih di dalam rumah, tetapi Nadia sudah tidak berbicara lagi dengan Edwin. Bahkan Nadia juga jarang mengangkat telepon dari Devita putrinya. Bukan dia tidak ingin mengangkat telepon dari putrinya, tapi dia memilih untuk menenangkan diri. Nadia juga tidak ingin membenani masalah yang terjadi pada putrinya itu.


Saat Nadia sudah tiba di CF. ION ORCHARD, dia langsung memarkirkan mobilnya khusus parkiran VIP. Dia turun dari mobil dan melangkah masuk kedalam mall. Tujuan Nadia mendatangi mall bukan untuk berbelanja. Dia hanya ingin duduk di salah satu kafe dan menghabiskan waktu di sana.


Nadia masuk kedalam sebuah cafe yang posisinya tidak jauh dari lobby utama. Nadia memesan hot capuccino dan cheese muffin. Nadia memilih untuk duduk di sudut, jauh dari keramaian. Dia kembali mengingat putrinya yang menyukai segala jenis cake. Tentu itu karena Nadia juga menyukai segala jenis cake.


Tidak lama kemudian, pelayan mengantarkan makanan yang telah di pesan oleh Nadia. Dia mulai menyesap hot capuccino di tangannya. Sebenarnya Nadia ingin sekali kembali Kota K. Tapi dia tidak bisa melakukan itu sekarang. Semua karena memang Putri dan menantunya menghalangi dirinya.


"Nadia Smith. Apa aku menganggumu?" suara perempuan menyapa Nadia hingga membuat wanita itu terkesiap saat ada wanita sosok paruh baya melangkah mendekat ke arahnya. Nadia mengerutkan dahinya, meskipun wanita itu sudah tidak muda lagi tapi harus Nadia akui dia memang cantik. Tidak hanya cantik tapi dia memiliki tubuh yang indah. Lalu wanita yang menyapa dirinya kini duduk di hadapannya.



"Apa aku menganggumu?" sapa wanita itu.


Nadia kembali menatap wanita yang ada di hadapannya ini. Dia berusaha untuk mengingat wanita yang ada di hadapannya, tapi dia memang tidak mengenal wanita yang duduk di hadapannya ini. " Maaf, kau siapa?" tanya Nadia dia terus menatap wanita itu.


"Gelisa Wilson, aku Gelisa dan aku rasa aku cukup menyebut nama ku, kau pasti sudah mengetahuinya bukan? Akhirnya aku bisa menemuimu. Tidak mungkin aku menemuimu di rumahmu. Pengawal dari menantu dan suamimu cukup ketat di rumahmu. Hingga membuatku tidak mungkin menembus masuk rumahmu." ujar Gelisa tersirat nada sinis di setiap perkataannya.


Nadia terdiam, cukup menyebut nama wanita itu. Tentu saja Nadia mengenalnya. Seolah tidak memperdulikan wanita yang ada di hadapannya. Nadia kembali menyesap hot capuccinonya. Mata Nadia melihat ke arah wanita itu.



"Ada hal apa yang membuatmu harus mengikutiku hingga kesini?"


Gelisa menjetikkan jemarinya, memanggil pelayan untuk membawakan hot coffe yang telah dia pesan. Namun tatapannya masih terus menatap Nadia. "Ingin berbicara sebentar denganmu? Aku rasa, itu bukanlah hal buruk bukan?"


Nadia mengangguk singkat, lalu mengulas senyuman tipis di wajahnya. " Jadi, Nyonya Gelisa Wilson. Ada hal apa yang ingin kau bicarakan padaku? Sayangnya aku tidak memiliki waktu banyak jika ingin berbicara denganmu. Aku rasa kau sudah pasti tahu, orang yang berbicara denganku harus melalui Asistenku untuk menemuiku. Jadi, segera bicarakan apa yang ingin kau katakan? Jangan membuang waktuku."


Gelisa tertawa sinis, " Luar biasa kau Nyonya Smith. Rupanya kau tidak jauh berbeda dengan menantumu yang sangat sombong itu. Hem... bisa jadi kau sombong karena memiliki suami yang sehebat saat ini dan menantu yang memegang kendali di sini?"


Nadia meletakkan gelas yang berisi hot capuccino dengan anggun di atas meja. Dia menatap lekat Gelisa yang menertawakan dirinya. "Aku tidak memiliki banyak waktu untuk mengatakan sebuah omong kosong. Jadi katakan padaku? Apa yang kau inginkan?"


Gelisa mengetuk pelan jemarinya. Wajahnya menatap Nadia dengan anggun. " Ingin berbicara tentang anakku yang jelas kau tahu Ayahnya adalah Edwin Smith, suamimu. Aku rasa kau sudah mengetahui ini bukan?"


Nadia tersenyum sinis. " Apa yang kau inginkan? Jika kau ingin membahas anakmu dengan Edwin, kalian bisa bicara berdua. Tanpa melibatkan ku. Karena aku tidak memperdulikan kalian."


Nadia menggeleng pelan, lalu menahan tawa yang penuh dengan sindiran. Dia mendongakkan wajahnya menatap wanita yang ada di hadapannya itu. " Sayangnya, aku tidak pernah menghalanginya. Jika memang Edwin ingin bertemu dengan anaknya, maka aku dengan tegas mengatakan aku tidak perduli dengan itu. Kau bisa mendatangi Edwin dan mengatakannya secara langsung. Sangat membuang - buang waktu jika kau ini datang menemuiku untuk mengatakan itu."


"Well, kau benar. Tapi aku bosan mendengar suamimu selalu memetingkan perasaanmu dan anak perempuanmu itu. Lihatlah, kau ini hanya bisa memberikan anak perempuan. Kau tidak mampu memiliki anak laki - laki. Sungguh malang sekali nasibmu Nadia, hanya mampu mempunyai anak perempuan. Tidak ada yang meneruskan nama Smith. Karena kau tahu bukan? Anak perempuanmu sudah menyandang nama Mahendra di belakang namanya. Bukan lagi nama Smith." Gelisa tersenyum miring, perkataannya penuh dengan sindiran pada Nadia. Namun sayangnya Nadia tidak terpancing, dia tetap menunjukkan keanggunannya dan seolah tidak memperdulikan perkataan dari Gelisa.


"Aku rasa aku tidak memiliki waktu untuk berbicara omong kosong padamu, Gelisa. Mengingat usiamu jauh lebih tua di atas ku, lebih baik kau merawat dirimu. Kau tidak mau bukan? Banyaknya kerutan di wajahmu? Lebih baik jangan berbicara sebuah omong kosong di hadapanku. Karena kau bisa tahu dengan jelas, seorang wanita di nilai dengan cara kita bersikap dan cara kita berbicara dengan seseorang. Sayangnya hari ini aku melihatmu, kau seperti seorang wanita yang tidak memiliki latar belakang pendidikan yang baik. Sangat di sayangkan sekali, jika suamiku pernah menjadi kekasihmu. Karena harusnya dengan kekuasaan yang di miliki oleh suamiku saat ini. Dia seharusnya mempunyai mantan kekasih yang memiliki latar belakang yang sangat baik." balas Nadia sarkas, dia tersenyum sinis. Pandangannya menatap Gelisa tersirat memandang rendah wanita yang ada di hadapannya itu.


Gelisa menggeram, dia mengepalkan tangannya dengan kuat. "Apa maksudmu?!"


Nadia mengangkat kedua bahunya acuh, lalu dia beranjak dari tempat duduknya dan masih terus menatap Gelisa dengan tatapan yang sama. "Lebih baik, perbaiki kualitas dirimu Gelisa. Jangan sampai ada orang yang memandangmu bukan wanita yang berkelas. Dari caramu berpakaian harusnya kau bisa menunjukkan bahwa kau adalah wanita yang berpendidikan tinggi dan memiliki ke anggunan dalam berbicara. Sayangnya kau tidak memiliki itu semua" tutup Nadia.



Nadia pun langsung berjalan meninggalkan Gelisa. Sebelumnya Nadia meminta bill tagihan dan membayar seluruh tagihan di mejanya termasuk minuman yang di pesan oleh Gelisa. Setelah selesai membayar, Nadia berjalan dengan anggun. Ketukan heelsnya menggema di kafe itu.


Gelisa terus menatap Nadia, hingga wanita itu menghilang dari pandangannya. Sorot mata Gelisa penuh dengan kemarahan dan kebencian. Dia mengepalkan tangannya dengan kuat. "Awas saja kau, Nadia. Aku bersumpah akan membuatmu menyesal!" Desis Gelisa.



...***********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.