Love And Contract

Love And Contract
Tidak Brayen!



Elena masuk melangkah ke ruang kerja Brayen. Design ruangan Brayen memang sangat elegan, dan mewah. Corak warna grey membuat ruangan itu terlihat sangat mewah. Brayen mengkombinasikan warna grey dengan black. Semua fasilitas di perusahaan Brayen juga sangat mewah. Di Milan, meskipun hanya kantor cabang, tetap saja sangat besar.


Elena melihat beberapa lukisan mewah yang berada di dinding ruang kerja Brayen. Salah satu yang membuatnya menjadi tertarik adalah lukisan dengan inisial L di bawahnya. Elena sudah tahu itu pasti Laretta, adik Brayen. Adik Brayen memang sudah terkenal karena kecantikannya, gadis 24 tahun itu mampu menaklukkan setiap kaum pria.


Kemudian mata Elena tertuju pada salah satu bingkai foto yang ada di atas meja. Rahang Elena mengeras, tangannya mengepal dengan kuat. Itu adalah pernikahan Brayen dengan Istrinya. Elena mengumpat kasar, harusnya dia yang berada di foto itu. Tahun depan, bahkan Brayen sudah merencanakan pernikahan dengannya.


"Kau gadis yang tidak tahu diri, aku bersumpah selamanya Brayen akan menjadi milikku. Kau yang mengambil Brayen dari tanganku. Sampai kapan pun aku aku tidak akan pernah melepaskan Brayen. Dia hanya di takdirkan untukku!" Geram Elena. Dia menatap tajam foto pernikahan Brayen dan juga Devita. Rasanya ingin sekali dia menghancurkan foto itu, tapi dia harus menahannya. Dia tidak ingin membuat keributan dengan menghancurkan foto pernikahan Brayen dan Istrinya.


Ceklek.


Suara pintu terbuka, Elena langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Senyum di bibirnya merekah saat melihat Brayen masuk ke dalam ruangan. Dengan cepat Elena langsung berlari ke arah Brayen. Elena kemudahan mengecup dengan lembut bibir Brayen dan memeluk erat Brayen.


"Aku merindukanmu, kenapa kau tidak menjawab teleponku, sayang," Elena mencebik, dia terus memeluk erat tubuh Brayen.


Brayen melepaskan pelukan Elena, " Kenapa kau datang kesini Elena? Bukankah aku sudah mengatakan padamu, aku tidak ingin ada pemberitaan mengenai kita,"


"Aku tidak peduli! Kau tidak menjawab teleponku! Kau memilih Istrimu dari pada aku. Aku kekasihmu Brayen. Dan kita sudah menjalin hubungan selama empat tahun. Aku selalu bersama denganmu. Tapi tadi malam kau membiarkan aku pulang dengan taksi. Kenapa kau ini tega sekali denganku!" Seru Elena kesal.


"Ada hal yang harus aku bicarakan padamu. Lebih baik kita duduk," Brayen menarik tangan Elena, dan membawa Elena untuk duduk di sofa.


"Kau ingin berbicara apa? Aku masih kesal sekali denganmu karena tadi malam!" Tukas Elena yang masih tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Brayen.


"Aku minta maaf karena meninggalkanmu tadi malam. Aku minta maaf karena membiarkanmu pulang dengan naik taksi. Tapi Devita adalah Istriku, aku tidak mungkin membiarkannya pulang sendirian, Elena." jelas Brayen.


"Berhenti mengatakan jika dia adalah Istrimu! Kau tahu aku sangat membenci kau mengatakan itu!" Ucap Elena sambil melayangkan tatapan dingin. Terlihat jelas kemarahan di wajahnya ketika Brayen mengakui Devita sebagai Istrinya.


"Kau boleh tidak suka, tapi itulah kenyataannya Elena. Aku minta maaf padamu karena telah melukaimu. Tapi aku tidak bisa meninggalkannya, dia adalah tanggung jawabku, Elena," ujar Brayen.


"Apa maksudnya kau tidak bisa meninggalkannya Brayen? Jangan katakan padaku, jika kau sudah mencintainya!" Geram Elena.


Brayen menatap lekat manik mata Elena, lalu dia berkata, " Maafkan aku, tapi apa yang aku katakan itu benar. Aku sungguh minta maaf karena telah melukaimu. Tapi kau berhak mendapatkan pria yang lebih baik dari pada aku Elena. Aku sudah menikah dengan Devita, kau harus menerima kenyataan ini. Mulailah hidupmu yang baru, kau bisa berkarir di sini atau kembali ke Milan,"


"Tidak! Apa kau ini sudah gila, Brayen! Dimana janjimu yang tidak akan meninggalkankanku! Kenapa kau ingin meninggalkanku!" Bentak Elena. Napasnya memburu. Matanya memerah membendung air matanya.


Brayen menghela nafas dalam, dia menyentuh tangan Elena, dan berkata, " Kau berhak untuk bahagia. Kau bisa menemukan pria baik di hidupmu. Kita memang tidak di takdirkan untuk bersama Elena,"


Elena menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Tidak Brayen! Apa kau tuli! Kita harus tetap bersama! Apapun itu kita tidak boleh berpisah! Kau hanya akan menjadi milikku! Kau milikku Brayen!"


"Mengertilah, ini terlalu rumit! Aku tidak bisa denganmu. Aku sudah menikah. Maafkan aku. Kau berhak mendapatkan pria yang lebih baik," balas Brayen.


"Aku tidak akan pernah melepasmu Brayen Adams Mahendra! Apa kau ini tidak mengerti, dengan apa yang aku katakan padamu! Selamanya kau akan tetap jadi milikku!" Elena berteriak dengan keras. Dia memukul dada Brayen. " Kau tidak boleh meninggalkanku! Tidak boleh! Kau hanya tetap jadi milikku!"


Brayen menangkap tangan Elena, dia menatap dingin Elena, lalu berkata dengan tegas. " Tenangkan dirimu, Elena. Kau tahu, kita sedang berada di kantor! Kendalikan dirimu!"


"Kau tidak boleh meninggalkanku Brayen! Tidak boleh!" Suara Elena mulai melemah, dia menatap Brayen memohon agar tidak meninggalkannya.


"Maaf Elena, aku masih memiliki meeting. Aku harus pergi. Lebih baik kau tenangkan dirimu, kau bisa berbicara denganku jika kau sudah tenang." Brayen melepaskan tangan Elena, dia beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan meninggalkan Elena.


Elena menatap kepergian Brayen, dia mengepalkan tangannya dengan kuat. " Kau hanya milikku Brayen.Aku tidak akan pernah membiarkan apa yang menjadi milikku, harus di ambil oleh orang lain. Aku bersumpah, kau hanya akan menjadi milikku!"



Mobil Devita sudah mulai memasuki Dixon's Group, setelah memarkirkan mobil, Devita langsung masuk ke dalam lobby perusahaan, langkahnya terhenti ketika berpapasan dengan Olivia yang juga baru saja tiba dari lobby.


"Devita, kau masuk ke kantor?" tanya Olivia yang mendekat ke arah Devita, dia langsung menyentuh bahu Devita dan menggoyangkan pelan. " Kau tidak apa - apa kan? Apa tadi malam Brayen melukaimu?" terlihat wajah cemas dan khawatir Olivia. Bagaimana tidak? Tadi malam, Brayen membawa paksa Devita keluar dari klub malam.


"Aku tidak apa - apa Olivia," jawab Devita dengan senyuman di wajahnya.


Olivia mendesah lega, " Lebih baik kita ke cafe sekarang, banyak yang ingin aku tanyakan padamu,"


Devita mengangguk, kemudian Olivia langsung menarik tangan Devita dari lobby Dixon's Group. Namun, saat Olivia menarik tangan Devita, pandangan Devita teralih pada sosok pria yang baru saja turun dari mobil.


"Olivia, tunggu," ucap Devita menahan tangan Olivia, hingga membuat Olivia menghentikan langkahnya. " Aku harus bertemu dengan Richard,"


"Richard?" Olivia mengerutkan keningnya.


"Ya," Devita menjawab singkat. Pandangannya tidak lepas melihat Richard yang melangkah masuk ke dalam lobby.


Olivia langsung mengalihkan pandangannya, dan benar saja, Olivia melihat Richard yang masuk kedalam lobby. Terlihat dengan jelas wajah lebam Richard.


Tidak menunggu lama, Devita langsung meninggalkan Olivia dan langsung mendekat ke arah Richard.


"Richard?" sapa Devita.


Richard tersenyum, ketika melihat Devita berdiri di hadapannya. " Hi Devita, bagaimana keadaanmu?"


Devi mendesah pelan dan berkata, " Harusnya aku yang bertanya denganmu. Bagaimana keadaanmu?"


"Aku baik - baik saja, Devita," balas Richard.


"Tapi wajahmu masih di penuhi lebam, bagaimana kau mengatakan, kau baik - baik saja?" seru Devita.


Richard menyentuh bahu Devita, dan menepuknya dengan pelan. " Aku sungguh tidak apa - apa. Terima kasih, karena telah mencemaskan ku,"


"Richard, atas nama Brayen aku minta maaf. Aku sungguh meminta maaf padamu," kata Devita yang merasa tidak enak pada Richard.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.