
Sudah tiga hari Devita tidak bertemu dengan Brayen. Meski Brayen berada di rumah, tapi dia tidak bisa bertemu dengan Istrinya itu. Selama tiga hari ini, Devita hanya mengurung diri di kamar. Bahkan Devita tidur di kamar tamu, dan Devita tidak ingin sama sekali keluar dari kamar. Itu yang membuat Brayen sulit bertemu dengan Devita. Ketika jam makan, biasanya Devita meminta pelayan untuk membawakan makanan ke dalam kamarnya.
Brayen duduk di ruang kerja pribadinya di rumah. Dia memang tidak datang ke kantor. Dia memilih untuk bekerja di rumah. Ya, semua tentu saja karena masalah yang belum terselesaikan. Dia memilih menyerahkan pekerjaannya pada direktur pemasaran.
Saat Brayen tengah membaca email yang masuk yang di kirimkan oleh Sekretarisnya, terdengar suara ketukan pintu, Brayen langsung menginterupsi untuk masuk tanpa menoleh ke arah pintu.
"Selamat pagi, Tuan Brayen," sapa Albert yang kini melangkah masuk di ruang kerja Brayen.
"Apa kau sudah menemukan bukti apa yang aku minta?" tanya Brayen dingin. Dia menatap Albert yang berdiri di hadapannya.
Albert mengangguk, " Sudah Tuan, saya sudah menemukannya. Ini bukti yang Tuan cari," dia menyerahkan map cokelat yang di pegang tadi pada Brayen.
"Semua bukti kau sudah ada di sini?" Brayen mengambil map cokelat itu.
"Sudah Tuan, saya sudah menyelidikinya dengan baik," jawab Albert.
Brayen membuka map cokelat itu, dia menatap beberapa foto. Tanpa berkata, Brayen tersenyum sinis melihatnya. Foto Elena berciuman dengan pria yang lain. Hingga foto Elena yang sedang bermesraan di dalam mobil dengan seorang pria. Semua terlihat jelas, termasuk foto Elena yang sedang berada di hotel dengan seorang pria. Namun, seketika mata Brayen tertuju pada dua foto lain yang berada di tangannya.
"Bagaimana kau bisa mendapatkan foto ini?" tanya Brayen dingin. Foto yang ada di tangan Brayen adalah foto Elena yang tidur dengan seorang pria dengan tubuh polos hanya di balut oleh selimut.
"Pria yang ada di foto itu adalah Tuan Alex pengusaha asal Milan, Nona Elena menjadi simpan Tuan Alex saat Tuan Brayen meninggalkan Milan. Foto ini saya dapatkan karena foto ini di ambil oleh Tuan Alex. Kebetulan Tuan Alex sedang melakukan perjalanan bisnis di kota B. Saya bisa mencari informasi langsung dari Tuan Alex. Dan saat Nona Elena datang ke kota B, Nona Elena memutuskan hubungannya dengan Tuan Alex," jelas Albert.
"Sialan! Ternyata seperti ini wanita yang sudah bersamaku selama empat tahun. Tidak berbeda dengan seorang ******!" Geram Brayen.
"Beberapa hari terakhir Nona Elena mendatangi Apartemen Tuan William Dixon. Nona Elena selalu datang di malam hari tapi pulang saat pagi hari. Saat dulu Tuan berada di Milan, saya juga menemukan bukti lain. Sudah sejak lama Tuan William dan Nona Elena menjalin hubungan di belakang Tuan. Saya tidak tahu hubungan seperti apa. Tapi di foto ini terlihat sangat jelas, mereka sempat berada di hotel," ujar Albert dia menyerahkan bukti baru yaitu foto Elena dan William yang sedang berada di hotel.
"Damn it! William sialan! Apa dia tidak bisa mencari wanita yang lain? Sepertinya dia menyukai para wanita yang sudah pernah tidur denganku!" Tukas Brayen sinis. Rahang Brayen mengeras. Dia mengepalkan tangannya dengan kuat. Kilat kebencian di mata Brayen pada William semakin mendalam.
"Maaf Tuan, apakah anda ingin melakukan tes DNA? Saya akan segera melakukan tes DNA Tuan?" kata Albert hati - hati.
"Tanpa melakukan Tes DNA pun aku sudah sangat yakin itu bukan anakku. Aku tidak mungkin memiliki anak dari seorang wanita yang seperti dia. Anakku hanya boleh lahir dari rahim Devita, Istriku." tukas Brayen dingin.
"Selanjutnya rencana apa yang Tuan inginkan?" tanya Albert.
"Aku akan mendatangi Elena. Besok, aku juga akan ke perusahaan William. Saat aku mendatangi Elena, kau juga harus ikut bersamaku. Kita akan memaksanya untuk melukai tes DNA. Sebenarnya aku tidak membutuhkan tes DNA. Tapi test itu adalah salah satu syarat yang di minta oleh Istriku," jawab Brayen dengan sorot mata yang tajam.
...***...
Devita duduk di ranjang dengan kepala punggung bersandar di kepala ranjang sembari menikmati ice cream cokelat dan vanilla yang di bawakan oleh pelayannya. Belakangan ini, Devita terlihat begitu pucat. Tidak hanya itu, tapi dia juga jarang makan. Jujur saja, saat ini Devita tidak henti memikirkan masalah Brayen. Kenyataan Elena hamil, adalah hal yang benar - benar sangat menyakitkan untuknya.
Terdengar suara pintu terbuka, Devita langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Seketika tatapan Devita berubah menjadi dingin, saat melihat Brayen melangkah masuk ke dalam kamarnya. Dia segera memalingkan wajahnya, ketika Brayen melangkah mendekat.
"Apa kau sudah makan?" Brayen duduk di samping Devita, dan menatap lekat istrinya itu.
"Bukan urusanmu! Aku bisa mengurus hidupku sendiri!" Ucap Devita ketus.
Brayen terdiam sesaat, dia menatap istrinya yang tidak mau melihat dirinya, dia sudah tahu, pasti ini terjadi. Hingga kemudian, Brayen menyerahkan amplop coklat yang ada di tangannya pada Devita, "Ambillah dan buka,"
"Apa ini?" tanya Devita sambil mengerutkan dahinya ketika menerima amplop coklat.
Devita tidak lagi menjawab dan dia langsung membuka amplop coklat yang ada di tangannya. Seketika saat Devita melihat foto yang ada di amplop itu, dia membisu dan tidak mampu untuk berkata - kata. Dia melihat foto Elena yang sedang bermesraan dengan pria lain. Bahkan dia melihat foto Elena yang sedang tidur dengan seorang pria. Bagaimana mungkin Elena yang selalu mengatakan jika dia mencintai Brayen, tapi malah mengkhianati Brayen? Kini tatapan Devita tertuju pada foto Elena dengan William. Devita menggeleng pelan, ini rasanya mustahil, kenapa Elena bisa berfoto mesra dengan William? Rasanya Devita tidak mempercayai ini semua.
"Itu adalah bukti perselingkuhan Elena. Dia berselingkuh saat menjadi kekasihku. Aku tahu kau pasti sangat terkejut dengan satu foto ini, kenapa bisa ada William di foto ini. benar bukan?" Brayen sudah menebak pertanyaan yang ada di pikiran Devita
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.