Love And Contract

Love And Contract
Terpaksa Berbohong



Brayen duduk di tepi ranjang, dia merapihkan rambut Devita. Menatap istrinya yang belum juga membuka matanya. Setelah tadi mendapatkan kabar dari Albert, Brayen langsung menuju ke arah kamar Devita.Melihat istrinya saat ini, membuat perasaannya jauh lebih tenang. Edwin juga sudah pulang, lebih tepatnya mertuanya itu membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.


Brayen menggenggam tangan Devita, lalu mengecupinya dengan lembut. Sudah lama sekali rasanya dia tidak melihat senyum di wajah istrinya. Menjalani hari-hari tanpa melihat senyum istrinya terasa begitu berat. Bahkan Brayen, tidak pernah pulang kerumahnya. Brayen selalu beristirahat dan membawa pekerjaannya ke rumah sakit.


"Sayang, kenapa kamu belum juga membuka matamu, hm? Aku tidak bisa melihatmu seperti ini. Cepatlah sadar, aku merindukanmu." bisik Brayen, dia mengecup puncak kepala Devita.


"Apa kau tahu? Dulu saat kita menikah hal yang paling aku tidak suka darimu?" Brayen tersenyum mengingat di masa awal dia menikah dengan Devita.


"Hal yang paling aku tidak suka darimu adalah kau itu sangat berisik. Kau sama sekali tidak dewasa. Bahkan aku tidak pernah percaya menikahi seorang wanita yang usianya lebih muda dari adikku. Di awal pernikahan kita, aku sangat terganggu mendengar suaramu yang begitu berisik. Tapi seiring waktu berjalan, aku menyadari kau memberikan aku warna di hidupku. Senyummu, kebaikan hatimu, dan kelembutanmu. Segalanya Devita. Kau itu sangat sempurna dengan segala sifat yang kau miliki."


"Hingga akhirnya, aku jatuh cinta padamu. Aku tidak bisa jauh darimu. Cepatlah bangun, sayang. Aku ingin melihat senyummu, suaramu, dan semuanya. Aku merindukanmu." Brayen menundukkan kepalanya, mengecupi punggung tangan istrinya. Sudut matanya mengeluarkan air mata. Ketika dia menggenggam erat tangan Devita, dia tersentak merasakan jemari istrinya mulai bergerak.


"Devita? Sayang? Kau mendengarku?" raut wajah Brayen berubah saat merasakan tangan Devita mulai bergerak. Brayen terus menatap wajah istrinya itu penuh harap.


Perlahan Devita mulai membuka matanya, dia menatap ruangan putih dan mendengar sayup - sayup memanggil namanya. Kepalanya terasa sangat sakit dan berat. Devita menoleh sedikit lalu menatap sosok pria yang sejak tadi tidak berhenti memanggil namanya. Devita tersenyum tipis saat melihat Brayen berada di sisinya.


Brayen pun langsung memeluk Devita, mengecupi puncak kepala Devita berkali-kali. Serta mengucapkan syukur karena istrinya telah membuka matanya. Tidak ada yang membuat Brayen bahagia selain melihat istrinya selalu berada di sisinya.


Tanpa menunggu Brayen langsung menekan tombol darurat untuk memanggil Dokter. Meski dia sudah melihat istrinya sadar, tapi tetap saja dia tidak bisa tenang. Tidak lama kemudian, setelah Brayen menekan tombol darurat, Dokter dan perawat datang memeriksa.


"Bagaimana keadaan istriku?" tanya Brayen yang masih cemas.


"Nyonya Devita sudah lebih baik, Tuan. Hanya saja, jangan di bebani dengan banyak hal. Saat ini luka di kepalanya masih dalam proses pemulihan." jawab Dokter Ridwan memberi saran.


Brayen mengangguk. " Ya, aku pastikan itu tidak akan terjadi."


"Baik Tuan. Kalau begitu saya permisi." pamit Dokter Ridwan yang kini sudah berjalan meninggalkan ruang rawat Devita.


Brayen melangkah mendekat ke arah istrinya dan duduk di tepi ranjang. " Apa kau masih merasakan sakit?"


Devita menggeleng. "Sudah lebih baik. Brayen aku ingin minum."


"Ya aku ambilkan," Brayen mengambil air putih di atas meja. Lalu dia membantu Devita untuk meminum air putih dan meletakkannya kembali ke gelas itu di tempat semula.


"Brayen, aku ingin bersandar di pelukanmu." ucap Devita yang merajuk. Brayen tersenyum mendengar suara yang dia rindukan telah kembali. Brayen langsung duduk di samping istrinya, menarik pelan dan hati-hati tangan Devita dan membawanya kedalam pelukannya.


"Aku selalu mendengar suaramu, Brayen. Hanya saja, aku tidak mampu untuk membuka mataku." Devita membenamkan wajahnya di dada bidang Brayen. Beruntung, Infus berada di tangan kiri Devita, jadi mempermudah Brayen untuk memeluk istrinya.


Brayen mengecup puncak kepala Devita. "Maaf, aku tidak bisa menjagamu dengan baik. Kedepannya aku berjanji tidak akan membiarkanmu terluka."


"Ini bukan salahmu, Brayen. Aku yang tidak berhati - hati ketika menyeberang." balas Devita. Ia tidak ingin Brayen menyalahkan dirinya atas kecerobohan yang dia perbuat sendiri. Sedangkan Brayen, tidak menjawab perkataan dari Devita itu. Dan Brayen tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.


Brayen membawa tangannya ke perut Devita, mengusap dengan lembut. "Terima kasih sayang, terima kasih telah memberikanku hadiah yang tidak pernah aku miliki sebelumnya."


"Kau hamil." bisik Brayen, tangannya tidak henti mengelus dengan lembut perut Devita. Melihat istrinya sudah sadar, membuat hatinya lebih tenang. Kini Brayen bisa kembali mendengar suara Istrinya yang sudah lama dia rindukan.


Devita tersentak mendengar perkataan dari Brayen, "H-Hamil? Kau tidak bercanda kan, Brayen?"


Brayen kembali mengecupi puncak kepala Devita, memeluk sedikit lebih erat namun dia tetap berhati-hati. "Ya, kau hamil. Kedepannya kau harus selalu menuruti setiap ucapanku. Kau tidak boleh mengendarai mobil sendiri. Kau juga tidak bisa memakai heels. Kau tidak boleh terlalu lelah dengan kuliahmu. Ingat, kau itu harus lebih banyak beristirahat."


Devita mendengus kesal. " Aku ini sedang hamil Brayen! Bukannya sedang sakit keras! Memangnya jika hamil, tidak boleh melakukan aktivitas normal? Yang benar saja! Itu sama saja kau mengurungku!"


"Aku merindukanmu." Brayen menangkup pipi Devita, memberikan ciuman bertubi - tubi di bibir Devita. "Aku merindukan suaramu, merindukanmu yang selalu mengeluh dengan sifatku. Aku hampir gila karena sudah beberapa hari kau tidak membuka matamu. Aku mohon, jangan seperti ini lagi."


Devita tersenyum haru mendengar ucapan dari Brayen. Sangat jarang Brayen mengucapkan kata - kata manis. Bahkan Devita bisa melihat sudut mata suaminya mengeluarkan air mata. Tidak hanya Brayen yang memiliki rasa cinta yang besar. Tapi dirinya juga memiliki rasa cinta yang besar pada suaminya.


"Aku berjanji, tidak akan seperti ini lagi." balas Devita. "Brayen, dimana Olivia? Aku baru mengingat dia membantuku, Brayen. Saat aku masih membuka mataku, dia sudah lebih dulu tidak sadarkan diri. Bagaimana dengan Olivia? Dia baik-baik saja, kan?"


"Olivia baik-baik saja, kau tidak usah khawatir." jawab Brayen yang terpaksa berbohong. Dia tidak mungkin menceritakan semuanya pada Devita di saat kondisi Devita yang masih dalam proses pemulihan. Dokter mengatakan, Devita tidak boleh di bebani dengan banyak pikiran. Dan Brayen tidak akan membiarkan itu terjadi. Dia tidak akan membuat Devita memikirkan masalah. Bagi Brayen, sekarang yang terpenting adalah kesehatan Devita dan anaknya.


Devita bernapas dengan lega, saat mendengar ucapan dari Brayen. "Aku sangat senang mendengarnya. Karena kalau terjadi sesuatu yang buruk pada Olivia, aku pasti akan sangat menyesal. Dia sungguh bodoh, Brayen, dia membiarkan tubuhnya terluka karena aku. Aku tidak akan pernah bisa menerima kalau hal buruk menimpa sahabatku itu."


"Tidak, semua akan baik-baik saja. Kau tidak perlu memikirkannya. Lebih baik kau beristirahat." kata Brayen, dia tidak ingin Devita terus memikirkan hal yang lain.


"Tapi, apa aku bisa bertemu dengan Olivia?" tanya Devita, rasanya di belum tenang jika dia belum bertemu dengan Olivia. Perasaan ada yang mengganjal di hatinya jika belum melihat sahabatnya itu.


"Kau bisa melihatnya nanti, dan tidak sekarang. Lebih baik kau beristirahat. Dokter mengatakan kau tidak boleh lelah." jawab Brayen mengingatkan.


Devita pun mengangguk pelan. Kemudian Brayen membantu Devita kembali berbaring di ranjang. Tangan Brayen tidak berhenti mengusap perut istrinya. Devita tersenyum melihat Brayen yang terlihat sangat bahagia dirinya hamil. Tidak hanya Brayen tetapi Devita juga bahagia.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.