
Brayen menatap Devita yang masih tidak sadarkan diri. Dokter baru saja memeriksa keadaan istrinya itu. Beruntung tidak terjadi masalah besar pada Devita. Hanya saja, Devita tidak boleh memikirkan hal yang berat karena kandungannya lemah. Brayen duduk di tepi ranjang, menatap mata Devita yang masih sembab. Brayen mengelus pipi Devita, merapihkan rambut istrinya. Ini yang sejak dulu Brayen takutkan, jika Devita pasti akan terpukul setelah mengetahui kabar Olivia.
Brayen menyentuh tangan istrinya, mengecup punggung tangan Devita. "Aku memiliki alasan sendiri tak mengatakannya, sayang. Ini semua demi dirimu dan juga anak kita." bisik Brayen. Tangan kanan Brayen mengelus dengan lembut perut istrinya yang masih rata. Perlahan Devita mulai membuka matanya, menatap sekelilingnya. Lalu, pandangannya menoleh ke sosok pria yang berada di sampingnya. Saat melihat Brayen, dengan cepat Devita menarik tangannya dan menjauhkan diri dari Brayen.
"Devita, dengarkan penjelasanku. Aku memiliki alasan kenapa aku menyembunyikan ini." Brayen semakin mendekat ke arah Devita. Dia tahu, saat ini istrinya marah dan kecewa padanya.
"Pergi Brayen. Aku tidak ingat melihatmu!" Suara Devita terdengar begitu dingin, dia sama sekali tidak menatap Brayen.
Brayen tidak memperdulikan penolakan Devita dia semakin mendekat, kemudian Brayen menyentuh kedua bahu istrinya itu. "Bisakah kau tenang Devita! Kau ini sedang hamil! Jangan memikirkan dirimu sendiri! Kau juga harus pikirkan bayi yang ada di dalam kandunganmu!" Seru Brayen meninggikan suaranya. Terpaksa Brayen harus mengatakan ini. Karena jika tidak, Devita tetap tidak akan tenang.
Devita terdiam, saat Brayen mengingatkan dirinya tengah hamil. Devita melupakan hal itu, dia terlalu larut dalam rasa bersalahnya. Dia lupa jika anaknya juga harus di lindungi. Devita membawa tangannya menyentuh perutnya. Tatapannya kosong, dia tidak tahu harus apa. Saat ini pikirannya sangat kacau. Bagaimanapun Olivia terluka karena menyelamatkan dirinya. Tapi Devita juga harus memikirkan bayi yang ada di dalam kandungannya. Benar apa kata Brayen dia tidak boleh memikirkan diri sendiri.
Melihat Devita diam, Brayen semakin mendekatkan dirinya. Mengelus dengan lembut pipi istrinya itu. "Devita, aku melakukan ini demi dirimu dan juga anak kita. Apa pernah aku membohongimu untuk hal buruk? Aku selalu melakukan yang terbaik untukmu, Devita."
"Tapi kenapa kau menutupi keadaan Olivia? Aku berhak mengetahuinya Brayen?" air mata Devita terus berlinang, hatinya terasa begitu sakit dan sesak. Rasa bersalah terus Devita rasakan saat ini.
Brayen menarik tangan Devita, membawanya kedalam pelukannya. Mengecupi puncak kepala istrinya. "Aku paling tidak suka melihatmu menangis Devita. Aku selalu ingin melihatmu bahagia di sisiku. Apa kau lupa? Aku akan melakukan apapun untuk melihatmu tersenyum? Aku berjanji Devita, akan melakukan yang terbaik."
Devita membenamkan wajahnya di dada suaminya, tangannya memeluk erat pinggang Brayen. Air matanya tidak henti berlinang, meski Brayen sudah berusaha untuk menenangkannya tapi tetap saja Devita masih merasa takut.
"Ssst, aku paling tidak suka melihatmu menangis seperti ini." Brayen mengelus punggung istrinya.
Devita mendongak dari dalam pelukan Brayen. Isak tangisnya masih terdengar. Dengan mata yang merah dan berlinang air mata, Devita memberanikan diri menatap suaminya. "Apa kau berjanji akan melakukan apapun untukku? Termasuk menyembuhkan Olivia?"
Brayen menempelkan keningnya di kening Devita. Menggesek pelan hidung Devita dengan hidungnya. "Aku mencintaimu, Devita. Kau adalah hidupku. Hal yang membuatmu bahagia adalah kewajibanku. Aku akan melakukan segala cara untuk tidak membuatmu menangis. Aku berjanji akan melakukan yang terbaik. Percayalah, temanmu yang telah menyelamatkanmu juga wanita dari sepupuku. Meski kau selalu melihatku bersikap buruk pada Felix. Tapi dia tetap sepupuku.
Devita tersenyum tipis, dia mengelus dengan lembut rahang itu. Aku percaya, kau akan melakukan yang terbaik Brayen. Aku ingin melihat sahabatku kembali sehat seperti dulu. Aku menyayanginya. Kau tahu bukan? Aku ini anak tunggal. Sejak kecil Olivia selalu berada di sisiku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang menimpa Olivia.
Brayen menarik dagu Devita, mengecup dengan lembut bibir istrinya itu. "Aku akan melakukan apapun yang kau minta Devita. Sekarang, lebih baik kau beristirahat. karena anak kita butuh istirahat."
Mendengar perkataan Brayen, membuat Devita terhipnotis dengan semua kelembutan Brayen. Devita mengagguk patuh. Brayen membantu Devita membaringkan tubuhnya di ranjang. Brayen merapihkan rambut Istrinya dan memberikannya kecupan. Tangannya terus mengelus perut Devita. Hingga perlahan, Devita mulai memejamkan matanya.
...***...
"Brayen? Bagaimana keadaan Devita?" Felix yang baru saja hendak masuk, namun berpapasan dengan Brayen yang keluar dari ruangan Devita.
"Aku minta maaf, atas namanya Ibunya Olivia. Aku sungguh tidak menyangka jika Ibunya Olivia akan menemui Devita. Aku harap kau tidak marah dengan Ibunya Olivia, Brayen." ujar Felix yang merasa tidak enak. Meski Caroline bersalah, tapi Felix berusaha mengerti perasaan Caroline.
"Kau tenang saja, Felix. Aku tidak mempermasalahkannya karena Devita baik - baik saja saat ini. Tapi mungkin, kau harus mengatakan pada Ibu dari Olivia itu untuk jangan yang berbicara tidak - tidak. Istriku sedang hamil dan kandungannya lemah." balas Brayen memberikan peringatan.
Felix mengangguk paham, "Ya, aku pasti akan membicarakannya dengan Ibunya Olivia."
"Lalu bagaimana dengan dokter yang menangani Olivia? Apa dia sudah mengatakan sesuatu?" tanya Brayen, karena sejak kemarin memang Brayen terlalu memikirkan masalahnya yang lain. Sampai dia lupa kalau dokter yang di siapkan untuk Olivia sudah tiba di kota B.
"Tim Dokter yang kau bawa mengatakan masih ada harapan pada rahim Olivia dan tidak perlu melakukan pengangkatan rahim. Semoga itu benar dan yang paling terpenting Olivia bisa selamat. Aku hanya menginginkan Olivia selamat." kata Felix dengan helaan nafas berat. Saat ini yang terpenting bagi Felix hanya melihat Olivia sehat. Tidak perduli hal yang lainnya. Memiliki anak atau tidak bagi Felix bersama dengan Olivia sudah lebih dari cukup.
"Biarkan Dokter mengusahakan yang terbaik. Aku pastikan, mereka tidak akan gagal." balas Brayen.
Felix tersenyum. "Aku tahu, kau akan melakukan yang terbaik."
"Brayen, aku sudah mendengar tadi pagi Edgar sudah meninggalkan rumah sakit. Dan apa kau tahu? Dia langsung ke bandara meninggalkan Indonesia. Aku rasa dia ingin memulai kehidupan barunya di tempat lain." ujar Felix.
...********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.