Love And Contract

Love And Contract
Seperti Pernah Melihat



Setelah mengambil libur tiga hari untuk menemani Devita. Hari ini Brayen sudah kembali ke perusahaan. Namun, meski hari ini dia telah kembali pada aktivitasnya yang semula, tetap saja Brayen tidak ingin meninggalkan Devita sendirian di rumah. Kehamilan Devita kini sudah semakin membesar. Dan kini Brayen meminta Devita untuk menemaninya di kantor. Dan terntu saja Devita sangat senang. Setelah kelulusan, Devita tidak memiliki kegiatan lain selain berbelanja ke salon. Selama ini Brayen terlalu melarang Devita untuk banyak melakukan aktivitas.


Brayen melajukkan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tepat di belakang mobilnya beriringan mobil pengawalannya. Sejak kemarin, ada mobil yang mengikutinya, Brayen memperketat penjagaan mansionnya. Brayen juga menambah penjagaan untuk mengikuti istrinya. Brayen sengaja tidak mengatakan ini pada Devita, dia tahu jika membicarakan ini dengan Devita, pasti akan marah. Brayen sangat tahu, jika istrinya itu tidak menyukai jika di ikuti oleh banyak pengawal.


Brayen membelokkan mobilnya memasukinya ke lobby perusahaan. Kemudian Devita dan juga Brayen masuk kedalam ruang kerjanya. Setelah masuk kedalam ruang kerja Brayen, pandangan Devita menatap meja yang sudah terhidang banyak makanan.


"Astaga Brayen! Kau yang benar saja! Aku tidak mungkin bisa menghabiskan makanan yang sebanyak ini. Kenapa kau begitu banyak menyiapkan makanan untukku?"


"Kau terlambat makan dua jam, sayang. Aku tidak ingin anak kita kekurangan makan." Brayen menyandarkan punggungnya di sofa sembari membuka dokumen.


Devita membuang napas kasar. "Aku cuma terlambat makan dua jam, Brayen. Hanya dua jam! Bukan dua hari, kau yang benar saja menyiapkan makanan yang sebanyak seperti ini? Astaga, kau ini berlebihan sekali! Kau tahu, tadi pagi aku sudah minum susu, itu kenapa aku belum lapar."


"Sayang, sudah cepat makan. Kau tidak boleh terlambat makan." tukas Brayen memperingati.


"Baiklah aku akan makan. Tapi aku tidak sanggup menghabiskan semua makanan ini sendiri." Devita mengerutkan bibirnya.


"Tidak masalah, sayang. Yang penting kau makan sayang. Tapi kau tidak boleh makan sedikit." Brayen kembali memperingati istrinya itu.


Devita tidak menjawab, dia tidak ingin berdebat dengan sifat suaminya yang begitu berlebihan. Kini Devita langsung menikmati sarapannya. Sedangkan Brayen dia tersenyum, melihat istrinya yang begitu lahap menikmati sarapan yang telah di siapkan.


"Brayen, hari ini kau tidak meeting?" tanya Devita.


"Felix yang akan menggantikanku. Pagi ini aku memiliki meeting dengan Ivana Wilson." jawab Brayen.


"Kenapa tidak kau saja yang meeting dengan Ivana Wilson?"Devita mengerutkan keningnya menatap bingung Brayen.


"Tidak, lebih baik Felix yang meeting dengan Ivana Wilson." Brayen meletakkan dokumen yang sudah dia baca ke atas meja kemudian mengambil iPad dan langsung membuka email masuk dari sekretarisnya.


"Apa kau takut jatuh cinta dengan kecantikan , Ivana Wilson. Sampai kau meminta Felix untuk menggantikanmu?" Devita menyipitkan matanya menatap penuh selidik.


Brayen mendesah kasar lalu menjawab. "Kau tahu jawabannya Mrs. Mahendra. Apa mungkin aku berpaling darimu dan jatuh cinta pada wanita lain?"


"Aku tidak tahu! Semua bisa saja terjadi! Tubuhku mulai gemuk karena hamil! Bisa saja kau malah menyukai wanita yang lebih cantik dariku!" Devita melipatkan tangannya di depan dada.


Brayen meletakkan iPad di tangannya di atas meja. Lalu menarik tangan Devita membawanya ke dalam pelukannya. "Kenapa kau meragukankku? Berjanjilah Devita kau tidak akan mengatakan itu lagi. Karena tidak akan ada wanita yang menggantikanmu, dan hanya kau wanita tercantik yang pernah aku lihat." Brayen mengecup puncak kepala Devita


Devita mendongakkan wajahnya dari dalam pelukan Brayen, dia mengecup rahang suaminya. " Maaf, terkadang aku hanya takut kalau kau akan menyukai wanita lain. Terlebih lagi aku melihat Ivana Wilson begitu cantik."


"Aku hanya mencintaimu. Wanita manapun tidak akan ada yang bisa menggantikanmu. Jika yang kau cemaskan adalah Ivana Wilson, aku bisa membatalkan kerjasamaku dengannya."


"Jangan Brayen, aku tidak ingin kau bersikap tidak profesional. Aku percaya padamu Brayen, aku tahu kau tidak akan mungkin melukaiku."


"Aku menyukai ketika kau cemburu." Brayen mengeratkan pelukannya. "Tapi, ingatlah aku tidak akan pernah mencintai wanita lain. Karena kau tahu, mataku hanya tetap melihatmu. Aku tidak pernah peduli wanita lain yang ada di hadapanku."


Devita tersenyum, dia membenamkan wajahnya di pelukan Brayen. Seharusnya Devita tahu, Brayen akan mengatakan ini. Tapi tidak bisa di pungkiri ada rasa ketakutan di hati Devita karena Ivana Wilson adalah wanita yang sangat cantik.


...***...


Felix duduk di kursi kepemimpinannya, dia menyilangkan kakinya dan jemari tangan yang mengetuk pelan meja. Tatapannya menatap Ivana Wilson yang sedang membahas proyek kerjasama antara Mahendra Enterprise dan juga Wilson Grup. Karena Felix yang menggantikan Brayen meeting dengan Ivana Wilson. Kemudian, Ivana beranjak dari tempat duduknya, pandangannya terus menatap Felix. "Aku rasa meeting cukup sampai di sini. Sampai bertemu di pertemuan selanjutnya, Tuan Felix Jordy Mahendra. Dan terima kasih untuk waktu yang anda berikan?" Ivana mengambil tas yang ada di hadapannya lalu, dia mulai melangkah keluar meninggalkan ruang meeting.


"Nona Ivana, tunggu." panggil Felix yang membuat Ivana menghentikkan langkahnya.


Ivana memutar tubuhnya, dan kembali menatap Felix, "Ada apa Tuan Felix?"


"Ah, aku rasa anda sudah salah orang, Tuan Felix. Karena jika kita saling mengenal, aku pasti sudah menyapa anda lebih awal." Ivana mengulas senyuman tipis di wajahnya. "Aku tahu dari media. Bukankah para media sering menceritakan kehidupan Brayen Adams Mahendra?" sambung Ivana memberikan penjelasan.


Felix menganggukan kepalanya. "Ya, kau benar mungkin hanya perasaanku saja. Karena sungguh wajahmu tidak asing. Aku seperti pernah melihatmu." ujar Felix dengan tatapan yang tidak lepas menatap Ivana


"Maaf, kalau begitu saya harus segera pergi sekarang." Ivana melanjutkan langkahnya lagi berjalan meninggalkan ruang meeting.


...***...


"Nyonya Devita," sapa Ivana, saat dia keluar dari ruang meeting dan berpapasan dengan Devita.


Devita tersenyum. "Kau sudah selesai meeting?"


Ivana mengangguk. "Ya, aku baru saja selesai meeting. Aku tidak tahu, jika hari ini Tuan Brayen membawamu Nyonya?"


"Hari ini Brayen memang membawaku ke kantor." jawab Devita.


"Maaf Nyonya Devita, apa anda tidak keberatan jika pergi ke cafe terdekat?"


"Aku rasa itu ide yang cukup bagus, kebetulan saja juga saya ingin keluar sebentar untuk menghilangkan rasa bosannya." jawab Devita.


"Alright, kita pergi sekarang?" Kemudian Devita dan Ivana masuk kedalam lift dan menuju ke arah cafe.


Brayen duduk di kursi kerjanya, lalu dia mengambil ponselnya, ada beberapa pesan masuk dari Devita. Tanpa menunggu lama Brayen langsung membuka pesan masuk dari Devita. Brayen tadi harus meninggalkan Devita sebentar karena dia memiliki meeting dengan Mr. Lee dan Mr. Nicholas. itu yang membuat Brayen harus meninggalkan Devita sendirian di ruang kerjanya.


Brayen, aku sungguh minta maaf tidak mengatakannya langsung, tapi aku sungguh merasa bosan. Sekarang aku bersama dengan Ivana Wilson. Dia mengajakku minum teh bersama di kafe dekat dengan perusahanmu - My Little Wife.


Brayen kemudian meletakkan kembali ponselnya ke tempat semula setelah mendapatkan pesan masuk dari Devita.


Pandangan Brayen kini menatap lekat ke arah Albert yang kini berada di hadapannya. " Apa Nagita dan pengawalku selalu mengikuti istriku?"


"Nagita, dan pengawal selalu mengikuti, Nyonya." jawab Albert.


"Kau kembalilah ke ruanganmu, Albert. Aku mau, kau juga awasi Istriku." tukas Brayen dingin. "Nanti, aku akan segera menyusul istriku."


"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi." Albert menundukkan kepalanya lalu undur diri dari hadapan Brayen.


...*********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.