
Richard tersenyum. "Aku sungguh beruntung hari ini karena kau mengatakan aku tampan. Tapi sayangnya wanita yang sudah berhasil menempati posisi penting di hatiku itu sudah menikah. Dia tidak mungkin aku miliki dan aku harus mengatakannya, jika wanita yang berada di hatiku itu adalah kau Devita. Maaf jika aku mengatakan ini. Aku sungguh hanya ingin mengatakan ini sebelum aku pergi meninggalkan kota B."
Devita terdiam sesaat, ketika mendengar ucapan Richard. Hingga kemudian dia menjawab, " Richard, terima kasih karena telah membuatku berada di posisi itu. Seperti yang aku bilang tadi, kau adalah pria yang baik dan tampan. Aku berharap kau mendapatkan wanita yang lebih baik dariku."
"Ya tentu Devita. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaan yang sudah lama ini. Aku senang pernah mengenalmu, seorang wanita yang ceroboh dan menggemaskan. Aku masih mengingat pertemuan kita pertama kali. Saat itu kau menangis karena dompet dan ponselmu hilang. Aku sungguh menyukai tingkahmu," ujar Richard yang menyukai pertemuan pertamanya dengan Devita. "Aku juga berharap ketika kita bertemu lagi, aku sudah benar - benar merubah perasaanku padamu. Aku selalu berdoa kau selalu bahagia dengan suamimu." lanjutnya dengan senyuman di wajahnya.
"Rupanya kau masih mengingat pertemuan pertama kita yang sungguh memalukan itu. Aku benar - benar sangat ceroboh," Devita terkekeh pelan, dia kembali mengingat kecerobohannya karena kehilangan dompet dan ponselnya.
"Aku tidak mungkin melupakannya, Devita. Itu sangat mengesankan bagiku," jawab Richard jujur. Tatapannya tidak lepas menatap manik mata Devita. " Baiklah kalau begitu aku harus pergi. Aku selalu berdoa agar kau selalu bahagia Devita. Senang pernah berkenalan denganmu,"
"Hati - hati Richard, aku juga senang pernah mengenalmu," balas Devita dengan mengulas senyuman hangat di wajahnya.
Richard mengangguk, kemudian dia berjalan meninggalkan Devita. Tatapan Devita terus melihat Richard, hingga menghilang dari pandangannya. Bagi Devita, Richard adalah pria yang sangat baik. Jujur Devita tidak menyangka Richard mengaguminya, tapi Devita berharap Richard mendapatkan wanita yang jauh lebih baik darinya.
...***...
Di dalam ruang meeting, Brayen duduk di kursi kebesarannya. Kini dirinya tengah membahas kerja samanya dengan Mr. Lee, rekan bisnisnya dari Hongkong. Sudah dua hari Brayen menunda meeting ini. Tentu semua karena pusat perhatiannya hanya ada pada Devita. Tapi meski dirinya sedang berada tidak bersama dengan Devita, Brayen sudah meminta beberapa anak buahnya mengawasi istrinya dari kejauhan. Setidaknya itulah yang membuat Brayen menjadi jauh lebih tenang.
"Tuan Brayen, jadi apa kita akan melakukan pembangunan apartemen di Jepang?" Mr. Lee bertanya saat dirinya baru saja selesai membaca proposal yang di berikan asistennya itu.
Brayen mengangguk. " Ya, Jepang memiliki banyak turis. Harga properti disana juga sangat mahal. Aku rasa akan sangat bagus jika kita membangun Apartemen di Jepang. Tapi aku tidak ingin hanya di Asakusa."
"Baik Tuan Brayen, asisten saya akan mengurus semuanya." jawab Mr. Lee.
"Alright, kalau begitu meeting sampai hari ini. Kontrak kerja sama bisa di kirim langsung ke asistenku," tutup Brayen lalu dia beranjak dari tempat duduknya. Lee menundukkan kepalanya dan Brayen membalasnya dengan anggukan singkat. Kemudian Brayen melanjutkan langkahnya, masuk kedalam ruang kerja di ikuti oleh Albert.
...***...
Brayen melangkah masuk kedalam ruang kerjanya di ikuti oleh Albert yang juga masuk kedalam ruang kerjanya. Tatapannya kini terlalih menatap tumpukkan dokumen yang berada di atas meja.
"Albert, apa kau sudah memeriksa dokumen ini?" tanya Brayen yang mengambil dokumen yang ada di atas meja, lalu dia duduk di kursi kerjanya, seraya membuka setiap lembar berkas itu.
"Sudah Tuan," jawab Albert.
"Aku akan memeriksa semuanya nanti," Brayen meletakkan kembali dokumen yang dia pegang itu ke tempat semula.
Albert mengangguk patuh, " Baik Tuan,"
"Apa jadwalku hari ini Albert?" Brayen bertanya seraya menatap lekat Albert yang berdiri di hadapannya.
"Tuan, maaf hari ini anda memiliki beberapa meeting dengan perusahaan asal Ukraina dan Barcelona. Kebetulan mereka hanya bisa malam ini, tempat yang mereka tentukan tidak sama, Tuan. Selisih waktu mereka hanya tiga puluh menit. Apa anda ingin membatalkan salah satunya?" tanya Albert memastikan.
Brayen membuang napas kasar, " Jangan di batalkan, jika Daddyku tahu aku membatalkannya lagi. Dia bisa marah besar padaku. Mereka berdua bukan pengusaha kecil. Kau bertemu dengan pengusaha asal Ukraina dan aku malam ini akan bertemu dengan pengusaha asal Barcelona."
"Baik. Tuan maaf, apa anda ingin temani oleh Raisa, sekretaris anda yang baru saat pertemuan dengan pengusaha asal Barcelona nanti?" Albert kembali bertanya.
"Sudah Tuan, Raisa merupakan lulusan terbaik di Okford University," ujar Albert.
"Kau beritahu dia tempat dimana pertemuanku dengan pengusaha asal Barcelona itu. Katakan kepadanya, aku tidak suka jika dia datang terlambat," ucap Brayen mengingatkan.
"Baik Tuan, saya akan memberitahu Raisa," balas Albert.
Brayen mengangguk singkat, kau boleh kembali ke ruangan mu. Lanjutkan pekerjaanmu."
Albert menunduk, lalu dia pamit undur diri dari ruang kerja Brayen.
...***...
Devita menatap cermin, kini tubuhnya sudah terbalut oleh gaun yang sangat indah. Long dress berwarna merah sangat seksi ini membuat Devita terlihat jauh lebih dewasa. Devita membiarkan rambut indahnya tergerai. Kemudian dia memoles wajahnya dengan make up tipis.
Malam ini, Devita harus menemani Olivia untuk menghadiri acara pesta pernikahan. Meski rasanya dia enggan untuk datang ke pesta pernikahan. Tapi mau tidak mau Devita harus menemani sahabatnya itu.
Kini Devita mengambil clucthnya dan melangkah keluar kamar, kali ini Devita sengaja tidak membawa mobil, karena dia meminta Olivia untuk menjemputnya. Sebelumnya Olivia sudah mengirim pesan pada Devita jika dia sudah berada di lobby hotel.
Sesampainya di lobby Devita melihat Olivia yang sudah berdiri di depan mobil sambil menunggunya. Tanpa menunggu lama Devita langsung melangkah mendekat ke arah Olivia.
"Devita, astaga tidak sia - sia aku menunggumu lama. Kau terlihat begitu cantik." Olivia berdecak kagum, tatapannya begitu memuji sahabatnya yang terlihat begitu cantik malam ini.
Devita mendengus, " Jangan berlebihan, lebih baik kita berangkat sekarang,"
"Ya, ya baiklah. Tapi apa kau tidak ingin memujiku? Apa aku ini tidak cantik?" Olivia mengibaskan rambut panjangnya, kemudian dia menunjukkan penampilannya yang tidak kalah cantik dari Devita.
Devita berdecak pelan. " Kau sangat cantik, sudah kita berangkat sekarang. Aku tidak ingin terlambat datang ke pesta. Nanti kita akan menjadi pusat perhatian jika kita datang terlambat."
Olivia terkekeh, kemudian dia dan Devita masuk kedalam mobil. Kini, Olivia mulai melajukkan mobilnya meninggalkan lobby Apartemen milik sahabatnya itu.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.