Love And Contract

Love And Contract
Terima Kasih



"Dan aku ingin kau membuktikannya! Detik ini kita harus melakukan Tes DNA!" Sentak Edwin, menyalang menatap Gelisa.


Brayen beranjak dari tempat duduknya. "Masih ingin menipuku, Gelisa? Satu hal yang harus kau tahu, Gelisa. Aku sudah membeli beberapa saham di perusahaanmu. Kau menipuku, aku pastikan kau kehilangan segalanya." peringat Brayen tajam.


Wajah Gelisa semakin memucat, dia beranjak dari tempat duduknya dan langsung menarik Lucia. "Ingat Edwin! Urusan kita belum selesai!"


"Kau masih berani menganggu kehidupan mertuaku, maka kau berurusan denganku!" Desis Brayen.


Edwin tersenyum sinis. "Aku tidak menyangka kau hadir di kehidupanku hanya menjadi seorang penipu dan bodohnya aku mempercayai omong kosongmu itu!"


"Hardwin!" Suara Edwin berteriak memanggil nama asistennya.


"Ya, Tuan." Hardwin menundukkan kepalanya.


"Usir dua wanita yang ada di hadapanku ini, pastikan mereka tidak pernah muncul lagi di kehidupanku." tukas Edwin dingin.


"Baik Tuan," Hardwin menarik tangan Gelisa, dan dengan cepat Gelisa menepis tangan Hardwin. "Aku bisa sendiri sialan! Jangan sentuh aku dengan tanganmu! Kau pikir kau ini siapa?" seru Gelisa, dia menatap Edwin tajam. " Ingat Edwin, kau akan menyesal!" Gelisa menarik tangan Lucia berjalan keluar meninggalkan restoran.


...***...


Kondisi restoran itu masih terlihat sunyi. Edwin masih duduk di hadapan Brayen, dia terdiam dengan apa yang barusan terjadi. Brayen masih duduk di hadapan Edwin. Saat Brayen datang, dia memang meminta Albert untuk mengosongkan restoran ini. Brayen tidak ingin ada pengunjung yang mengambil gambar dirinya. Beruntung, selama ini anak buah Brayen selalu mengawasi pergerakan dari Gelisa dan juga anaknya. Itu yang membuat Brayen tahu keberadaan Gelisa.


"Brayen, darimana kau tahu tentang ini?" Edwin bertanya dengan tatapan yang kosong, dia masih tidak menyangka wanita yang dulu dia percayai nyatanya membohongi dirinya. Bahkan hampir merusak kehidupannya keluarganya.


"Sejak awal, aku sudah tidak mempercayainya. Itu kenapa aku bertanya apa alasanmu percaya dengan Gelisa. Karena aku pernah di posisimu, Pa. Dulu aku juga begitu percaya pada masa lalu dan kenyataannya dia telah berani menipuku." jawab Brayen.


"Dulu, Papa memang sangat mempercayai Gelisa, bahkan tidak pernah terpikir dia akan berubah seperti ini." balas Edwin dengan tatapan yang masih tidak percaya. " Kau tahu Brayen? Papa tidak pernah menyetujui hubungan Devita dengan cinta pertamanya. Papa lebih menyetujui Devita bersama denganmu. Alasannya karena Papa mengingat masa lalu Papa ini. Dulu mereka menghina Papa, mengatakan Papa ini hanya pria yang mencari sosok wanita kaya menjadi istrinya. Segala hinaan Papa terima saat itu, hingga Papa berjanji pada diri Papa suatu saat anak Papa tidak akan pernah merasakan apa yang Papa rasakan. Dan saat Devita lahir, kelak Devita akan memiliki kehidupan yang sangat hebat."


Brayen terdiam mendengar perkataan dari Edwin. Dia masih terus menatap lekat mertuanya yang duduk di hadapannya.


"Dan aku ingin berterima kasih padamu telah memilihku menjadi menantumu. Memiliki Devita di hidupku adalah hal terindah yang pernah aku miliki. Putrimu mampu mengubah segalanya, meski awalnya tidak ada rasa cinta di antara kami. Tapi kenyataannya dengan begitu mudah putrimu membuatku jatuh cinta padanya. Untuk itu, aku sangat berterima kasih padamu dan juga terima kasih telah menolak cinta pertamanya Devita. Karena aku tahu, akulah yang terakhir untuk Devita."


Edwin menggeleng pelan dan tersenyum, "Awalnya, Papa juga ragu menerima perjodohan ini. Mengingat saat kau dewasa, kau terlihat sangat tidak tersentuh pada wanita manapun. Tapi Papa mencari tahu tentang dirimu Brayen, kau tidak pernah bermain - main dengan wanita. Kau memiliki kekasih salah satu artis dari Milan dan hubungan kalian terjalin lama. Itu salah satu hal yang membuat Papa percaya padamu Brayen. Karena Papa yakin dengan sifat mu seperti ini kau sangat mampu untuk menjaga putri kesayangan ku ini."


"Aku akan menjaga Devita seumur hidupku dan prioritasku saat ini adalah kebahagian dari Istriku." Brayen tersenyum tipis, " Aku juga akan melakukan apapun yang akan membuat dia bahagia. Tidak akan pernah aku biarkan dia merasakan kesedihan. Dan aku akan menjadi orang pertama yang marah ketika melihat istriku menangis."


Brayen mengangguk. " Aku pastikan Devita akan selalu bahagia bersama denganku."


"Papa senang mendengarnya. Sekarang Papa harus menyelesaikan masalah Papa dengan Mama mu itu. Karena sebelumnya dia meminta untuk mengajukan perceraian." Edwin beranjak dari tempat duduknya, dia masih terus menatap lekat Brayen. "Papa senang memiliki menantu sepertimu son. Terima kasih atas bantuanmu. Devita sungguh beruntung memilikimu di hidupnya."


"Aku juga beruntung memiliki Devita di hidupku." balas Brayen.


Edwin tersenyum tipis, lalu berjalan meninggalkan Brayen. Kini dia harus menyelesaikan masalah dengan Istrinya. Namun, lepas dari masalah yang datang, Edwin tenang saat mengetahui putrinya bersama dengan pria yang tepat.


...***...


"Ma, ini puding terenak yang pernah aku makan." kata Devita saat menikmati puding buatan Nadia.


"Makanlah yang banyak sayang, Mama sudah membuat banyak rasa. Ada coklat, Vanila dan matcha." Nadia mengelus rambut Devita dengan lembut. " Apa kau pernah memasak untuk Brayen? Atau membuatkan puding untuknya?"


Devita mendengus. " Ma, Brayen itu memiliki banyak chef di mansionnya. Bahkan sekarang Brayen sudah memiliki chef khusus untuk memasak masakan barat. Dan besok pagi mungkin sudah ada chef baru yang akan memasak masakan khusus Indonesia. Rencananya untuk besok, aku juga sudah meminta chef baru itu untuk memasak sambel goreng kentang dan rendang untukku. Aku juga ingin agar Brayen bisa mencoba masakan Indonesia. Karena selama ini Brayen lebih suka dengan masakan barat saja. Tapi aku yakin, wajahnya pasti memerah saat memakan makanan pedas. Karena Brayen tidak bisa makan makanan pedas." kekeh Devita merasa geli


Nadia menggelengkan kepalanya. "Anak nakal, apa kau ingin mengerjai suamimu sendiri. Tidak boleh seperti itu. Kasihan Brayen, kau tahu makanan yang kau minta untuk di buat itu pedas, sayang. Jangan berikan pada Brayen."


"Tidak masalah, Ma. Brayen hanya mencobanya satu kali. Aku ingin Brayen tahu bagaimana rasa masakan Indonesia." balas Devita mengulum senyumannya.


"Apa Papa mengganggu kalian?" suara Edwin dengan nada yang rendah, dia melangkah masuk kedalam ruang keluarga. Dia menatap istri dan anaknya tengah menikmati waktunya bersama.


...**********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.