Love And Contract

Love And Contract
Malas Berdebat



Sinar matahari pagi menembus jendela menyentuh wajah Devita yang tengah tertidur pulas. Perlahan Devita mulia membuka matanya. Dia mengerjap beberapa kali lalu menguap. Devita melirik kesamping dan melihat Brayen yang sudah tidak ada di sampingnya. Devita yakin, Brayen sudah lebih dulu bangun.


Devita mengambil ponsel di atas nakas, dia melihat kini sudah pukul delapan pagi. Dia ingat jika pukul sebelas adalah penerbangan mereka. Dengan cepat Devita bangun dan langsung menuju ke arah kamar mandi.


Setelah Devita selesai mandi dan mengganti pakaiannya dengan mini dress yang berwarna pink muda berlengan pendek. Kini Devita sudah memoles wajahnya dengan makeup tipis dan rambut yang tergerai indah.


Ceklek


Pintu kamar terbuka, Devita mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Dia melihat Brayen baru saja masuk ke dalam kamar.


"Aku baru bertemu dengan rekan bisnis ku di lobby hotel." jawab Brayen dengan dingin. Devita menganguk paham.


Kemudian Devita mengambil sarapan yang sudah di antarkan oleh pelayan hotel.Seperti biasa, Devita sarapan dengan sandwich lalu minumnya dengan memilih mango juice, sedangkan Brayen lebih memilih roti gandum dan juga kopi Espresso.


Brayen, saat kita tiba di Kota B, aku akan tetap magang di Dixon's Group kan?" tanya Devita memastikan, dia takut kesalahan jika dia tidak bertanya dengan Brayen.


"Jika kau menginginkan magang disana, aku mengizinkannya. Untuk saat ini, kau masih bebas untuk magang di Dixon's Group." jawab Brayen. " Tapi, jika suatu saat aku memintamu untuk pindah ke perusahaanku kau harus menerimanya tanpa bantahan sedikit pun," suara Brayen begitu dingin dan tidak ingin di bantah.


"Kenapa aku harus menurutimu? Apakah kau tidak bisa membiarkanku memilih dan menentukan hidupku sendiri?" balas Devita jika ia tidak mau di atur oleh Brayen.


"Tidak bisa, kau tidak bisa menentukannya, jika kau masih menjadi Istriku. Aku mengatur semuanya karena itu yang terbaik untukmu." tukas Brayen, dengan nada penuh penekanan.


"Terserah kau saja!" Ucap Devita ketus.


Setelah selesai sarapan, Brayen dan Devita berjalan meninggalkan kamar mereka. Brayen sudah meminta pada staff hotel untuk membawa koper mereka. Saat mereka tiba di lobby. Sopir sudah menjemput, Brayen dan Devita langsung masuk kedalam mobil. Tidak lama kemudian mobil yang membawa Devita dan juga Brayen mulai meninggalkan lobby hotel.


...***...


Sepanjang perjalanan menuju ke arah bandara, suasana hening tercipta. Hanya Devita yang berkali - kali tidak berhenti menguap. Mata Devita memberat dan ingin sekali tertidur. Tapi tidak mungkin, dirinya sekarang sedang berada di mobil.


Brayen yang sedang membaca email di iPadnya, dia mengalihkan pandangannya melihat kearah Devita yang sejak tadi terus menguap. "Kau masih mengantuk?"


Devita menganguk samar, dan menjawab" Ya, aku masih mengantuk,"


"Kau bisa tidur, tapi saat aku membangunkanmu. Kamu harus bangun. Jika kau tidak bangun, aku akan meninggalkanmu di sini," jawab Brayen datar.


"Devita mendengus tidak suka, " Kau menyebalkan sekali!"


Kemudian Devita mulai memejamkan mata, tanpa sadar kepalanya sudah bersandar di bahu Brayen. Melihat Devita bersandar di bahunya, Brayen langsung membenarkan posisi tidur Devita agar istri kecilnya itu merasa nyaman.


Saat Brayen tengah memeriksa pekerjaannya di iPad. Terdengar suara deringan ponsel. Brayen mengambil ponselnya, melihat ke layar tertera nama Elena mengirimkan pesan kepadanya. Brayen mengusap layar untuk membuka pesan masuk. Lalu, dia langsung membaca pesan masuk dari kekasihnya.


Aku merindukanmu, aku sudah tidak sabar ingin tinggal dan menetap di Indonesia


Setelah membaca pesan dari Elena, dia memilih untuk tidak menjawab. Brayen kembali menyimpan ponselnya. Untuk pertama kalinya dia mengabaikan kekasihnya itu.


...***...


Tidak lama kemudian Devita dan juga Brayen sudah tiba di bandara. Brayen melirik ke arah Devita yang masih tertidur pulas. Brayen membuang napas kasar, bisa - bisanya Devita tertidur sangat pulas hanya di dalam mobil. Padahal Devita bangun saja sudah terlambat.


"Devita," bisik Brayen berusaha untuk membangunkan Devita. Namun, Devita tetap juga tidak bangun. Brayen mengumpat pelan, Istri kecilnya memang selalu menyusahkan dirinya. Akhirnya dia meminta staff yang sengaja dia bawa dari hotel ini untuk membawa barang - barang Brayen dan Devita masuk kedalam private jet miliknya.


Sebenarnya saat Brayen melakukan perjalanan bisnis ke Berlin dia ingin membawa beberapa pelayan. Tapi karena Devita yang mengatakan jika dia tidak suka terlalu banyak orang yang mengikutinya, jadi Brayen lebih memilih untuk membayar staff hotel untuk membawa barang - barangnya.


Tidak ada pilihan lain selain, Brayen membopong Devita dengan gaya bridal masuk kedalam bandara dan langsung masuk kedalam pesawat.


Brayen menggendong masuk Devita kedalam pesawat. Pilot yang ingin menyapa akhirnya hanya tersenyum ramah saat melihat Brayen masuk kedalam pesawat. Bagaimana tidak, mereka tidak mungkin menyapa Brayen yang tengah menggendong Istrinya yang tertidur pulas.


Brayen merapihkan rambut Devita yang menutupi wajah cantiknya. Dia menatap bibir yang tipis, hidung yang mancung dan kulit yang putih. Rambut pirang tergerai indah. Devita memang sangat cantik di usianya yang 20 tahun saja dia terlihat sangatlah cantik . Tanpa di duga, Brayen mulai menyentuh bibir Devita dengan jemarinya.


"****!" Umpat Brayen. Dia segera menarik tangannya dan berjalan keluar kamar meninggalkan kamar .


Perlahan Devita mulai membuka matanya. Dia terkesiap, dirinya sudah berada di dalam kamar . Tapi tunggu, dia merasa kamar yang ia kenal. Ketika dia sadar, ini di pesawat pribadi milik Brayen.


"Apa yang dia yang menggendongku, katanya kalau tidak ingin bangun dia akan meninggalkankanku," gumam Devita sambil tersenyum.Lalu, Devita berjalan keluar kamar dan sudah di sambut oleh pramugari.


"God afternoon, Mrs. Mahendra," sapa salah seorang pramugari.


"Ya, apa kau melihat Brayen?" tanya Devita pada Pramugari cantik yang berdiri di hadapannya.


"Tuan Mahendra, ada di depan Nyonya," jawab Pramugari itu dengan sopan.


"Baiklah, terima kasih. " Devita meninggalkan pramugari itu, kemudian berjalan menuju ke arah Brayen yang sedang duduk, dia menatap Brayen yang sedang meminum whisky.


"Brayen," panggil Devita yang kini sudah berada di hadapan Brayen.


Brayen melirik ke arah Devita, " Kau sudah bangun?"


Devita menganguk, " Kenapa kau tidak membangunkanku?"


"Aku sudah membangunkanmu, tapi kau tidur seperti orang yang tidak ingin bangun lagi." tukas Brayen dingin.


"Kau ini, nanti kau akan merindukanku. Jika aku tidak bangun lagi!"


"Sudah, kau makan dulu. Aku sudah meminta pramugari untuk menyiapkan makan siang untukmu. Chicken griil dengan pasta aglio olio. Minumnya aku memesankan guava juice," balas Brayen.


"Good, kau tahu saja aku lapar," Devita langsung menikmati makanan yang sudah terhidangkan di hadapannya itu.


"Makanlah yang banyak, kau sangat kurus," Brayen menyesap whisky yang ada di tangannya sambil melihat Devita yang sedang makan.


Devita mencebik, " Kau ini, selalu mengatakan aku kurus! Lihat saja aku akan menjadi seorang model yang terkenal. Aku akan memamerkan lekuk tubuhku yang indah di hadapan publik!"


Brayen tersenyum miring dan berkata, "Jangan bermimpi kau menjadi seorang model, jika kau masih menyandang nama Mahendra di belakang namamu. Aku tidak akan membiarkannya."


"Kau terlalu banyak melarang ku, Tuan Brayen Adams Mahendra!" Geram Devita yang kesal. Brayen terlalu banyak melarang dan mengatur hidupnya.


"Dan aku rasa kau tahu jawabannya Devita Mahendra!" Balas Brayen dengan nada penuh penekanan.


Devita tidak membalas, dia malas jika harus berdebat dengan Brayen. Lebih baik dia menghabiskan makanannya dari pada harus berdebat dengan Brayen.


...****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.