Love And Contract

Love And Contract
Rencana Lucia Dan Tangisan Felix



Lucia bangkit dan menyalang dengan penuh kemarahan. "Aku tidak akan mati! Tapi aku pastikan istri Brayen akan mati! Kau lihat saja apa yang akan aku lakukan pada Devita! Dan tidak lama lagi kau akan mendengar berita kematiannya! Lagi pula Brayen belum mendapatkan semua bukti, jadi aku masih bebas dari segala tuduhan!"


Pria itu tersenyum miring. " Kau sangat percaya diri sekali Lucia! Kau bahkan tidak mengenal tentang Brayen! Jika berhubungan dengan Devita, dia tidak akan segan - setan untuk menghabisimu dengan tangannya sendiri!"


"Itu tujuanku meminta bantuanmu! Kau harus membantuku!" Seru Lucia.


"Atas dasar apa aku harus membantumu! Sudah aku katakan, aku tidak akan pernah membantumu!" Tukas pria itu.


"Atas dasar aku sudah tidur denganmu, sialan! Anggap saja itu bayarannya! Kau pikir bisa tidur denganku itu murah!" Balas Lucia dengan tatapan masih menatap tajam pria yang ada di hadapannya.


"Kita mabuk! Dan kau yang menjebak ku sialan! Jadi singkirkan pikiranmu kalau aku akan membantumu! Aku harus segera pergi ke Berlin!" Pria itu membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar.


"William Dixon! Kau harus membantuku, atau aku akan menyeret namamu dalam masalah ini!" Suara Lucia berteriak menggelegar.


William mengepalkan tangannya dengan kuat, dia berbalik dan menatap tajam Lucia. "Aku sudah katakan padamu Lucia Wilson, jangan pernah bermain denganku! Aku tidak memiliki waktu! Aku tahu tujuanmu saat itu datang ke klub malam hingga kau tidur denganku. Tujuanmu adalah agar aku mau membantumu bukan?"


William tersenyum sinis. "Sayangnya, aku tidak akan pernah membantu wanita sepertimu. Sekarang kau masih beruntung di lindungi oleh Edgar, tapi percayalah sebentar lagi kau akan segera tertangkap oleh Brayen. Dan dimana hari itu datang, kau akan merasakan. Karena harus kau tahu, nasib mantan kekasih dari Brayen berakhir di rumah sakit jiwa. Sekarang kau pilih Lucia, apakah nasibmu akan berakhir sama dengan mantan kekasih Brayen, atau kehilangan segalanya? Kau yang memulai ini Lucia, maka kau harus terima akibatnya."


William berjalan kembali melanjutkan langkahnya berjalan keluar. Rahang Lucia mengeras dia mengepalkan tangannya dengan kuat saat mendapatkan penolakan dari William. Segala umpatan kasar dari Lucia tidak membuat William menghentikkan langkahnya.


Lucia meremas rambutnya, kini pikirannya sangat kacau dia tidak tahu lagi harus melakukan apa. Bahkan dia tidak yakin jika Edgar bisa membantunya. Terdengar suara ketukan pintu dengan cepat Lucia langsung meminta untuk masuk.


"Nona Lucia," sapa Yeslin, asistennya saat masuk kedalam kamar.


"Kau masih juga muncul, setelah memberikan informasi yang salah!" Seru Lucia menatap tajam Yeslin yang berdiri di hadapannya.


Yeslin menundukkan kepalanya, "Maaf Nona, sungguh informasi yang saya dapatkan sudah benar. Ada dua pria yang menyukai Nona Devita. William Dixon dan Richard Alexander Dixon. Tapi Richard Alexander Dixon memang tidak ada di kota B. Hanya William Dixon yang menetap tinggal di sini.


Lucia membuang napas kasar, "Tapi William menolak untuk membantuku! Bahkan, aku sempat menawarkan kerja sama dengannya dan dia tetap tidak mau! Jika dia memang menyukai Devita harusnya dia menerima! Dengan begitu, dia bisa mendapatkan Devita dan aku bisa mendapatkan Brayen! Tapi kenapa pria sialan itu menolakku!"


"Nona, tapi saya sudah membaca data tentang William Dixon, dia tidak memiliki hubungan yang baik dengan Brayen. William pernah berselingkuh dengan Veronica mantan kekasih Brayen Adams Mahendra dan dia juga pernah berselingkuh dengan Elena, artis Italia yang merupakan kekasih dari Brayen Adams Mahendra." jelas Yeslin yang melaporkan semua informasi yang telah dia dapatkan.


Lucia mengepalkan tangannya dengan kuat, "Kenapa dia langsung menolak untuk bekerja sama denganku! Harusnya dia senang bukan, kalau aku mengajaknya bekerja sama!"


"Nona, mungkin Nona hanya memiliki satu pilihan. Itu harus segera Nona lakukan dan Nona tidak bisa lagi untuk menundanya." kata Yeslin yang berniat memberikan saran.


Lucia menatap lekat Yeslin. "Katakan padaku? Apa pilihan itu?"


"Nona bisa melarikan diri sekarang. Karena Visa Nona susah selesai. Selain itu, Nona bisa berangkat satu jam lagi dengan private jate milik keluarga Nona." ujar Yeslin yang membuat Lucia tersenyum.


"Kalau begitu kau siapkan semuanya. Jangan sampai ada yang tahu. Mungkin aku akan mengelabui mereka. Aku akan berlibur sebentar ke Korea mungkin setelah itu aku baru pergi ke Amsterdam." balas Lucia dengan seringai di wajahnya.


Brayen menatap Devita yang masih memejamkan matanya. Brayen mengelus rambut Devita, mengecupi puncak kepala istrinya. Sudah beberapa hari ini Devita masih belum juga sadar. Bahkan Dokter terakhir mengatakan tidak bisa memastikan kapan Devita bisa sadar.


"Sayang, kenapa kamu belum juga bangun, hm? Aku merindukanmu marah padaku. Aku merindukan kau yang selalu seperti anak kecil ketika aku selalu sibuk dengan pekerjaanku," suara Brayen terdengar parau. "Bangun, sayang. Aku begitu merindukanmu."


Brayen menggenggam tangan Devita mengecupinya berkali - kali. Air mata keluar dari sudut matanya. Sudah lama sekali, Brayen tidak melihat senyum di bibir Istrinya. Meski Brayen selalu berada di sisi Devita tapi dia tetap merasakan kehilangan sosok istrinya.


"Apa aku menganggumu?" Felix berjalan ke arah Brayen, dia sudah sejak tadi tiba di kamar rumah sakit Devita di rawat. Di saat seperti ini, pikirannya sangat kacau. Olivia sudah di temani oleh orang tuanya. Terkadang Felix tidak mampu melihat Olivia dengan begitu banyak luka di tubuh wanita yang dia cintai itu.


Brayen menatap Felix yang mendekat ke arahnya. "Bagaimana dengan Olivia?"


Felix tersenyum tipis, dia selalu berusaha untuk menahan air matanya. Namun tidak bisa. Pertama kali dalam hidup Brayen, melihat Felix dengan mata yang memerah. Brayen tahu, Felix sedang menahan air matanya.


"Aku akan melamarnya setelah dia sadar," jawab Felix.


Brayen mengagguk, " Dia wanita yang tepat untukmu."


Felix menundukkan kepalanya, tanpa sadar Felix meneteskan air matanya. Brayen melangkah mendekat ke arah Felix. Meski mereka selalu bertengkar, tapi Felix adalah sepupunya. Mereka tumbuh bersama. Brayen menepuk pelan bahu Felix "Aku pastikan akan memberikan pelajaran berharga pada wanita itu."


"Ya, aku percaya padamu, Brayen. Kau mampu untuk melakukan itu." jawab Felix. "Tapi Dokter mengatakan padaku, rahim Olivia mengalami luka yang cukup parah. Jika dalam beberapa hari masih tidak ada perubahan. Dokter mengatakan harus melakukan operasi angkat rahim pada Olivia." Felix menundukkan kepalanya, air matanya kembali menetes dia tidak sanggup dengan ini semua. Bahkan dia tidak akan pernah bisa mengatakan ini pada Olivia.


Brayen terdiam, setelah mendengarkan ucapan dari Felix, jika saja posisi itu ada di posisinya dia pasti sangat hancur. Impian Brayen adalah memiliki anak dengan Devita. Di sisi lain, Brayen sangat bersyukur jika Devita bisa selamat. Tapi kini dia harus hadapkan dengan sepupunya yang menangis.


"Aku akan membawa Dokter dari Russia dan Spain. Aku pastikan itu tidak akan terjadi." tukas Brayen dan Felix mengangguk lemah.


...*********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.