Love And Contract

Love And Contract
Pergi Kerumah Daddy Dan Mommy



"Morning Kak.... Morning Devita..." sapa Laretta ketika melihat Brayen dan Devita melangkah masuk kedalam ruang makan.


"Morning Laretta." balas Devita. Dia menyeret kursi lalu duduk tepat di samping Brayen.


Saat Devita sudah duduk, pelayan langsung mengantarkan omelette, sosis dan kacang merah untuknya. Sedangkan Brayen lebih memilih capuccino dan croissant.


"Kak, hari ini kau tidak pergi ke kantor?" tanya Laretta yang sejak tadi penasaran. Pasalnya Brayen tidak memakai pakaian formal kantor seperti biasanya.


"Tidak, hari ini kita akan pergi ke rumah Daddy dan Mommy." jawab Brayen sambil menyesap capuccino yang ada di tangannya.


"Jadi, Kakak dan juga Devita akan pergi ke rumah Mommy?" tanya Laretta memastikan.


"Ya, dan kau juga ikut!" Brayen meletakkan gelas cangkir yang berisi capuccino ke tempat semula. Lalu, dia mengambil koran yang ada di hadapannya.


"Aku?" Laretta mengerutkan keningnya. "Kemarin, aku baru saja dari rumahl Mommy dan Daddy. Lebih baik, aku tidak usah ikut. Hari ini, aku ingin melukis-"


"Kau bisa melukis di studio lamamu," balas Brayen tanpa melihat ke arah Laretta. Dia lebih memilih untuk membaca korannya.


"Tapi Kak, aku sudah nyaman dengan studio lukisku yang ada di sini?" jawab Laretta dengan helaan nafas yang berat.


"Tidak ada bantahan, Laretta." tukas Brayen.


"Laretta, benar apa kata Brayen. Lebih baik kau ikut. Nanti kita akan berkumpul dengan Mommy. Aku lebih suka jika kau juga ikut, Laretta." sambung Devita yang berusaha membujuk Laretta.


Laretta mengangguk setuju. "Baiklah, aku akan ikut."


"Kak, tidak biasanya kau pergi ke rumah Mommy dan Daddy mengajakku? Biasanya kau hanya berdua saja dengan Devita?" tanya Laretta bingung. Karena memang tidak biasanya, Kakaknya itu mengajak dirinya. Terlebih sejak Brayen menikah, dia jauh lebih sering mengajak Devita ketika berkunjung ke rumah orang tuanya.


"Kita akan kedatangan tamu?" jawab Brayen datar


"Tamu?" ulang Laretta. "Apakah Paman Austin atau Paman Abian yang akan datang?"


"Bukan? Lebih baik kau bersiap." balas Brayen. "Aku dan Devita akan menunggu di depan."


"Baiklah, aku bersiap - siap sekarang." Laretta beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan meninggalkan ruang makan menuju kamarnya.


Setelah selesai sarapan, Brayen dan Devita langsung menuju ke arah mobil yang sudah di siapkan. Hari ini, karena Brayen pergi kerumah orang tuanya, dia lebih memilih untuk bersama dengan sopir dari pada harus mengendarai mobil sendiri.


...***...


Sepanjang perjalanan, Brayen fokus pada Ipadnya. Dia tengah membalas email masuk dari sektretarisnya. Begitupun dengan Devita yang fokus pada ponselnya. Devita tengah membuka sosial media. Sudah lama sekali Devita tidak membuka sosial medianya. Sejak menikah dengan Brayen, jumlah followers Devita bertambah sangat banyak. Bahkan sekarang, Devita memilki pengikut hampir tiga juta. Hanya karena dirinya memposting foto liburannya bersama dengan suaminya.


Ketika Brayen dan Devita tengah sibuk masing-masing, Laretta lebih memilih untuk melihat keluar, ke arah jendela kaca mobil. Laretta menikmati cuaca yang begitu menyejukkan.


"Kak," panggil Laretta. Dia melirik ke arah Brayen yang tetap fokus pada Ipadnya.


"Ada apa?" Brayen menjawab tanpa melihat ke arah Laretta.


"Kemarin, aku bertemu dengan Mommy. Tapi Mommy tidak bilang padaku, jika hari ini kita kedatangan tamu, Kak." ujar Laretta. "Apa Mommy lupa kalau hari ini, kita akan kedatangan tamu, Kak?"


"Mommy dan Daddy belum tahu." jawab Brayen datar.


"Belum tahu? Jadi hanya kau yang tahu, Kak?" tanya Laretta yang semakin bingung.


"Ya, hanya aku yang tahu." balas Brayen. "Kau tidak usah bertanya lagi, nanti kau juga akan tahu."


Laretta menghela nafas dalam, dia mengangguk patuh. Karena jika Kakaknya sudah memerintah dia tidak mungkin berani melawan.


Devita mengerutkan keningnya, ketika mendengar percakapan Laretta dan juga Brayen. Karena memang, dia sendiri tidak tahu tamu yang di maksud oleh Brayen. Devita lebih memilih diam, dan tidak bertanya.


...***...


Para pengawal dan pelayan yang melihat Brayen, Devita dan juga Laretta mereka langsung menundukkan kepala mereka dan menyapa dengan sopan. Devita dan Laretta sama - sama tersenyum hangat ke arah para pengawal dan pelayan. Sedangkan Brayen hanya membalasnya dengan anggukan singkat.


"Mom...." panggil Laretta sedikit keras saat masuk kedalam ruang keluarga.


Seketika, Devita dan Laretta mematung. Saat mereka tiba di ruang keluarga, dan melihat tamu yang datang. Baik Devita dan juga Laretta menatap tak percaya, keluarga Angkasa berada di sini. Brayen, yang melihat Devita terdiam dia langsung menarik tangan Devita masuk kedalam ruang keluarga. Sedangkan Laretta masih tidak bergeming dari tempatnya.


"Sayang, kau sudah datang?" jawab Rena yang langsung beranjak dari tempat duduknya. Rena memberikan kecupan pada Devita dan Brayen. Kemudian Rena menarik tangan Laretta untuk masuk dan duduk di sampingnya.


"Paman Varell.... Bibi Citra...." sapa Devita dengan senyuman ramah ke arah Varell dan juga Citra.


"Apa kabar, sayang?" Citra memeluk Devita. Begitu pun juga dengan Varell yang memeluk Devita.


"Aku baik, bagaimana dengan kabar Paman dan Bibi?" tanya Devita.


"Kami semua baik," jawab Citra.


"Devita?" Alena mendekat, tapi terlihat jelas keraguan di diri Alena. Dia takut, jika Devita akan menolak dirinya.


Devita mengulas senyuman hangat, ketika Alena tidak berani melangkah ke arahnya. Devita langsung mendekat, dia memeluk Alena dan berkata. "Kau terlihat semakin cantik Alena."


Alena tersenyum dari dalam pelukan Devita, dia membalas pelukan Devita. "Kau bahkan jauh lebih cantik."


Kemudian, Alena kembali duduk di samping Angkasa. Begitu pun dengan Devita yang duduk di samping Brayen.


"Jadi, lebih baik kita lanjutkan percakapan kita tadi." sambung Rena dengan senyuman di wajahnya.


"Benar, aku setuju denganmu." balas Citra.


"Kau tahu, apa tujuanku untuk memintamu datang kesini?" tukas Brayen dingin dengan tatapan yang tidak bersahabat pada Angkasa yang duduk di hadapannya.


"Memintaku untuk melamar adikmu?" jawab Angkasa dengan santai. Dia menyilangkan kakinya, dan membalas tatapan Brayen.


Laretta menelan salivanya susah payah, ketika mendengar ucapan Angkasa. Kini suasana begitu menegangkan. Jika Brayen sudah bicara, baik David dan juga Rena memilih untuk diam. Mereka melimpahkan pembicaraan ini pada Brayen dan juga Angkasa.


Brayen tersenyum miring. " Percaya diri sekali. Bagaimana jika aku memiliki maksud tujuan lain?"


Angkasa mengedikkan bahunya acuh. "Aku rasa tidak mungkin. Kau hanya terus mengujiku. Karena pada akhirnya aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan adikmu.


Rena tersenyum, dia mendekatkan bibirnya ke telinga David dan berbisik. "Romantis sekali, sayang. Dulu kau tidak seperti itu. Aku kembali teringat saat kau melamarku di bawah kolong meja."


"Shut up!" Tukas David memberikan peringatan.


Devita yang duduknya tidak jauh dari mertuanya, dia masih bisa mendengar perkataan ibu mertuanya itu. Devita sedikit tersenyum ketika mendengar perkataan Rena.


...***...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.