
"Tidak! Aku tidak mau meninggalkan Indonesia! Kenapa aku harus meninggalkan negara ini? Kalian itu terlalu berlebihan dalam menyikapi suatu masalah!" Balas Raymond yang tidak terima jika harus di minta untuk meninggalkan Indonesia.
"Jika kau tidak mau meninggalkan Indonesia, jangan salahkan Papa akan mengambil alih seluruh hartamu! Bagian mu akan Papa batalkan! Kau pasti tidak akan bisa hidup tanpa harta bukan?Jadi, jangan berani kau menentang Papa!" Seru Gilbert penuh dengan ancaman.
Rahang Raymond mengetat dia mengepalkan tangannya dengan kuat. Memilih untuk tidak menjawab, Raymond melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.
"Raymond, kau mau kemana sayang?" suara Rosetta berteriak ketika Raymond pergi.
"Ma, biarkan! Jangan selalu membelanya! Lihatlah akibatnya jika kau terlalu memanjakan Raymond, membuat anak itu tidak memiliki aturan!" Tukas Gilbert.
"Pa, tapi Raymond-"
"Hentikan selalu membelanya! Anakmu itu memang salah! Harusnya Mama itu memberikan peringatan! Bukan membelanya!" Sentak Davin.
"Davin, Mama hanya tidak bisa melihat kalian menderita," balas Rosetta.
Gilbert menghela nafas kasar. "Tapi caramu itu salah dalam mendidik anakmu! Semakin kau membelanya, maka dia akan tidak bisa mengendalikan dirinya."
Rosetta menunduk, dia tidak mampu berkata-kata hingga kemudian Rosetta beranjak meninggalkan Davin dan juga Gilbert.
"Ma-" Davin berusaha menahan, namun Gilbert memintanya untuk membiarkan Rosseta untuk pergi.
"Biarkan Ibumu memikirkan perkataanku. Sudah waktunya ibumu itu harus mengerti, kalian berdua sudah bukan lagi anak kecil. Seharusnya ibumu juga harus bertindak pada Raymond," tukas Gilbert. Davin menggangguk patuh.
"Davin, Papa ingin bertanya padamu? Kenapa tidak ada pemberitaan di media tentang perkelahian Brayen dengan Raymond. Kemarin Raymond mengatakan kepada Papa, jika dia berkelahi dengan Brayen karena salah paham." kata Gilbert yang sejak tadi tidak bisa berhenti memikirkan masalah Raymond.
"Brayen itu tidak mungkin membiarkan namanya masuk kedalam pemberitaan buruk. Dia pasti sudah meminta asistennya untuk mengurus media." balas Davin.
"Lalu apa rencanamu yang selanjutnya?" tanya Gilbert.
"Aku akan mendatangi Brayen, aku berharap Brayen mau memaafkan Raymond. Meski aku tahu sifat Brayen yang tidak mudah memaafkan orang lain, tapi aku akan tetap berusaha," jawab Davin.
Gilbert menepuk bahu putranya. "Papa percaya padamu. Maafkan ulah Kakakmu karena kau harus terseret dalam masalah ini."
"Masalah Raymond juga masalahku, Pa. Aku tidak akan tinggal diam ketika dia mendapatkan masalah. Meski aku tahu, masalah ini muncul akibat dia sendiri yang membuatnya," ujar Davin. "Pa, aku harus pergi ke kantor Brayen sekarang."
Gilbert mengangguk singkat, "Salamkan permintaan Papa untuk Brayen. Lain waktu Papa akan bertemu dengan Brayen."
"Aku akan menyampaikannya." Davin membalikkan tubuhnya, lalu berjalan meninggalkan Gilbert. Hari Ini Davin akan berusaha untuk bertemu dengan Brayen.
...***...
Davin mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Dia tidak akan membiarkan masalah ini berlarut - larut. Setidaknya dia akan berusaha meminta maaf pada Brayen.
Davin membelokkan mobilnya, memasuki halaman parkir Mahendra Enterprise. Ini bukan pertama kali Davin ke perusahaan Brayen. Tentu saja dia cukup sering datang ke perusahaan milik Brayen.
Davin turun dari mobil, dia melangkah masuk kedalam lobby perusahaan dan segera masuk kedalam lift. Davin melirik arlojinya kini sudah pukul satu siang. Davin berharap bisa bertemu dengan Brayen.
Ting
Pintu lift terbuka, Davin keluar dari lift. Dia langsung menuju ke ruang kerja Brayen. Namun, langkah Davin terhenti ketika melihat asisten dari Brayen menghampirinya.
"Tuan Davin?" Albert sedikit terkejut Davin berada di hadapannya.
"Apa Brayen ada hari ini?" tanya Davin langsung.
"Maaf Tuan, apa sebelumnya Tuan Davin sudah memilki janji dengan Tuan Brayen?" tanya Albert hati - hati.
"Belum, aku belum memiliki janji dengannya. Tapi ada hal penting yang ingin aku katakan pada Brayen." jawab Davin.
"Maaf Tuan, tapi hari ini Tuan Brayen sedang tidak bisa di ganggu. Mungkin Tuan bisa kembali lagi nanti atau saya akan mengatur jadwal pertemuan untuk bertemu dengan Tuan Brayen."
"Aku mohon, ini sangat penting sekali. Aku butuh untuk bertemu dengan Brayen. Bisakah kau mengatakan padanya, kalau aku ada di sini?"
"Tuan, saya hanya takut jika Tuan Brayen menolak untuk bertemu."
"Tidak masalah, paling tidak aku mohon kau berbicara lebih dulu dengan Brayen.
"Terima kasih." balas Davin.
Kini Albert berjalan menuju ke ruang kerja Brayen. Paling tidak, saat ini Davin ada sedikit harapan bertemu dengan Brayen.
...***...
Brayen kini sedang duduk di kursi kebesarannya, dia baru saja menyelesaikan meeting. Pikiran Brayen masih terus memikirkan pria yang berani menganggu istrinya. Brayen tidak akan tenang sebelum memberikan pelajaran pada pria yang berani mengganggu istrinya itu.
Terdengar suara ketukan pintu, Brayen mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Dia langsung menginterupsi untuk masuk.
"Tuan," sapa Albert menundukkan kepalanya, saat masuk ke dalam ruangan.
Brayen menaikkan sebelah alisnya. "Bagaimana? Apa kau sudah menyelesaikan masalah media?"
"Sudah Tuan, segala berita tentang anda sudah berhasil di hapus." ujar Albert. "Selain itu, berita tentang Nyonya juga sudah terhapus."
"Pastikan tidak ada pemberitaan tentang diriku dan juga istriku," tukas Brayen dingin.
Albert mengangguk patuh, " Baik Tuan, saya yakin media tidak akan mungkin berani mencari masalah."
"Ya, mereka itu harus takut jika berani mencari masalah denganku." balas Brayen datar.
"Maaf Tuan, ada yang ingin saya katakan." ucap Albert hati - hati.
"Ada apa Albert?" Brayen mengerutkan keningnya menatap Albert yang berdiri di hadapannya.
"Ada Tuan Davin di depan ingin bertemu dengan anda. Karena sebelumnya saya sudah menyampaikan pada Tuan Davin, untuk menemui anda besok tapi sepertinya dia tidak bisa menunggu. Beliau memaksa saya untuk mengatakan ini pada Tuan, dia ingin bertemu dengan anda karena ada hal penting yang ingin dia katakan." ujar Albert.
Brayen membuang napas kasar, "Persilahkan dia masuk."
"Baik Tuan," Albert menundukkan kepalanya, lalu undur diri dari hadapan Brayen. Dan dia langsung mempersilahkan Davin untuk masuk kedalam ruangan Brayen
Tidak lama kemudian, Davin melangkah masuk kedalam ruang kerja Brayen. Kini Davin dan Brayen saling menatap satu sama lain. Jika Davin menatap Brayen dengan tatapan yang merasa tidak enak dan bersalah, berbeda dengan Brayen. Terlihat raut wajah penuh dengan amarah di wajah Brayen, tatapan Brayen begitu dingin pada Davin yang melangkah masuk kedalam ruang kerjanya.
"Apa kabar Brayen?" sapa Davin yang kini duduk di hadapan Brayen.
"Seperti yang kau lihat?" tukas Brayen dingin.
Brayen menyilangkan kakinya, dan menopang tangannya di ganggang kursi, dengan jemari yang saling bertautan. Pandangannya kini menatap Davin yang sudah duduk di hadapannya.
"Brayen, aku datang kesini sungguh ingin meminta maaf atas segala yang telah di lakukan oleh Raymond, Kakakku." kata Davin yang penuh dengan penyesalan.
"Kenapa kau tidak meminta Kakakmu itu untuk datang langsung di hadapanku? Kenapa harus di wakilkan olehmu?" suara Brayen terdengar begitu dingin, tersirat tidak suka jika Davin harus mewakilkan pria yang telah berani menganggu istrinya.
"Brayen, kau tenang saja. Orang tuaku akan segera mengirim Raymond ke Las Vegas. Dan aku pastikan, Raymond tidak akan pernah muncul lagi di hadapanmu Brayen. Kau pasti marah besar, terlebih Kakakku itu begitu berani menganggu istrimu. Tapi percayalah Brayen, aku pastikan itu tidak akan pernah terjadi lagi," ujar Davin dengan tatapan yang memohon agar Brayen mau memaafkan kesalahan Raymond.
Brayen masih diam, dia tidak langsung menjawab perkataan dari Davin. Brayen pun bisa melihat wajah penuh sesal Davin. Tapi bukan ini yang dia inginkan, kesalahan ada pada Raymond, pria yang sudah berani menganggu istrinya. Bukan pada Davin, meski mereka bersaudara tapi Brayen tidak perduli. Bagi Brayen, yang datang mengemis untuk meminta maaf padanya harus Raymond, bukannya Davin.
"Aku tahu, kau pasti tidak mudah untuk memaafkannya. Jika aku ada di posisimu, maka aku juga akan melakukan hal yang sama denganmu Brayen. Aku tidak mungkin dengan mudahnya memaafkan pria yang berani menganggu istriku. Tapi aku juga tidak mungkin hanya diam, ketika Kakakku mencari masalah denganmu Brayen. Aku sungguh tidak akan berdiam diri. Atas nama Raymond Kakakku, aku sungguh meminta maaf. Aku akan pastikan, dia tidak akan lagi mengusik kehidupanmu." kata Davin meyakinkan.
"Well, bukannya kau itu sudah sangat tahu? Aku bukan orang yang mudah memaafkan orang lain? Aku tidak sebaik itu, Davin Bautista," tukas Brayen dingin.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.