
"Tidak semua masalah bisa di selesaikan dengan amarah, Brayen Adams Mahendra!" Suara Felix berseru dari arah belakang. Dia melangkah mendekat ke arah Brayen.
"Kau di sini? Kenapa wajahmu?" Brayen menatap wajah Felix yang penuh dengan luka lebam. Felix berdiri di hadapan Brayen bersama dengan seorang wanita.
"Ivana Wilson, sudah menculik Devita dan Olivia!" Seru Felix. "Di sampingku adalah Monika Taylor. Sahabat Ivana Wilson."
"Ivana Wilson? Bicara yang jelas Felix! Kenapa Ivana menculik istriku!" Brayen menatap dingin ke arah Felix. Mendesak Felix agar mau menjelaskan padanya.
"Brayen, apa kau mengingat Beatrice?" Monika memberanikan diri untuk berbicara dengan Brayen.
"Aku tidak mengenalnya, dan aku tidak peduli dengan siapapun! Jelaskan kenapa Ivana Wilson menculik istriku!" Seru Brayen meninggikan suaranya.
"Apa kau mengingat gadis gemuk berkacamata tebal yang bernama Beatrice, yang pernah menyatakan perasaannya padamu? Ketika kau masih kuliah?" Monika menatap serius Brayen. Monika berkata dengan suara pelan.
"Aku tidak pernah mengingat gadis yang kau maksud! Sekarang katakan padaku, apa alasan Ivana Wilson menculik istriku! Aku tidak ingin berlama-lama. Jika kau menghambat dan terjadi sesuatu pada istriku, aku bersumpah akan membunuhmu di detik ini!" Desis Brayen tajam.
Felix membuang napas kasar. "Tenangkan dirimu Brayen! Kita pasti akan menemukan Devita dan juga Olivia. Bukan hanya kau saja yang mencemaskan istrimu, tapi aku juga mencemaskan kekasihku!"
"Brayen, Ivana Wilson adalah Beatrice. Dan dia adalah wanita yang ada di balik ini semua. Ivana merubah fisiknya dan berharap kau menyukainya. Tapi setelah dia kembali, kau tetap tidak membalas perasaannya." jelas Monika. "Saat dulu, kau menolak Ivana dia hampir bunuh diri dan beruntung, saat itu Felix menyelamatkannya."
Brayen mengepalkan tangannya dengan kuat, rahangnya mengetat. "Felix, cepat perbaiki CCTV! Wanita itu sudah meretas CCTV di jalan ini!" Geram Brayen.
Felix mengangguk. "Beri waktu untukku sepuluh menit."
"Lima menit! Jangan terlalu lama! Aku akan menghabisimu, jika terlalu lama!" Tukas Brayen tajam.
...***...
"Ah," ringis Olivia. Dia membuka matanya lalu mengedarkan pandangannya. Seketika dia terkejut, karena dia berada di sebuah atap gedung. Olivia menatap Devita yang tergeletak di tanah tidak sadarkan diri. Olivia hendak menghampiri Devita. Tapi ketika dia ingin beranjak berdiri. Dia menyadari jika tubuhnya sudah terikat sebuah tali.
"Sialan! Siapa yang sudah melakukan ini!" Geram Olivia.
Olivia berusaha melepaskan tali yang ada di tangannya, tapi dia tetap tidak bisa melepaskan ikatan itu. Olivia mengumpat pelan, tangannya semakin sakit karena terus berusaha melepaskan tali itu.
"Devita! Bangun Devita!" Suara Olivia memanggil dengan cukup keras. Dia tidak berhenti berusaha untuk melepaskan tali yang mengikat tangannya. Meski dia tahu, tangannya semakin terluka dan memerah, tapi dia tidak perduli. Olivia terus berusaha untuk melepaskan ikatan tali yang ada di tangannya itu.
Perlahan Devita mulai membuka matanya, samar - samar dia mendengar suara yang memanggil dirinya. Devita menyentuh kepalanya yang terasa begitu memberat, ketika dia tersadar dirinya sudah berada di sebuah atap gedung.
"Devita! Kau sudah sadar?" seru Olivia ketika melihat Devita sudah membuka matanya.
"O-Olivia?" Devita tersentak melihat, dia melihat Olivia yang sudah terikat dengan tali. Devita langsung bangun dan langsung menghampiri Olivia.
"Devita? Kau tidak apa-apa?" tanya Olivia cemas dan khawatir.
"Tidak Olivia. Aku tidak apa-apa. Kepalaku hanya sedikit sakit saja." jawab Devita. "Lalu, kenapa tubuhmu terikat tali seperti itu?"
"Aku tidak tahu, cepat bantu aku untuk melepaskan tali dan kita segera melarikan diri." tukas Olivia.
Devita mengangguk, dia langsung membantu Olivia melepaskan tali. Namun, berkali - kali Devita sudah berusaha, tapi tali itu sulit sekali untuk di lepas.
"Olivia, ini sulit sekali." Devita terus berusaha melepaskan tali itu, tapi tetap saja tidak bisa.
Olivia menghela nafas dalam. "Devita, lebih baik kau pergi. Kau bisa melarikan diri. Aku yakin Felix akan datang menyelamatkanku."
"Tidak! Aku tidak akan pernah pergi tanpamu!" Seru Devita.
"Devita! Ingatlah, kau ini sedang hamil. Pikirkan bayi yang ada di kandunganmu.Jika kau sudah keluar nanti, kau bisa meminta bantuan pada orang lain." kata Olivia yang berusaha untuk membujuk Devita.
"Tidak akan ada yang bisa keluar dari sini!" Suara seorang wanita berseru dari arah belakang, membuat Devita dan Olivia menoleh ke sumber suara itu.
Namun, seketika Devita dan Olivia terkejut, melihat sosok wanita yang melangkah mendekat ke arah mereka. Terlihat wajah Devita begitu menegang, menatap wanita itu. Begitu pun dengan Olivia, dia menatap tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.
"Senang bertemu denganmu Nyonya Mahendra," jawab Ivana dingin.
"Sialan! Kau yang menculik kami disini? Lepaskan kami!" Seru Olivia menatap tajam Ivana.
"Tutup mulutmu! Atau aku akan membuat dirimu tidak bisa lagi bicara!" Desis Ivana tajam.
"Wanita gila!" Umpat Olivia.
"Apa yang kau inginkan Ivana! Lepaskan aku! Brayen pasti akan datang dan memberikan pelajaran untukmu! Karena kau sudah berani menculikku!" Devita menatap tajam Ivana. Menatap dengan tegas dan penuh ancaman.
Ivana tertawa sinis. "Kau pasti akan terkejut melihat aku di sini! Kau telah merebut milikku! Dan sampai kapanpun aku tidak akan membiarkannya!"
"Siapa yang kau maksud? Aku tidak pernah merebut apapun darimu!" Seru Devita meninggikan suaranya. Namun, seketika Devita mengingat perkataan itu. Perkataan dimana dirinya di bilang merebut sesuatu."
"K-Kau, orang yang meneror diriku dengan nomor lain?" Devita menatap dingin Ivana. Dia berusaha menahan geraman dan kemarahan dalam dirinya.
Ivana kembali tertawa, kali ini dia tertawa mengudara. Hingga membuat Devita dan Olivia menatap Ivana dengan tatapan tak mengerti.
"Kau rupanya sangat cerdas Devita! Aku tidak menyangka, kau bisa mengingat perkataanku." jawab Ivana dengan seringai di wajahnya.
"Kau sudah kehilangan akal sehatmu! Apa yang kau inginkan!" Tukas Devita bingung.
"Kematianmu! Aku hanya ingin kau mati! Kau telah merebut Brayen dariku! Aku ingin kau mati!" Desis Ivana tajam.
Devita tersenyum sinis. "Brayen milikku! Dan aku tidak pernah merebut siapapun! Yang kau maksud itu adalah suamiku!"
Plaaakkk.
Ivana melayangkan tamparan yang begitu keras, hingga membuat Devita tersungkur di lantai. Olivia menjerit, dia berteriak histeris melihat Ivana menampar Devita.
"Wanita gila! Kau beraninya menyentuh sahabatku!" Bentak Olivia.
"Diam kau!" Balas Olivia penuh dengan peringatan.
"Ah," Devita meringis kesakitan, sudut bibirnya mengeluarkan darah. Beruntung, saat dia terjatuh dia memeluk perutnya.
Ivana menundukkan tubuhnya, dia menangkup kedua pipi Devita dengan kasar, "Jangan pernah sebut Brayen itu milikmu. Karena dia hanya milikku! Sejak dulu dia adalah milikku!"
"Tempatmu itu harus berada di rumah sakit jiwa! Kau sudah kehilangan akal sehatmu!" Devita berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan Ivana di pipinya.
"Ini semua karenamu! Kau telah merebut Brayen! Sejak dulu, aku berusaha untuk menyingkirkan kekasih Brayen! Dan sekarang aku pastikan, aku akan menyingkirkanmu!" Seru Ivana penuh dengan kemarahan. Tatapannya begitu menatap benci Devita.
...*********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.