
Angkasa bangkit berdiri dan mendekat ke arah Brayen. "Maafkan aku, tapi aku akan menikahi adikmu. Karena sekarang adikmu hamil anakku."
Brayen tersenyum sinis, " Kau pikir kau siapa? Kau pikir kau pantas menjadi suami adikku?"
"Aku memang tidak pantas, tapi setidaknya aku berusaha untuk menjadi yang terbaik," jawab Angkasa tegas. "Aku akan berusaha untuk memantaskan diriku. Kau tidak perlu khawatir. Aku akan membahagiakan adikmu.
"Beraninya kau mendekati adikku! Apa yang kau inginkan! Kau pikir aku hanya diam dan memberikan izin dengan mudah untuk menikah dengan adikku? Sayangnya tidak semudah itu. Kau lupa, adikku adalah putri di keluarga Mahendra. Bahkan, kau tidak pantas masuk kedalam keluarga Mahendra," tukas Brayen sarkas. Tatapannya menghunus tajam ke arah Angkasa dan penuh dengan permusuhan.
"Ya, kau benar. Aku tidak sebanding dengan keluargamu. Harusnya Tuan Putri dari keluarga Mahendra mendapatkan pria yang lebih hebat. Tapi kenyataannya membawa dia harus menikah denganku. Kau tahu, dia sedang mengandung anakku, aku rasa kau tidak akan mungkin membiarkan Laretta membesarkan anaknya seorang diri," balas Angkasa menatap dalam mata Brayen.
"Dengarkan aku! Aku bisa mengurus adikku tanpa kau! Kau pikir kau siapa! Kau terlalu banyak bermimpi. Aku memiliki hak untuk mengatur kehidupan adikku!" Seru Brayen meninggikan suaranya. Rahangnya mengetat dia mengepalkan tangannya. Tatapannya kini begitu menatap tajam Angkasa. Sedangkan Angkasa terlihat begitu lebih tenang di hadapan Brayen. Angkasa masih memilih diam, dia membiarkan Brayen meluapkan amarahnya.
"Brayen, jangan seperti ini," Devita menyentuh lengan Brayen. Memberikan ketenangan pada suaminya itu. "Lebih baik kita pulang sekarang Brayen. Kau pasti lelah,"
"Aku masih memiliki alasan dengan pria sialan ini!" Tukas Brayen dingin.
"Lebih baik kau pulang, Devita. Albert akan mengantarmu."
Devita menggelengkan kepalanya. "Aku tidak akan pulang, jika tidak denganmu, Brayen."
Brayen tidak menjawab, tatapannya kini kembali menatap tajam Angkasa. "Lebih baik kau pergi. Aku tidak ingin melihatmu! Kau tidak pantas untuk adikku!"
Angkasa membuang napas kasar. "Kau suka atau tidak suka. Aku akan menikahi Laretta. Aku tidak perduli meski kau melarangku."
Brayen menggeram, rahangnya mengetat. Tangannya terkepal begitu kuat. "Kau pikir kau siapa menikahi adikku? Kau sama sekali tidak pantas untuk adikku!" Seru Brayen meninggikan suaranya.
Angkasa terdiam, dia tidak langsung menjawab. Pandangannya melirik ke arah Devita, namun Devita tidak melihat sedikit pun. Devita hanya terus memeluk lengan Brayen dengan erat. Devita tidak ingin melihat Brayen bertindak kasar lagi.
Hingga kemudian, Angkasa menjawab. " Kau bisa mencari sesuatu tentang diriku. Dengan kuasa yang kau miliki tentu sangat mudah untuk mencari tahu tentang diriku!"
"Sebelum aku mengetahui siapa dirimu, maka kau jangan bermimpi bisa bertemu dengan adikku! Ingat aku bisa dengan mudahnya menghancurkanmu. Jadi, jangan pernah berani kau melawanku," desis Brayen tajam
Tatapannya penuh dengan peringatan.
Angkasa tersenyum mendengar ucapan Brayen. Kemudian dia mendekat, tatapannya menatap lekat ke arah Brayen. " Aku tidak akan melawanmu, Brayen Adams Mahendra. Tapi kau harus ingat, Laretta itu sedang mengandung anakku, kau menyukainya atau tidak itu tidak akan merubah keadaan."
"Sialan! Geram Brayen. Dia hendak melayangkan pukulannya pada Angkasa.
Namun dengan cepat, Devita langsung menarik lengan Brayen. " Tidak Brayen.Lebih baik kita pulang,"
Brayen berusaha mengendalikan emosinya, lalu menatap dingin Laretta. " Kau ikut denganku, kita pulang sekarang,"
Laretta mengangguk patuh.
" Maaf Tuan Angkasa, sepertinya pembicaraan dengan suamiku sampai di sini. Aku tidak ingin perdebatan semakin panjang," tukas Devita dengan menatap mereka saling pandang, tapi Devita langsung mengalihkan kembali pandangannya.
Brayen mengikuti permintaan Devita untuk meninggalkan ruangan. Brayen menggenggam tangan Devita meninggalkan ruangan. Tangan kiri Devita menggenggam tangan Laretta. Hati Devita begitu bergemuruh, entah apa yang di rasakannya saat ini. Tapi ini seperti mimpi. Pria yang pernah dia tunggu, ternyata muncul kembali. Meski Devita sudah tidak lagi mencintainya, tapi Devita memiliki rasa kecewa padanya.
"Maafkan aku Devita," Angkasa menatap nanar Devita yang mulai menghilang dari pandangannya. Tatapan matanya terlihat begitu merindukan wanita itu. Namun, takdir berkata lain. Wanita itu kini telah menikah. Angkasa masih tidak bergeming, meski Devita sudah menghilang dari pandangannya, tapi dia terus menatap ke depan. Terlihat wajah Angkasa yang berharap, Devita kembali berada di hadapannya.
...***...
Di dalam mobil suasana hening. Brayen duduk di kursi depan. Sedangkan Laretta dan Devita duduk di kursi penumpang. Devita menatap keluar jendela, dia tidak tahu harus apa. Kenapa harus bertemu dengan Angkasa dengan keadaan yang seperti ini.
"Jadi, wanita yang ada di media itu adalah Laretta,". batin Devita. Hatinya bergemuruh, dia membenci Angkasa karena telah menghamili Laretta. Bagaimana jika Brayen tahu, Angkasa adalah pria yang pernah di cintai oleh Devita? Devita yakin jika Brayen menyadari Angkasa Nakamura adalah Angkasa yang pernah Devita tunggu dan pernah Devita cintai. Brayen pasti tidak akan menyetujui hubungan Laretta dan Angkasa.
Tidak boleh, Devita tidak akan membiarkan Brayen tidak menyetujui hubungan mereka. Laretta tengah hamil, bagaimanapun juga Laretta harus bersama dengan Angkasa. Devita ingin anak itu tumbuh dengan kedua orang tua yang lengkap.
Tidak lama kemudian mobil sudah tiba di mansion. Brayen, Devita dan Laretta masuk ke dalam mansion. Brayen lebih dulu masuk ke dalam mansion meninggalkan Laretta dan juga Devita. Devita tahu, Brayen masih dengan emosinya, Devita membiarkan Brayen untuk menenangkan dirinya.
Devita membawa Laretta masuk kedalam kamar tamu. Devita memilih kamar tamu yang berada di lantai dua. Devita tidak memilih kamar tamu yang dekat dengan kamarnya. Devita kini tahu perasaan Laretta terus merasa bersalah. Devita juga meminta pelayan mengantarkan susu hangat untuk Laretta.
"Laretta, lebih baik kau istirahat," kata Devita saat mereka masuk ke dalam kamar.
"Devita, bisakah kau menemaniku saat ini? Aku sangat membutuhkanmu," ucap Laretta dengan tatapan yang lembut ke arah Devita
Devita tersenyum, " Aku akan menemanimu," balas Devita kemudian mereka duduk di sofa kamar.
"Apa kau membenciku, Devita?" tanya Laretta dengan suara yang lemah. Terlihat raut wajahnya yang terlihat begitu muram.
Devita menatap dalam mata Laretta. "Kenapa aku harus membencimu, Laretta? Aku bahkan tidak memiliki alasan untuk membencimu."
"Aku sudah membuat Daddyku masuk ke rumah sakit. Kakakku juga pasti sangat membenciku," jawab Laretta lirih.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.