Love And Contract

Love And Contract
Brayen Dan William



William tersenyum sinis. " Sepertinya seorang Brayen Adam Mahendra, sedang berjaga - jaga agar Istrinya tidak aku rebut? Begitu maksudmu?" balas William, lalu dia beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Brayen.


"Kau terlalu percaya diri jika berpikir Devita akan jatuh ketanganmu. Bagaimana bisa kau tidak punya malu berniat mendekati seorang wanita yang sudah berstatus sebagai Istriku? Aku rasa hanya pria yang tidak tahu malu, yang bisa melakukan hal itu! Aku sungguh kasihan padamu, selalu menginginkan wanita yang telah menjadi milikku," tukas Brayen sarkas.


"Satu kali lagi yang harus selalu kau ingat, aku bisa dengan mudah melarang Istriku bertemu dengan siapapun. Sejak saat dia sudah resmi menjadi Istriku, nama belakangnya bukan lagi menjadi Smith. Tetapi dia adalah Devita Mahendra!" Lanjut Brayen pada penuh peringatan.


Mendengar ucapan dari Brayen rahang William mengeras. Dia mengepalkan tangannya dengan kuat. William terus melayangkan tatapan tajam pada Brayen.


Tujuan Brayen datang memang ingin membuktikan kepada William. Jika wanita yang William sukai adalah Istrinya yang tidak mungkin William dapatkan. Lagi pula isi perjanjiannya dengan Devita selama tiga tahun. Itu artinya Brayen masih menang dan bisa tersenyum puas di saat William kalah.


Brayen memang sengaja memberi izin kepada Devita untuk magang di Dixon's Group. Awalnya Brayen ingin melarang, tapi sepertinya dia suka membuat William merasakan kekalahannya. Itu kenapa Brayen membiarkan Devita untuk magang di Dixon's Group.


William tersenyum sinis, tatapannya masih terus menatap penuh kebencian pada Brayen yang ada di hadapannya, "Bagaimana, kalau nanti Istrimu jatuh cinta padaku?"


"Kau terlalu percaya diri William Dixon. Apa yang kau miliki hingga membuat seorang Istri dari Brayen Adams Mahendra tertarik padamu?" balas Brayen dengan senyuman yang mengejek ke arah William.


William menggendikkan bahunya acuh. "Kita tidak pernah tahu tentang perasaan seorang wanita. Bisa saja, Istrimu nanti aku akan jatuh cinta kepadaku,"


"Lebih baik kau jangan terlalu bermimpi jauh! Kau bisa mencari wanita lain yang bisa kau jadikan permainanmu!" Seru Brayen dengan tatapan yang tajam. "Buang mimpimu itu untuk mendekatinya apalagi untuk mendapatkan Istriku. Aku sudah tahu, apa yang ada di pikiranmu sejak awal kau menatap Istriku,"


"Dan aku peringatkan padamu, untuk jangan pernah mendekati Istriku! Atau kau akan tahu akibatnya William Dixon's!" Peringat Brayen tajam. Kemudian Brayen membalikkan tubuhnya berjalan meninggalkan William.


Sedangakan William terus menatap kepergian Brayen. Terlihat jelas di wajah William kini sedang berusaha mengendalikkan amarahnya. Rahang Brayen mengetat, dia mengepalkan sebelah tangannya dengan kuat.


...***...


Devita dan Olivia baru saja selesai training dengan Ms. Lauren. Mereka di berikan pembelajaran mengenai pemasaran suatu produk pada costumer. Bukan hanya itu, mereka juga mendapatkan pembelajaran mengenai cara bernegosiasi dengan client.


Saat Devita dan Olivia tengah duduk dan menikmati hot chocolate mereka, pandangan Devita dan Olivia menatap Brayen berjalan keluar. Pria itu melirik ke arah Devita, namun Devita tidak tersenyum, dia hanya melirik dan melanjutkan langkahnya.


"Devita, jadi memang benar Brayen ada di sini?" tanya Olivia yang terus menatap kepergian Brayen.


"Iya, dia mengantarku. Entah kenapa dia mengantarku hari ini. Dan karena dia juga aku jadi tidak membawa mobil hari ini," jawab Devita. "Tidak hanya itu, tapi Brayen juga nanti sore akan menjemputku pulang. Aku rasa Brayen sedang sakit,"


"Apa hubunganmu dengan dia yang sedang sakit?" tanya Olivia mengerutkan keningnya, menatap bingung Devita.


Devita membuang napas kasar. "Tentu dia sakit, karena tidak biasanya dia itu mengantarku. Biasanya dia menjemput dan mengantarku karena paksaan dari Mommynya."


Olivia yang mendengar ucapan Devita langsung mencubit lengan sahabatnya itu. "Kau ini bodoh sekali! Apa hubungannya mengantarmu dengan dia sakit! Jika Brayen mengantarmu, itu artinya dia menunjukkan rasa perhatiannya padamu!" Balas Olivia kesal.


"Jangan bicara yang tidak - tidak Olivia. Kau tahu sendiri, Brayen itu sangat menyebalkan. Sudahlah, lebih baik kita makan saja. Aku lapar!" Devita sengaja mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin mendengarkan perkataan Olivia yang tidak - tidak.


...***...


Brayen duduk di kursi kerjanya, sembari menyesap wine di tangannya. Brayen sungguh sangat puas mengejek William. Rasa menang di dirinya benar - benar membuatnya sangat senang. Sudah sejak lama, ini yang ingin Brayen lakukan.


Brayen menyeringai ketika melihat raut kemarahan di wajah William. Tidak hanya itu, hari ini Brayen juga sengaja menjemput Devita. Dia ingin menunjukkan jika dirinya akan selalu menang melawan William Dixon.


Terdengar suara ketukan pintu, Brayen mengalihkan pandangannya melihat ke arah pintu. Kemudian Brayen langsung menginterupsi untuk masuk.


"Tuan," sapa Alberlt saat menundukkan kepalanya saat masuk ke dalam ruang kerja Brayen.


"Ada apa?" tanya Brayen dingin..


"Tuan, sore ini Tuan ada meeting dengan salah satu perusahaan yang ada Sydney " kata Alberlt mengingatkan.


"Maaf Tuan, apa anda yakin ingin menunda pertemuan ini?" tanya Alberlt memastikan. Pasalnya selama dia bekerja di Mahendra Enterprise, ini pertama kalinya Brayen membatalkan pertemuan dengan client hanya karena seorang perempuan. Alberlt jelas mengetahui jika Elena adalah kekasihnya yang tinggal di Milan saja tidak pernah sampai harus membatalkan pertemuan dengan client.


"Ya, katakan permohonan maaf dariku, karena menunda pertemuan," tukas Brayen dengan dingin seolah tidak perduli.


"Baik Tuan, saya akan sampaikan." jawab Alberlt.


"Sekarang kau boleh pergi dan lanjutkan pekerjaanmu,"


Albert mengangguk patuh, lalu dia undur diri dari hadapan Brayen.


Brayen menyandarkan punggungnya di kursi. Dia memejamkan mata lelah. Terpaksa dia harus menjemput gadis kecil itu, karena tadi pagi dia sudah mengantar Devita.


Sebenarnya bisa saja Brayen meminta Devita untuk naik taksi. Tapi entah kenapa dia tidak tega untuk melakukan hal itu. Selain itu, Brayen tidak ingin terjadi sesuatu pada Devita. Karena gadis kecil itu yang nantinya akan merepotkan dirinya sendiri. Itu yang membuat Brayen, mau tidak mau dan terpaksa harus menjemput gadis kecil yang paling suka cari masalah dengannya itu.


...****...


Waktu sudah sore, Devita dan Olivia mereka berjalan ke arah lobby perusahaan, karena Devita tidak membawa mobil, tentu saja Brayen harus menjemputnya. Devita melirik arlojinya sudah pukul enam sore tetapi mobil Brayen belum juga muncul.


Devita membuang napas kasar, ketika dirinya berada di lobby perusahaan tapi Brayen belum juga datang. Padahal, sebelumnya Devita sudah mengatakan, jika tidak bisa menjemput, pria itu bisa meminta sopir untuk menjemputnya.Tapi tetap saja, Brayen ingin sendiri untuk menyebut dirinya."


"Devita kalau suamimu tidak bisa menjemput, aku bisa kok mengantarmu pulang,"kata Olivia yang tengah menemani Devita di lobby perusahaan.


"Tidak perlu, mansionmu dengan mansion Brayen sangat jauh. Nanti kasihan kau harus bolak - balik," ujar Devita, dia tidak enak jika harus di antar oleh Olivia. Meskipun Olivia tidak keberatan, tetapi bagaimanapun Olivia seorang perempuan. Jarak mansion Olivia dan milik Brayen tidak searah.


"Tapi kau harus menunggu lama seperti ini. Dan aku tahu, kau sangat membenci jika kau menunggu lama," balas Olivia. Sebagai sahabat Devita sejak kecil, tentu saja Olivia sangat tahu sifat dari sahabatnya. Devita terkenal membenci jika harus menunggu lama.


"Tidak apa - apa. Aku menunggu Brayen saja. Lebih baik kau pulang Olivia. Aku bisa menunggu sendiri. Lagi pula masih banyak karyawan yang lembur, jadi perusahaan tidak akan langsung kosong." ujar Devita. Dia kasihan jika Olivia harus menemani dirinya di Lobby.


"Kau yakin?" tanya Olivia yang tidak tega jika harus meninggalkan Devita sendirian di Lobby.


Devita mengangguk. "Besok kau masih harus bangun pagi.Lebih baik kau segera pulang dan beristirahat."


"Baiklah, kalau begitu aku duluan.Jika membutuhkan sesuatu kau harus menghubungiku," balas Olivia.


"Iya Olivia. Kau pulanglah dan jangan berisik" tukas Devita.


"Kau malah mengatakan aku berisik!"Cebik Olivia kesal. " Ya sudah, aku pulang sekarang!"


Devita tersenyum kemudian berkata, "Ya hati - hati,"


...****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.