
"Are you ready? I need to be inside of you now," bisik Brayen. Devita mengangguk pasrah.
Brayen mulai membuka kedua kaki Devita, perlahan dia memulai penyatuannya. Devita menjerit keras saat Brayen mulai menghentakkan miliknya. Ada penghalang keras namun Brayen terus mendesaknya tanpa memperdulikan jeritan Devita.
Air mata Devita mulai keluar dan dari sudut matanya. Dengan wajah yang memohon dan merintih kesakitan. " Akh! It's so pain Brayen. Please take it out." Devita berusaha mendorong dada Brayen, namun sia - sia.
Brayen menggeram, menahan erangan. "It will be fine Devita. Hanya sakit sebentar," geram Brayen. Dia memejamkan matanya menikmati setiap hentakannya pada tubuh Devita. Devita mendongakkan kepalanya, saat Brayen menghentakan miliknya dengan keras. Devita terus mendesah dan mengerang. Rasa sakit perlahan mulai terobati dengan kenikmatan.
"Katakan jika kau milikku Devita, please." bisik Brayen serak. Dia mencium sudut mata Devita yang mengeluarkan air mata.
"Ya, aku milikmu Brayen," desah Devita.
Brayen tidak henti menghentakkan miliknya. Dia menambah temponya dengan cepat dan Devita kembali menjerit. Suhu di kamar ini terasa begitu panas. Bahkan AC di kamar tidak terasa bagi mereka.
Hingga akhirnya Devita merasakan cairan hangat memasuki tubuhnya. Tubuh Brayen ambruk di atas tubuh Devita, kemudian Devita membaringkan tubuhnya di samping tubuh Devita. Brayen menarik Devita agar berada di dalam pelukannya. Napas Devita memburu, dia mulai terengah - engah. Badannya terkulai dengan lemah.
Mata Brayen menatap bercak darah di sprei putihnya. Dia tersenyum puas, kini dirinya telah memiliki Devita seutuhnya. Pengalaman pertama Brayen dengan gadis yang masih virgin. Dia merasa beruntung bisa memiliki Devita sepenuhnya.
"Terima kasih sayang," Brayen mengecup puncak kepala Devita, dia memeluk erat tubuh Istrinya.
Devita tidak menjawab dia masih mengatur nafasnya. Tubuhnya sangat remuk bahkan dia merasakan sangat perih di bagian bawahnya.
"Tidurlah," Brayen semakin mengeratkan pelukannya.
Perlahan Devita mulai menutup kedua matanya, tapi tidak dengan Brayen. Dia terus menatap Devita, mengelus dengan lembut pipi Devita. Dia tidak menyangka akan jatuh cinta pada Istrinya sendiri. Bahkan di awal pernikahan mereka sudah membuat perjanjian itu.
Brayen sudah tidak bisa lagi membohongi dirinya. Semakin dia menghindar dari kenyataan, dirinya semakin akan merasakan tersiksa. Hatinya tidak bisa melihat Devita bersama dengan pria lain. Devita hanya untuknya, dan selamanya Devita adalah miliknya. Brayen tahu akan ada hati yang terluka. Tapi dia tidak bisa untuk kehilangan Devita, tahu akan ada hati yang terluka. Tapi dia tidak bisa untuk kehilangan Devita.
Brayen menatap Devita yang sudah tertidur di dalam dekapannya, dia menarik dagu Devita mengecup dengan lembut bibir Devita. "Kau sudah membuatku kehilangan akal sehatku Devita. Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya, tapi kau merubah semuanya," bisik Brayen.
Brayen memeluk erat Devita, kemudian dia mulai memejamkan matanya. Menyusul Devita dalam mimpi indahnya.
...***...
Brayen menatap Devita yang masih tertidur pulas dengan tubuh polos yang hanya terbalut oleh selimut. Dia merapihkan rambut Devita yang menutupi wajah Devita. Dia mengelus dengan lembut pipi Devita.
Brayen masih tidak percaya ini terjadi, kecemburuannya melihat Devita dengan pria lain membuatnya mengungkapkan perasaannya. Tapi dia tidak menyesal, karena menikahi gadis sepolos Devita. Mungkin ini memang sudah takdirnya dengan Elena. Kini Brayen hanya mencari cara berbicara dengan Elena.
Perlahan Devita mulai membuka matanya, menggeliat dan merasakan tubuhnya remuk, "Awww," jerit Devita menahan perih, tubuhnya sangat sakit. Bahkan di bagian bawahnya dia merasakan perih. Bagaimana tidak? Brayen meminta lagi tadi malam. Hingga membuat tubuh Devita kini terasa sangat sakit.
"Are you oke? Maafkan aku jika tadi malam aku menyakitimu," Brayen memeluk erat Devita. Dia tidak tega melihat istri kecilnya kesakitan akibat ulahnya.
Devita menunduk dia tidak berani menatap Brayen. Sungguh demi Tuhan Devita merasa sangat malu. Dia mengingat apa yang di lakukannya tadi malam. Oh astaga, Devita sepertinya sudah kehilangan akal sehat. Bagaimana dia sudah tidak virgin di usianya yang masih 20 tahun. Masih sangat muda. Terlebih Devita selalu mengikuti budaya negara Ibunya. Devita sungguh malu menatap Brayen. Pikirannya terus membayangkan yang terjadi tadi malam.
Brayen tersenyum miring, " Malu Hem?" suara Brayen yang begitu menggoda Devita.
Brayen terkekeh kecil, Istrinya memang sangat menggemaskan. " Kau sudah menjadi wanita dewasa Devita, bukan lagi gadis muda," bisik Brayen di telinga Devita, hingga membuat Devita bergidik.
"Ini karena mu! Ah, aku sungguh malu! Bagaimana aku berbicara dengan Olivia nanti!" Gumam Devita. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa harus malu? Kau ini sudah menikah, jadi tidak masalah kita melakukan s-" Devita langsung menutup mulut Brayen dengan telapak tangannya.
"Jangan di lanjutkan Brayen! Bagaimanapun aku masih dibawah umur!" Geram Devita kesal.
Brayen menarik tangan Devita, dan mengecup punggung tangan Devita. "Kau tahu kenapa aku menyukaimu?"
Devita menggeleng dan berkata, " Tidak,"
"Apa kau ingin mengetahuinya?" Brayen mengelus lembut pipi Devita.
"Karena aku cantik?" kata Devita dengan senyumannya.
"Bukan hanya itu, kau sungguh menggemaskan. Kau menunjukkan dirimu apa adanya. Kau menunjukkan sifatmu yang begitu polos. Apa pun tingkahmu selalu membuatku tersenyum berada di dekatmu," kata Brayen. Tatapannya tidak lepas menatap lekat manik mata Devita.
"No! Kau bukan tersenyum di dekatku. Tapi kau menertawakan ku!" Seru Devita.
"Right! Itu artinya kau begitu menggemaskan. Kau satu - satunya gadis yang membuatku tertawa," Brayen mencubit pipi Devita yang begitu menggemaskan.
Devita mengulum senyumnya. " Sudahlah, aku harus membersihkan diri. Aku harus ke kantor hari ini."
Brayen menahan tangan Devita, "Tunggu kenapa tadi malam kau bisa bersama dengan Richard?"
Devita memutar bola matanya malas, padahal tadi malam dia sudah menjelaskan. "Aku tidak bisa bersama dengan Richard. Kemarin malam adalah ulang tahun Olivia. Kau bisa memeriksa tagihan kartu kredit yang kau berikan. Kemarin siang aku membeli tas LV keluaran terbaru hadiah untuk Olivia. Malamnya aku harus datang ke pesta ulang tahun Olivia,"
"Kenapa kau tidak memberitahuku, jika ulang tahun Olivia di adakan di klub malam? Usia kalian itu masih muda. Lalu kenapa ada Richard di sana?" seru Brayen dengan tatapan tidak suka.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.