Love And Contract

Love And Contract
Shopping



Devita menatap cermin, menata rambut panjangnya. Kini Devita telah bersiap-siap, karena pada hari ini Brayen akan mengajaknya ke Las Vegas Strip. Sebenarnya Devita ingin sekali memakai stiletto. Tapi tidak mungkin karena dirinya itu sedang hamil. Jika Devita tetap memaksa, dia yakin suaminya itu akan melemparkan tatapan tajam padanya.


Cuaca di Las Vegas hari ini begitu menyejukkan, musim semi salah satu musim yang Devita sukai. Kalau saja ini musim panas, Devita pasti tidak mau berlibur. Meskipun Devita memang sekarang tinggal di Indonesia dengan iklim tropis. Namun Devita sedikit kurang menyukai musim panas. Biasanya saat dirinya tinggal di Kanada Devita datang ke pantai, di saat musim semi atau musim gugur.


Dengan cuaca yang begitu mendukung, Devita memilih memakai outerwear dan stocking hitam. Tidak lupa dengan boots yang membuat penampilannya sangat cantik dan menawan. Devita melirik arlojinya kini sudah pukul sembilan pagi. Pantas saja Devita sudah merasa lapar. Devita berjalan menghampiri Brayen. Dan ternyata suaminya itu tidak ada. Devita mendengus kesal, terakhir Brayen keluar kamar karena menjawab telepon dari Albert.


"Brayen kenapa lama sekali!" Gerutu Devita. Terpaksa Devita harus menunggu suaminya itu.


Ceklek.


Pintu terbuka, Brayen melangkah masuk kedalam kamar. Baru saja Devita duduk di sofa, Brayen sudah masuk kedalam kamar. Devita beranjak dan langsung menghampiri Brayen.


"Kau ini menghubungi Albert seperti sedang menghubungi kekasihmu saja! Lama sekali!" Devita mencibir kesal.


Brayen mengulum senyumannya, dia langsung memeluk pinggang istrinya. "Maaf sayang, tadi Albert membahas beberapa proyek."


"Tapi kita sedang liburan Brayen! Kenapa kau masih saja memikirkan pekerjaanmu!" Keluh Devita.


Brayen menangkup kedua pipi Devita, dan memberikan kecupan bertubi-tubi di bibir istrinya itu. "Maaf sayang... ,"


Devita mencebik, "Sudahlah, aku lapar dan kita belum sarapan."


"Baiklah, kita turun sekarang." balas Brayen.


Devita mengambil tasnya lalu memeluk lengan Brayen dan berjalan meninggalkan kamar. Devita yakin, Olivia dan juga Laretta sudah menunggunya sejak tadi. Tapi Devita tidak mungkin meninggalkan Brayen. Meski kesal, tapi Devita lebih menyukai breakfast bersama dengan suaminya.


...***...


Devita dan Brayen berjalan keluar dari lift. Devita menatap Olivia sudah berada di ruang breakfast. Devita melangkah bersama dengan Brayen ke arah Olivia dan juga Laretta.


"Morning, maaf aku terlambat" sapa Devita yang merasa tidak enak. Dia langsung duduk di samping Brayen.


"Morning, aku juga baru datang." balas Laretta.


"Morning Devita," sapa Angkasa.


Devita tersenyum dan balik menyapanya. "Morning Angkasa."


"Hi Kakak Ipar," sapa Felix.


"Hi Felix." balas Devita.


"Devita, apa kau ini tidak lapar? Datang lama sekali." Olivia mendengus kesal.


"Kau tanya dengan suamiku ini saja yang selalu sibuk dengan pekerjaannya," balas Devita sedikit melirik ke arah Brayen yang tengah menyesap kopi di tangannya.


Olivia terkekeh pelan. "Ternyata benar apa yang di katakan oleh Laretta. Semua pria di sini akan selalu membawa pekerjaannya meskipun mereka tengah berlibur. Felix juga sangat sibuk tadi malam. Bahkan Ipadnya sekarang jauh lebih penting dariku."


"Olivia," tegur Felix yang tidak suka mendengar ucapan Olivia.


"CK! Itu memang kenyataannya. Kau itu sejak kemarin selalu sibuk dengan Ipadmu. Lihat saja besok aku akan mencuri Ipadmu. Dan kau tidak akan bisa lagi membalas email!"Seru Olivia.


Devita mengulum senyumannya lalu menatap suaminya. "Brayen, apa nanti malam aku mengambil ponselmu saja? Biar kau tidak memikirkan pekerjaan?"


"Kalau kau mengambil ponselku. Aku tinggal beli ponsel yang baru." jawab Brayen dengan santai. Devita mendengus mendengar ucapan suaminya itu.


Laretta melirik ke arah Angkasa yang berpura - pura tidak mendengar percakapan itu. Dan Angkasa lebih memilih untuk menikmati makanannya. Kali ini Angkasa memang bersyukur, terkadang Laretta sering mengerti dirinya. Hanya sesekali Laretta mengeluh, tapi lepas dari itu, Laretta jauh lebih mengerti Angkasa.


"Brayen, lebih baik untuk siang ini kita berkunjung ke Grand Canal Shoppes." kata Devita yang memberikan usul.


"Aku setuju!" Seru Laretta dan Olivia bersamaan.


"Felix, aku ingin pergi kesana?" ucap Olvia membujuk Felix dengan tatapan yang memohon.


Dan tidak ada pilihan lain, Felix hanya mengangguk pasrah. Begitu pun dengan Laretta yang membujuk Angkasa, dan tidak ada pilihan lain selain menyetujuinya.


"Brayen, kau juga setuju kan?" tanya Devita sambil menatap suaminya dengan tatapan yang berbinar dan tersenyum manis, agar suaminya itu menuruti dirinya.


Brayen pun terpaksa mengangguk. "Ya, nanti aku akan meminta pelayan untuk ikut dengan kita."


"Apa kau sudah meminum vitamin dan obat yang di berikan oleh Dokter Keira?" tanya Brayen.


"Sudah sayang," Devita langsung memeluk lengan Brayen. "Pastinya aku tidak akan lupa untuk meminum vitamin dan obat penguat kandungan."


"Kak Brayen, Devita.... Kita harus berangkat sekarang." Laretta sudah tidak sabar lagi untuk segera berangkat ke tempat shopping.


"Oke, let's go." seru Devita.


Kemudian mereka beranjak dan berjalan ke depan. Sopir sudah menjemput tadi pagi. Mereka masuk kedalam mobil. Tidak lama kemudian, sopir melajukkan mobilnya meninggalkan lobby hotel.


...***...


Grand Canal Shoppes, mall yang di pilih oleh Devita untuk menghabiskan waktu berbelanjanya dengan Olivia dan juga Laretta. Alasan Devita memilih tempat ini, karena saat Devita membaca di internet mall di dekat Venetian hotel dan Casino. Venetian Hotel adalah hotel yang sangat Devita sukai. Saat Devita pergi ke Italia dan Macau, dirinya selalu memilih tinggal di Venetian Hotel. Tidak hanya itu, alasan lainnya Devita memilih Grand Canal Shoppes, karena dekat dengan The Palazzo di Las Vegas Strip.


Karena pada waktu sore hari di Las Vegas Strip Devita bisa melihat berbagai pertunjukan dan atraksi. Kehidupan malam di Las Vegas memang sangat terkenal. Itu kenapa sejak dulu Devita ingin berlibur ke Las Vegas. Dan meski terlambat tapi Devita sangat senang akhirnya bisa pergi berlibur dengan suami dan keluarganya.


Kini Devita dan Brayen sudah tiba di Grand Canal Shoppes. Laretta dan Olivia sudah tidak sabar untuk mengunjungi butik - butik brand favorit mereka. Angkasa dan juga Felix menatap malas saat memasuki Grand Canal Shoppes.


"Brayen, aku ingin berbelanja? Apa kau ingin ikut kedalam?" tanya Devita.


"Tidak, lebih baik aku menunggumu di sini saja." Brayen memanggil pelayan, dan meminta amplop cokelat berisikan uang cash.


"Kau pegang ini, kalau kau membutuhkan cash." Brayen menyerahkan amplop cokelat itu pada Devita. Meski Brayen sudah memberikan kartu kredit, tapi Brayen selalu mengingat kebiasaan istrinya yang tidak pernah memilki uang cash.


"Tapi kenapa ini banyak sekali, Brayen?" tanya Devita yang tak percaya sambil menatap suaminya yang memberikan uang cash dalam jumlah yang tidak sedikit.


"Aku tidak mungkin memberikanmu sedikit!" Tukas Brayen. Devita mengulum senyumannya, kemudian Devita langsung memberikan kecupan singkat dari bibir suaminya itu.


"Angkasa, kau juga menunggu di sini?" tanya Laretta.


"Ya, aku di sini saja." jawab Angkasa kemudian mengeluarkan dompet dan memberikan black card kepada Laretta.


"Eh? Tidak usah Angkasa." tolak Laretta yang tidak enak. Karena selama ini dirinya masih memiliki kartu kredit dari Brayen.


"Aku tidak mungkin membiarkanmu berbelanja dengan uang Kakakmu. Pakai ini, sekarang kamu itu adalah tanggung jawabku." Angkasa memaksa Laretta untuk menerima kartu kreditnya.


Laretta tersenyum, "Terima kasih, Angkasa."


...******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.