
"Apa yang kau inginkan Brayen Adams Mahendra!" Raymond menggeram penuh dengan amarah. Napasnya memburu, dia mengepalkan sebelah tangannya dengan kuat.
"Kau bertanya padaku, apa yang aku inginkan?" Brayen tersenyum miring. "Aku rasa kau itu sudah tahu jawabannya! Aku tidak ingin kau menganggu istriku! Aku tidak ingin kau muncul lagi di hadapanku dan juga istriku! Dan jangan pernah berani lagi kau menganggu Istriku! Jika aku tahu sekali lagi kau masih menganggu istriku, maka aku akan melenyapkanmu di detik ini juga!"
"Ternyata sosok Brayen Adams Mahendra yang terkenal arrogant, begitu tunduk dan takut kehilangan istrinya!" Tukas Raymond dengan penuh sindiran.
Brayen meletakkan gelas sloki di tangannya ke tempat semula, dia terus menatap sinis Raymond yang berada di hadapannya. Brayen tidak langsung menjawab, dia tetap tersenyum sinis pada Raymond.
"Jika menurutmu aku tunduk dan takut pada istriku, aku tidak perduli. Karena istriku memang milikku, dan tidak ada yang bisa mengambilnya dariku."
Brayen menjawab dengan santai, dia mengetuk pelan meja dengan jemarinya. Tatapannya tetap menatap tajam dan sinis pada Raymond.
"Dengar Raymond Bautista! Jika di detik ini, kau masih bisa duduk di kursi kepemimpinanmu Itu semua karena aku yang masih berbaik hati kepadamu. Jika aku menginginkan kehancuranmu maka di detik ini juga kau akan kehilangan segalanya Raymond Bautista!" Seru Brayen. "Lebih baik kau menghilang saja dari hadapanku, sebelum kau kehilangan segalanya! Aku tidak sebaik yang kau pikirkan. Aku bisa mengubah hidupmu dalam hitungan detik, dan aku juga bahkan bisa membuatmu berada di ambang kehancuran!"
Brayen mengatakan dengan suara tegas, namun tetap terlihat tenang. Brayen masih menatap Raymond yang terlihat sangat marah dan menatap tajam dirinya. Ini adalah akibat jika berani bermain - main dengannya. Jika itu menyangkut Devita, Brayen tidak akan pernah tinggal diam untuk itu. Brayen akan menghancurkan siapapun yang berani menganggu kehidupannya dengan istrinya.
"Allright," Raymond mengangkat kedua tangannya, seolah dirinya menyerah dengan segala serangan yang Brayen berikan padanya. Hingga kemudian, Raymond beranjak dari tempat duduknya. Untuk beberapa saat mereka menatap satu sama lain dengan tatapan yang dingin dan saling membenci.
"Cara licikmu memang mampu untuk melumpuhkan lawanmu. Tapi percayalah Brayen Adams Mahendra. Akan ada di masa depan orang yang membalaskan dendam karena sikapmu ini. Kau menggunakan kekuasaanmu untuk menghancurkan musuh-musuhmu. Aku rasa akan ada begitu banyak musuhmu yang terlampiaskan padamu nanti. Dan jika itu tidak terjadi pada dirimu, maka itu bisa akan terjadi pada anakmu. Dan di saat hari itu datang, aku adalah orang pertama yang akan menertawakanmu."
"Bersenang hatilah untuk sekarang, kau bisa menang. Karena selamanya kau tidak akan pernah bisa terus menang. Ada saat dimana masa kehancuranmu akan tiba dan para musuh - musuhmu sedang menunggu hari itu tiba!"
Suara Raymond terdengar sangat tenang, namun tersirat penuh dengan dendam dan kemarahan. Kemudian Raymond, membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Brayen.
"Kau bahkan melupakan satu hal Raymond Bautista, sifatku ini hanya karena melindungi milikku dari orang sepertimu! Tapi, aku tekankan padamu, sebelum musuhku akan menghancurkanku, maka aku akan berada di depan untuk melenyapkannya. Aku tidak akan pernah diam, jika ada yang berani melukai keluargaku. Aku akan selalu berada di depan untuk melindungi keluargaku!"
"Dan aku ingin ingatkan lagi padamu, anak - anakku nanti akan lahir dari keturunan Mahendra. Mereka tidak akan lemah, mereka akan sangat mampu untuk melawan musuh - musuhku. Aku tidak akan pernah membiarkan anak - anakku menjadi orang yang lemah. Anakku akan memilki kekuasaan melebihi yang aku miliki!"
"Lebih baik, kau itu berpikir tentang masa depanmu. Hidupmu itu sungguh menyedihkan. Bahkan aku tidak yakin, kau akan mampu menjaga anak dan istrimu dengan baik!"
Perkataan Brayen begitu tajam, membuat Raymond yang hendak meninggalkan ruang kerja Brayen langsung menghentikan langkahnya. Raymond melihat Brayen dari sudut matanya.
Mendengar perkataan dari Brayen, Raymond tetap bungkam dan tidak mampu untuk berbicara. Dia mengepalkan tangannya dengan kuat, kemudian dia memilih untuk melanjutkan lagi langkahnya meninggalkan ruang kerja Brayen.
Brayen tersenyum sinis ketika melihat Raymond menghilang dari pandangannya. Brayen tahu, Raymond begitu marah mendengar ucapannya. Tapi itu memang tujuan Brayen.
Brayen menekan tombol interkom, dia meminta Albert untuk masuk ke dalam ruang kerjanya. Tidak lama kemudian, Albert melangkah masuk kedalam ruang kerja Brayen.
"Tuan, sapa Albert yang kini berada di hadapan Brayen."
Albert mengangguk patuh. "Baik Tuan."
"Satu lagi, jangan langsung pulihkan perusahaan milik Raymond Bautista. Biarkan pulih secara bertahap." balas Brayen. "Dan kau jangan mengutik perusahan milik Davin. Karena aku tidak ada urusan dengan Davin."
"Baik Tuan." jawab Albert.
"Aku ingin kau pastikan Raymond menjauh dari kehidupanku dan juga Istriku. Jika sampai dia berani menganggu Istriku, maka aku akan tidak berbaik hati padanya. Aku pastikan dia akan hancur jika dia kembali menganggu Istriku lagi." tukas Brayen tajam.
...***...
Devita menyentuh sebuah gaun model Helter Top Dress. Gaun berwarna merah ini benar - benar sungguh sangat indah. Tadi pagi Devita meminta Viona untuk mengirimkan gaun rancangan terbarunya. Devita kali ini tampil tidak terlalu seksi seperti di pertunangan Davin. Karena Devita tidak ingin berdebat dengan suaminya hanya karena masalah gaun. Lebih baik Devita memilih gaun yang sedikit tertutup, namun tidak mengurangi classy dari gaun yang Devita pilih.
Kini Devita mengganti pakaiannya, dengan gaun yang dia pegang itu. Lalu memoles wajahnya dengan menggunakan makeup tipis. Devita membiarkan rambut pirangnya tergerai dengan indah.Tidak lupa lipstik yang berwarna senada dengan gaun yang dia pakai malam ini. Warna merah, membuat penampilan Devita malam ini sangat cantik.
Devita mengambil tas dan ponselnya, dia mengirimkan pesan kepada Brayen jika dia akan segera berangkat ke pesta itu. Setelah mengirimkan pesan pada Brayen, Devita langsung berjalan meninggalkan kamarnya.
Saat Devita sudah tiba di bawah, dia melihat Laretta yang terlihat sangat cantik dengan gaunnya yang berwarna silver. Devita pun tersenyum, lalu berjalan menghampiri Laretta.
"Kau sangat cantik, Devita." puji Laretta yang sejak tadi tidak henti menatap Devita.
"Kau juga sangat cantik Laretta." balas Devita.
Laretta tersenyum. "Lebih baik kita berangkat sekarang."
...********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.