Love And Contract

Love And Contract
Kembalinya William Dixon



Setelah mengambil libur dua minggu untuk menemani Devita, hari ini Brayen sudah kembali ke perusahaan. Kini Brayen sedang membaca laporan yang di berikan oleh Felix. Dia membuka setiap lembaran laporan yang ada di tangannya itu. Felix yang duduk di hadapan Brayen, dia menatap Brayen yang tengah membaca laporan darinya.


"Kenapa kau tidak berani mengambil keputusan ini?" Brayen menutup laporan yang dia baca, lalu meletakkannya kembali ke atas meja. "Kau bisa mengambil keputusan, jika membutuhkan dana tambahan untuk proyek ini."


Felix membuang napas kasar dan menatap lekat Brayen. "Kau sudah tahu jawabannya Brayen! Aku memiliki limit untuk penarikan dana di Mahendra Enterprise. Hanya kau dan Paman David yang bisa mengeluarkan dana besar di Mahendra Enterprise."


Brayen menyambar pena di hadapannya, dan dia langsung menandatangani dokumen yang di berikan oleh Felix. Kemudian dia langsung memberikannya pada Felix.


"Aku akan meminta Albert untuk memberikan batas penarikan dana hingga satu miliar dollar. Selanjutnya, kau tidak perlu memerlukan persetujuanku jika membutuhkan tambahan dana." Tukas Brayen dingin.


Felix menggangguk. "Ya, baiklah. Aku akan mengurus proyek ini dengan baik."


"Brayen, aku dengar Paman Austin akan pulang ke Indonesia. Apa itu benar?" tanya Felix penasaran.


"Ya, Daddy bilang Paman Austin akan pulang ke Indonesia karena Kak Eldrick akan menikah dengan Clara?"


"Wow, ini adalah berita yang luar biasa! Aku tak menyangka Kak Eldrick akan menikah dengan putri dari keluarga Alvarendra. Kalau begitu, calon keponakanku nanti pasti akan bertambah. Aku sudah tidak sabar ingin segera di panggil Uncle" ucap Felix antusias.


"Berlebihan sekali!" Tukas Brayen. "Lalu, kapan kau akan menikah dengan Olivia? Dan bisa segera di panggil Daddy oleh anakmu?" sindir Brayen.


"Jangan menyindirku Brayen!" Tukas Felix penuh dengan peringatan. "Olivia masih belum mau cepat untuk menikah." sambung Felix.


Brayen terkekeh pelan. "Kau memang sangat sabar menunggu Olivia."


"Itulah yang dinamakan kekuatan cinta."


"Felix, aku dengar kau akan ke Kanada? Apa itu benar? Dan berapa lama kau akan di Kanada?"


"Mungkin dua minggu. Aku sudah ingin menemui kekasihku? Aku ingin menemui Olivia. Setelah ini kau harus mengizinkanku untuk libur." tukas Felix menekankan.


Brayen membuang napas kasar. "Aku hanya akan memberikanmu waktu libur selama satu minggu dan tidak lebih. Karena proyek kerja sama dengan Wilson Grup ini, masih membutuhkanmu."


Felix langsung tersenyum puas. "Kau tenang saja aku harus segera kembali ke ruanganku."


Kemudian, Felix beranjak berdiri lalu mengambil dokumen yang sudah di tanda tangani Brayen dan meninggalkan ruang kerja Brayen. Namun, saat Felix hendak meninggalkan ruang kerja Brayen, langkahnya terhenti ketika melihat Albert berjalan masuk kedalam ruang kerja Brayen. Albert menyapa dan menundukkan kepalanya pada Felix. Sedangkan Felix hanya membalas dengan anggukan singkat, lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan ruang kerja Brayen.


"Ada apa Albert?" tanya Brayen dingin saat Albert sudah berada di hadapannya.


"Maaf Tuan, saya hanya ingin memberitahu. Ada Tuan William Dixon mencari anda, Tuan." jawab Albert menundukkan kepalanya.


"William Dixon?" Brayen menautkan alisnya, dan menatap dingin Albert. "Untuk apa dia kesini?" suara Brayen terdengar begitu tidak suka mendengar William datang ke perusahaannya.


"Kau tidak menyukai kedatanganku Brayen Adams Mahendra?" suara bariton menerobos masuk kedalam ruang kerja Brayen.


Brayen langsung mengalihkan pandangannya. Tatapannya menghunus tajam ketika melihat William menerobos masuk kedalam ruang kerjanya. Dia langsung mengibaskan tangannya, memberikan isyarat agar Albert meninggalkan ruang kerjanya. Kemudian, Albert menundukkan kepalanya, lalu melangkah meninggalkan ruang kerja Brayen.


"Ada apa kau kembali ke kota B?" suara Brayen bertanya begitu dingin dan tatapan tidak suka melihat William datang.


"Aku tidak suka berbasa-basi! Katakan untuk apa kau datang perusahaanku!" Tukas Brayen dingin.


William mengedikkan bahunya, dia menyambar botol wine yang ada di hadapannya. Lalu menuangkan ke gelas sloki kosong. Kemudian, dia mengambil gelas sloki yang berisi wine, dan menyesapnya. "Aku ingin menyapamu sebagai teman lamaku. Kau tenang saja, aku tetap lebih menyukai tinggal di Berlin dari pada di kota B. Dan salah satu tujuanku kesini, tentu untuk mengunjungi perusahaanku."


"Aku bukan teman lamamu! Lebih baik kau pulang sebelum aku meminta security untuk mengusirmu," balas Brayen dengan tatapan yang tetap menghunus tajam ke arah William.


William tersenyum tipis, dia kembali menyesap winenya. Jika Brayen menatap William dengan tatapan yang tajam. Namun, sangat berbeda dengan William, yang menatap Brayen dengan tatapan yang begitu santai tidak seperti biasanya.


"Lebih tepatnya, aku datang kesini karena anak buahku sudah melaporkan tentang Beatrice Ivana Wilson." ujar William dengan nada yang begitu santai.


Brayen membuang napas kasar. "Untuk apa kau kesini hanya untuknya? Jika kau bertanya tentang kematiannya, lebih baik kau bertanya pada Alan Wilson, Ayah dari Ivana Wilson."


"Well, sayangnya Alan Wilson tidak mengetahui tentang Beatrice yang menjebakku tidur dengan Veronica." jawab William dengan seringai di wajahnya.


"Kau sudah mengetahuinya?" Brayen menaikkan sebelah alisnya, dan tatapannya masih menghunus pada William. "Atau, sejak dulu kau itu sudah mengetahui jika Beatrice yang sudah menjebakmu?"


William mengangguk, "Ya, kau benar. Sejak dulu, aku sudah tahu. Apa sekarang kau marah, karena aku tidak memberitahumu sejak awal?" William bertanya dengan nada yang mengejek pada Brayen.


Brayen tersenyum sinis. "Kau salah! Aku bahkan berterima kasih padamu. Karena sudah memilih untuk tidak memberitahuku. Pada akhirnya, aku bisa bersama dengan Devita. Dan bukan dengan wanita lain."


William menyeringai. "Ah, kau benar. Kau seharusnya berterima kasih padaku Brayen. Karena aku memilih diam dan membuat hubunganmu dengan Veronica akhirnya hancur."


"Jika dulu kau memang sangat menyukai Veronica, kenapa kau tidak menikah dengannya?" seru Brayen dengan nada yang menyindir. "Aku rasa, tujuanmu itu hanya ingin melihat kehancuranku. Bukan karena menginginkan Veronica. Tapi sayangnya, aku itu tidak mudah untuk kau hancurkan, hanya karena hubunganku dengan Veronica harus berakhir."


William tertawa rendah. "Kau selalu buruk menilaiku Brayen Adams Mahendra. Baiklah, aku akan berkata jujur padamu. Sejak awal aku tahu, Beatrice yang sudah menjebakku. Dan aku membiarkan hubunganmu dengan Veronica hancur. Aku ingin melihat, bagaimana pria arrogant sepertimu menghadapi kenyataan wanita yang dia cintai mengkhianatinya. Tapi rupanya, dulu kau tidak terlalu mencintai Veronica. Karena jika kau mencintai Veronica, kau tidak mungkin melupakannya."


"Kau sudah tahu jawabannya William Dixon. Tidak ada yang penting dengan wanita yang ada di masa laluku. Aku sudah menikah dan memiliki kehidupan dengan Devita. Jangan lagi membahas tentang masa laluku. Karena aku tidak ingin mendengarnya." Tukas Brayen dingin dengan nada penuh peringatan.


...*********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.