Love And Contract

Love And Contract
Kedatangan Selena



Devita menyentuh tangan Laretta dan menepuk pelan punggung tangan wanita itu. "Aku percaya Brayen, tidak akan mungkin melakukan hal itu Laretta. Selama ini Brayen memang terlihat begitu kejam di depan orang, tapi aku yakin dia tidak akan mungkin melakukan hal seperti itu."


Ketika Devita dan juga Laretta tengah berbicara, percakapan mereka terhenti ketika channel berita pagi ini. Devita dan juga Laretta kini mengalihkan pandangan mereka, menatap televisi yang berada di hadapan mereka.


*Berita pagi ini datang dari putri pengusaha Varell Nakamura yang bernama Alena Nakamura. Informasi terakhir yang di dapat, Alena Nakamura sudah beberapa minggu ini berada di dalam penjara. Putri dari keluarga Nakamura ini, tengah berurusan dengan pengusaha muda Brayen Adams Mahendra. Tuduhan yang di dapat Alena Nakamura adalah pencemaran nama baik terhadap adik dari Brayen Adams Mahendra yang bernama Laretta Gissel Mahendra*


Devita menyambar remote televisi, dia langsung mematikan berita televisi itu. Devita menatap Laretta yang wajahnya berubah sedih dan menjadi muram. Devita mendekat, dia mengelus lengan adik iparnya itu. Memberikan ketenangan untuk adik iparnya itu.


"Laretta, semua akan baik - baik saja. Jangan pernah menyalahkan dirimu." Dia tahu, saat ini Laretta pasti sedang menyalahkan dirinya sendiri. Terlebih dengan berita pagi ini, membuat Laretta terkejut. Meski Devita tahu, Alena memang bersalah, tapi jujur saja Devita juga merasa kasihan pada Alena.


"Devita, kasihan Alena...." air mata Laretta berlinang membasahi pipinya. Devita memeluk Laretta, mengusap punggung adik iparnya itu.


"Laretta, jujur aku juga kasihan pada Alena. Tapi apa yang dia lakukan padamu, telah melebihi batas. Perkataan Alena telah melukai hatimu Laretta. Memang bera, tetapi Alena harus mendapatkan pelajaran dari apa yang telah dia lakukan," balas Laretta. "Aku mohon padamu, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ini bukan kesalahanmu."


Laretta mengurai pelukannya. Matanya memerah, dia masih terisak. "Aku berharap hukuman untuk Alena semoga tidak berat, Devita. Aku sungguh kasihan padanya."


"Aku juga berharap demikian, semoga hukuman untuk Alena tidak berat. Nanti aku akan berusaha untuk membicarakan ini pada Brayen." ujar Devita. "Lebih baik kau tenangkan dirimu, Laretta. Aku hanya tidak ingin mendengar, kalau kau selalu menyalahkan dirimu lagi."


...***...


Brayen duduk di kursi kebesarannya, sembari menyesap wine yang ada di tangannya. Sudah tiga minggu dirinya tidak bertemu dengan Devita. Pikirannya tidak bisa berpikir jernih saat ini. Terlalu banyak masalah yang datang belakangan ini. Terlebih kenyataan istrinya menutupi sesuatu darinya.


"Tuan," sapa Albert menundukkan kepalanya saat masuk kedalam ruangan Brayen.


Brayen menaikkan sebelah alisnya. " Ada apa?"


"Saya ingin melaporkan tentang Alena Nakamura, Tuan." jawab Albert. " Pagi ini, sudah ada berita lagi tentang Alena Nakamura yang tengah berada di dalam penjara. Dan saya yakin, dalam beberapa hari kedepan Nakamura Group akan mengalami penurunan saham."


Brayen menyeringai puas, dia menggerakkan gelas sloki di tangannya berirama. "Itu pantas mereka dapatkan, aku masih berbaik hati tidak langsung menghancurkannya."


"Tapi Tuan, beberapa kali Angkasa Nakamura. Ingin mencoba bertemu dengan anda." ujar Albert.


"Jika dia datang kesini, kau langsung usir dia. Aku tidak mau bertemu dengannya." tukas Brayen dingin.


"Maaf Tuan, tapi apa Tuan tidak ingin mendengar penjelasan dari Angkasa Nakamura?" kata Albert hati - hati. "Terakhir yang saya dengar, keluarga Nakamura begitu kacau ketika Alena Nakamura masuk dalam penjara. Varell Nakamura sama sekali tidak membantu putrinya. Ini benar-benar di luar dugaan saya, Tuan. Saya pikir, Varell Nakamura akan membantu putrinya untuk keluar dari penjara. Tapi ternyata tidak, Varell Nakamura malah membiarkan putrinya mendapatkankan hukuman atas apa yang telah di lakukan oleh putrinya."


Brayen tersenyum sinis. "Well, rupanya Varell Nakamura masih memiliki cara berpikir yang bagus. Dia tidak ingin mencari masalah denganku. Aku akui, dia sungguh memiliki kecerdasan yang di gunakan dengan baik. Karena, jika sampai dia berani melawanku. Maka, di detik ini juga dia akan berada di ambang kehancurannya."


Brayen meletakkan gelas sloki di tempatnya semula, dia menyandarkan punggungnya di kursi. Brayen sudah tahu ini semua akan terjadi saat dirinya akan menjebloskan Alena kedalam penjara. Perusahaan Nakamura akan mengalami penurunan saham, bukan hanya itu tapi Varell Nakamura tidak berani melakukan apapun.


"Tuan, saya juga ingin menyampaikan. Nyonya Devita selalu menghubungi saya untuk menanyakan kabar, Tuan." ujar Albert. "Nyonya Devita sangat khawatir pada Tuan yang belum juga pulang ke rumah selama beberapa minggu ini."


"Biarkan!" Tukas Brayen. "Aku sedang tidak ingin bicara dengannya. Biarkan dia memikirkan kesalahannya."


"Tapi, Tuan. Sebentar lagi hari kelulusan Nyonya." jawab Albert "Apa anda tidak akan datang di hari kelulusan Nyonya?"


Brayen membuang napas kasar. "Aku tidak tahu! Kau cukup awasi adik dan juga istriku, aku tidak ingin mereka bertemu dengan keluarga Nakamura."


Albert mengangguk patuh. "Baik Tuan."


Terdengar suara interkom masuk, Brayen menautkan alisnya saat mendengar suara interkom masuk dari sekretarisnya. Kemudian dia menekan tombol penerima.


"Tuan Brayen, maaf menganggu tetapi ada tamu yang ingin bertemu dengan anda." jawab Raisa dari sebrang telepon.


"Jika tamuku yang datang berasal dari keluarga Nakamura, aku tidak ingin bertemu."


"Tidak Tuan, yang datang bukan berasal dari keluarga Nakamura."


"Siapa yang datang?" Brayen mengerutkan keningnya.


"Nona Selena Martinez, dia datang ingin langsung bertemu dengan anda Tuan?"


"Selena Martinez? Untuk apa dia datang menemuiku?"


"Beliau mengatakan ada hal penting yang ingin dia katakan pada anda, Tuan."


"Tolak dia, aku tidak ingin di ganggu oleh siapapun."


"Tapi Tuan-"


Panggilan terputus, Brayen langsung menekan tombol untuk mengakhiri panggilan. Saat ini, Brayen memang tidak ingin di ganggu oleh siapapun. Brayen mengibaskan tangannya memberikan isyarat pada Albert untuk meninggalkan ruangannya. Albert menunduk, lalu undur diri dari hadapan Brayen.


"Apa ini caramu menolakku Brayen Adams Mahendra?" suara seorang perempuan berseru, dia menerobos masuk ke dalam ruang kerja Brayen.


"Tuan, maaf Nona Selena memaksa untuk masuk," Raisa berlari menyusul menerobos masuk ke dalam ruang kerja Brayen.


"Kau pergi Raisa, biarkan wanita ini masuk." tukas Brayen. Raisa menggangguk patuh, lalu undur diri dari hadapan Brayen.


Brayen menatap dingin Selena yang melangkah mendekat ke arahnya, wanita itu duduk di hadapannya.


"Kenapa kau tidak pernah menyambutku dengan ramah Brayen?" tanya Selena dengan nada kecewa. Karena memang selama ini Brayen selalu menolak dirinya, meski hanya ingin berbicara sebentar, tapi Brayen tidak pernah mau bicara dengannya.


"Aku tidak memiliki banyak waktu untuk berbasa - basi! Katakan apa tujuanmu datang kesini?" seru Brayen.


Selena mendesah pelan. "Apa kita tidak bisa berteman Brayen? Kenapa kau selalu bersikap dingin dan tidak ramah padaku? Apa kau membenciku, karena aku menyukaimu?"


"Aku tidak berteman dengan wanita!" Tukas Brayen menekankan. "Katakan kenapa kau ada di sini? Jangan membuang waktuku!"


...******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.