Love And Contract

Love And Contract
Di Jemput Felix



Devita bisa melihat Brayen begitu menyesal. Bahkan ketika Brayen tertidur, dia tidak berhenti menyebut nama Devita. Tapi entah kenapa meski Brayen mengatakan dirinya sangat membutuhkan Devita, hati Devita masih belum bisa untuk menerima semuanya.


Saat ini Devita masih membutuhkan waktu untuk memikirkan semuanya, ia masih ingin berdamai dengan keadaan. Mau tidak mau Brayen harus tetap menghargai apa yang telah Devita putuskan.


Devita mendesah pelan, dia kembali melirik jam dinding. Tidak mungkin hari ini dia bisa kuliah, sedangkan Brayen sedang sakit seperti ini. Devita mengambil ponselnya di atas nakas dan mengirim pesan pada Olivia sahabatnya.


Devita : Olivia, hari ini aku tidak akan ke kampus. Kalau hari ini ada tugas, tolong beritahu aku.


Olivia : Kau tidak ke kampus? Kenapa? Kau sakit?


Devita : Bukan aku, tapi Brayen.


Olivia : Brayen bersama denganmu?


Devita : Panjang ceritanya. Jangan lupa kalau ada tugas beritahu aku.


Olivia : Ya, tenang saja.


Devita kembali menyimpan ponselnya di atas nakas, dia menoleh melihat Brayen yang masih tertidur pulas. Devita menghubungi pihak hotel untuk membawakan breakfast ke kamarnya. Setelah itu, dia langsung beranjak ke kamar mandi. Dia harus membersihkan diri.


Terdengar suara dering ponsel milik Brayen, perlahan Brayen mulai membuka matanya saat mendengar dering ponsel miliknya. Dia menatap kesamping Devita sudah tidak ada. Tangannya menyentuh kompresan dan hampir terjatuh, Brayen meletakkan itu di atas meja. Tadi malam dia demam, itu yang dia pikirkan saat ini. Brayen mendengar suara gemercik air dari kamar mandi, istrinya pasti kini sedang membersihkan diri.


Brayen mengabaikan ponselnya yang berdering. Tak lama kemudian ponselnya kembali berdering, Brayen terus mengumpat saat ponselnya terus berdering. Dia mengambil ponselnya di atas nakas. Melihat ke layar ternyata Albert, asistennya yang menghubunginya. Kemudian Brayen menggeser tombol hijau untuk menerima telepon, sebelum kemudian meletakkan ke telinganya.


"Kenapa kau mengangguku sepagi ini Albert?" suara Brayen terdengar begitu dingin saat panggilannya sudah terhubung.


"M..Maaf Tuan, saya mengganggu waktu anda. Tapi pagi ini kita ada meeting dengan Mr.Lee, apa anda akan menunda meeting dengan Mr. Lee?" tanya Albert gugup dari sebrang telepon.


Brayen mengumpat di dalam hati. " Tunda meetingnya, besok pagi aku akan langsung bertemu dengan Mr. Lee."


"Baik Tuan"


"Albert, bagaimana kabar Daddyku?" Brayen kembali mengingat dirinya belum menanyakan kabar David, Daddynya. Yang masih terbaring lemah di rumah sakit.


"Tuan David, besok sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah, Tuan"


"Beritahuku tentang kabar orang tuaku dan minta orang untuk selalu mengawasi adikku Laretta, jangan biarkan adikku keluar dari mansion. Aku tidak ingin kalian lengah,"


"Baik Tuan, saat ini memang beberapa pengawal sudah menjaga ketat mansion Tuan."


"Ya, aku tidak ingin pria sialan itu mencoba mendekati adikku dan kau Albert, kau tangani semua pekerjaanku selama aku tidak ada di kantor."


"Baik Tuan,"


Brayen langsung memutuskan panggilan teleponnya dan meletakkan kembali ponselnya di atas nakas.


Tidak lama kemudian, Devita berjalan keluar ke arah kamar mandi, dia sudah mengganti bajunya dengan dress yang sederhana berwarna mustard tanpa lengan, Devita mengambil sarapan yang sudah tersedia di atas meja, lalu dia melangkah mendekat ke arah Brayen.


"Ini sarapan untukmu. Setelah sarapan kau minum obat. Tadi malam kau demam," kata Devita sambil menyerahkan sarapan untuk Brayen. Tadi pagi, Devita sudah meminta pelayan mengantarkan sarapan untuknya dan Brayen.


"Devita, apa kita bisa bicara?" tanya Brayen sambil menatap Devita.


Devita menggeleng pelan. "Aku ingin kau makan dan minum obat. Aku tidak ingin lagi kau sakit. Kau memiliki banyak tanggung jawab, Brayen."


"Maaf, aku tidak tahu jika akan sakit seperti ini," jawab Brayen.


Tanpa memperdulikan ucapan Brayen, Devita memilih untuk menikmati makanannya. Namun kini tatapan Devita beralih pada Brayen sejak tadi tidak makan.


Devita membuang napas kasar dan menatap tajam Brayen. " Jika kamu tidak mau makan, aku akan pergi dari pandanganmu selamanya,"seru Devita kesal.


"Minum obat ini, tadi malam kamu demam." kata Devita sambil menyerahkan obat dan air hangat.


Brayen tidak menjawab dia hanya menuruti keinginan istrinya dan langsung minum obat dokter yang di berikan oleh Devita. " Aku sudah menurutimu, apa kita tidak bisa bicara?"


"Aku tidak ingin membahas apapun padamu, Brayen. Tadi aku sudah mengirim pesan pada Felix untuk datang menjemputmu. Aku tidak mengirim pesan pada Albert karena aku tahu, dia pasti sedang sibuk di perusahaanmu," tukas Devita dingin. Sebelumnya Devita memang sudah mengirim pesan pada Felix agar Felix menjemput Brayen, tidak mungkin Devita meminta Albert. Karena Devita sangat tahu, Albert pasti tengah sibuk dengan perusahaan.


Brayen menautkan alisnya, " Kau meminta Felix untuk datang menjemputku?"


"Ya, aku memintanya untuk datang menjemputmu. Kau harus segeralah beristirahat di rumah. Aku juga sudah mengirimkan pesan pada Ruby untuk meminta dokter pribadimu agar datang ke rumah," balas Devita dia melakukan itu demi kesehatan Brayen. Dia tidak suka jika melihat Brayen sakit.


"Aku tidak akan pulang. Aku akan tetap di sini." Seru Brayen.


"Jangan bertindak seperti anak kecil, Brayen! Atau aku akan benar - benar menghilang dari pandanganmu!" Jawab Devita kesal.


"Tapi aku ingin bicara denganmu Devita." suara Brayen terdengar begitu lemah. Tatapannya menatap Devita penuh dengan permohonan.


"Tidak sekarang, Brayen Adams Mahendra!" Aku belum bisa bicara denganmu!" Balas Devita tegas.


Tidak lama kemudian, terdengar bell pintu kamar Devita berbunyi, Devita yakin pasti itu adalah Felix. Devita beranjak lalu beranjak ke arah pintu. Dia tidak mungkin membiarkan Brayen bermalam lagi di sini. Rasanya sudah cukup Brayen bermalam di sini. Tidak untuk malam yang lainnya. Saat tiba di depan pintu, Devita langsung membuka pintu kamarnya.


"Good morning, Kakak Iparku? Jadi kau memintaku kesini untuk menjemput sepupuku ini?" sapa Felix, ketika Devita membuka pintu kamarnya.


"Morning Felix, silahkan masuk." balas Devita.


Kemudian Felix melangkah masuk kedalam hotel Devita. Felix menatap Brayen yang kini sedang duduk di sofa. Felix tahu, dirinya sedang mendapatkan tatapan tajam dari sepupunya itu. Tanpa memperdulikan tatapan tajam dari sepupunya itu, Felix melangkah mendekat dan duduk di samping Brayen.


"Apa kau tahu, aku sangat merindukanmu, Brayen." bisik Felix di telinga Brayen.


"Jangan membuatku untuk melemparmu dari sini Felix!" Tukas Brayen dingin.


Felix menggeleng pelan dan terkekeh. " Kau ini kenapa tidak pernah tersenyum. Bahkan sepupumu yang tampan ini menjemputmu kau tidak menyambutnya dengan baik."


"Aku tidak pernah memintamu untuk menjemputku!" Jawab Brayen dingin.


"Ah, benar juga. Kau memang tidak pernah memintaku untuk menjemputmu, tapi Kakak Iparku yang cantik itu yang memintaku datang untuk menjemputmu. Aku tentu tidak akan menolak," ujar Felix dengan santai.


"Felix, aku minta kau antar Brayen pulang. Pastikan dia untuk menemui dokter. Dia juga tidak boleh bekerja hari ini. Maaf, aku sudah merepotkanmu," ucap Devita yang merasa tidak enak karena sudah merepotkan Felix.


"Tidak masalah Kakak Ipar, aku sangat senang jika kau merepotkanku," balas Felix sembari mengedipkan sebelah matanya pada Devita.


Brayen menghunuskan tatapan tajam ke arah Felix. Sedangkan Felix mengulum senyumannya. Sepupunya itu memang mudah sekali terpancing emosi."


...****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.